Blog Archives

Si Pemerintah dan Manusia Pemimpin

oratorMenjadi seorang pemimpin itu sulit luar biasa. Seorang pemimpin itu adalah seorang manusia utama, bukan sekadar atasan dari sebuah institusi profesional belaka. Lebih mudah menjadi sebuah kosakata “plesetan” atau kamuflase bahasa yang telah di resmikan secara protokoler kenegaraan yaitu “Pemerintah” Yang tupoksi dasarnya memang bertugas hanya untuk melakukan perintah-perintah saja. Dan celakanya semakin lama idiom pemerintah itu kita gunakan dan kita terima begitu saja, sehingga lambat laun denotasi makna pemerintah itu merasuki jenis manusia-manusia yang menyandangnya. Yang sehingga pada akhirnya tidak ada kesanggupan lain selain manusia pemerintah itu hanya bisanya untuk memerintah.

Bila menganut pada epistemologi kata perintah, tentunya yang kita bayangkan adalah sebuah posisi yang mengharuskan kita untuk mau tidak mau yang harus di lakukan dari dari segala hal yang menggenggam kekuasaan baik manusia maupun institusi resmi kepada  segala hal atau apapun saja yang tidak memiliki bargaining power atau kalah kuasa dengan si pemberi perintah. Bila aliran itu di urutkan maka akan sampai kepada yang kita pandang bawahan, kepada orang rendahan, ataupun kepada anak buah yang berada di telapak kaki tangan jaringan struktural manajemen organisasinya di berbagai lini. Presiden memandang lebih kuasa daripada mentrinya, Kepala bagian merasa lebih superior di banding operator produksi, majikan merasa lebih tinggi daripada buruh pembantunya dlsb.

Menjadi pemerintah itu di satu sisi terkadang jauh lebih mudah dibandingkan menjadi seorang pemimpin. Si Pemerintah bisa lahir dari selembar SK, yang di landasi oleh kompetensi, profesionalisme, keterampilan organisasi, pengalaman kerja, nilai-nilai ijasahnya, sikap dan perilakunya. Namun bahkan terkadang di lumuri dengan nepotisme, suap, ataupun dengan cara menjilat kaki-kaki atasan kita untuk mendapatkannya. Read the rest of this entry

R e s p e k

Beberapa waktu yang lalu Saya menjadi pembicara seminar bersama-sama dengan Robby Djohan dan Jalaludin Rahmat. Keduanya adalah orang-orang hebat yang sangat jarang Saya temui. Karya-karya mereka dalam masyarakat luar biasa, murid mereka bertebaran di mana-mana dan jadi semua dan omongan mereka bernas-berisi, maka Saya bukan cuma sekedar bicara, melainkan sekaligus belajar. Pak Robby adalah staf pengajar di UI, dan kalau beliau mengajar, seisi kelas dibuatnya melek sepanjang waktu. Demikian pula dengan Kang Jalal yang sehari-hari mengajar di Unpad. Wajar kalau mereka disegani, sebab mereka bukanlah dosen biasa yang hanya mengambil teori dari buku. Mereka mengambil ilmu dari buku sekaligus dari pengalaman mereka sendiri.

Yang kita bicarakan adalah soal kepemimpinan. Maklum, ada demikian banyak orang yang sudah merasa menjadi pemimpin kala sebuah tanda jabatan disematkan di dadanya, dan ia dilantik oleh pejabat di atasnya. Sementara itu sehari-hari, ia hanya memimpin dengan sebuah buku, yaitu buku peraturan. Ia hanya mau tanda tangan dan menyetujui kegiatan kalau “rule” nya ada di buku. Kata orang ia adalah orang yang jujur dan taat perintah. Praktis hampir tak pernah ada kesalahan yang ditimpakan kepadanya, karena ia adalah orang yang benar-benar taat aturan. Read the rest of this entry