Blog Archives

Berubah? Why Not?

Awal tahun seperti saat ini, sebagai seorang konsultan sebuah program permberdayaan masyarakat merupakan sebuah momentum awal untuk melakukan perubahan-perubahan. Bukan karena ingin berubah, namun memang seringkali keadaan yang menuntut untuk harus berubah. Tidak untuk masyarakat dan orang lain terlebih dahulu. Namun setidaknya terhadap diri sendiri. Karena orang bijak mengatakan, jangan tunggu perubahan dari orang lain tapi temukan perubahan itu dari dalam diri anda. Tentunya perubahan-perubahan yang menuju kearah yang lebih baik.

Dalam kontrak kerja kami di sebutkan bahwa memang kami sanggup untuk di tugaskan di seluruh daerah provinsi. Dengan jangka waktu kontrak yang hanya satu tahun, praktis konsekuensi untuk selalu berpindah lokasi tugas sangat tinggi.

Ternyata perubahan memang tidak selalu dapat berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Ambil contoh saja, ketika pada awal tahun ini harus pindah tugas ke lokasi yang baru, terdapat rasa enggan dan malas karena harus melakukan penyesuaian kembali. Baik menyesuaikan di tempat kos baru, lingkungan, suasana, dlsb. Rasa nyaman yang selama ini sudah ada dan mengendap, ternyata sedikit banyak juga ikut menyumbang factor untuk enggan berubah dan berpindah. Kita sudah berada dalam lingkaran “Comfort Zone”.

Zona nyaman tentunya akan melahirkan resistensi kita. Kita sulit berubah. Kita takut berubah. Mengapa kita berubah? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kita berubah? Akan lebih baikkah atau malah akan semakin terpurukkah? Kalau kita sudah nyaman, sudah enjoy, sudah nikmat berada dalam posisi dan tempat kita sekarang kenapa kita harus berubah? Dan itu adalah manusiawi. Setiap orang juga akan seperti itu.

Namun akan kita lihat bahwa zona nyaman tidak selalu baik bagi kita. Zona nyaman yang seolah-olah enak, nikmat ternyata mengandung racun berbahaya bagi kita. Read the rest of this entry

Asal MulaTerciptanya Uang

uang_asia_pasifikSyahdan di suatu samudera terdapat dua pulau yang bertetangga. Sebut saja Pulau Aya dan Pulau Baya . Di pulau Aya, suku Sukus hidup sejahtera. Mereka dikarunia daratan yang subur. Mereka hidup bercocok tanam. Pertanian mereka menghasilkan aneka sayuran dan buah-buahan tropis. Ikan dan sumber daya laut sangat melimpah. Tidak hanya itu, Pulau Aya terkenal dengan panoramanya yang indah. Gemericik air terjun bisa ditemui di banyak tempat. Sungai-sungainya yang jernih juga menjadi daya tarik tersendiri. Tak heran bila pulau ini menjadi tempat tujuan para pelancong dan wisatawan lokal maupun luar pulau.
Masyarakat Sukus dikenal memiliki peradaban yang cukup maju. Mereka beruntung, pulau yang mereka tempati menghasilkan emas. Dan mereka bekerja keras untuk mendapatkan logam mulia ini. Hampir semua anggota suku memiliki emas dan menyimpannya sebagai simbul harta kekayaan.
Selain sebagai simbol peradaban, emas juga berfungsi sebagai alat transaksi. Sejak Saka, sang ketua suku, mencetak koin emas, maka semua transaksi jual beli yang semula dilakukan dengan barter beralih dan diukur dengan emas. Berdagang pun menjadi lebih mudah dan simpel.
Meskipun begitu, mereka tidak mendewa-dewakan emas sebagai satu-satunya pencapaian. Kehidupan sosial mereka tampak lebih penting. Ini bisa dilihat dari cara mereka yang saling tolong-menolong. (Kami di dunia setan sangat membenci perilaku ini). Ketika anggota suku perlu membangun rumah baru karena rumah lama tersapu ombak, yang berarti menguras emas simpanannya, anggota-anggota suku lainnya dengan suka rela meminjamkan emas miliknya. Hebatnya, tanpa charge atau tambahan apapun. “Dasar manusia bodoh, sudah meminjamkan uang kok tidak mau minta kompensasi,” begitu gerutuan kami.
Kami semakin pusing karena tidak terbatas itu saja, mereka juga bergotong royong satu sama lain dengan ikhlas. Padahal kami ingin, paling tidak, mereka lakukan ini dengan riya. Pantaslah bila kehidupan mereka meskipun sederhana tapi diliputi semangat kesetiakawanan yang tinggi. Anggota suku terbiasa bahu-membahu mengatasi persoalan bersama. Boleh dikata, mereka hidup rukun dan damai.
Sementara pulau tetangganya, Pulau Baya, didiami suku Tukus. Kebanyakan penduduknya bekerja sebagai petani. Mengolah lahan di sawah atau ladang dan memelihara ternak. Sebagian lagi yang memiliki ketrampilan khusus, memproduksi kerajinan tangan.
Dibandingkan suku Sukus, mereka lebih sederhana. Mereka masih menggunakan sistem barter dalam transaksi keseharian. Yang menghasilkan padi menukar berasnya dengan kerajinan tangan atau sebaliknya. Boleh dibilang secara ekonomi, kesejahteraan mereka di bawah suku Sukus. Mereka memang kebanyakan hanya pekerja kasar. Mereka tidak memiliki pusat kota yang indah dan maju seperti halnya Sukus. Sesekali mereka menjual hasil bumi dan handicraft mereka ke suku Sukus. Mereka, apalagi para wanitanya, sangat senang menerima koin emas sebagai jasa dari padi atau kerajinan tangan yang mereka hasilkan. Meskipun berbeda dalam hal kesejahteraan, ada satu persamaan menonjol di antara Sukus dan Tukus. Mereka sama-sama hidup damai, rukun, dan saling tolong-menolong. Mereka sering .bersilaturahmi dan menjalankan ritual agamanya dengan tenang.
Sampai akhimya datang tamu istimewa ke suku Sukus. Berpenampilan perlente, dua orang asing turun dari kapal yang berlabuh di pulau Aya. Gago dan Sago, begitu mereka mengenalkan diri saat dijamu oleh Saka, pimpinan suku Sukus. Kedua tamu ini disambut dengan suka cita. Saka dan para pembantunya sangat terkesan dengan kisah Gago dan Sago yang mengaku sudah melanglang buana. Sebagai bukti, kedua orang asing itu lalu memamerkan koin emas asing yang mereka kumpulkan dari berbagai tempat perlawatan.
Satu hal lagi dan ini yang paling menarik bagi Saka dan punggawanya adalah kertas yang dinyatakan sebagai uang. Gago dan Sago lalu memperkenalkan bagaimana uang kertas jauh lebih efisien ketimbang emas yang sehari-hari mereka pakai. Itulah kenapa uang kertas ini sudah dipakai di negara-negara yang jauh lebih maju dibanding tempat mereka tinggal. Gago dan Sago yang mulai mendapat respon positif semakin bergairah menjelaskan uang kertas ini kepada sang tuan rumah. Lalu, mereka memperkenalkan mesin pencetak uang. Read the rest of this entry

NEGERI PENGIDAP SYNDROM FORMALITAS

 Bila melihat secara utuh kehidupan berbangsa kita, acapkali kita melihat segala sesuatu menyangkut hubungan sosio-kultural kemasyarakatan, praktek-praktek administrasi kepemerintahan, penyelanggaraan ritual keagamaan, kegiatan interaksi budaya, proses pendidikan sekolah-universitas serta apapun saja mungkin tidak berlebihan bila kita sebut  dengan hanya tampak secara permukaan. Permukaan ini bisa kita asosiasikan dengan hanya sebatas kesan agar supaya tampak, ataupun semacam sopan santun sosial ala kadarnya tanpa adanya makna mendalam. Gamblangnya kalau di analogikan di dalam sebuah kegiatan ke-organisasi-an, hal-hal semacam itu adalah administrasi belaka. Bahasa politiknya  disebut pencitraan.

Bisa kita berangkat dari hal-hal kecil dalam kehidupan kita.  Ketika ada gotong-royong membersihkan jalan kampung, seringkali kita lebih suka memilih untuk datang ketika pelaksanaan sudah hampir selesai. Kita tiba-tiba nongol, pegang arit dan cangkul sebentar terus setelah itu kita ngerokok dan mengobrol. Setelah cukup memberikan citra diri kita kepada para tetangga, kita diam-diam pulang meninggalkan kerja bakti. Itu kita lakukan agar kita tidak ketahuan bahwa sesungguhnya kita adalah penganut ideologis individualis. Dan membuat kesan kepada masyarakat kita sudah ikut kerja bakti, meskipun tenaga yang kita sumbangkan tidak signifikan.

Ambil contoh lain, ketika kita berhari raya idul fitri dimana merupakan momentum untuk saling maaf-memaafkan. Kita ketemu tetangga, handai taulan, sanak keluarga, para kerabat untuk  saling berjabat tangan mengalalkan kesalahan-kesalahan kita kepada orang lain agar setelah itu hubungan sosial budaya dengan orang tersebut lebih meningkat secara kualitatif.  Kebanyakan kita tidak pernah sanggup untuk beristiqomah dan memahami konteks sejati idul fitri. Dan menganggap prosesi sakral itu menjadi tidak begitu penting. Sehingga setelah bersilaturahmi itu kita kembali membuat dosa lagi dengan “ngrasani”, mempergunjing orang, ngrumpi serta menyimpan semacam dendam, iri dengki melihat umpamanya gemerlapnya kekayaan tetangga kita setelah pulang dari rantau.  Namun kita perlu saling berjabat tangan agar terkesan kita sudah saling memaafkan, meskipun dalam kenyataannya kita tetap saja menimbun rerasanan dan dendam pribadi. Ritual Idul Fitri menjadi hanya sebagai ritus belaka yang maknanya mengalami distorsi perubahan budaya dan menjadi kurang mendalam. Read the rest of this entry

Menggugat Teori Kebutuhan Maslow

Awalnya dulu saya tidak begitu perduli dengan teori-teori akademis yang berkembang untuk mempelajari perilaku manusia. Karena perilaku manusia sangat sulit untuk kita rumuskan karena begitu banyak mengandung probabilitas. Meskipun kita telah mengumpulkan data, meneliti sampai detail dari berbagai macam sudut pandang ilmiah, membandingkan teori ini dan teori itu namun kesimpulan akhirnya adalah bahwa manusia itu sulit di tebak. Tidak heran maka muncul beberapa ungkapan seperti “dalamnya laut dapat di ukur, hati orang siapa yang tahu” dan ada juga “rambut sama hitam, hati orang siapa yang tahu” dan masih banyak lagi. Tinggal anda cari sendiri, dan bahkan mungkin dapat anda ciptakan sendiri.

Dari latar belakang itulah maka saya sedikit ingin mempertanyakan teori kebutuhan yang di perkenalkan oleh Abraham Maslow. Bukan berarti saya lebih pintar dari beliaunya. Dan bukan berarti saya memiliki teori yang melebihi teorinya. Namun ini hanya sebuah tangkapan atas pandangan-pandangan pribadi saya. Dan tidak bisa di pastikan bahwa saya juga benar seratus persen. Silahkan di koreksi bila ada yang salah.

Teori maslow merupakan salah satu penjabaran untuk mempelajari tentang perilaku  manusia untuk mencapai kebutuhannya. Gagasan kebutuhan manusia itu di jabarkan dalam piramida 5 tingkat. Yang pertama atau  tingkat paling bawah adalah kebutuhan fisik (Physiological Needs) yang menjelaskan tentang kebutuhan dasar manusia yang bersifat fisik. Yaitu bahwa manusia harus terpenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya seperti kebutuhan sandang, pangan, papan. Kebutuhan ini di pandang sebagai kebutuhan pokok yang wajib terpenuhi karena  apabila tidak terpenuhi maka akan terjadi keadaan yang sangat ekstrim yang menyebabkan manusia yang bersangkutan kehilangan kendali atas perilakunya sendiri. Pabila kebutuhan dasar ini sudah terpenuhi maka akan muncul kebutuhan yang lebih tinggi yaitu kebutuhan akan rasa aman (Safety Needs). Read the rest of this entry

Metamorfosa Blog : Sebuah Pilihan Konsep

Ketika kita hidup tentu akan selalu di hadapkan oleh sebuah pilihan-pilhan. Terkadang pilihan tersebut berat untuk diputuskan, karena penuh dengan pertimbangan argumentasi yang latar belakangnya bisa bermacam dan tentu beda antara satu dengan yang lainnya. Intinya bila kita ingin terus hidup, ya harus dapat menentukan pilihan-pilihan yang mudah-mudahan menjadi pilihan yang terbaik untuk kita.

Begitupun dengan blog ini. Ketika pertama saya membuat blog, mungkin karena iseng saja ataupun juga karena latah atau ikut-ikutan trend mode saja. Dengan awalnya membuat konsep di dalam blog ini merupakan blog gado-gado yang berisi bermacam-macam informasi-informasi atau apapun saja yang layak “di jual” di Internet. Read the rest of this entry

Dampak Globalisasi Terhadap Pertanian Indonesia

Ayem tentrem ing desane Pak Tani…

Urip tentrem lan tandure…

Ora kurang sandangpangane…saaneke…

Wayah esuk manggul pacul, nggiring sapine katon sehate…..

(Kus Bersaudara)

Gambaran kehidupan tentram dan makmur petani Indonesia seperti tembang di atas sudah sulit didapat kenyataannya seperti nasib tembang tersebut yang sudah hampir musnah dari pendengaran kita. Pertanyaannya mengapa nasib petani semakin hari semakin terpuruk? Padahal alam dan lingkungan cukup subur? Justru akhir kahir ini bencana dan petaka yang terus menghantui mereka… wabah hama, gagal panen, kekeringan, kebanjiran, harga merosot, sementara biaya hidup (kesehatan, pendidikan, perumahan) melambung tidak sebading dengan harga produksi pertanian yang dihasilkan? Untuk menjawab pertannyaan itu biasanya orang lebih bertumpu kepada takdir Allah, atau alam mulai bosan, atau kebijakan pemerintah yang tidak tepat, atau kebodohan dan kemalasan petani sendiri atau apalah yang bias membenarkan kenyataan.

Nasib kehidupan petani kenyataannya tidak cuma tergantung dari karakter / kapasitas individu petani, lingkungan alam local, dan kebijakan nasional saja tetapi ada hubungannya dengan perkembangan dunia yang telah mengglobal. Kita ingat bahwa nasib petani Indonesia mulai dicampurtangani globalisasi sejak tahun 1757 VOC (Verenigde Oost Indische Compagnie) di Jawa. Sejak itu sebetulnya petani sudah menjadi bagian dunia global yang 60% nasibnya tergantung di tangannya.

Globalisasi secara umum merupakan bentuk keterbukaan dunia yang tidak lagi tersekat oleh wilayah administrasi negara, idiologi, agama, kultur budaya masyarakat dan keterpisahan geografi fisik tempat tinggal. Dunia bisa terbuka karena dipercepat oleh perkembangan teknologi komunikasi dan transportasi. Teknologi tersebut dapat menembus batas berbagai sekat-sekat dunia manusia. Di satu sisi globalisasi dapat mempercepat pencerahan dan menyebarnya nilai nilai universal yang dapat dinikmati masyarakat dunia. Namun di sisi lain globalisasi telah mengakibatkan korban jutaan manusia yang nasibnya semakin terpuruk.

Globalisasi sudah berlangsung dan tidak ada satu elemen kekuatan apapun dari manusia yang dapat membendungnya. Karena globalisasi telah menembus batas fisik, pikiran, sifat dan konsepsi hidup manusia dunia. Secara fisik manusia bisa menghindari, namun secara konsepsi hidup yang berupa pikiran, cita cita dan selera kehidupan sulit dihindari. Karena penyebaran dan penularannya menggunakan proses penyadaran diri manusia mulai lahir sampai di liang kubur.

Read the rest of this entry

Degradasi Fungsi Mulut dan Transformasi Komunikasi

“Kadang bicara dengan benda mati dan menganggapnya hidup lebih mengasyikkan…Mungkin karena mereka lebih patuh dan minim dusta.! #Absurd.”

Berbicara, berdiskusi ataupun berinteraksi terkadang lebih menyenangkan dengan benda yang jelas-jelas tidak punya mulut. Bukan berarti saya mengecam karunia mulut yang di berikan Tuhan, atau tidak mensyukuriNya. Pada saat moment atau situasi tertentu, kita seringkali menjumpai hal-hal merepotkan yang bersinggungan dengan mulut. Mulut terkadang mendendangkan lagu-lagu manis, janji manis dan berbagai ungkapan tentang keindahan namun mulut juga seringkali membuat kita patah hati dengan memberikan kebohongan, komentar kasar, ungkapan-ungkapan sinis dan menyesakkan.

 Mulut dan lidah merupakan suatu paket tidak terpisahkan dari diri kita dalam berkomunikasi dengan makhluk lain sejenis. Dalam artian mulut dan lidah yang menjadi medium utama kita untuk menyampaikan gagasan, ide, pandangan, informasi dan apa saja yang ingin kita sampaikan kepada orang lain. Mulutpun menjadi senjata utama kita untuk mempengaruhi orang, meskipun ada medium lain seperti misalnya melalui tulisan.

 Namun pola komunikasi yang di bangun oleh mulut ini, ternyata tidak terlepas dari element-element yang kita bangun dalam diri kita. Segala hal yang menyangkut ide dan pandangan kita ternyata tidak cukup bila di akomodasi hanya dengan sebuah mulut saja. Maksud saya, mulut dalam muatan penyampaiannya jelas di pengaruhi tidak hanya sebatas kharisma anda, kewibawaan anda atau  informasi yang anda miliki namun juga misalnya apakah posisi anda di lingkungan sosial, posisi jabatan anda di kantor, ketenaran anda di ruang publik, seberapa sering anda masuk TV, intervensi sosial anda atau apakah anda dekat pak pejabat anu atau bu  pejabat itu, dan masih banyak unsur yang lain. Gamblangnya adalah apabila anda tidak punya status sosial penting sekurang-kurangnya menduduki jabatan dalam struktur birokrasi, atau tidak punya uang untuk membayar orang lain untuk mendengarkan ceramah anda, maka hampir d pastikan bahwa mulut anda tidak akan berfungsi maksimal dan hanya menjadi gemeramangan saja.

 Hal semacam itu juga tidak hanya dalam lingkup pergaulan yang besar dan luas yang berskala nasional, namun juga merambah sampai ke lingkup pergaulan individu kita. Kita dididik oleh suatu budaya dimana kita hanya sanggup mendengarkan “orang penting” saja, namun tidak pernah terbiasa untuk mendengar “orang biasa” berbicara baru kita nilai ucapannya baik atau tidak, pemikirannya bagus atau tidak. Kita sudah menganggap bahwa mulut para “orang penting” itu segala-galanya benar dan tidak ada yang berani membantah. Karena “orang penting” itulah penentu akses kebutuhan kita baik dalam bidang ekonomi maupun politik . Disanalah terletak nasib masa depan kita pribadi sehingga kita tidak kuasa untuk berbeda pandangan. Kalau anda di luar struktur itu, maka anda menjadi antagonis atau setidaknya oposisi yang nasibnya anda tentukan sendiri. Kalau mulut anda lebih keras suaranya dari kompetitor anda maka anda akan di dengarkan, namun bila anda tidak mempunyai apa-apa, silahkan anda mencari dana santunan untuk menjamin kelangsungan hidup anda.

Read the rest of this entry

Catatan Kecil Buat Temans….

Beberapa hari yang lalu disela-sela mendengarkan sambutan kepala sukunya konsultan di acara penutupan MUSBES UPK, aq teringat akan kata2 bijak seseorang, yang biasa aq dengar melalui rekaman MP3…..kalo menurut aq ga beda jauh apa yang diharapkan si “kepala suku” dengan apa yang di sampaikan di “seseorang ini”……jad teman ini catatannya, semoga bisa memotivasi kita semua….. ^_^

Read the rest of this entry

Bangun Pagi dan Sebuah Kebiasaan

Saya termasuk dari banyak orang yang sulit untuk bangun pagi. Entah kenapa, saya selalu malas bila bangun cepat-cepat di pagi hari. Saya selalu bangun ketika memang sudah mepet waktunya untuk berangkat bekerja. Ketika masih dalam buaian mimpi di atas kasur, meskipun Blackberry sudah di setel alarm yang menurut saya masih pagi (karena jam pagi setiap orang tentu berbeda-beda), selalu timbul rasa enggan untuk dapat beranjak bangun dan mulai aktivitas. Dan seringkali selalu niat untuk bangun pagi selalu kalah dengan hasrat tidur kembali.
Mungkin juga sebuah pembenaran subjektif, kalau saya selalu bangun siang di karenakan hampir setiap malam begadang sampai larut, yang jadinya waktu tidur menjadi terdiskon besar-besaran. Bila standart jam tidur bagi orang dewasa adalah 6-8 Jam, maka dengan kebiasaan “melek malam” itu membuat waktu tidur saya menjadi hanya 3-4 Jam saja. Waktu tidur yang di rasa kurang dari standart normal itu menyebabkan aktivitas di siang hari menjadi tidak maksimal.
Meskipun standart normal tidur setiap orang juga berbeda-beda. Ada yang memang tidur setidaknya minimal 6 jam. Atau bahkan ada juga yang hanya cukup 3 jam dan tidak mengganggu aktivitas kegiatannya. Emha Ainun Nadjib merupakan salah satu orang yang menurut pengakuan beliau sendiri, menggunakan waktu tidurnya hanya 3 Jam sehari. Beliau tidur setelah subuh dan bangun sebelum jam 8 pagi. Hal itu berlangsung secara terus menerus, sehingga lambat laun membentuk kebiasaan. Namun hebatnya dengan jam tidur yang kurang dari waktu normal itu, tidak menghambat pekerjaan beliau. Namun ada juga orang yang masih saja kurang tidur meskipun sudah tidur minimal 7 Jam. Entah capek dengan pekerjaan, tidak mempunyai kegiatan, malas beraktivitas atau memang dasarnya adalah tukang tidur. Jadi meskipun dalam situasi apapun, tidur merupakan hal utama untuk didahulukan.
Tidur merupakan rahmat Tuhan yang sangat luar biasa. Di puncak kelelahan kita di beri ruang untuk men-charger kembali untuk mengisi energi yang terlah terkuras agar kita dapat merasa semangat kembali dalam menjalani rutinitas. Menemukan pola yang tepat untuk tidur kita merupakan hal saya kira perlu di rumuskan dalam diri kita masing-masing. Dengan tetap mempertimbangka kesehatan, agenda kegiatan, beban pekerjaan dan lain sebagainya.
Karena tidur secara tidak langsung akan membentuk pribadi dan sikap kita. Ambil contoh saja. Anda seorang yang penyabar dan selalu tidur tepat waktu. Namun karena anda menyalahi pola tidur anda sendiri sehingga mengganggu tatanan kosmos pribadi anda. Paginya anda beraktivitas dengan mata yang masih mendambakan untuk terpejam, tapi karena tuntutan pekerjaan anda harus berangkat kerja. Di dalam kantor anda masih merasa ingin tidur, dan mencari peluang untuk dapat tidur kembali. Ketika peluang untuk tidur siang hampir anda dapatkan dan ternyata tiba-tiba ada pekerjaan yang di bebanka kepada anda untuk segera di selesaikan, maka tak ayal anda sendiri sudah bisa menebak jawabannya. Anda pasti akan menjadi jengkel, marah ataupun misuh-misuh kepada diri anda sendiri. Dan pekerjaan yang anda hasilkan tentu tidak maksimal, karena konsentrasi pemikiran anda tidak 100% fokus pada pekerjaan anda tapi sebagian berfokus pada mata anda. Anda yang di kenal cukup bersabar, dengan kondisi tersebut akan mengurangi tingkat kesabaran dan bahkan mungkin sifat grusa-grusu (tidak sabar) anda akan perlahan muncul. Bila sekali saja itu tidak masalah. Namun bila hal itu berulang-ulang setiap hari, setiap minggu, setiap bulan ataupun tahun cap anda sebagai seorang yang penyabar akan terkikis dan outputnya anda akan di cap orang yang tidak sabaran, meskipun sebenarnya anda orang yang sabar.
Hal-hal kecil dalam hidup kita mempengaruhi hal-hal besar dalam hidup kita. Anda tidak mungkin mencapai sesuatu yang besar tanpa memulainya dari hal terkecil dalam hidup anda.

Gilang Prayoga
Purbalingga
08.12 Wib
1 Feb 2012