Category Archives: News

Sakit Jiwa Sosial

Kalau problem yang dibawa seseorang itu bersifat praktis–misalnya, penyakit fisik ala kadarnya atau santet atau semacam kesurupan–Mas Dukun bisa tanpa banyak cingcong menanganinya.

Tetapi kalau yang di sodorkan kepadanya adalah efek dari penyakit sosial, disinformasi tentang pemahaman-pemahaman hidup, atau mungkin salah kuda-kuda mental, intelektual atau spiritual, maka Mas Dukun harus mereformasikan berbagai mismanajemen tatanan nilai dalam kesadaran dan kebawahsadaran orang tersebut.

Penyakit-penyakit semacam ini bukan main kompleks, luas dan ruwetnya. Terkadang ada orang yang memang tak sanggup lagi untuk memahami apa yang ditanggungnya. Lebih-lebih lagi merumuskan keruwetan-keruwetannya. Kebiasaan yang tinggal hanyalah menatap kegelapan. Dan kegelapan itu adalah dirinya sendiri: dirinya gelap, sementara mripat pandangannya juga buta sedemikian rupa.

Tetapi kadangkala tidak sedikit anak-anak muda mendatangi Mas Dukun untuk menyodorkan sesuatu yang sesungguhnya sama sekali bukan problem. Dia berkata tentang buntu, kosong, bingung, depressed, tetapi setelah di gali bersama apa gerangan itu semua–ternyatalah bahwa faktor-faktor itu sebenarnya tidak cukup potensial untuk menindas mental mereka apabila saja terlatih untuk mendayagunakan akal sehat dan pengetahuan tentang pokok-pokok nilai kehidupan.

Seorang anak muda gagah ganteng, datang untuk mengungkapkan kebingungan dan menangis, serta merasa buntu dan tak berarti–hanya karena dulu orangtuanya kaya sekarang melarat, sehingga dia tak bisa kuliah. Itu bukan problem. Itu keringkihan.

#EAN
#SuratKepadaKanjengNabi

Author : Emha Ainun Nadjib

Book : Surat Kepada Kanjeng Nabi

DSC_0563

 

Iklan

Pejalan Kemandirian

Para pahlawan sejati
Para pekerja keras sejati
Ada di sudut-sudut pasar
Ada di pojok pinggiran jalan

Ia tidak akan pernah kau temui di kantor-kantor mewah
Mereka tak akan kau jumpai di gedung-gedung megah

Ibu-ibu itu sudah menjadi mandiri tanpa ada satu pihak manapun yang berhak mengajari mereka tentang kemandirian

Mereka sudah sangat berdaya tanpa harus di ceramahi tentang makna pemberdayaan
Mereka adalah para pejalan kemandirian

Mereka adalah lulusan terbaik fakultas kehidupan universitas alam semesta

Wong cilik tangguh itu telah berhasil menjalani kehidupan, di bandingkan sekian banyak manusia yang di tipu tentang makna kesuksesan

Ramadhan Kebangsaan

Hari-hari ke depan ini kita akan memasuki momentum ramadhan. Bulan yang selalu di sambut penuh suka cita oleh kaum muslimin.

Tidak ada yang berduka dengan datangnya Ramadhan kecuali memang bagi sebagian anak-anak kecil kita yang terancam mulai esok pagi karena sudah tidak bisa menimati jajanan makanan. Meskipun saat memasuki buka puasa kompensasi kegembiraannya menghapuskan kesedihannya karena menahan lapar.

Namun bagi kita semua, Ramadhan adalah penuh berkah. Tidak ada yang menyangkalnya. Ulama, Ustadz-ustadz, para tokoh, pejabat pemerintah, orang-orang tua selalu menyampaikan kemuliaan ramadhan. Menganjurkan berpuasa untuk agar kita bisa merasakan penderitaan orang miskin dan berceramah untuk meningkatkan ibadah serta iman dan takwa kita, karena Allah akan melipat gandakan pahala ibadah kita di bulan Ramadhan ini. Begitu terus yang lazim kita dengar dari merekan pada saat kultum atau sambutan politik.

Mungkin karena kemandegan cara berpikir kita selama ini dan belum di gali lebih dalam tentang cakrawala ilmu puasa, pemahaman kita tentang puasa tidak pernah naik kelas. Stagnan dan lambat laun mengering. Kita belum lulus dalam merelevansikan hakikat dan makna puasa terhadap keseharian hidup kita. Kecuali kalau hanya kita mengharapkan untuk mendapat pahala dari Allah saja. Meskipun itu juga sah-sah saja dan baik juga.

Namun kok bila di pikir, di rasakan kurang sreg dan terasa “ngganjel” juga. Kalau toh, agama hanya mengurus soal pahala pribadi saja, dengan asyik masyuknya merayu Tuhan agar memasukkan kita ke dalam sorga, kok rasanya tidak sejalan dengan visi rahmatan lil alamin. Rahmat bagi sekalian alam atau tentang mandat Allah atas manusia untuk menjadi khalifah di bumi.

Bertolak dari itu, tentunya bisa kita lebarkan ke wilayah lain semacam puasa ramadhan yang akan kita jalani nantinya dengan membuka pintu pemahaman yang lebih luas dan aplikatif. Apakah puasa itu hanya untuk menahan lapar dan dahaga saja. Apakah puasa itu hanya untuk menahan nafsu untuk tidak bersenggama di siang hari. Apakah puasa itu hanya untuk merasakan penderitaan orang miskin saja. Apakah tidak ada nilai lain yang terkandung dalam puasa yang lebih luas yang bisa kita gali bersama.

Umpamanya bila kita saksikan arena pertarungan Pilpres 2014 ini. Apa yang anda lihat dengan mata hati anda.

Sudah sejak beberapa bulan silam, setiap detik pendengaran dan mata kita selalu di suguhi oleh percecokan politik yang tidak sehat dan cenderung saling menghujat. Hati dan kepala kita terasa di pecah belah jadi dua kalau tidak Jokowi ya Prabowo. Nasionalisme kita tidak lagi kepada Indonesia Rayya tapi sudah kita persempit hanya untuk bagaimana memenangkan Prabowo atau Jokowi. Yang cara-cara yang di tempuhnya pun betapa sudah sangat melanggar etika-etika kepantasan.

Kita ini rakyat jadi serba bingung. Oleh bapak-bapak pejabat negara kita di suruh jadi orang baik dan tidak boleh mencela orang lain, tapi sampai di rumah kita melihat bahwa mereka sendiri yang mencela dan saling merendahkan satu sama lainnya. Mereka mengajari kita pancasila dan bhineka tunggal ika, mereka pula yang mencontohkan bagaimana melanggarnya.

Yang kita lihat selama ini dalam pilpres adalah pelampiasan-pelampiasan dari yang buruk-buruk dalam diri manusia. Semuanya bernafsu untuk sangat ingin memenangkan jagoannya masing-masing, tidak perduli apakah dengan menghancurkan yang lain.

Dan apa arti kemenangan bila kemenangan itu dengan memperhinakan dan memecah belah persaudaraan.

So, kita sekarang memasuki bulan Ramadhan. Bulan Puasa. Bulan pengendalian. Kita akan di uji apakah kita lulus dalam menjalani ramadhan kebangsaan kita ini dengan saling berendah hati ataukah kita memang sudah buta tuli terhadap makna puasa yang sejati.[]

 

Bobotsari, 28 Juni 2014

Memilih Tidak Memilih

270712-nasional1Sepanjang beberapa hari terakhir ini saya di perkenankan untuk di pertemukan dengan sekelompok masyarakat kecil di desa. Riuh rendah kami bercerita. Ngalor ngidul tema ceritanya. Tetapi selalu saja ada hal-hal unik dan menarik serta hikmah-hikmah yang di ambil dari pergaulan dengan wong cilik itu. Wong Cilik yang selama ini di lingkupi dengan stigma kebodohan, keluguan, ketertinggalan peradaban serta di jadikan objek pembangunan dari penguasan yang silih berganti namun wong cilik juga ternyata dapat memandang dari sorot matanya persoalan dengan sederhana, lugas, namun menyiratkan kepolosan dan kejujuran.

Tahun 2014 ini di negeri kami sedang hangat dan bersiap untuk menyambut pesta demokrasi lima tahunan. Tahun politik kalau kata intelektual yang sering mereka lihat di televisi. Dan sadar mereka adalah warga negara yang baik maka mereka juga turut serta asyik ikut mendiskusikan, mempergunjingkan, menganalisis bagaikan para pakar politik atau mereka-reka, otak-atik gatuk, meramalkan bagai paranormal modern di warung-watung kopi, di gardu poskamling, atau di tempat ojek pengkolan jalan.

Mereka riuh memperbincangkan konstelasi politik dari nasional sampai daerah dan dusun mereka masing-masing. Mulai dari siapa presidennya yangn cocok menggantikan SBY. Partai manakah yang akan memenangkan pemilu 2014. Siapakah caleg DPR/DPRD yang akan mereka pilih. Sampai dengan isu-isu mutakhir seperti gugatan pemilu serentak oleh Yusril ke MK, apakah benar tahun 2014 nanti tidak akan ada Pemilu. kasus korupsi Hambalang yang di duga sampai ke istana, sampai masalah ustad hariri yang menghebohkan itu. Read the rest of this entry

Ustad Indonesian Idol

Gambar

Suatu ketika datang sebuah pertanyaan kepada Mbah Petruk tentang video heboh Ustad Hariri di salah satu pengajian di Bandung. Bertanya sang penanya,”Mbah, tanggapan anda tentang Ustad Hariri bagaimana?”.

“Kalau menurutku sih bagus. ”

“Loh kok bagus? Maksudnya bagaimana? Kok anda malah memuji? Kok ndak ikut menghujat kelakuannya yang telah mencoreng islam itu?”

“Tidak ada pentingya untuk menghujat, karena toh selama ini tanpa ada kejadian dari Hariri itu, sebenarnya islam sudah di hujat sendiri oleh umat islam itu sendiri. Perbuatan kita, sikap perilaku dan cara pandang kita yang mengaku islam dan bangga dengan KTP Islam kita ini bahkan sebenarnya sebelas-dua belas sama Hariri alias ga jauh beda.”

“Kalau soal bagusnya, Mbah?”

“Jadi umat islam Indonesia, menjadi tergugah serta terbuka mata dan hatinya untuk tidak gampang-gampang percaya kepada segala hal yang artifisial atau jadi-jadian. Entah apapun sebutan atau nama profesinya, terserah jenis label jabatan yang di lekatkan padanya, dari kejadian ini umat islam akan mulai belajar kembali untuk mencari panutan, pemimpin, imam, sampai presiden yang benar-benar sejati.”

***

Sudah terlalu lama, bangsa indonesia ini mengidap penyakit hipokrisi akut, selain juga jenis-jenis penyakit psikologis lain yang sudah mencapai stadium empat yang sulit untuk di sembuhkan. Kita dengan mudah dan kalem mampu menyandingkan kemungkaran dan kebaikan, dosa dengan pahala, surga dan neraka, kebaikan dan kejahatan, kejelekan dan keindahan dan apapun saja. Karena sudah sedemikian kompleknya kehidupan kita yang di warnai hal seperti itu, semakin lama kita menjadi tidak mengerti kembali mana keindahan mana kebusukan, mana pemimpin mana parampok, mana presiden mana artis, mana ustad mana pedagang. Read the rest of this entry

Special Performace Kyai Kanjeng di Jakarta Night Religious Festival

[Perjalanan Sunyi Maiyah]

Jakarta Night Religious Festival yang di selenggarakan pada tanggal 14 Oktober 2013 untuk menyambut Hari Raya Idul Adha, yang di inisiatifi oleh Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo, sukses menyedot animo masyarakat Jakarta untuk larut dalam syiar Islam yang di sampaikan melalui kesenian baik dalam musikalisasi Islam maupun teatrikal.
Kyai Kanjeng di dapuk menjadi pemuncak penampilan dalam JNRF. Sebelumnya telah di isi oleh berbagai artis seperti Cici Paramida, Siti KDI, Opick, Sulis dan berbagai kelompok kesenian di Jakarta seperti parade 1000 bedug.
Berikut beberapa suasana JNRF yang sempat saya abadikan : Read the rest of this entry

Kesombongan Yang Menegasikan Tuhan

Mungkin salah satu alasan kenapa Tuhan sangat membenci para manusia sombong, adalah karena manusia yang memakai pakaian kesombongan itu relatif menegasikan atau menghilangkan Tuhan dari unsur hidup mereka. Jangankan Tuhan, kita saja kalau tidak di anggap atau tidak di libatkan dalam suatu hal dalam urusan yang menyangkut tentang diri kita, di singkirkan atau di tiadakan oleh manusia lain maka sudah mangkelnya bukan main. Padahal sejatinya kita tidak memiliki saham dan juga otoritas apapun kepada selain di luar diri kita untuk agar kita di libatkan dalam segala persentuhan antar manusia kecuali karena tanggung jawab kebersamaan dan cinta kasih sosial belaka. Apalagi sampai sejauh untuk mengatur-atur dan memerintah secara sangat feodalistik kepada sesama.

Namun bila Tuhan kan pemilik alam semesta, pencipta segala makhluk, penumbuh dan penggerak ekosistem dunia. Dan bahkan seluruh metabolisme hidup kita tidak lepas dari campur tangan Tuhan. Rambut kita bisa memanjang, mata kita di ciptakan sudah langsung bisa melihat, telinga kita, gigi kita yang bisa tidak terus tumbuh membesar sedangkan kuku kita tidak berhenti tumbuh. Begitu kok mau bersikap sombong, adigang-adigung, meremehkan orang ataupun memperhinakan orang. Tahu begitu kok mau sok bersikap mandiri, tidak butuh bantuan orang lain, tidak mau menyambung silaturahmi, tidak membangun kebaikan sesama. Bagaimana tidak murkanya sampai Beliau tidak kita libatkan dan kita singkirkan dari hidup kita, karena kita merasa dan menganggap bahwa kita cukup kuat dan cukup mandiri atas diri sendiri untuk mengatasi bermacam persoalan kita. Alih-alih malah kita sendiri yang jadi menambah persoalan. Read the rest of this entry

Teknologi Sabar

indessxSudah dua Minggu ini bertambah sibuklah kehidupan saya. Tak lain karena sujud syukur Alhamdulillah di beri amanah oleh Allah dan di ijinkan untuk kedatangan satu makhluk manusia dari rahim istri saya. Bayi perempuan yang mungil itu hari-hari terakhir ini banyak menyita pikiran dan curahan perhatian serta “kerepotan-kerepotan”.

Saya mulai belajar dengan mengganti popok, membuatkan susu ketika ia bangun di tengah malam, harus berjaga semalam suntuk untuk menjaganya agar tertidur lelap ataupun menimang-nimang, meninabobokan ketika dia menangis. Suatu hal yang menurut cara pandang umumnya itu sangat melelahkan, bikin capek dan tidak produktif secara ekonomi.

Namun ternyata di balik kerepotan Itu terselip suatu hikmah yang luar biasa. Sekurangnya-kurangnya bagi saya hal ini merupakan suatu langkah yang revolusioner untuk memahami apa yang namanya sabar. Sabar karena dengan tertatih-tatih membesarkan, mendidiknya yang butuh waktu yang tidak mungkin akan sebentar atau bahkan mungkin bisa selamanya.

Namun entah bagaimana situasi pendorongnya, kita sebagai orang tua ternyata ikhlas dan bergembira melakukannya. Padahal secara pengetahuan logika linier kita, buat apa kita melakukan hal itu semua yang tidak membuat kita menjadi kaya raya?

Kita sering kali dengan mudah menyampaikan kepada teman, saudara, kerabat, handai tolan, adik kelas dan siapa saja yang minta nasihat karena sedang di timpa musibah untuk banyak-banyak sabar. Dan  sering kali kita tidak bisa menjabarkan apa sabar itu, dan bagaimana cara melakukannya. Kita bisa bilang sabar, tapi ternyata kita sendiri yang malah tidak sabar. Read the rest of this entry

Fasilitator Kehidupan

Oleh : N. Gilang Prayoga

Tidak ada pekerjaan di dunia ini yang melebihi mulianya jabatan Fasilitator. Tidak ada pilihan jabatan yang paling istimewa selain menyandang jabatan sebagai Fasilitator. Tidak satupun peran dan tugas yang mengungguli peran tugas Fasilitator. Tidak ada tupoksi yang setinggi derajatnya selain tupoksi Fasilitator. Fasilitator adalah bagaimana menjadi oli pelumas dari roda perubahan zaman. Fasilitator adalah cincin yang menyatukan dua hati dan kepala manusia untuk menjadi sepaham dan sejalan.  Fasilitator adalah cair dan bukan sebuah padatan.

Secara epistimologi kata, istilah Fasilitator dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ialah “orang yang menyediakan fasilitas”. Definisi fasilitas tentunya tidak hanya sekadar penyediaan kebutuhan ataupun penyediaan barang dan pelayanan jasa semata, namun juga harus lebih tinggi dari itu. Menyediakan fasilitas untuk outputnya adalah membantu meringankan kehidupan orang lain. Dan itu tentunya sangat sejalan dengan ideologi agama manapun. Read the rest of this entry

Aliran Serayu

by : Sulis Priyono

 

Sungai Serayu melagukan riakan air di musim hujan

Sama dengan puluhan tahun silam ketika dua insan berjanji untuk  berdo’a bersama agar dipersatuan

Meraka masih hafal lafal syair-syair yang dipahat di bebatuan senja itu

Mereka masih tersengat mentari  yang terbit di masa silam

dan mereka masih menggigil karena dinginnya pagi berkabut

Hujan menyadarkan langkah mereka

Di antara terangnya kilat…

terdengar :

“Ini bukan sebuah napaktilas cinta, karena kalian mempunyai dunia yang berbeda” kata batara Indra pada anaknya,  Dewi Tara.

Dewi tara hanya menunduk meneteskan air mata.

Dia harus menerima takdir dianugerahkan kepada Prabu Sugriwa, raja kera kerajaan Goa Kiskenda.

Terasa Kejam. Jahat. Sadis!!!

Batara Indra pengusa Hapsari di Keindraan pun harus mengikuti garis walau hatinya teriris

Air hujan menyamarkan air mata……

yang mengalir deras bersama arus Serayu

Karena hidup harus berlanjut,  Tara bangkit.

Dan berlari

Desember  ’12  di negri bidadari

 

sumber :