Blog Archives

Kembali Mencintai Proses

prosesHari ini tadi, saya mendapatkan sebuah e-mail dari sebuah salah seorang teman yang menanyakan keberlangsungan blog saya yang semakin tidak terurus. Saya sedikit terkejut dan sedikit ke-GR-an, sekaligus juga terharu, ternyata sejelek-jeleknya isi konten blogku “Sebuah Catatan Tentang”, masih ada yang simpati menanyakan keberlangsungannya. Dan saya harus berterima kasih kepada beliaunya telah mengingatkan sehingga saya seolah-olah di tampar kesadarannya sehingga tiba-tiba memiliki semacam energi untuk mulai menulis kembali.

Malas memang menjadi faktor yang paling utama dan satu-satunya yang pantas untuk di jadikan kambing hitam untuk menutupi setiap kekurangan dan kelemahan kita. Dan dengan kalemnya kadang kita terbiasa bilang,” Ah..tidak punya waktu”, atau mungkin,” sedang sibuk dengan pekerjaan utama,”, “sedang buntu inspirasi,” atau bermacam alibi lain. Saat kita terpuruk, kita terbiasa ngeles dengan berbagai macam alasan. Maklum namanya manusia memang sudah begitu.

Namun kadang kita juga tidak objektif dan cenderung melupakan bahwa ada akar dari faktor elementer rasa malas itu yang ternyata bersumber dari persepsi dan motivasi kita yang salah arah. Persepsi dan motivasi yang salah tentang hakikat hidup, tentang hakikat etos kerja, tentang kreativitas dan apapun ternya sedikit banyak akan menyumbang kesesatan berpikir dan pada akhirnya mental serta kuda-kuda kita tidak pernah kokoh. Ketemu kendala sedikit saja sudah kalang kabut dan buntu, depress, stress dan ujungnya sampai frustasi.

Ketika kita akan melakukan apa saja ternyata sudah memikirkan tentang hambatan proses, kendala, masalah, maka sesungguhnya itu telah mendiskon besar-besaran potensi kreativitas kita. Bahkan salah-salah malah akan menguburkan dan memandulkan daya cipta, budaya kreasi dalam diri kita.

Dan hal bodoh itulah yang ternyata saya alami beberapa bulan terakhir ini. Dan sungguh saya menyesal dan berdoa kepada Allah swt semoga di ampuni dosa saya karena telah memubazirkan rizki inspirasi yang tidak pernah sempat saya bagi. Dan Tuhan mengingatkan saya, dengan mengirimkan seseorang yang entah dari mana asal-usulnya tersebut untuk sedikit menabok ketidaksadaran saya selama ini. Read the rest of this entry

Kerja Kok Minta Bayaran !!

129497558183216665

Mungkin tematik judul di atas adalah antitesis dari dunia profesional yang banyak berlaku di lingkungan kita di tengah derasnya arus modernitas dan semakin berlomba-lombanya manusia untuk menggapai tingkatan profesi setinggi-tingginya. Mungkin pula ini semacam fenomena arus balik dari sebuah mainstream populer kebudayaan materialistik kita. Dan boleh jadi, hal ini pula merupakan inisiatif kebangkitan kembali sebuah gerakan moral untuk menumbuhkan kembali tradisi-tradisi luhur nenek moyang tentang kebersamaan, gotong-royong dan suatu sikap “nriman” dan tidak melampiaskan dorongan nafsu duniawinya, ideologi sumeleh, atau semacam lilahilataala. Suatu gerakan akan cita-cita mulia yang tentunya wajib di dukung bersama dari kita yang masih mendambakan kerukunan, kebersamaan dan indahnya keguyuban yang semakin hari semakin luntur dari kehidupan kita.

Dunia globalisasi kita sekarang ini tengah di kepung oleh teori-teori yang sedikit banyak berlawanan dengan semangat kebersamaan. Dunia modern telah mengajari kita menjadi sangat rakus terhadap dunia, kalau tidak boleh di bilang serakah. Di setiap jengkal nafas kita telah di kepung dengan derasnya kesadaran untuk mengalahkan orang satu dengan yang lain. Menghancurkan manusia lain untuk melegitimasi kemenangan. Menumbangkan saudara lain untuk memperoleh kejayaan. Meremukkan nasib ribuan orang lain untuk memperoleh kekayaan bagi segelintir orang. Dan sistem mekanisme semacam itu di sahkan dalam kerangka formal dan baku yang di sebut profesional. Kapitalisme menjadi darah yang mengalir dalam nadi setiap manusia modern.

Visi kendaraan kapitalisme adalah menghimpun modal dan sumber daya untuk melipatgandakan berkali lipat. Sedangkan baju profesionalisme adalah anda harus sanggup berbuat tega hati bahkan kepada kerabatmu sendiri. Jangan banyak omong moral, etika dalam dunia kapitalisme dan profesional, karena hal itu hanya menjadi gincu pemanis yang luntur oleh cipratan hujan materialisme. Read the rest of this entry

NEGERI PENGIDAP SYNDROM FORMALITAS

 Bila melihat secara utuh kehidupan berbangsa kita, acapkali kita melihat segala sesuatu menyangkut hubungan sosio-kultural kemasyarakatan, praktek-praktek administrasi kepemerintahan, penyelanggaraan ritual keagamaan, kegiatan interaksi budaya, proses pendidikan sekolah-universitas serta apapun saja mungkin tidak berlebihan bila kita sebut  dengan hanya tampak secara permukaan. Permukaan ini bisa kita asosiasikan dengan hanya sebatas kesan agar supaya tampak, ataupun semacam sopan santun sosial ala kadarnya tanpa adanya makna mendalam. Gamblangnya kalau di analogikan di dalam sebuah kegiatan ke-organisasi-an, hal-hal semacam itu adalah administrasi belaka. Bahasa politiknya  disebut pencitraan.

Bisa kita berangkat dari hal-hal kecil dalam kehidupan kita.  Ketika ada gotong-royong membersihkan jalan kampung, seringkali kita lebih suka memilih untuk datang ketika pelaksanaan sudah hampir selesai. Kita tiba-tiba nongol, pegang arit dan cangkul sebentar terus setelah itu kita ngerokok dan mengobrol. Setelah cukup memberikan citra diri kita kepada para tetangga, kita diam-diam pulang meninggalkan kerja bakti. Itu kita lakukan agar kita tidak ketahuan bahwa sesungguhnya kita adalah penganut ideologis individualis. Dan membuat kesan kepada masyarakat kita sudah ikut kerja bakti, meskipun tenaga yang kita sumbangkan tidak signifikan.

Ambil contoh lain, ketika kita berhari raya idul fitri dimana merupakan momentum untuk saling maaf-memaafkan. Kita ketemu tetangga, handai taulan, sanak keluarga, para kerabat untuk  saling berjabat tangan mengalalkan kesalahan-kesalahan kita kepada orang lain agar setelah itu hubungan sosial budaya dengan orang tersebut lebih meningkat secara kualitatif.  Kebanyakan kita tidak pernah sanggup untuk beristiqomah dan memahami konteks sejati idul fitri. Dan menganggap prosesi sakral itu menjadi tidak begitu penting. Sehingga setelah bersilaturahmi itu kita kembali membuat dosa lagi dengan “ngrasani”, mempergunjing orang, ngrumpi serta menyimpan semacam dendam, iri dengki melihat umpamanya gemerlapnya kekayaan tetangga kita setelah pulang dari rantau.  Namun kita perlu saling berjabat tangan agar terkesan kita sudah saling memaafkan, meskipun dalam kenyataannya kita tetap saja menimbun rerasanan dan dendam pribadi. Ritual Idul Fitri menjadi hanya sebagai ritus belaka yang maknanya mengalami distorsi perubahan budaya dan menjadi kurang mendalam. Read the rest of this entry

IDUL FITRI UNTUK HARI RAYA KESEJAHTERAAN YANG PERMANEN

Hari raya Idul Fitri selalu memberikan nikmat yang luar biasa kepada setiap orang Indonesia khususnya umat islam. Bahkan tidak hanya untuk umat Islam saja yang merasakan nikmatnya, namun kepada semuanya pula yang bersentuhan secara langsung dengan momentum lebaran. Nikmat itu bisa kita lihat dari yang permukaan sampai yang mendalam. Dari yang tingkatannya hanya material sampai dengan kosmologis spiritual. Bahkan nikmat individu hingga nikmat kolektif sosial. Maka, terkadang saya membayangkan pada saat  berlebaran, benak ini menggumankan dengan yakin bahwa islam adalah rahmatan’lilalamin. Bahwa Islam bukan di tampilkan dengan wajah yang sangar, yang berangasan, suka merusak, yang suka ngebom, yang ekslusif, tapi islam yang hadir dan mampu memperlihatkan wajah yang santun dan bisa menjadi berkah rahmat untuk semua mahkluk Tuhan.

Ambil salah satu contoh umpamanya adalah nikmat Idul Fitri secara ekonomi dan kemaslahatan ummat. Nuansa hari raya selalu menampilkan kesan dimana saat inilah momentum dimana kita mendapatkan kemerdekaan ekonomi. Karena Rasul Muhammad jelas mewanti-wanti agar jangan sampai tetangga kita pada hari raya Idul Fitri ada yang merasa fakir dan tidak bisa menikmati hari raya sebagaimana orang yang lain. Kita tidak boleh serakah untuk menikmati hari raya sendirian dan tidak membagikan kebahagian itu kepada orang lain. Karena tidak mungkin anda mampu berhari raya secara individual. Kolektivitas mutlak menjadi substansi idul fitri dimana di hari istimewa ini, kita lebih mampu untuk memberikan sesuatu yang berharga kepada orang lain.   Read the rest of this entry

MUDIK LEBARAN SEBAGAI PROSES MENUJU HARI RAYA SEJATI

Term mudik entah darimana asal usul epistimologinya, sesungguhnya dapat kita maknai suatu perjalanan pulang kembali untuk menemukan kembali apa yang kita namakan kesejatian. Kesejatian bisa kita lihat dari perspektif wacana budaya, agama, atau akal sehat belaka. Bahwa setiap manusia pasti memiliki sisi yang terus menerus ingin menemukan yang di anggapnya sebagai kesejatian. Meskipun belum tentu kesejatian yang sejati sama dan sebangun dengan kesejatian yang di persepsikan oleh manusia yang mencarinya.

Di setiap hari kita bekerja keras, peras keringat membanting tulang untuk satu tujuan yaitu mengamankan gawang ekonomi kita. Kita berjenis profesi macam apapun saja, muatan tujuan hidup kita adalah mendayagunakan ekses sumber daya yang kita miliki untuk manampung naluri keduniaan kita dalam menumpuk harta. Dan ini adalah naluri alamiah setiap jenis makhluk yang bernama manusia. Meskipun boleh kita perdebatkan cara dan metodenya untuk mencapai keamanan ekonomi itu. Tapi yang ingin kita ceritakan disini adalah, bahwa di akui atau tidak, sadar maupun tidak sadar kita setiap hari di kepung oleh dorongan untuk berlaku seperti itu.

Untuk itulah  mungkin Tuhan Maha Adil yang telah menciptakan manusia dengan memberi kita seperangkat nafsu untuk memungkinkan kita maju dan berkembang sekaligus juga diberi metode untuk mengendalikan melalui idiom agama ataupun naluri alamiah untuk mengendalikan nafsu. Budaya mudik juga boleh kita asosiasikan, merupakan hikmah Tuhan bagi manusia agar manusia mengenal kembali sangkan paran atau asal usul dirinya. Asal usul diri kita merupakan salah satu jalan untuk mengenal tentang kesejatian. Read the rest of this entry

Menggugat Teori Kebutuhan Maslow

Awalnya dulu saya tidak begitu perduli dengan teori-teori akademis yang berkembang untuk mempelajari perilaku manusia. Karena perilaku manusia sangat sulit untuk kita rumuskan karena begitu banyak mengandung probabilitas. Meskipun kita telah mengumpulkan data, meneliti sampai detail dari berbagai macam sudut pandang ilmiah, membandingkan teori ini dan teori itu namun kesimpulan akhirnya adalah bahwa manusia itu sulit di tebak. Tidak heran maka muncul beberapa ungkapan seperti “dalamnya laut dapat di ukur, hati orang siapa yang tahu” dan ada juga “rambut sama hitam, hati orang siapa yang tahu” dan masih banyak lagi. Tinggal anda cari sendiri, dan bahkan mungkin dapat anda ciptakan sendiri.

Dari latar belakang itulah maka saya sedikit ingin mempertanyakan teori kebutuhan yang di perkenalkan oleh Abraham Maslow. Bukan berarti saya lebih pintar dari beliaunya. Dan bukan berarti saya memiliki teori yang melebihi teorinya. Namun ini hanya sebuah tangkapan atas pandangan-pandangan pribadi saya. Dan tidak bisa di pastikan bahwa saya juga benar seratus persen. Silahkan di koreksi bila ada yang salah.

Teori maslow merupakan salah satu penjabaran untuk mempelajari tentang perilaku  manusia untuk mencapai kebutuhannya. Gagasan kebutuhan manusia itu di jabarkan dalam piramida 5 tingkat. Yang pertama atau  tingkat paling bawah adalah kebutuhan fisik (Physiological Needs) yang menjelaskan tentang kebutuhan dasar manusia yang bersifat fisik. Yaitu bahwa manusia harus terpenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya seperti kebutuhan sandang, pangan, papan. Kebutuhan ini di pandang sebagai kebutuhan pokok yang wajib terpenuhi karena  apabila tidak terpenuhi maka akan terjadi keadaan yang sangat ekstrim yang menyebabkan manusia yang bersangkutan kehilangan kendali atas perilakunya sendiri. Pabila kebutuhan dasar ini sudah terpenuhi maka akan muncul kebutuhan yang lebih tinggi yaitu kebutuhan akan rasa aman (Safety Needs). Read the rest of this entry

Metamorfosa Blog : Sebuah Pilihan Konsep

Ketika kita hidup tentu akan selalu di hadapkan oleh sebuah pilihan-pilhan. Terkadang pilihan tersebut berat untuk diputuskan, karena penuh dengan pertimbangan argumentasi yang latar belakangnya bisa bermacam dan tentu beda antara satu dengan yang lainnya. Intinya bila kita ingin terus hidup, ya harus dapat menentukan pilihan-pilihan yang mudah-mudahan menjadi pilihan yang terbaik untuk kita.

Begitupun dengan blog ini. Ketika pertama saya membuat blog, mungkin karena iseng saja ataupun juga karena latah atau ikut-ikutan trend mode saja. Dengan awalnya membuat konsep di dalam blog ini merupakan blog gado-gado yang berisi bermacam-macam informasi-informasi atau apapun saja yang layak “di jual” di Internet. Read the rest of this entry

PERANG MINYAK

Perang minyak telah di tabuh. Demo kenaikan Bahan Bakar Minyak (BBM) serentak dilaksanakan di kota-kota besar Indonesia, yang di prediksi akan memuncak pada hari Selasa (27/3) bersamaan dengan rapat paripurna DPR. Gelombang penolakan rakyat atas rencana pemerintah itu telah membuat apa yang di sebut para ekonom sebagai multiplier effect. Sebelum kenaikan harga BBM di yang akan di tetapkan per tanggal 1 April 2012 telah di dahului oleh harga-harga kebutuhan pokok yang membumbung tinggi. Para mahasiswa kembali turun ke jalan, menggalang massa untuk menyuarakan penentangan kenaikan BBM. Mereka mengadakan koalisi dengan seluruh rekan se-Indonesia dengan di dukung oleh ormas, lembaga-lembaga independent, dan berbagai macam elemen yang memiliki visi yang sama. Setelah sebelumnya dilakukan beberapa demo secara parsial dan sporadic di Indonesia, mereka telah merencanakan unjuk rasa kembali secara massive yang akan di pusatkan di depan gedung DPR.

Menyikapi hal tersebut Pemerintah sigap untuk menghadang rencana “perang” massa itu dengan memerintahkan POLRI dan TNI untuk menjadi garda depan. Meskipun menjadi problematic sendiri ketika TNI harus turun tangan mengamankan para pendemo. Banyak pihak menilai pengerahan TNI tidak sesuai dengan fungsinya. Yang seharusnya berfungsi untuk menjaga atau mengamankan kedaulatan NKRI dari pihak asing, ini malah di hadapkan kepada rakyat sendiri. Dan yang terjadi adalah benturan yang berujung kekerasan. Meskipun ada nada-nada sumbang bahwa itu terjadi karena ada provokasi, karena di tekan duluan atau apapun saja. Namun yang pasti, moment tersebut membuat kepercayaan publik kepada pemerintah SBY merosot tajam. Pertanyaannya adalah apakah mengemukakan ketika rakyat mengemukakan pendapatnya lantas sudah mesti dituduh subversif? Apakah ketika melaksanakan demonstrasi, sudah di curigai akan melakukan perusakan-perusakan atau penjarahan massal. Ataukah merupakan ketakutan penguasa negeri ini akan terjadinya demonstrasi seperti 1998.

Para penuntut penolakan, partai oposisi, menyatakan bahwa ini merupakan pembohongan publik. Mereka mengklaim bahwa dengan perhitungan mereka, APBN negara tidak akan jebol meskipun harga BBM mencapai 125 US Dollar per barel. Bahkan selama ini pemerintah cenderung tertutup atas hasil penjualan minyaknya. Mereka mengemukakan Read the rest of this entry

Esemka=No, Maleo=Yes

Biasanya siapa yang mengkritisi mobil Esemka akan dianggap tidak punya rasa  nasionalis.  Hehehe 🙂 Tapi ya sudah lah. Bangsa ini memang butuh kejujuran daripada nasionalisme buta. Bukan cerita baru kalau sebagian dari kita susah menerima kritik.

Dari awal gembar-gembor mobil Esemka di-mobnas-kan sebenarnya saya sudah tidak percaya kalau mobil tersebut “dibuat” bukan “dirakit”. Sebelum mobil tersebut dipakai oleh pejabat daerah, liputan pertama yang saya tonton di TV, jelas-jelas menunjukan  anak SMK-SMK yang masih jujur dan lugu itu mengatakan kalau mereka merakit mesin dari kendaraan lain. Bahkan salah seorang dari mereka menyebutkan merek mobil tertentu sambil memperlihatkan blok mesin.  Selain itu, jelas-jelas, spanduk di lokasi kerja para anak SMK itu (yang muncul di TV) menyebutkan “tempat perakitan”. Anak-anak SMK yang jujur itu tidak pernah menuliskan “Pabrik Mobil”.

Entah kenapa, ketika pejabat sudah punya misi politis, semuanya berubah. Anak-anak SMK yang jujur bahwa mereka hanya belajar merakit, tiba-tiba tenggelam dan posisinya digantikan para pejabat yang pintar bermain kata-kata dan mencari popularitas.

Saya pernah bekerja di salah satu FMCG company. Dan setiap saya membuat  produk baru, saya harus menyiapkan design botol baru yang nanti akan dibuatkan mouldingnya. Sayang tidak terbayangkan berapa nilai investasi yang harus dimiliki seorang Sukiyat dibengkel  karoseri-nya atau anak-anak SMK untuk bisa memiliki peralatan membuat mobil, kalau untuk sebuah moulding botol PET 8 cavity saja, saya bisa menginvestasikan sampai 2 milyar rupiah.

Sekarang, apakah kalau anak-anak SMK itu ternyata cuma tukang rakit, itu hina?  Tentu tidak! Sebenarnya, saya pikir tidak masalah kalau mobil itu hanyalah mobil rakitan dari mobil China bernama Fudi Explorer 6 yang sudah dipasarkan sejak 2009 (note: seorang teman yang berada di salah satu pasar di negeri China mengambil gambar-gambar kendaraan ini). Apa salahnya kalau anak-anak SMK belajar merakit mobil? Tidak ada yang salah! Yang salah adalah pejabat yang memanfaatkan anak-anak SMK dan kata “Nasionalisme”.

Kita masih ingat kasus masuknya Timor dan Bimantara? Mobil-mobil Korea yang di_mobnas-kan? Bahkan saking suksesnya kata-kata mobnas menempel pada mobil-mobil yang punya merek asli Kia dan Hyundai ini, proyek Maleo yang sebenarnya adalah proyek mobil anak bangsa yang digagas Habibie  jadi terlupakan.

Buat para tenaga pemasaran di dunia otomotif, memainkan kata,”Nasionalisme” adalah kartu sakti yang bisa membuat proyek import mobil China berjalan mulus dan sukses di pasar Indonesia. Dengan embel-embel nasionalisme, orang bisa menutup mata akan atribut kualitas. Dalam marketing, A bisa jadi B dan sebaliknya. Orang-orang marketing tentunya paling ahli bermain kata-kata. Tapi setidaknya produsen Timor dan Bimantara masih memiliki nilai kejujuran. Mereka tidak pernah malu menyebut kata “merakit”. Bahkan ketika mereka dengan lirih menyebutkan kandungan lokal yang masih rendah. Setidaknya mobil Korea yang di-mobnas-kan, masih bermain cantik.

Kebetulan Timor adalah mobil pertama di keluarga saya. Apakah ketika saya mengendarai Timor, saya bangga karena mobil tersebut adalah mobil “asli indonesia”? Tentu tidak! Keluarga saya membelinya karena murah dan saya tidak bisa membohongi diri sendiri kalau mobil tersebut hanyalah  mobil Korea yang bagian joknya dibuat oleh orang indonesia. Apakah saya tidak punya rasa bangga dengan karya anak bangsa? Saya pribadi lebih bangga memamerkan baju batik sederhana yang asli “indonesia banget” daripada produk asing yang “di-indonesia-indonesia-kan”.

Pejabat “gila hormat” ternyata tidak hanya ada di pulau jawa. Baru-baru ini, kapala daerah salah satu propinsi di sumatera gantian memamerkan pabrik di lingkungan SMK yang katanya bisa digunakan untuk membuat onderdil mobil. Pejabat itu dengan bangga berkata kalau mereka “membuat” bukan merakit, padahal di layar TV jelas-jelas tampak merek Krisbow dan Focus (sudah dikenal sebagai produk negara lain). Tidak kurang pongahnya, si kepala daerah langsung memamerkan sebuah mobil (belum ada body-nya) yang katanya buatan anak SMK di propinsinya. Walau jelas-jelas ada merek Toyota di bagian mesin yang terlihat terang bernderang. Mungkin di minggu-minggu depan, SMK ini juga akan terkenal seperti sekolahan yang “memproduksi” Esemka.  Kalaupun nanti mereka mengklaim, sebagai pembuat produk asli indonesia, saya hanya akan tersenyum sambil mengingat merek-merek Krisbow, Focus dan Toyota yang baru saja saya lihat di liputan berita hari ini.

Melihat kepongahan beberapa pejabat, saya justru iba. Iba dengan rendahnya standar mereka. Dari standar kejujuran sampai standar kualitas dari sesuatu yang bisa disebut sebagai produk nasional. Akhirnya, satu pertanyaan yang ingin saya ajukan, apakah para pejabat yang mengatakan Esemka itu buatan anak bangsa padahal cuma “rakitan” adalah pahlawan? Kalau begitu, harusnya predikat yang sama bisa kita berikan kepada salah satu anak mantan presiden Soeharto yang telah melahirkan mobnas pertama bernama Timor jauh-jauh hari sebelumnya. Harusnya beliau patut dihormati lebih dari seorang Habibie yang proyek Maleo-nya tidak pernah mendapatkan perhatian serius.

Bagaimana dengan hari ini? Selain pejabat yang sedang me-mobnas-kan mobil China, tahukah anda kalau para peneliti kita di LIPI sedang berjuang untuk sebuah mobil listrik yang kelak akan bisa diproduksi oleh anak bangsa? Mungkin mobil buatan LIPI tidak sehebat mobil buatan China atau Korea. Tapi dari sana lah mobil nasional yang sebenarnya akan muncul. Bukan sekedar mobil import dari Jerman, Amerika atau Jepang yang dirakit dan dikasih merek lokal.  Seperti dejavu Timor vs Maleo hehehehe… Akhirnya pemerintah kita memang lebih senang meng-import.

Soal merek lokal, saya jadi teringat saat saya harus membeli puluhan mesin cuci dari China untuk hadiah (sebuah program undian nasional). Ketika sayasedang memeilih-milih, saya sempat bertanya,” apakah saya bisa dapat merek lokal?” Jawaban yang saya dapat dari tuan toko adalah: Bapak mau merek apa? Nanti saya tempel, bahkan bisa pakai nama Bapak. Apapun mereknya, mesinnya tetep China. Bahkan bisa dikasih merek ‘pancasila’ atau ‘merah putih’ biar terlihat merek lokal. LOL

Dari tulisan di atas, bisa disimpulkan kenapa saya tidak bangga dengan Esemka. Seandainya proyek “mobnas asli” seperti Maleo diteruskan, tentu saya lebih punya rasa bangga. Walau Maleo akhirnya kandas (karena kepentingan tertentu), saya masih bisa mengingat hasrat dan kebanggaan yang berbeda sebagai anak-anak waktu itu . Semoga kelak, Indonesia bisa benar-benar memiliki mobnas yang sesungguhnya ketika para pejabat kita bisa membedakan antara “membuat” dan “merakit”.

Oleh : Uki Lukas

Sumber : Kompasiana

Kuliah itu Ternyata “Tidak” Penting

Bila membaca judul di atas mungkin kita akan sedikit mengernyitkan dahi. Karena dimanapun, entah di jaman dahulu atau atau sekarang, entah di kota atau di desa, entah kaya atau miskin, kita semua bersepakat bahwa melanjutkan kuliah itu merupakan suatu hal yang penting, yang kita upayakan sedemikia rupa agar kita dapat menikmati empuknya bangku kuliah. Meskipun lading atau hewan ternak orang tua kita menjadi tebusan. Yang penting cita-cita kuliah itu harus nomor satu, karena beberapa alas an. Tentunya yang pertama adalah mendukung program pemerintah untuk wajib belajar. Kedua, dengan kuliah kita mendapatkan sebuah ijasah dan gelar yang tidak semua orang berhak menyandangnya. Sehingga akan sedikit banyak meningkatkan gengsi dan harga diri kita di hadapan calon mertuan kita kelak. Dan Ketiga adalah dengan kuliah kita mendapatkan pintu untuk mengakses pintu-pintu perusahaan bonafide, meskipun alas an yang ketiga ini masih bisa di perdebatkan karena fakta empiris saat ini malah sarjana pengangguran sangat tinggi sekali. Sehingga kita bisa alas an kembali kaitannya dengan pentingnya kuliah, “ Kalau yang sarjana saja sulit mendapatkan pekerjaan, apalagi yang Cuma lulusan SMP dan tidak sekolah”. Maka kita diam-diam juga ok untuk mendukung gerakan untuk kuliah.
Meskipun juga harus ada argument-argument klise seperti kuliah itu untuk menuntut ilmu, menguak rahasia keajaiban alam yang terhampar. Menjadi sang pencerah dalam membaca tanda alam melalui ilmu pengetahuan. Sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat melalui riset-riset ilmiah.
Namun mayoritas ketika di telusuri lebih dalam lagi, ujungnya adalah sama: setidaknya nanti dengan kuliah dapat memperoleh pekerjaan dan penghidupan yang lebih dari layak. Untuk urusan ilmu pengetahuan, itu kita pinggirkan untuk menjadi kosmetik wajah ketika kita berhadapan dengan orang lain. Sepenuhnya kita lebih berharap kepada pengakuan saja yang tercetak dalam lembaran ijasah. Read the rest of this entry