Kembali Mencintai Proses

prosesHari ini tadi, saya mendapatkan sebuah e-mail dari sebuah salah seorang teman yang menanyakan keberlangsungan blog saya yang semakin tidak terurus. Saya sedikit terkejut dan sedikit ke-GR-an, sekaligus juga terharu, ternyata sejelek-jeleknya isi konten blogku “Sebuah Catatan Tentang”, masih ada yang simpati menanyakan keberlangsungannya. Dan saya harus berterima kasih kepada beliaunya telah mengingatkan sehingga saya seolah-olah di tampar kesadarannya sehingga tiba-tiba memiliki semacam energi untuk mulai menulis kembali.

Malas memang menjadi faktor yang paling utama dan satu-satunya yang pantas untuk di jadikan kambing hitam untuk menutupi setiap kekurangan dan kelemahan kita. Dan dengan kalemnya kadang kita terbiasa bilang,” Ah..tidak punya waktu”, atau mungkin,” sedang sibuk dengan pekerjaan utama,”, “sedang buntu inspirasi,” atau bermacam alibi lain. Saat kita terpuruk, kita terbiasa ngeles dengan berbagai macam alasan. Maklum namanya manusia memang sudah begitu.

Namun kadang kita juga tidak objektif dan cenderung melupakan bahwa ada akar dari faktor elementer rasa malas itu yang ternyata bersumber dari persepsi dan motivasi kita yang salah arah. Persepsi dan motivasi yang salah tentang hakikat hidup, tentang hakikat etos kerja, tentang kreativitas dan apapun ternya sedikit banyak akan menyumbang kesesatan berpikir dan pada akhirnya mental serta kuda-kuda kita tidak pernah kokoh. Ketemu kendala sedikit saja sudah kalang kabut dan buntu, depress, stress dan ujungnya sampai frustasi.

Ketika kita akan melakukan apa saja ternyata sudah memikirkan tentang hambatan proses, kendala, masalah, maka sesungguhnya itu telah mendiskon besar-besaran potensi kreativitas kita. Bahkan salah-salah malah akan menguburkan dan memandulkan daya cipta, budaya kreasi dalam diri kita.

Dan hal bodoh itulah yang ternyata saya alami beberapa bulan terakhir ini. Dan sungguh saya menyesal dan berdoa kepada Allah swt semoga di ampuni dosa saya karena telah memubazirkan rizki inspirasi yang tidak pernah sempat saya bagi. Dan Tuhan mengingatkan saya, dengan mengirimkan seseorang yang entah dari mana asal-usulnya tersebut untuk sedikit menabok ketidaksadaran saya selama ini. Read the rest of this entry

Iklan

Kerja Kok Minta Bayaran !!

129497558183216665

Mungkin tematik judul di atas adalah antitesis dari dunia profesional yang banyak berlaku di lingkungan kita di tengah derasnya arus modernitas dan semakin berlomba-lombanya manusia untuk menggapai tingkatan profesi setinggi-tingginya. Mungkin pula ini semacam fenomena arus balik dari sebuah mainstream populer kebudayaan materialistik kita. Dan boleh jadi, hal ini pula merupakan inisiatif kebangkitan kembali sebuah gerakan moral untuk menumbuhkan kembali tradisi-tradisi luhur nenek moyang tentang kebersamaan, gotong-royong dan suatu sikap “nriman” dan tidak melampiaskan dorongan nafsu duniawinya, ideologi sumeleh, atau semacam lilahilataala. Suatu gerakan akan cita-cita mulia yang tentunya wajib di dukung bersama dari kita yang masih mendambakan kerukunan, kebersamaan dan indahnya keguyuban yang semakin hari semakin luntur dari kehidupan kita.

Dunia globalisasi kita sekarang ini tengah di kepung oleh teori-teori yang sedikit banyak berlawanan dengan semangat kebersamaan. Dunia modern telah mengajari kita menjadi sangat rakus terhadap dunia, kalau tidak boleh di bilang serakah. Di setiap jengkal nafas kita telah di kepung dengan derasnya kesadaran untuk mengalahkan orang satu dengan yang lain. Menghancurkan manusia lain untuk melegitimasi kemenangan. Menumbangkan saudara lain untuk memperoleh kejayaan. Meremukkan nasib ribuan orang lain untuk memperoleh kekayaan bagi segelintir orang. Dan sistem mekanisme semacam itu di sahkan dalam kerangka formal dan baku yang di sebut profesional. Kapitalisme menjadi darah yang mengalir dalam nadi setiap manusia modern.

Visi kendaraan kapitalisme adalah menghimpun modal dan sumber daya untuk melipatgandakan berkali lipat. Sedangkan baju profesionalisme adalah anda harus sanggup berbuat tega hati bahkan kepada kerabatmu sendiri. Jangan banyak omong moral, etika dalam dunia kapitalisme dan profesional, karena hal itu hanya menjadi gincu pemanis yang luntur oleh cipratan hujan materialisme. Read the rest of this entry

Anak Muda, Engkau dimana?

image

Dalam dunia anak muda rata-rata telah berkembang secara amat meyakinkan bahwa tren pergaulan di diantara mereka di indikatori oleh cara pandang yang menempatkan pengakuan kebanggaan menjadi tolak ukurnya. Kebanggaan itu bisa lahir dari suasana rasa pencarian ekspresi kreatif belaka, namun juga bisa melebar untuk memperlihatkan eksistensial pribadi di tengah lingkungan sosialnya.
Read the rest of this entry

Kesombongan Yang Menegasikan Tuhan

Mungkin salah satu alasan kenapa Tuhan sangat membenci para manusia sombong, adalah karena manusia yang memakai pakaian kesombongan itu relatif menegasikan atau menghilangkan Tuhan dari unsur hidup mereka. Jangankan Tuhan, kita saja kalau tidak di anggap atau tidak di libatkan dalam suatu hal dalam urusan yang menyangkut tentang diri kita, di singkirkan atau di tiadakan oleh manusia lain maka sudah mangkelnya bukan main. Padahal sejatinya kita tidak memiliki saham dan juga otoritas apapun kepada selain di luar diri kita untuk agar kita di libatkan dalam segala persentuhan antar manusia kecuali karena tanggung jawab kebersamaan dan cinta kasih sosial belaka. Apalagi sampai sejauh untuk mengatur-atur dan memerintah secara sangat feodalistik kepada sesama.

Namun bila Tuhan kan pemilik alam semesta, pencipta segala makhluk, penumbuh dan penggerak ekosistem dunia. Dan bahkan seluruh metabolisme hidup kita tidak lepas dari campur tangan Tuhan. Rambut kita bisa memanjang, mata kita di ciptakan sudah langsung bisa melihat, telinga kita, gigi kita yang bisa tidak terus tumbuh membesar sedangkan kuku kita tidak berhenti tumbuh. Begitu kok mau bersikap sombong, adigang-adigung, meremehkan orang ataupun memperhinakan orang. Tahu begitu kok mau sok bersikap mandiri, tidak butuh bantuan orang lain, tidak mau menyambung silaturahmi, tidak membangun kebaikan sesama. Bagaimana tidak murkanya sampai Beliau tidak kita libatkan dan kita singkirkan dari hidup kita, karena kita merasa dan menganggap bahwa kita cukup kuat dan cukup mandiri atas diri sendiri untuk mengatasi bermacam persoalan kita. Alih-alih malah kita sendiri yang jadi menambah persoalan. Read the rest of this entry

Teknologi Sabar

indessxSudah dua Minggu ini bertambah sibuklah kehidupan saya. Tak lain karena sujud syukur Alhamdulillah di beri amanah oleh Allah dan di ijinkan untuk kedatangan satu makhluk manusia dari rahim istri saya. Bayi perempuan yang mungil itu hari-hari terakhir ini banyak menyita pikiran dan curahan perhatian serta “kerepotan-kerepotan”.

Saya mulai belajar dengan mengganti popok, membuatkan susu ketika ia bangun di tengah malam, harus berjaga semalam suntuk untuk menjaganya agar tertidur lelap ataupun menimang-nimang, meninabobokan ketika dia menangis. Suatu hal yang menurut cara pandang umumnya itu sangat melelahkan, bikin capek dan tidak produktif secara ekonomi.

Namun ternyata di balik kerepotan Itu terselip suatu hikmah yang luar biasa. Sekurangnya-kurangnya bagi saya hal ini merupakan suatu langkah yang revolusioner untuk memahami apa yang namanya sabar. Sabar karena dengan tertatih-tatih membesarkan, mendidiknya yang butuh waktu yang tidak mungkin akan sebentar atau bahkan mungkin bisa selamanya.

Namun entah bagaimana situasi pendorongnya, kita sebagai orang tua ternyata ikhlas dan bergembira melakukannya. Padahal secara pengetahuan logika linier kita, buat apa kita melakukan hal itu semua yang tidak membuat kita menjadi kaya raya?

Kita sering kali dengan mudah menyampaikan kepada teman, saudara, kerabat, handai tolan, adik kelas dan siapa saja yang minta nasihat karena sedang di timpa musibah untuk banyak-banyak sabar. Dan  sering kali kita tidak bisa menjabarkan apa sabar itu, dan bagaimana cara melakukannya. Kita bisa bilang sabar, tapi ternyata kita sendiri yang malah tidak sabar. Read the rest of this entry

ME-RAMADHAN-KAN KEHIDUPAN

Ketika Momentum Ramadhan tiba sering kita dengar dari para orang tua, ustad, alim ulama, dan dari siapa pun saja bahwa bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Bulan yang penuh rahmat dan barokah ini tentunya tidak hanya dapat kita gali dari perspektif spiritual keagamaan saja namun juga dapat kita pandang dari sudut sosial kemasyarakatan, nuansa budaya serta dampak ekonominya.

Kita ambil dahulu dari sudut budaya. Ketika memasuki bulan Ramadhan, budaya islami membanjiri segala lini hidup kita dari iklan di televisi, sinetron, lawak, musik sampai diskusi-diskusi keagamaan, pengajian yang kurang laku di luar bulan Ramadhan menjadi sangat laris. Dan tiba-tiba seluruhnya menjadi terlihat sangat alim dan islami dengan mengenakan asesoris, ornamen yang islami berupa kopiah, sarung, sajadah, kurma dll. Atau sekurang-kurangnya produk budaya yang indikatif islam. Tentunya ini merupakan sesuatu hal yang positif dan menggembirakan.

Dari sudut ekonomi, bulan Ramadhan telah memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan akses ekonomi masyarakat. Para pedagang baik dari yang skala nasional sampai pedagang kaki lima, dagangannya menjadi laris semua. Para karyawan bersemangat kerja karena akan mendapatkan THR. Dan berjenis-jenis profesi apapun mendapatkan hasil yang lebih. Sehingga menciptakan kegembiraan massal. Di mana-mana orang terlihat ramah, murah senyum dan santun.

Read the rest of this entry

Gaji ke-Tiga Belas Rakyat Indonesia

13Alhamdulilah. Gaji ke 13 untuk para abdi negara sudah resmi di teken oleh Presiden kita yang tercinta. Sebentar lagi para PNS sudah dapat menikmatinya untuk menyambut bulan suci Ramadhan yang akan kita sanggup bersama-sama. Tentunya kita sebagai warga negara biasa yang tidak memiliki deretan NIP di depan baju kita, cukup berprasangka baik saja bahwa  pemberian gaji ke 13 itu dapat memberikan peningkatan kualitas pelayanan kepada rakyat dan juga menjadi berkah sehingga tidak lagi mencari terobosan sana-sini atau dengan “nitili” uang APBN melalui proyek-proyek negara. Dan gaji ke-13 ini, harus kita pahami dan kita jadikan sebagai berita kegembiraan bagi seluruh rakyat Indonesia, di tengah tidak bermutunya berita-berita nasional kita.

Selain kegembiraan atas berita itu, rakyat Indonesia, sebagai juragan atas tanah Nusantara ini, pada beberapa waktu ke depan akan juga mendapatkan hadiah-hadiah yang ekstra dari bulan-bulan sebelumnya. Hadiah-hadiah itu telah di jadikan paket-paket kebijakan, Undang-undang, ataupun dalam bentuk peraturan-peraturan baik yang skalanya lokal maupun nasional. Hadiah itu nantinya di berikan karena mereka akan melewati suatu momentum ujian atas kehidupan mereka. Bila mereka lolos dan sudah pasti akan lolos, maka bangsa Indonesia akan mendapatkan rapot untuk naik kelas, ke suatu era zaman yang tidak akan pernah di capai oleh negeri-negeri manapun di dunia. Read the rest of this entry

Melawan Arus Takhayul Modernisasi

Mungkin anda juga pernah mengalami hal yang serupa. Untuk yang kesenian ratus kalinya, saya selalu menunda untuk menyelesaikan tugas-tugas pokok yang harusnya dapat di selesaikan hanya karena tergoda untuk berselancar Internet. Ketika membuka laptop, niat awal adalah akan mengerjakan laporan bulanan. Namun niat awal itu bisa berubah seketika modem sudah menyala.

Hati menjadi sulit di bendung dan di kendalikan karena di suguhi oleh lini berita yang selalu up-date setiap detik, melihat pemandangan dan gambar-gambar indah, memelototi video populer di youtube dan terus penasaran membaca artikel yang unik, menggelitik dengan judul yang provokatif.

Niat hanya buka satu dua halaman, tapi begitu sulit di hentikan. Sampai yang sering terjadi adalah keasyikan surfing, browsing, download dlsb hingga pekerjaan utama kita terabaikan. Dan akhirnya setelah kepepet, terpaksalah mau tidak mau kita baru mengerjakan laporan kita. Dan tentu hasilnya menjadi ala kadarnya. Read the rest of this entry

Pahlawan Pemberdayaan

994327_491361500937847_1942968299_nSiapakah di dunia ini yang pantas di sebut sebagai pahlawan? Indikator-indikator apa saja yang harus di penuhi untuk menjadi seorang pahlawan? Dan lembaga apakah yang punya legitimasi untuk menyebut seseorang itu pahlawan atau bukan?

Mohon maaf saya menggunakan istilah pahlawan pemberdayaan ini, karena memang tematik dari situasi dan kondisi para pelaku pemberdayaan yang telah sedemikian rupa dalam mencari kejelasan atas nasib mereka yang selama ini samar dan terkatung-katung.

Kata pemberdayaan sekarang ini sedang populer dan menjadi identik dengan PNPM. Sebuah program yang katanya pemberdayaan masyarakat. Siapapun yang menjadi pelaku PNPM secara langsung dan tidak langsung, selalu di sebut-sebut sebagai sosok seorang pahlawan. Sehingga muncul istilah pahlawan masyarakat miskin. Karena memang demikian tugas tanggung jawabnya untuk selalu memperjuangkan masyarakat. Dan tidak berlebihan bila kita sematkan tanda jasa pahlawan pemberdayaan ke atas dada mereka sebagai penghargaan pengabdiannya.

Namun beberapa bulan terakhir ini, pahlawan pemberdayaan itu tidak bisa fokus memperjuangkan peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin karena para “Sang pemberdaya” itu sedang menemui cobaan berat tak tertanggungkan. Meskipun Tuhan berjanji tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hambanya, namun cobaan tidak gajian lebih dari tiga bulan lamanya itu, tentu sangat merobohkan kuda-kuda mental dan kesabaran mereka. Apalagi setelah sekian lamanya belum ada tanda-tanda yang pasti akan nasib mereka ini, selain rumor tembung “Jarene”.

Tidak gajian itu memberikan implikasi yang luar biasa. Yang paling terasa adalah mereka semakin lemah energinya untuk memperjuangkan hak rakyat miskin. Karena mereka sendiri terancam menjadi miskin pula. Read the rest of this entry

Mengubur Malas

malasMalas itu bagai penyakit permanen yang tidak pernah bisa sembuh. Dia bisa datang setiap saja dia mau, dan tidak ada jaminan kita tidak terinfeksi. Begitu kuatnya penyakit malas ini sehingga kita seakan loyo dan gagap untuk menghadangnya.

Kita menjadi malas, bisa berbagai macam alasan menggunakan argumen atas nama. Atas nama capek, atas nama butuh istirahat, atas nama ingin memanjakan diri, atas nama untuk menikmati hidup dan berbagai macam atas nama – atas nama yang kita jadikan pembenaran untuk diri kita pribadi.

Malas bisa datang dengan jangka waktu yang relatif pendek, bisa jangka menengah bahkan bisa panjang dan bahkan bisa berlarut-larut dalam kurun waktu tertentu. Tentu ukuran jangka pendek, menengah atau panjangnya waktu itu bukan linier berapa tahun, berapa abad, tapi relativitas yang menguasai kosmos perilaku hidup kita masing-masing.

Dan malas itu bisa muncul dari dalam diri kita namun juga merupakan legitimasi atas pandangan orang terhadap diri kita. Contohnya, anda lebih suka membaca buku seharian, mengerjakan tugas di depan komputer, maka anda bisa di cap oleh tetangga anda sebagai orang yang pemalas, karena mungkin definisi rajin bagi mereka adalah tentang bersih-bersih rumah atau ikut bantu-bantu kebutuhan orang itu. Ini bisa sangat subjektif. Apakah baca buku adalah malas? Belum tentu juga? Apakah mengepel di lantai itukah yang rajin? Ya belum tentu juga. Read the rest of this entry