Category Archives: MENU BARU 1

Dampak Musik Dalam Nuansa Budaya Kita

images0Anda tentu suka dengan mendengarkan musik. Dan pastinya sebagian besar kita semua suka dan hafal dengan lagu-lagu yang bermacam-macam. Baik itu lagu keroncong, Rock, jazz, blues, Reagge, pop, rock, nDangdut, campursari, kasihadan, dan berjenis-jenis macam aliran musik yang Lain. Yang terkadang kita dendangkan dengan gendang, dan yang kita renteng-rengengkan di bibir dan hati kita.

Namun pernahkah anda sesekali membayangkan bahwa sebuah lagu dan musik dapat menjadi salah satu indikator untuk mengukur kejiwaan individual manusia maupun tingkat kecenderungan budaya dari perilaku kolektif suatu komunitas sosial.

Musik menjadi instrumen yang penting bagi perjalanan hidup kebudayaan. Sejarah telah mencatat, bagaimana essemble of Music itu telah lahir seirama dari ungkapan jiwa kemanusiaan yang bukan hanya sebagai sarana menghibur diri namun juga sebagai metode melakukan untuk perlawanan terhadap penindasan, rasisme, ataupun perjuangan kemanusiaan. Kita lihat bagaimana blues menjadi musik yang menggerakkan kaum negro di Amerika untuk mendapatkan hak-haknya yang setara dengan mayoritas kaum kulit putih. Kita tengok bagaimana musik Rock begitu merajai tangga musik tahun 70-80an sebagai ruang untuk mengungkapkan kritik-kritik sosial terhadap kemapanan. Read the rest of this entry

“Perahu Retak” Pemberdayaan

pray for pnpmBelum selesai tiga bulan para pekerja pemberdayaan di ombang-ambingkan dengan ketidakpastian akan pembayaran honorarium serta tunjangan, muncul kebijakan dari Kementrian Dalam Negeri yang menyebutkan penundaan pencairan dana 20% tahap terakhir sebagai konsekuensi beban subsidi BBM yang memberatkan APBN.

Reaksi yang muncul atas hal tersebut cukup beragam.  Namun dominasi ketidakpuasan dari pelaku pemberdayaan semakin membesar. Semuanya mempertanyakan kebijakan yang mereka pandang tidak bijak.

Apa yang anda pikirkan sebagai fasilitator, pelaku, pengamat, pemangku kebijakan, atau sebagai masyarakat yang bersinggungan dan terkait langsung maupun tidak langsung? Apa yang akan ada perbuat atas surat edaran tersebut? Akan seperti apa penyikapan anda? Akan menempuh cara yang bagaimana bila anda sudah terlanjur mensosialisasikan pembangunan 2013 ini di masyarakat? Sudah siapkah anda dengan potensi konflik, polemik dan kehancuran reputasi PNPM di masyarakat? Mampukah kita menahan dari bulan-bulanan masyarakat? Dengan apa kita semua dapat mengeliminirnya?

Pertanyaan mikro itu bisa kita perjauh untuk skala yang lebih makro, yang mungkin juga masih memiliki keterkaitan erat.

Apa yang anda ketahui terkait dengan rancangan sidang paripurna DPR dengan surat kebijakan itu? ? Ketlingsut di mana program pemberdayaan ini di buku-buku para wakil rakyat? Ada di baris prioritas di nomor berapa pemberdayaan masyarakat ini di lembaran-lembaran catatan para pejabat pemerintah di Kementrian Lembaga?

Apa yang anda ketahui tentang peta konstelasi politik Indonesia mutakhir menjelang 2014 dengan PNPM? Seberapa jauh pemahaman anda soal prediksi bahwa negara ini hampir mengalami kebangkrutan total karena kekayaan alam dan sumber dayanya telah di jadikan bancakan, rayahan, penilapan bersama-sama dan besar-besaran oleh manusia-manusia yang kita beri amanah untuk menjaganya ?

****

Proses pemberdayaan selama ini yang telah berlangsung lebih dari sepuluh tahun, terlepas dari berbagai problema yang menyertai setidaknya telah membuktikan sebagai salah satu metode yang cukup signifikan dalam membangun kemandirian di masyarakat. Perencanaan pembangunan partisipatif yang di tampilkan PNPM, telah sedikit banyak melengkapi proses perencanaan nasional yang ada terlebih dahulu, yang di sinyalir penuh muatan-muatan politis kepentingan sehingga terkadang terpelesat dari target sasaran kebutuhan riil masyarakat. Read the rest of this entry

Fasilitator Superman

Perkenankanlah kali ini saya menuliskan tentang kegelisahan dan kegetiran yang tidak bisa di ungkapkan oleh para rekan Fasilitator PNPM Mandiri Perdesaan yang dalam beberapa bulan terakhir ini belum mendapatkan hak atas jasa pengabdian mereka. Satu bulan bertahan, dua bulan menahan, tiga bulan mungkin hampir sekarat kelaparan. Semoga jangan di teruskan sampai empat, lima, enam bulan tanpa gajian, karena pasti akan berimplikasi kepada program yang ujungnya adalah masyarakat yang akan di korbankan.

Di rakor-rakor bulanan, atau di berita-berita yang sesekali muncul di koran atau rumor yang berkembang di media sosial, kita mendapatkan informasi gado-gado, alias bermacam-macam jenis sampai kita tidak tahu informasi mana yang validitasnya dapat di pertanggungjawabkan. Semua pelaku di jajaran “proletar” melakukan analisa, berspekulasi, mengira-ira, mengkaitkan isu yang satu dengan yang lain, membayangkan dan membayangkan lagi sampai kelelahan karena yang di harapkan ternyata masih di awang-awang yang mata tidak mampu memandang.

Sampai tulisan ini kita ketik, tampaknya masih belum ada tanda-tanda penderitaan karena tidak gajian ini akan berakhir. Pemangku kebijakan di Kemendagri selaku leading sector PNPM Mandiri Perdesaan, belum juga memberikan Conference pers atau minimal pernyataan resmi yang setidaknya menyingkapkan kabut ketidakjelasan yang berkembang.

****

Para fasilitator itu selalu di agung-agungkan jabatannya di manapun saja sebagai sebuah profesi yang mulia, bagai para kekasih utusan Tuhan yaitu para Nabi, Rasul atau minimal Waliallah. Fasilitator itu di bentuk dengan Citra dan image Building yang ia adalah manusia setengah dewa yang tidak boleh melakukan salah, karena fasilitator itu adalah orang pandai yang mengajari masyarakat. Masak orang pandai bisa salah. Hanya orang bodoh yang bisa salah. Dan begitulah set up untuk para fasilitator itu dan semuanya tampak bangga menyandangnya, meski kelak di kemudian hari menyesal karena yang di anggapnya segala-galanya itu ternyata juga tidak ada apa-apanya. Read the rest of this entry

Terus Berjalan

8-manfaat-berjalan-kaki

Sungguh tidak mudah menghadapi hidup ini. Terkadang dalam situasi dan momentum tertentu ternyata  segala hal itu tidak berjalan dengan harapan itu sendiri. Boleh kita telah merancang dengan berbagai analisis ataupun dari teori dari pakar manapun, namun kita tidak boleh sombong bahwa itu semua masih hanya sebatas perkiraan, persangkaan, kira-kira yang sangat spekulatif.

Tidak usah yang rumit-rumit dulu. Hari ini anda menginginkan akan makan ayam goreng KFC, dan anda telah merancang dengan baik schedule-nya sehari sebelum hari- H nya. Agenda itu telah anda susun dan rencanakan jam berapa, tempatnya mau di mana, nomor kursinya berapa, dengan siapa yang nanti akan anda traktir. Namun ternyata dua jam sebelum agenda itu terlaksana, bisa jadi dompet anda di copet dan batallah semua yang telah anda rencanakan.

Sering dari kita mengalami kejadian seperti itu di berbagai momentum, ruang dan waktu yang berbeda namun substansinya adalah sama. Anda boleh menanam padi dengan sungguh-sungguh, namun panen padi bisa saja gagal oleh suatu hal. Suatu hal ini menjadi kesadaran batin dalam diri kita, bahwa ada otoritas yang lebih tinggi yang menguasai kita. Kesadaran semacam itu, bisa menjadi pengingat bahwa suatu kebodohan kalau kita berlagak sombong dan mandiri dalam mengatasi problem kehidupan kita. Read the rest of this entry

Wajib belajar Seumur Hidup

 

Mohon maaf sebelumnya kepada sidang pembaca, kali ini saya mengambil judul tentang wajib belajar seumur hidup yang merupakan tema dari forum maiyah “Juguran Syafaat” Banyumas Purwokerto yang malam Minggu kemarin di pentaskan serta di diskusikan dengan sangat intens. Mudah-mudahan saya dapat membagi sedikit hal yang mungkin bermanfaat bagi kita semua serta menambah khasanah cara pandang dan keilmuan kita.

Sebelum kita membahas yang kaitannya dengan pendidikan wajib belajar seumur hidup tentunya harus kita pahami dahulu sangkan paran yang harus kita mulai dari sebuah pertanyaan yang substantif. Siapakah yang mewajibkan kita belajar? Apakah pemerintah republik Indonesia? Menteri Pendidikan dan Kebudayaan? Guru-guru sertifikasi? Ataukah para orang tua kita yang di legitimasi oleh norma budaya yang berlaku di masyarakat kita.

Pertanyaan ini harus kita jawab, sebelum kita melangkah lebih jauh. Karena output dunia pendidikan saat ini yang di representasikan dengan dekadensi moral kebudayaan dan semakin sirnanya etika sesama manusia adalah wajah kita semua dari hasil dunia pendidikan kita selama ini. Korupsi, penyimpangan nilai, parade perebutan kekuasaan yang sangat menghina martabat rakyat, tumbuhnya manusia hedonisme di segala lini adalah pemandangan yang lumrah kita saksikan bersama-sama. Bagaimana bisa, dunia pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai dan moral Pancasila di setiap kurikulumnya bisa mencetak generasi bangsa seperti ini. Bagaimana mungkin dunia pendidikan modern yang selalu mencetak lulusan UN dengan standar yang tinggi bisa kecolongan seperti ini. Padahal kita selalu di dorong dengan slogan wajib belajar sembilan tahun.

Tentunya, tema yang di angkat oleh teman-teman Maiyah Purwokerto patut di apresiasi karena telah memberikan kita sebuah pencerahan, ternyata belajar itu tidak cukup hanya dengan sembilan tahun. Wajib belajar itu adalah seumur hidup. Karena Tuhan sendiri berfirman di ayat yang pertama kali di turunkan kepada Rasul Muhammad adalah Iqra, bismi rabbika alladzii khalaqa, bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Jelas bahwa Tuhan memerintahkan kita untuk membaca yang tentunya dapat kita asosiasikan dengan belajar. Bahkan banyak di ayat-ayat al-quran, Tuhan selalu menagih kita untuk menggunakan akal dan pikiran kita,agar dengan akal itu kita dapat mengagumi kebesaran Tuhan. Read the rest of this entry

Isi Pulsa dan Refleksinya

pojok1

Tentu kita semua adalah salah satu dari sekian milyar orang di dunia yang salah satu kegiatan rutinnya adalah mengisi pulsa untuk handphone kita. Kegiatan pengisian pulsa ini telah menjadi sebuah keharusan dalam hidup sebagai penghubung komunikasi antar manusia di berbagai belahan dunia. Dan tidak heran kita jadi merasa uring-uringan bila nilai saldo pulsa kita terkuras habis. Bukan karena kita memang jenis manusia yang suka ngambek, namun karena dorongan naluriah kita sebagai manusia sosial yang mengharuskan adanya orang lain untuk kita bisa saling berinteraksi. Dan salah satu metode untuk berinteraksi adalah dengan cara isi pulsa anda.

Saya jadi teringat ketika masih duduk di bangku kuliah. Ketika itu sekitar tahun 2003-an, dimana pemegang handphone masih belum sepopuler dan secanggih saat ini. Sebagai mahasiswa yang berkantong pas-pasan, salah satu usaha dalam pengisian pulsa adalah bagaimana menerapkan teori ekonomi “Dengan modal sekecil-kecilnya, mendapatkan laba sebesar-besarnya”. Caranya adalah mengisi pulsa dengan nominal terendah (saat itu sekitar Rp 5000 s/d Rp 10.000 ) untuk di usahakan dengan pemakaian selama-lamanya. Jadi saya mengimplementasikan teori ini dengan memfilter siapa saja yang harus saya balas SMSnya, siapa yang harus terpaksanya di telepon. Namun tidak sampai menggunakan pulsa untuk berinternet ria, karena memang waktu itu Mobile internet belum se-booming sekarang.

Read the rest of this entry

Brambang-Bawang Nasional

uploads--1--2013--03--33195-bawang-merah-inilah-penyebab-naiknya-hargaMungkin banyak benarnya kata orang tua bijak kita yang sering mewanti-wanti kepada kita bahwa jangan pernah menyepelekan masalah yang terlihat kecil dan sederhana, karena bila tidak di tangani dengan serius akan mengakibatkan masalah menjadi besar dan rumit.

Tak usah jauh-jauh ambil contoh. Bahkan hanya sekadar komoditas Brambang (Bawang Merah) – Bawang (Bawang Putih) saja bisa menjadi isu nasional karena harganya bisa lompat galah naik 270 persen dari harga pasar yang sebelumnya.

Padahal bila kita jujur, saat kita menikmati santapan kuliner yang menggoyang lidah itu, apakah kita ingat tentang Brambang-Bawang itu. Berapa persen rasa syukur kita terhadap para petani Brambang-Bawang? Bahkan bila kita kembangkan jauh lagi, apakah kita akan juga ingat dan meresapi konstelasi harga bawang dan kaitannya dengan bisnis Impor di negara ini? Dan kita juga tidak akan pernah bisa menemukan hubungan antara nasib petani, harga bawang dengan fungsi Parpol yang kita agung-agungkan itu.

Selama ini pemahaman dan apresiasi kita terhadap segala komoditas yang di olah dalam santapan makan kita cenderung sangat kurang (kalau tidak boleh disebut tidak sama sekali). Kita tidak pernah ingat dan selalu acuh dan cuek dengan masalah yang kecil-kecil seperti Brambang-Bawang ini. Kita terlalu sibuk mengurusi hal-hal yang kita anggap besar seperti Hambalang, Wisma Atlit, Korupsi Demokrat, Bursa Caleg ataupun persiapan untuk menuju 2014.

Melompatnya harga bawang ini dan seperti juga kenaikan harga-harga komoditas agraria yang lain seperti lombok, menunjukkan dan telah menegaskan sebuah pelecehan terhadap eksistensi sebagai negara yang di gadang-gadang sebagai Negara Agraris gemah ripah loh jinawi. Read the rest of this entry

Sebuah Tanya?

???#*&%^#^@@!)@(!

Apa yang anda ingat ketika korupsi merajalela di hampir semua elemen instansi kenegaran kita? Apa yang anda pertama pikirkan ketika martabat kenegaraan di hancurkan bukan dari dalam namun di rongrong oleh para pejabat yang kita bayar untuk menegakkan martabat? Apa yang ada dalam otak dan kepala anda ketika menyaksikan keamanan hidup kita semakin tidak ada jaminan? Bagaimana reaksi hati anda ketika menyaksikan ketimpangan yang sudah menjadi Njomplang antara buruh pemerintah dan juragan rakyat? Bagaimana langkah nurani anda melihat ketidakadilan pengadilan, pelecehan harkat manusiaan, kerendahan moral dan etika berbangsa?

Tidak hanya sampai di situ. Kita masih akan di hadapkan dengan ratusan problematika yang menjadi air bah pertanyaan yang berputar dan menggulung-gulung sarap otak kita. Kita masih sanggup mendaftari ribuan kerusakan dan kebobrokan kehidupan kita. Kita masih punya jutaan pertanyaan tentang bagaimana seharusnya yang bernama kehidupan itu.

Kita telah sampai pada zaman, dimana kebusukan tidak dianggap kebusukan. Zaman dimana kekerdilan di anggap kebanggaan. Keangkuhan sebagai alat untuk melakukan penindasan. Kesombongan sebagai komoditas untuk mendiskriminasikan dan meniadakan yang lain. Titik kulminasi kejahilian terulang kembali.

Kita sudah tidak kagum lagi dengan kerendah hatian. Kita sudah tidak merasa malu lagi dengan kenistaan. Kita tidak terpesona dengan dignity kepribadian.  Bahkan kita diam-diam telah sanggup meremehkan keajaiban Tuhan dalam pengelolaan Alam Semesta.

Akan kemana akan engkau bawa pertanyaan-pertanyaan itu. Akan sampai dimana kegelisahan yang menggeliat di hatimu dapat engkau redamkan. Ataukah engkau juga telah diam-diam memiliki naluri kekebalan tentang kegelisahan itu. Namun aku doakan kita semua tidak lantas dianugerahi kebebalan melihat kebobrokan.

Sanggupkah kita setelah ini bersikap dan berlaku menjadi khalifah kehidupan? Seperti apa yang telah di mandatkan dari Tuhan? Ataukah jangan-jangan sudah kita lupakan? Karena memang Tuhan tidak pernah selalu kita libatkan dalam kehidupan.

Sanggupkah kita bertahan menjadi cacing kecil yang tidak punya daya di antara ribuan gurita-gurita pemangsa? Beranikah kita menjadi tidak ikut seperti mereka? Kuatkah kita menghadapi serigala-serigala pemangsa sementara kita tidak punya faslitas apa-apa? Tidak mustahilkah kalau kita malah akan tercaplok zombie keserakahan seperti mereka dan kita akan menjadi zombie yang melebihi ke-zombie-an mereka?

Kekuatan apa yang engkau genggam untuk melawan?! Ataukah hanya engkau pasrahkan kehormatan bangsa ini untuk di rongrong rombongan monyet-monyet rakus.

Akan bersandar kemanakah idealisme dan perjuangan kita pada akhirnya?!

**

Gilang Prayoga

Bobotsari, 10 Maret 2013

Kisah Musa dan Anas Sebagai Cermin Indonesia Kita Sekarang

Tentunya anda semua pasti sudah mendengar tentang kisah Nabi Musa yang legendaris saat menentang serta merobohkan kekuasaan dari rezim Raja Firaun dan membawa Bani Israel keluar dari negeri Mesir menuju tanah yang di perjanjikan oleh Tuhan.

Tuhan mengajarkan manusia selain dari tanda-tandaNya yang tersebar di alam semesta, juga mengajarkan kepada kita tentang sejarah peradaban. Bila anda membaca al-Quran maka sering anda akan menemukan cara Tuhan untuk mendorong berpikir manusia dengan melihat kembali dari kisah-kisah yang dahulu. Kisah-kisah itu tentunya sebagai pengingat kita agar kita tidak mengulanginya kembali.

Namun manusia memang makhluk Tuhan yang paling Bandel. Bebal luar biasa. Meskipun dia makhluk masterpicenya Tuhan, sebaik-baiknya makhluk Tuhan karena seluruh unsur-unsur alam semesta ini terkandung dalam manusia, tinggal hanya anda menangkap dengan radar anda atau tidak. Namun Tuhan juga peringatkan bahwa manusia yang sangat Tuhan kasihi itu sangat memungkinkan turun derajatnya menjadi seperti hewan dan bahkan lebih rendah dari itu. Yaitu salah satunya, orang-orang yang tidak pernah belajar dari kisah masa lalu.

Jangan anda kira bahwa sejarah itu hanya untuk di ingat dan di catat saja untuk mengisi rak kosong perpustakaan kita. Namun gejalanya itu selalu akan terus berulang di semua kehidupan manusial. Entah itu untuk skala negara, skala individual, organisasi, pekerjaan ataupun sosial budaya lain.

Kisah yang mengandung hikmah ini seakan akan terulang kembali dan menyadarkan kita pabila kita melihat wajah politik kita saat ini. Tentang konspirasi luar biasa yang mengelilingi kita di antara konspirasi-konspirasi global yang lain.

Kasus Anas Urbaningrum yang di jadikan tersangka oleh KPK dengan sangat kontroversial itu, mengundang berbagai kejanggalan dan pertanyaan publik. Bahkan ada yang mengatakan ini adalah kriminalisasi untuk menjatuhkan Anas untuk menutupi borok kekuasaan yang sesungguhnya.   Read the rest of this entry

Menulis itu Adalah Menulis

menulis3Datang sebuah pertanyaan kepada saya di suatu waktu. Apakah kelak saya akan menerbitkan tulisan-tulisan saya? mengingat kuantitas tulisan yang telah saya share di blog pribadi saya telah cukup untuk sekadar di monumentalkan dalam sebuah buku.

Pertanyaan ini agak sulit saya jawab. Karena secara pribadi saat ini saya belum terpikirkan dan “belum bernafsu” untuk mengarah kesana. Meskipun juga tidak menutup adanya kemungkinan itu. Belum terpikirkan dan “belum bernafsu” itu, karena saya selama ini telah mengambil jarak yang realitis dari kemampuan menulis saya dengan perusahaan-perusahaan penerbit yang akan menerbitkan tulisan-tulisan itu. Jarak itu berupa kualitas tulisan saya yang masih amburadul, tata bahasa yang belum mendukung EYD, bukan merupakan tulisan yang hangat sesuai dengan topik-topik terpanas saat ini ataupun jarak-jarak yang lain.

Hanya kita boleh berpendapat, bahwa saya selama ini menulis adalah dengan niat menulis. Menulis apa pun saja yang anggap saya perlu tulis. Utamanya pun bukan untuk orang lain, namun minimal bagi saya sendiri. Syukur-syukur kalau orang lain dapat juga mengambil manfaatnya juga. Read the rest of this entry