Arsip Blog

Sakit Jiwa Sosial

Kalau problem yang dibawa seseorang itu bersifat praktis–misalnya, penyakit fisik ala kadarnya atau santet atau semacam kesurupan–Mas Dukun bisa tanpa banyak cingcong menanganinya.

Tetapi kalau yang di sodorkan kepadanya adalah efek dari penyakit sosial, disinformasi tentang pemahaman-pemahaman hidup, atau mungkin salah kuda-kuda mental, intelektual atau spiritual, maka Mas Dukun harus mereformasikan berbagai mismanajemen tatanan nilai dalam kesadaran dan kebawahsadaran orang tersebut.

Penyakit-penyakit semacam ini bukan main kompleks, luas dan ruwetnya. Terkadang ada orang yang memang tak sanggup lagi untuk memahami apa yang ditanggungnya. Lebih-lebih lagi merumuskan keruwetan-keruwetannya. Kebiasaan yang tinggal hanyalah menatap kegelapan. Dan kegelapan itu adalah dirinya sendiri: dirinya gelap, sementara mripat pandangannya juga buta sedemikian rupa.

Tetapi kadangkala tidak sedikit anak-anak muda mendatangi Mas Dukun untuk menyodorkan sesuatu yang sesungguhnya sama sekali bukan problem. Dia berkata tentang buntu, kosong, bingung, depressed, tetapi setelah di gali bersama apa gerangan itu semua–ternyatalah bahwa faktor-faktor itu sebenarnya tidak cukup potensial untuk menindas mental mereka apabila saja terlatih untuk mendayagunakan akal sehat dan pengetahuan tentang pokok-pokok nilai kehidupan.

Seorang anak muda gagah ganteng, datang untuk mengungkapkan kebingungan dan menangis, serta merasa buntu dan tak berarti–hanya karena dulu orangtuanya kaya sekarang melarat, sehingga dia tak bisa kuliah. Itu bukan problem. Itu keringkihan.

#EAN
#SuratKepadaKanjengNabi

Author : Emha Ainun Nadjib

Book : Surat Kepada Kanjeng Nabi

DSC_0563

 

Iklan

Kumpulan BBM dari Cak Nun

IMG01011-20110819-0018

Tulisan ini merupakan beberapa bagian dari dialog saya dengan Cak Nun / Emha Ainun Nadjib melalui Blackberry Messenger (BBM) yang mungkin saya pandang perlu di bagikan kepada teman-teman karena pesan yang di sampaikan Cak Nun sangat universal dan menjadi bagian dari diri kita semua. Beberapa pesan sudah saya edit dengan memperhatikan tanda baca, huruf namun tidak mengurangi esensi pesan yang di sampaikan. Apa yang di tulis disini semoga juga dapat memberi kemanfaatan bagi anda semua……

 ——————————————————————-

G         : Alhamdulilah cak…sudah d approve…semoga menjadi barokah. Amin. Doa kami Cak Nun selalu di beri kesehatan dan selalu dalam lindungan da bimbingan Allah. Amin. Amin ya robal alamin.

            (12/26/2011) jam 04.07

CN   : Alhamdulilahi robbal alamin. Terima kasih atas doanya, juga terima kasih dari semua yang berada di gelombang itu.

        (12/26/2011) jam 04.09

CN     : Innalilahi wainna ilahi rajiun. Telah meninggal dunia Bapak Antonius Welirang ayahanda dari pak Franky Welirang, kamis 29 des 2011 jam 19.30 waktu singapore di Mt Elizabeth Hospital. Ucapan belasungkawa mohon di sampaikan langsung ke +6216882***. Wass

          (12/292011) jam 19.57

G         : Assalamualaikum cak..mohon doa dan juga mohon bimbingan agar membuat hati ini yang sedang cemas dapat tenang…mohon wirid apa yang bisa di lafalkan untuk agar bisa menghadapi dunia ini dengan tenang dan jernih. Terima kasih. Wassalamualaikum wr. Wb

CN     : Menguras isi keduniaan dari dalam jiwa, diisi dengan sebanyak-banyaknya ingatan kepada Allah. Dunia di letakkan di tangan, sebagian di fikiran.

G         : Ketika saya harus berhadapan dengan lingkungan yang korup cak…lingkungan yang menekan untuk saya ikut dalam lingkaran korupnya…di sisi lain saya tdk bisa meninggalkan pekerjaan saya. Hal apa yang mungkin saya bisa lakukan ketika menghadapi seperti itu. Insyallah saya akan tetap istiqomah untuk bertahan dan menolak untuk ikut dalam lingkaran korup dan serakah itu. Namun konsekuensinya adalah saya merasa tidak nyaman di kantor saya..mohon tambahan doa cak..

CN     :  Segala ketidaknyamanan di niati sebagai bagian dari proses triqat pribadi lillahi ta’ala dalam kesunyian khalwat di tengah keriuhan kantor, insyaallah akan berubah menjadi kemudahan hidup, anugerah rizqi dan solusi-solusi, bahkan berlaku hingga anak cucu.

G         : Nggih Cak terima kasih…saya akan niati ini jadi proses thariqat lillahi ta’ala…Dan akan saya wiridkan doanya Rasullah Muhammad seperti yang CN sering sampaikan. Semoga akan menguatkan proses perjalanan ini…amin…amin…

CN     : Belum tentu 1 orang di antara 1 juta orang snaggup beristiqomah, maka raihlah keistimewaan 1 dan tinggalkan ketidakistimewaan sejuta.

 Pada suatu kesempatan CN mengirimkan broadcast sebuah video yang teman-teman dapat liat di link ini : http://www.youtube.com/watch?v=j_O2J3rNTRY dengan judul Satu Rahmat: Azan Berkumandang di Gereja .

CN      : Ha.ha…kita gajah penyeberang lautan kagum kepada katak penyeberang parit. Harus orang barat dulu baru ‘sah’.

G         : Mbah Nun..Kalau dajjal itulah yang seluruhnya menguasai hidup ekonomi kita,,,apakah bisa kita tidak patuh?? Titik koordinat untuk mengkompromikan hal-hal yang di patuhi atau tidak kadarnya seberapa?

CN      : Saya tidak patuh. Pertama kretivitas dan ketepatan niat. Kedua, kejahatan yang menyentuh kita barokahkan. Ketiga, Allah tidak mempersalahkan apapun keadaan hambaNya yang berposisi darurat dan tidak berdaya…

Catatan Kehidupan : Masalah Rumah Tangga Adalah Masalah Kecil

Ada teman-teman mengatakan kepada saya bahwa masalah rumah tangga itu adalah masalah kecil, masalah persuami-istrian itu masalah kecil. Pokonya rumah tangga itu kecillah. Saya bilang sama, bagaimana masalah rumah tangga kok kecil? Orang pada cerai, orang pada bertengkar, orang pada bingung. Rumah tangga adalah besar, saya bilang. Dia bilang masalah kecil. Kita ini mahluk social.

Kita ini bagian dari masyarakat yang besar. Dari negara yang juga sangat besar dan sangat rusak. Dan itulah masalah besar kita. Maka masalah rumah tangga harus menjadi kecil. Artinya soal kesetiaan suami istri sudah harus beres, kalau tidak boleh menjadi masalah. Itu harus sudah jadi sesuatu yang kecil, otomatis harus terjadi. Masalah sex, masalah rumah tangga apapun saja, di antara suami, istri, anak dan kakak-kakaknya, dan semua hubungan di antara anggota keluarga.

Itu sudah harus menjadi masalah kecil, harus pasti beres. Sehingga kita sudah siap untuk menjadi pendekar yang lebih besar. Untuk mengurusi masalah besar dari negara yang problemnya juga sangat besar. Terseah menurut anda ini benar atau tidak.

Senin, 06 November 2006

Taken From
Catatan Kehidupan Emha Ainun Nadjib
http://www.deltafm.net

Catatan Kehidupan : Kekecewaan dan Kekesalan

Teman-temanku penggemar Delta FM dimana saja Anda berada. Kita ini orang-orang tua, mengalami banyak sekali kekecewaan sebagai manusi, sebagai warga negara, sebagai penduduk, sebagai bagian dari republik yang sedang pilu ini. Kekecewaan-kekecewaan ini berlangsung terlalu panjang dan akhirnya terakumulasi, menggumpal, jadi kapalan dia.

Akhirnya ada tumpukan-tumpukan kekumuhan didalam jiwa kita, sehingga kemudian kita ingin mengkentutkannya. Kita ingin membuang angin busuk itu dari dalam diri kita dengan misalnya Sinisme, dengan bikin lawak-lawakan, kirim sms yang lucu-lucu kemana-mana. kita bikin anekdot-anekdot mengenai pejabat. Kita ejek mengenai ini-itu. Kita melakukan pokoknya formula-formula sinisme, lagu-lagu kita plesetkan. Pancasila kita bilang “Pancasila : 1. Keuangan yang maha esa, 2. Kemanusiaan yang tidak adil dan biadab. 3. Perseteruan Indonesia, dan seterusnya, misalnya begitu kita plesetin?

Cuman sering kita tidak hati-hati, bahwa itukan pengalaman kita. Anak-anak kita, dia tidak punya kewajiban untuk ikut menyanggah kekumuhan hati kita. Jadi anak-anak harus kita lindungi. Anak-anak jangan kita ajari lagu Garuda Pancasila yang kita pleset-plestkan dengan sinisme kita. Anak-anak harus kita tumbuhkan bersama-sama dengan kemurnian Indonesiia Raya, kemurnian Garuda Pancasila, kemurnian Padamu Negeri. Anak-anak jangan kita ajari, jangan kita tanami dengan hasil dari kekecewaan dan keputus-asaan hidup kita, sebagai orang tua.

Jadi dalam budaya, dalam sosialisasi nilai-nilai nasionalisme segalamacam. Kita harus sangat berhati-hati. Termasuk teman-teman aktivis yang seringkali anak-anak disuruh menjadi alat untuk melampiaskan kekesalan mereka kepada pemerintah. Akhirnya pemeritah yang salah, negara yang disalahkan, negara kan bukan pemerintah? Jadi teman-teman sekalian mudah-mudahan kita mengetahui batas-batas itu dan tetap ditengah keputus-asaan kayak apapun kita tetap menjaga pertumbuhan anak-anak kita, generasi yang terbaru sehingga mereka akan menjadi anak-anak yang murni, yang siap untuk menjalankan dari apa yang tidak mampu kita jalankan di dalam konteks nasionalisme Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Taken From
Catatan Kehidupan Emha Ainun Nadjib
http://www.deltafm.net
Senin, 12 Juni 2006

Lemahnya Legitimasi Nilai Pendidikan

Teman-teman sekalian, Assalamualaikum wr wb

Bisa jadi salah satu kemungkinan jawaban kenapa situasi demoralisasi bangsa kita sedemikian parahnya itu karena faktor-faktor yang terpenting dalam kehidupan manusia itu memang tidak ada sekolahnya. Nggak ada kelasnya. Ngga ada ruang kuliahnya. Nggak ada kurikulumnya. Misalnya, berumah tangga. Nggak ada fakultas rumah tangga. Tidak ada jurusan perkawinan atau pernikahan. Yang ada pendidikan seks. Itupun tidak ada urusannya dengan masalah psikologis dan rohaniah. Apalagi dengan syariat atau akhlak. Jadi rumah tangga nggak ada sekolahannya. Padahal itu setiap orang harus berumah tangga. Kebaikan tidak ada sekolahannya. Padahal setiap orang di perlukan untuk baik. Akhlak tidak ada sekolahannya. Padahal apa jadinya dunia ini kalau orang tidak berakhlak.

Lho apakah di kurikulum-kurikulum sekolah, di pelajaran-pelajaran sekolah, guru-guru, dosen-dosen,  para professor tidak pernah menyebut-nyebut, pentingnya ketentraman rumah tangga, kedewasaan suami istri, kebaikan hidup, atau moralitas. Bukan tidak pernah. Tetapi tidak pernah di posisikan secara primer di sekolahan-sekolahan kita. Kebaikan bukan sesuatu yang primer.

Anda seorang sarjana, kemudian mengajar di sebuah universitas.  Kemudian anda ketahuan mencuri motor. Anda hanya mendapat hukuman separo. Yaitu anda di pecat dari universitas anda. Itupun belum tentu karena soal moral tapi mungkin karena soal malu. Masak universitas punya dosen curi motor. Tetapi, dosen dan sarjana yang mencuri motor ini, tidak akan pernah di copot gelar kesarjanaannya.  Anda professor, anda memperkosa orang, anda tetap profesor.  Anda doktor, anda korupsi, anda tetap Doktor.

Betapa lemahnya, legitimasi nilai dari sekolahan-sekolahan, universitas-universitas yang selama ini kita bangga-banggakan.

Emha Ainun Nadjib

*di tulis ulang dari rekaman radio Delta FM.

KEBUDAYAAN BARAT ATAU KEBUDAYAAN TIMUR

Temen-temen sekalian,

Kalau moralitas ibarat tanaman di taruh di atas pot atau di sebongkah tanah, yang namanya kebudayaan. Kemudian jenis kebudayaannya kita sebut kebudayaan timur dimana disana ada kebudayaan barat. Sekarang kita ingin bertanya, yang mana dari Jakarta ini yang kebudayaan timur? Dan apakah kalau anda ke Makau, ke Honkong, anda Ke New York, anda ke San Fransisco, ke Chichago maka anda bisa sebut kebudayaan barat. Cinta  kepada ibu bapak itu kebudayaan timur apa kebudayaan barat? Cinta dan pacaran itu kebudayaan timur apa kebudayaan barat. Yang mana sebenarnya yang kebudayaan timur yang mana yang kebudayaan barat. Kadang-kadang orang barat sangat timur, kadang-kadang orang timur sangat barat. Kadang-kadang orang barat sangat sosial, kadang-kadang orang timur sangat individualistis. Padahal ada kategori-kategori baku bahwa barat itu individualistis, bahwa timur itu suka gotong royong dan kolektif. Ternyata dalam prakteknya bisa terbalik sama sekali.

Pertanyaan saya, kembali kepada dasar pemahaman, ilmu sederhana mengenai moralitas. Apa bener moral ini bisa kita tanam di atas pot bunga kebudayaan tadi. Ataukah kita harus menemukan tanah yang lebih permanen, yang bisa menjaga moral itu tanpa batas waktu, tanpa batas era, tanpa batas kurun, tanpa batas zaman. Sampai zaman apapun moral A adalah A, B adalah B. Nah kalau kebudayaan tidak bisa. Kebudayaan itu, sekarang bilang A itu baik tahun depan bilang A itu jelek. Ah, jadi sekali pertanyaannya, mungkinkah kita mengandalkan kebudayaan ataukah kita harus mencari dasar-dasar nilai lain untuk menjaga moralitas.

Emha Ainun Nadjib.

*di tulis ulang dari rekaman radio Delta FM

LEBIH BAIK ANDA JADI KAFIR

Teman-teman sekalian, assalamualaikum wr wb…

Saya pernah nekat menjawab pertanyaan orang di sebuah forum. Cak, gimana supaya adzab Tuhan ini tidak berkepanjangan ini. Gempa. Gunung mau meletus.  Banjir.  Tsunami. Jakarta akan jadi lautan api. Akan ada gempa yang membikin gedung-gedung listriknya konslet dan kebakaran. Akan ada bom meledak. Akan ada musim kering yang panjang. Sehingga satu dua pusat industri akan mengalami kobaran api. Macam-macam dia tanya. Solusinya apa ini supaya Tuhan ndak marah seperti ini.

Saya nekat menjawab. Dan ya pasti di marahi banyak orang jawaban saya . Saya kira kok sebaiknya Indonesia ini penduduknya kafir saja semua, mungkin lebih selamat. Wah, jadi marah ini semua anggota forum. Terpaksa saya jawab. Mas, saya ulang tentang perawan tempo hari itu. Putri anda maunya tidak di kawinin orang. Tidak di cintai siapa-siapa, sampai tua.  Ataukah di kasih i love  you, di kawinin tapi di main-mainkan. Anda lebih suka yang mana? Saya lebih suka yang pertama. Mending anak saya tidak kawin. Daripada kawin tapi di main-mainin. Dan begitulah sikap Tuhan. Mending anda jadi Kafir. Dosa anda cuman satu. Daripada anda jadi muslim, jadi orang beragama tapi anda maen-maen dengan Tuhan .

Assalamualikum wr wb

Emha Ainun Nadjib

*di tulis ulang dari rekaman radio Delta FM.

JANGAN MEMBERI ANAKMU NASI YANG TIDAK PASTI HALAL

Teman-teman Delta sekalian

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Para ulama para habib para ustads selalu memperingatkan eh, jangan kasih anakmu sesuap nasi yang tidak pasti halal. Selalu memperingatkan selalu hitunglah itu nasi di piring  tempat makanmu itu air yang diminum oleh anakmu. Selalu perhitungkan jangan sampai ada satu anasir haram yang masuk melalui mulut dia kedalam perut dia, diolah oleh usus, kemudian diurai menjadi zat-zat, menjadi protein, menjadi lemak menjadi segala macam dan kemudian masuk ke dalam darah. Dan dia mengalir, kemudian darah itu akan menentukan denyut jantungmu, akan menentukan seluruh kerjanya urat syaraf sampai ke otakmu, akan menentukan dialektikanya dengan segala macam getaran elektromagnetik di kepalamu, akan menentukan suplainya ke otak kiri ke otak kanan dan lain sebagainya lain sebagainya.

Sehingga kalau ada satu unsur haram dari makanan yang dimakan oleh anakmu maka dia akan menciptakan mudharat-mudaharat secara akumulutif dan tidak bisa di hitung oleh ilmu manusia. Ini kalau, kalau di turutin ya Allah, susah banget, apa namanya, untuk bisa bener-bener makan sesuatu yang halal. Maka mungkin itu sebabnya Tuhan maha pemaaf, karena manusia tidak akan punya ilmu sampai sedetail itu. Kita bisanya itu ya hanya satu tahap, satu petak. Jadi misalnya kalau beli apa-apa di warung, warungnya jelas menjamin halal ya sudah itu yang kita beli. Kita tidak bisa di kejar di belakang warung ini bagaimana asal-usulnya, kan begitu.

Jadi bekal kita saya kira, kalau hanya pakai ilmu dan penelitian untuk mengetahui sesuatu itu halal apa haram, kan tidak mampu kita. Maka bekal kita yang terbaik dalam hidup ini adalah istighfar. Slalu memohon ampun kepada Allah, sehingga mudah-mudahan kalau tak sengaja ada makanan haram masuk ke dalam mulut kita meskipun kita tidak mencurinya, tapi ternyata yang kita beli itu barang curian misalnya, sehingga kita sebenarnya menjadi tukang tadah. Itu masih ada netralisatornya, masih ada eliminatornya yaitu ampunan Allah. Dan untuk mendapatkan ampunan Allah itu, jalannya cuman satu yaitu membiasakan memohon ampun. Ya kalau orang islam selalu ber-istighfar, Astagfirullah aladhim, Astagfirullah rabbal baroya, Astagfirullah minal khotoya. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh….

Emha Ainun Nadjib

Untuk Delta FM

Generasi Kempong

Salah satu jenis kelemahan manusia adalah kecenderungan terlalu gampang percaya atau terlalu mudah tidak percaya. Masih mending kalau mau mengkritik: “Cak Nun tulisannya susah dipahami, harus dibaca dua tiga kali baru bisa sedikit paham.”

Saya menjawab protes itu: “Anda kempong ya?”

“Kok Kempong maksudnya?”

“Kalau kempong ndak punya gigi, harus makan makanan yang tidak perlu dikunyah. Orang kempong ndak bisa makan kacang, bahkan krupuk pun hanya di-emut. Kalau orang punya gigi, dia bisa menjalankan saran dokter: kalau makan kunyahlah 33 kali baru di telan. Sekadar makanan, harus dikunyah sampai sekian banyak kali agar usus tidak terancam dan badan jadi sehat. Lha kok tulisan, ilmu, informasi, wacana – maunya langsung ditelan sekali jadi.”

Teman saya itu nyengenges

“Coba Anda pandang Indonesia yang ruwet ini. Wong kalau anda mengunyahnya sampai seribu kalipun belum tentu Anda bisa paham. Segala ilmu social, ilmu politik, ilmu ekonomi dan kebudayaan mandeg dihadang keruwetan Indonesia. Ilmuwan-ilmuwan kelas satu saja kebingungan membaca Indonesia, lha kok Anda ingin mengenyam makanan tanpa mengunyah. Yakopo sembaaaaah mbah! Sampeyan iku jek cilik kok wis tuwek……”

Kebudayaan kita instan. Mi-nya instan. Lagunya instan. Maunya masuk surge juga instan. Kalau bisa, dapat uag banyak langsung, ndak usah kerja ndak apa-apa, ndak usah ada Indonesia ndak apa-apa, ndak usah ada Nabi dan Tuhan juga ndak apa-apa, asal saya punya duit banyak.

Read the rest of this entry

Ikut Tidak Menambah Jumlah Orang Lemah

Mengikuti jejak para mujahid, aku harus berbicaradan menjawab pertanyaan mengenai problem kemiskinan,yakni tema utama yang makin mendesak kehidupan manusia di atas bumi Allah yang kaya raya ini.

Secara agak licik aku bersyukur mereka tak langsung memojokkanku dengan pertanyaan apakah aku tidak terlibat langsung maupun dalam proses penciptaan orang-orang miskin. Apakah aku tidak termasuk dalam golongan orang-orang yang dimiskinkan dalam arti luas sedemikian rupa sehingga tak ada kemungkinan lain bagi hidupku selain ikut berpartisipasi dalam organisasi pemiskinan, atau sekurang-kurangnya aku membonceng hidup dari cipra-tan hasil pekerjaan memiskinkan. Sebab, kata para piawai, jaringan proses pemiskinan itu tidak cukup kita pahami melewati gambaran tentang sejarah penjajahan, politik adikuasa, pembukuan perusahaan-perusahaan besar, tatanan ketergantungan, ketimpangan-ketimpangan amat tajam dari kesempatan hidup orang, atau segala sesuatu yang seolah-olah berada nun jauh di sana. Jaringan proses pemiskinan itu menyangkut segala mekanisme yang tidak pernah kubayangkan tetapi yang memungkinkan aku memiliki beberapa potong baju rapi sementara banyak
tetanggaku tidak dan aku mau tak mau terdorong untuk memelihara dan mempertahankan kemungkinan pemi¬likan semacam itu. Bahkan kabarnya jaringan proses pe¬miskinan itu sangat terkait dengan urat-urat dalam otakku, rencana-rencana spontan kaki dan tanganku, atau segala sesuatu yang hampir tak terpisahkan lagi dari nyawaku. Hal-hal mengenai proses pemiskinan itu relatif gampang untuk sedikit banyak ikut kupercakapkan, selama ini se¬mua kubayangkan berada jauh di luar diriku apalagi jarak jauh itu dijaga dan dilindungi dengan seksama oleh akidah dunia ilmu pengetahuan di mana tulisan ini berpartisipasi.

Sesungguhnya itu mengerikan. Namun jauh lebih mengerikan lagi adalah kabar lain yang menyatakan bahwa jaringan proses pemiskinan itu bukanlah seperti benang kusut, melainkan justru merupakan rajutan benang yang sedemikian rapinya sehingga beberapa orang hanya melihat jalan teror untuk mencoba memperoleh ke¬kusutan-kekusutan kecil.

Jadi, apakah pada suatu hari kemungkinan teror itu akan menimpaku, sebab memang aku cukup layak untuk itu? Aku berkata: Ya Allah, masukkan saja aku ke dalam neraka yang bukan ciptaanMu

Aku berlindung kepada Allah, jangan-jangan proses kebiadaban peradaban manusia yang kini diadili oleh makin banyak orang itu terkandung dalam hidupku, dalam cara kerja otakku, dalam tas kerja profesiku, dalam bagian dari doa-doa sembahyangku, bahkan menjadi isi-isi terpenting dari kamar-kamar rumahku. Bersediakah para malaikat, dengan kesucian mereka, membantu kami meneliti kemungkinan itu?

Pernah kubaca sebagian amat kecil dari ratusan atau mungkin ribuan buku mengenai persoalan kemiskinan, yang pasti amat sedikit saja mampu kupahami sehingga dalam kesempatan ini aku sangsi apakah aku tidak sekedar menulis ulangkan hal-hal yang sama, dengan hasil yang lebih buruk.

Sementara itu aku hidup bersama banyak orang miskin. Bahkan aku sendiri, menurut ukuran dari konteks persoalan ini, tak lain adalah juga seorang miskin. Tetapi yang terakhir ini pun tak akan bisa benar-benar kutuliskan, sebab jiwa orang miskin dipenuhi oleh emosi, impian dan inferioritas betapapun itu mereka sandang seolah-olah dengan ringan dan kuat sedangkan apa yang diatas kusebut akidah dan kaidah ilmu pengetahuan: hanya bersedia menulis ketiga hal itu, dan tak memperkenankan ketiga hal itu menuliskan dirinya.
Sebab yang lain ialah karena aku mengalami jarak yang tidak pendek antara anatomi persoalan kemiskinan dengan manusia miskin. Yang pertama berasal terutama dari seolah-olah para dewa yang transenden, atau penerbang yang untuk memperoleh pandangan yang seluas-luasnya atas skala bumi maka ia melayang setinggi-tingginya. Banyak kali para penerbang itu memang memusatkan pandangan matanya ke titik-titik tertentu yang paling tajam, namun jelas bahwa manusia-manusia di bumi tampak hanya sebagai guratan-guratan di mata mereka. Manusia hanya terlihat sebagai akibat dari suatu sebab, pergeseran dari suatu gerak, atau semacam lautan buih di seputar arus gelombang pokok.

Sedangkan yang kedua merupakan suatu dunia immanen, suatu keniscayaan tanpa jarak: badan kumal yang seolah-olah tubuhku sendiri, bau buruk yang seakan-akan berasal dari kedalaman hidungku sendiri, keringat pengap yang seperti mengucur dari punggungku sendiri; atau semacam komposisi yang absurd dan membingungkan antara derita dan keceriaan, antara kekecutan dan keperkasaan, antara kepasrahan dan kenekadan, atau antara dunia bayi dan kebijakan seorang tua yang telah berusia berabad-abad lamanya.
Aku merasa jelas bahwa aku tak kunjung paham kedua-duanya. Namun aku melihat jarak itu ada, dan di dalam jarak tersebut aku sering menyaksikan usaha-usaha santunan dari yang pertama kepada yang kedua mengalami kebuntuan atau keterjebakan. Oleh jarak itu aku sendiri sering dibikin gagap, tak becus mendudukkan pikiran, bingung menentukan kuda-kuda sikap, bahkan tidak jarang aku menjadi kehilangan diriku sendiri. Di dalam perjuangan gencar memerangi proses pemiskinan itu sering aku menjumpai diriku tak lebih dari sejumlah kalimat indah yang hampa. Read the rest of this entry