Arsip Blog

NEGERI PENGIDAP SYNDROM FORMALITAS

 Bila melihat secara utuh kehidupan berbangsa kita, acapkali kita melihat segala sesuatu menyangkut hubungan sosio-kultural kemasyarakatan, praktek-praktek administrasi kepemerintahan, penyelanggaraan ritual keagamaan, kegiatan interaksi budaya, proses pendidikan sekolah-universitas serta apapun saja mungkin tidak berlebihan bila kita sebut  dengan hanya tampak secara permukaan. Permukaan ini bisa kita asosiasikan dengan hanya sebatas kesan agar supaya tampak, ataupun semacam sopan santun sosial ala kadarnya tanpa adanya makna mendalam. Gamblangnya kalau di analogikan di dalam sebuah kegiatan ke-organisasi-an, hal-hal semacam itu adalah administrasi belaka. Bahasa politiknya  disebut pencitraan.

Bisa kita berangkat dari hal-hal kecil dalam kehidupan kita.  Ketika ada gotong-royong membersihkan jalan kampung, seringkali kita lebih suka memilih untuk datang ketika pelaksanaan sudah hampir selesai. Kita tiba-tiba nongol, pegang arit dan cangkul sebentar terus setelah itu kita ngerokok dan mengobrol. Setelah cukup memberikan citra diri kita kepada para tetangga, kita diam-diam pulang meninggalkan kerja bakti. Itu kita lakukan agar kita tidak ketahuan bahwa sesungguhnya kita adalah penganut ideologis individualis. Dan membuat kesan kepada masyarakat kita sudah ikut kerja bakti, meskipun tenaga yang kita sumbangkan tidak signifikan.

Ambil contoh lain, ketika kita berhari raya idul fitri dimana merupakan momentum untuk saling maaf-memaafkan. Kita ketemu tetangga, handai taulan, sanak keluarga, para kerabat untuk  saling berjabat tangan mengalalkan kesalahan-kesalahan kita kepada orang lain agar setelah itu hubungan sosial budaya dengan orang tersebut lebih meningkat secara kualitatif.  Kebanyakan kita tidak pernah sanggup untuk beristiqomah dan memahami konteks sejati idul fitri. Dan menganggap prosesi sakral itu menjadi tidak begitu penting. Sehingga setelah bersilaturahmi itu kita kembali membuat dosa lagi dengan “ngrasani”, mempergunjing orang, ngrumpi serta menyimpan semacam dendam, iri dengki melihat umpamanya gemerlapnya kekayaan tetangga kita setelah pulang dari rantau.  Namun kita perlu saling berjabat tangan agar terkesan kita sudah saling memaafkan, meskipun dalam kenyataannya kita tetap saja menimbun rerasanan dan dendam pribadi. Ritual Idul Fitri menjadi hanya sebagai ritus belaka yang maknanya mengalami distorsi perubahan budaya dan menjadi kurang mendalam. Read the rest of this entry

Iklan

IDUL FITRI UNTUK HARI RAYA KESEJAHTERAAN YANG PERMANEN

Hari raya Idul Fitri selalu memberikan nikmat yang luar biasa kepada setiap orang Indonesia khususnya umat islam. Bahkan tidak hanya untuk umat Islam saja yang merasakan nikmatnya, namun kepada semuanya pula yang bersentuhan secara langsung dengan momentum lebaran. Nikmat itu bisa kita lihat dari yang permukaan sampai yang mendalam. Dari yang tingkatannya hanya material sampai dengan kosmologis spiritual. Bahkan nikmat individu hingga nikmat kolektif sosial. Maka, terkadang saya membayangkan pada saat  berlebaran, benak ini menggumankan dengan yakin bahwa islam adalah rahmatan’lilalamin. Bahwa Islam bukan di tampilkan dengan wajah yang sangar, yang berangasan, suka merusak, yang suka ngebom, yang ekslusif, tapi islam yang hadir dan mampu memperlihatkan wajah yang santun dan bisa menjadi berkah rahmat untuk semua mahkluk Tuhan.

Ambil salah satu contoh umpamanya adalah nikmat Idul Fitri secara ekonomi dan kemaslahatan ummat. Nuansa hari raya selalu menampilkan kesan dimana saat inilah momentum dimana kita mendapatkan kemerdekaan ekonomi. Karena Rasul Muhammad jelas mewanti-wanti agar jangan sampai tetangga kita pada hari raya Idul Fitri ada yang merasa fakir dan tidak bisa menikmati hari raya sebagaimana orang yang lain. Kita tidak boleh serakah untuk menikmati hari raya sendirian dan tidak membagikan kebahagian itu kepada orang lain. Karena tidak mungkin anda mampu berhari raya secara individual. Kolektivitas mutlak menjadi substansi idul fitri dimana di hari istimewa ini, kita lebih mampu untuk memberikan sesuatu yang berharga kepada orang lain.   Read the rest of this entry