Blog Archives

Disinformasi Nilai dan Copy Paste

Beberapa minggu terakhir ini, kalangan masyarakat pecinta infotainment di gegerkan dengan adegan mesum “mirip artis”. Dalam waktu yang singkat dan tidak lebih dari satu minggu, dua video berdurasi 6 menit dan 8 menit sudah menyebar di forum-forum internet dan dapat didownload siapa saja. Berbagai majalah, koran, televisi, berita online di internet sungguh tak habis-habis menganalisa, mengidentifikasi, memberikan komentar, bahkan banyak juga yang menghujat. Trafik pengguna internet meningkat drastis, rating infotainment melonjak sangat tinggi. Mereka sangat antusias untuk mendapatkan informasi tentang idola anak muda itu. Mereka berdebat, mereka terjebak di antara kebingungan informasi, percaya atau tidak percaya. Percaya karena dalam video pemainnya sangat mirip dan tingkat kemiripannya sudah mencapai 99&. Tapi di sisi lain banyak penggemar menjerit histeris dan tidak percaya kalau idola mereka yang mereka junjung-junjung tinggi sampai melakukan hal seperti itu. Tapi diam-diam mereka juga menikmati dan tidak sabar menunggu sekuel lanjutan dari petualangan cinta sang Don Juan mirip Nazril Ilham alias Ariel Peterpan yang konon katanya mencapai 32 buah dan mirip artis semua. Anda saya sarankan untuk tidak terlalu menuduh sebelum dapat dipastikan kebenarannya, kata seorang yang ahli yang mirip Pakar Telematika dengan sangat bijaksana.

Konon, orang Indonesia itu cenderung suka menuduh tanpa bukti, dan sangat percaya terhadap apa saja yang mereka dengar dan mereka lihat. Berbagai pertengkaran yang tiada habisnya baik dari kalangan elite pusat sampai urusan rumah tangga kadang bermula dari hal tuduh menuduh seperti itu. Kita punya tetangga yang bekerja biasa-biasa saja dan tidak memerlukan waktu yang lama ekonomi keluarga dan kekayaannya menjadi berlipat lipat. Bisa membeli perabotan, membangun rumah yang rumah kita sendiri sangat jauh ketinggalan, punya kendaraan yang kita tidak punyai. Karena kosmos kita adalah tidak percaya, maka kita hembuskan ke masyarakat dan tetangga yang lain bahwa si Anu memelihara tuyul, gendruwo, jin atau punya pesugihan di Gunung Kawi, Gunung Kemukus. Tetangga sekitar percaya dengan apa yang mereka lihat dan mereka dengar. Maka berbondong-bondonglah mereka membakar rumah sang tersangka pemelihara tuyul tersebut. Read the rest of this entry

Pornografi: Soal Etika, Bukan Estetika

BENARKAH penerbitan foto-foto pamer aurat sejumlah artis model yang dikritik dan diprotes masyarakat itu pornografi?
Tidak benar, bantah yang diprotes dan para pendukungnya. Para artis model yang menyediakan tubuhnya dipotret, juru
fotonya, yang menerbitkan foto-foto itu, yang mendukung penerbitannya, semua mengklaim, gambar-gambar itu karya
seni. Apa Anda tidak menangkap keindahan pada tubuh terbuka dengan pose mana-suka itu berkat kreativitas
pencahayaan dan pencetakan yang canggih?

Para pornokrat itu juga membela dari sudut kebebasan pers. Perintah instansi kepolisian menarik peredaran majalah
yang memuat foto-foto yang dipersoalkan masyarakat dianggap sebagai pelanggaran langsung atas prinsip kebebasan
pers. Sejumlah orang pers sendiri mendukung anggapan terakhir ini. Argumen-argumen membela penerbitan pornografi
itu umumnya lemah, namun prinsipial karena menggunakan alasan estetika dan kebebasan pers.

Estetika modernis

Sebenarnya tak ada yang baru dalam kontroversi sekitar pornografi – dari kata Yunani porne artinya ‘wanita jalang’ dan
graphos artinya gambar atau tulisan. Sudah dapat diduga bahwa masyarakat dari berbagai kalangan akan bereaksi
terhadap penerbitan gambar-gambar yang dianggap melampaui ambang rasa kesenonohan mereka. Seperti biasanya
pula, menghadapi reaksi masyarakat itu, para pornokrat membela dengan menuntut definisi, apa yang seni dan apa yang
pornografi? Akan tetapi apa yang membedakan foto-foto buka aurat para artis model itu dengan lukisan perempuan
telanjang. Affandi misalnya? Mengapa lukisan Affandi (misalnya Telanjang/ 1947 dan Telanjang dan Dua Kucing/1952)
dianggap karya seni, sedang foto-foto pose panas Sophia Latjuba dan kawan-kawan dianggap pornografi? Padahal
dibandingkan lukisan perempuan telanjang Affandi yang tubuhnya tampak depan tanpa terlindung sehelai benang pun,
foto-foto menantang para artis itu tidak secara langsung memperlihatkan lokasi-lokasi vital-strategisnya! Read the rest of this entry