Blog Archives

Amplop Kering Kang Ahmad

DSC_0019Kang Ahmad sedang pusing kepala. Seharian dia duduk bengong saja sambil menghabiskan berbatang-batang rokok yang di dapatnya dari tetangga yang kemarin siang meminta bantuannya memanjatkan kelapa.

Sebenarnya dia termasuk orang yang ga gampang pusing. Gak gampang khawatir, apalagi gampang masuk angin. Ndablek kata orang Jawa. Apalagi dengan soal-soal yang terkait dengan dirinya sendiri. Dia merasa tidak ada yang di perjuangkan untuk dirinya sendiri. Dia buta terhadap pemenuhan ego-ego pribadi. Hidupnya sudah di sedekahkan kepada masyarakat.

Karena dari itu kalau untuk masalah sosial, kepentingan-kepentingan umum, kebutuhan tetangga, sahabat atau kerabat, ia sangat bisa pusing kepala memikirkannya. Lebih pusing daripada umpamanya dia tidak punya uang untuk beli soto.

Ceritanya ia, jelek-jeleknya di angkat sebagai kader pemberdayaan oleh Pak Kades dengan dari rapat musyawarah dengan masyarakat. Soalnya bukan apa-apa, bukan sebab Kang Ahmad ini orang yang paling qualified, paling tinggi ijasahnya atau paling berpengalaman dalam bidang peningkatan pemberdayaan masyarakat, namun pilihannya adalah pragmatis: “karena tidak ada orang lain yang mau menjadi kader”. Read the rest of this entry

Peradilan Semu

timbanganKetika vonis hukuman kepada Ahmad Fathanah di jatuhkan dengan hukuman 14 tahun penjara dan denda 1 Milyar, banyak kalangan yang menganggap bahwa hukuman terlalu “ringan” dan tidak akan menimbulkan efek jera kepada terdakwa, meskipun di pihak lain kuasa hukum Ahmad Fathanah mati-matian membela kliennya bahwa Ahmad Fathanah tidak selayaknya di hukum se”berat” itu sehingga mereka merencanakan akan maju banding. Pengacara terdakwa menganggap putusan itu tidak adil, jaksa penuntut KPK juga menganggap tidak adil, pengamat juga mengatakan tidak adil, mungkin masyarakat juga berpendapat tidak adil dengan berbagai macam variabelnya masing-masing.

Ketika seorang terdakwa di vonis hukuman di pengadilan belum barang tentu hasil putusan itu memenuhi unsur “keadilan”. Keadilan itu bisa saja sangat subjektif, tidak berimbang, penuh manipulatif dan rekayasa. Vonis itu bisa sangat adil di pihak yang satu namun bisa sangat tidak adil di pihak sebelahnya. Karena ketika berperkara setiap orang ngotot dengan argumennya masing-masing yang sama-sama mendasarkan kepada Undang-Undang. Bila tidak ada pasal yang  mengatur secara eksplisit, bisa di cari di pasal-pasal abstrak yang membuat bingung para pendengarnya. Dan memang itu tujuannya, semakin bingung semakin kabur maka semakin sukses untuk mengobok-obok substansi keadilan itu sendiri. Hakim yang memutuskan suatu perkara bisa saja di hujat seluruh rakyat Indonesia karena bisa tidak memenuhi unsur harapan keadilan dari masyarakat.

***

Dalam suatu riwayat Muhammad Rasullah mengatakan bila sampai anaknya Fatimah Bin Muhammad mencuri, maka Muhammad yang akan memotong sendiri tangannya. Mungkin kalau Beliau hidup jaman sekarang pasti sudah di tuduh melanggar HAM, di tuntut Komnas Perlindungan Anak, di tuduh kejam dan tidak manusiawi dan bisa-bisa masuk penjara karena omongan seperti itu. Read the rest of this entry

IDUL FITRI UNTUK HARI RAYA KESEJAHTERAAN YANG PERMANEN

Hari raya Idul Fitri selalu memberikan nikmat yang luar biasa kepada setiap orang Indonesia khususnya umat islam. Bahkan tidak hanya untuk umat Islam saja yang merasakan nikmatnya, namun kepada semuanya pula yang bersentuhan secara langsung dengan momentum lebaran. Nikmat itu bisa kita lihat dari yang permukaan sampai yang mendalam. Dari yang tingkatannya hanya material sampai dengan kosmologis spiritual. Bahkan nikmat individu hingga nikmat kolektif sosial. Maka, terkadang saya membayangkan pada saat  berlebaran, benak ini menggumankan dengan yakin bahwa islam adalah rahmatan’lilalamin. Bahwa Islam bukan di tampilkan dengan wajah yang sangar, yang berangasan, suka merusak, yang suka ngebom, yang ekslusif, tapi islam yang hadir dan mampu memperlihatkan wajah yang santun dan bisa menjadi berkah rahmat untuk semua mahkluk Tuhan.

Ambil salah satu contoh umpamanya adalah nikmat Idul Fitri secara ekonomi dan kemaslahatan ummat. Nuansa hari raya selalu menampilkan kesan dimana saat inilah momentum dimana kita mendapatkan kemerdekaan ekonomi. Karena Rasul Muhammad jelas mewanti-wanti agar jangan sampai tetangga kita pada hari raya Idul Fitri ada yang merasa fakir dan tidak bisa menikmati hari raya sebagaimana orang yang lain. Kita tidak boleh serakah untuk menikmati hari raya sendirian dan tidak membagikan kebahagian itu kepada orang lain. Karena tidak mungkin anda mampu berhari raya secara individual. Kolektivitas mutlak menjadi substansi idul fitri dimana di hari istimewa ini, kita lebih mampu untuk memberikan sesuatu yang berharga kepada orang lain.   Read the rest of this entry

Trendsetter Dahlan Iskan

Mungkin dalam beberapa bulan ini tidak ada tokoh yang selalu heboh dan menghiasi media cetak, media online maupun media elektronik kecuali seorang Dahlan Iskan. Setelah melakukan berbagai manuver kebijakan dan melakukan gebrakan sensasional untuk ukuran seorang menteri, Dahlan iskan lambat laun menjadi pusat perhatian publik Indonesia. Segala gerak-gerik pak Menteri BUMN ini mulai di angkat ke media dan di jadikan berita. Dari hal yang paling remeh-temeh sampai ke ranah yang birokratis politis.

Ada golongan yang mengatakan perilaku Dahlan Iskan ini hanyalah untuk sebagai pencitraan, untuk mendongkrak popularitas demi kepentingan Pemilu 2014. Pandangan ini di dasarkan dari latar belakang seorang Dahlan Iskan sebagai CEO sebuah Koran Nasional, sehingga di mungkinkan untuk menunggangi media untuk mengangkat citranya. Namun banyak juga golongan yang mendukung dan salut dengan aksinya. Karena manusia bernama Dahlan Iskan ini adalah manusia langka yang perlu di lestarikan. Di kandung maksud, segala sepak terjangnya yang out of mainstream di wajah Pemerintah Republik Indonesia merupakan aura segar dan cerah serta menghidupkan semangat cita-cita masa depan Negara ini. Setidaknya, ada setitik harapan, ada sedikit klangenan, ada sesuatu yang membanggakan di hati masyarakat Indonesia untuk menghitung kembali potensi-potensi kebangkitan setelah sekian lama terpuruk. Read the rest of this entry

PERANG MINYAK

Perang minyak telah di tabuh. Demo kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) serentak dilaksanakan di kota-kota besar Indonesia, yang di prediksi akan memuncak pada hari Selasa (27/3) bersamaan dengan rapat paripurna DPR. Gelombang penolakan rakyat atas rencana pemerintah itu telah membuat apa yang di sebut para ekonom sebagai multiplier effect. Sebelum kenaikan harga BBM di yang akan di tetapkan per tanggal 1 April 2012 telah di dahului oleh harga-harga kebutuhan pokok yang membumbung tinggi. Para mahasiswa kembali turun ke jalan, menggalang massa untuk menyuarakan penentangan kenaikan BBM. Mereka mengadakan koalisi dengan seluruh rekan se-Indonesia dengan di dukung oleh ormas, lembaga-lembaga independent, dan berbagai macam elemen yang memiliki visi yang sama. Setelah sebelumnya dilakukan beberapa demo secara parsial dan sporadic di Indonesia, mereka telah merencanakan unjuk rasa kembali secara massive yang akan di pusatkan di depan gedung DPR.

Menyikapi hal tersebut Pemerintah sigap untuk menghadang rencana “perang” massa itu dengan memerintahkan POLRI dan TNI untuk menjadi garda depan. Meskipun menjadi problematic sendiri ketika TNI harus turun tangan mengamankan para pendemo. Banyak pihak menilai pengerahan TNI tidak sesuai dengan fungsinya. Yang seharusnya berfungsi untuk menjaga atau mengamankan kedaulatan NKRI dari pihak asing, ini malah di hadapkan kepada rakyat sendiri. Dan yang terjadi adalah benturan yang berujung kekerasan. Meskipun ada nada-nada sumbang bahwa itu terjadi karena ada provokasi, karena di tekan duluan atau apapun saja. Namun yang pasti, moment tersebut membuat kepercayaan publik kepada pemerintah SBY merosot tajam. Pertanyaannya adalah apakah mengemukakan ketika rakyat mengemukakan pendapatnya lantas sudah mesti dituduh subversif? Apakah ketika melaksanakan demonstrasi, sudah di curigai akan melakukan perusakan-perusakan atau penjarahan massal. Ataukah merupakan ketakutan penguasa negeri ini akan terjadinya demonstrasi seperti 1998.

Para penuntut penolakan, partai oposisi, menyatakan bahwa ini merupakan pembohongan publik. Mereka mengklaim bahwa dengan perhitungan mereka, APBN negara tidak akan jebol meskipun harga BBM mencapai 125 US Dollar per barel. Bahkan selama ini pemerintah cenderung tertutup atas hasil penjualan minyaknya. Mereka mengemukakan Read the rest of this entry

Esemka=No, Maleo=Yes

Biasanya siapa yang mengkritisi mobil Esemka akan dianggap tidak punya rasa  nasionalis.  Hehehe 🙂 Tapi ya sudah lah. Bangsa ini memang butuh kejujuran daripada nasionalisme buta. Bukan cerita baru kalau sebagian dari kita susah menerima kritik.

Dari awal gembar-gembor mobil Esemka di-mobnas-kan sebenarnya saya sudah tidak percaya kalau mobil tersebut “dibuat” bukan “dirakit”. Sebelum mobil tersebut dipakai oleh pejabat daerah, liputan pertama yang saya tonton di TV, jelas-jelas menunjukan  anak SMK-SMK yang masih jujur dan lugu itu mengatakan kalau mereka merakit mesin dari kendaraan lain. Bahkan salah seorang dari mereka menyebutkan merek mobil tertentu sambil memperlihatkan blok mesin.  Selain itu, jelas-jelas, spanduk di lokasi kerja para anak SMK itu (yang muncul di TV) menyebutkan “tempat perakitan”. Anak-anak SMK yang jujur itu tidak pernah menuliskan “Pabrik Mobil”.

Entah kenapa, ketika pejabat sudah punya misi politis, semuanya berubah. Anak-anak SMK yang jujur bahwa mereka hanya belajar merakit, tiba-tiba tenggelam dan posisinya digantikan para pejabat yang pintar bermain kata-kata dan mencari popularitas.

Saya pernah bekerja di salah satu FMCG company. Dan setiap saya membuat  produk baru, saya harus menyiapkan design botol baru yang nanti akan dibuatkan mouldingnya. Sayang tidak terbayangkan berapa nilai investasi yang harus dimiliki seorang Sukiyat dibengkel  karoseri-nya atau anak-anak SMK untuk bisa memiliki peralatan membuat mobil, kalau untuk sebuah moulding botol PET 8 cavity saja, saya bisa menginvestasikan sampai 2 milyar rupiah.

Sekarang, apakah kalau anak-anak SMK itu ternyata cuma tukang rakit, itu hina?  Tentu tidak! Sebenarnya, saya pikir tidak masalah kalau mobil itu hanyalah mobil rakitan dari mobil China bernama Fudi Explorer 6 yang sudah dipasarkan sejak 2009 (note: seorang teman yang berada di salah satu pasar di negeri China mengambil gambar-gambar kendaraan ini). Apa salahnya kalau anak-anak SMK belajar merakit mobil? Tidak ada yang salah! Yang salah adalah pejabat yang memanfaatkan anak-anak SMK dan kata “Nasionalisme”.

Kita masih ingat kasus masuknya Timor dan Bimantara? Mobil-mobil Korea yang di_mobnas-kan? Bahkan saking suksesnya kata-kata mobnas menempel pada mobil-mobil yang punya merek asli Kia dan Hyundai ini, proyek Maleo yang sebenarnya adalah proyek mobil anak bangsa yang digagas Habibie  jadi terlupakan.

Buat para tenaga pemasaran di dunia otomotif, memainkan kata,”Nasionalisme” adalah kartu sakti yang bisa membuat proyek import mobil China berjalan mulus dan sukses di pasar Indonesia. Dengan embel-embel nasionalisme, orang bisa menutup mata akan atribut kualitas. Dalam marketing, A bisa jadi B dan sebaliknya. Orang-orang marketing tentunya paling ahli bermain kata-kata. Tapi setidaknya produsen Timor dan Bimantara masih memiliki nilai kejujuran. Mereka tidak pernah malu menyebut kata “merakit”. Bahkan ketika mereka dengan lirih menyebutkan kandungan lokal yang masih rendah. Setidaknya mobil Korea yang di-mobnas-kan, masih bermain cantik.

Kebetulan Timor adalah mobil pertama di keluarga saya. Apakah ketika saya mengendarai Timor, saya bangga karena mobil tersebut adalah mobil “asli indonesia”? Tentu tidak! Keluarga saya membelinya karena murah dan saya tidak bisa membohongi diri sendiri kalau mobil tersebut hanyalah  mobil Korea yang bagian joknya dibuat oleh orang indonesia. Apakah saya tidak punya rasa bangga dengan karya anak bangsa? Saya pribadi lebih bangga memamerkan baju batik sederhana yang asli “indonesia banget” daripada produk asing yang “di-indonesia-indonesia-kan”.

Pejabat “gila hormat” ternyata tidak hanya ada di pulau jawa. Baru-baru ini, kapala daerah salah satu propinsi di sumatera gantian memamerkan pabrik di lingkungan SMK yang katanya bisa digunakan untuk membuat onderdil mobil. Pejabat itu dengan bangga berkata kalau mereka “membuat” bukan merakit, padahal di layar TV jelas-jelas tampak merek Krisbow dan Focus (sudah dikenal sebagai produk negara lain). Tidak kurang pongahnya, si kepala daerah langsung memamerkan sebuah mobil (belum ada body-nya) yang katanya buatan anak SMK di propinsinya. Walau jelas-jelas ada merek Toyota di bagian mesin yang terlihat terang bernderang. Mungkin di minggu-minggu depan, SMK ini juga akan terkenal seperti sekolahan yang “memproduksi” Esemka.  Kalaupun nanti mereka mengklaim, sebagai pembuat produk asli indonesia, saya hanya akan tersenyum sambil mengingat merek-merek Krisbow, Focus dan Toyota yang baru saja saya lihat di liputan berita hari ini.

Melihat kepongahan beberapa pejabat, saya justru iba. Iba dengan rendahnya standar mereka. Dari standar kejujuran sampai standar kualitas dari sesuatu yang bisa disebut sebagai produk nasional. Akhirnya, satu pertanyaan yang ingin saya ajukan, apakah para pejabat yang mengatakan Esemka itu buatan anak bangsa padahal cuma “rakitan” adalah pahlawan? Kalau begitu, harusnya predikat yang sama bisa kita berikan kepada salah satu anak mantan presiden Soeharto yang telah melahirkan mobnas pertama bernama Timor jauh-jauh hari sebelumnya. Harusnya beliau patut dihormati lebih dari seorang Habibie yang proyek Maleo-nya tidak pernah mendapatkan perhatian serius.

Bagaimana dengan hari ini? Selain pejabat yang sedang me-mobnas-kan mobil China, tahukah anda kalau para peneliti kita di LIPI sedang berjuang untuk sebuah mobil listrik yang kelak akan bisa diproduksi oleh anak bangsa? Mungkin mobil buatan LIPI tidak sehebat mobil buatan China atau Korea. Tapi dari sana lah mobil nasional yang sebenarnya akan muncul. Bukan sekedar mobil import dari Jerman, Amerika atau Jepang yang dirakit dan dikasih merek lokal.  Seperti dejavu Timor vs Maleo hehehehe… Akhirnya pemerintah kita memang lebih senang meng-import.

Soal merek lokal, saya jadi teringat saat saya harus membeli puluhan mesin cuci dari China untuk hadiah (sebuah program undian nasional). Ketika sayasedang memeilih-milih, saya sempat bertanya,” apakah saya bisa dapat merek lokal?” Jawaban yang saya dapat dari tuan toko adalah: Bapak mau merek apa? Nanti saya tempel, bahkan bisa pakai nama Bapak. Apapun mereknya, mesinnya tetep China. Bahkan bisa dikasih merek ‘pancasila’ atau ‘merah putih’ biar terlihat merek lokal. LOL

Dari tulisan di atas, bisa disimpulkan kenapa saya tidak bangga dengan Esemka. Seandainya proyek “mobnas asli” seperti Maleo diteruskan, tentu saya lebih punya rasa bangga. Walau Maleo akhirnya kandas (karena kepentingan tertentu), saya masih bisa mengingat hasrat dan kebanggaan yang berbeda sebagai anak-anak waktu itu . Semoga kelak, Indonesia bisa benar-benar memiliki mobnas yang sesungguhnya ketika para pejabat kita bisa membedakan antara “membuat” dan “merakit”.

Oleh : Uki Lukas

Sumber : Kompasiana