Category Archives: Maiyah

Wajib belajar Seumur Hidup

 

Mohon maaf sebelumnya kepada sidang pembaca, kali ini saya mengambil judul tentang wajib belajar seumur hidup yang merupakan tema dari forum maiyah “Juguran Syafaat” Banyumas Purwokerto yang malam Minggu kemarin di pentaskan serta di diskusikan dengan sangat intens. Mudah-mudahan saya dapat membagi sedikit hal yang mungkin bermanfaat bagi kita semua serta menambah khasanah cara pandang dan keilmuan kita.

Sebelum kita membahas yang kaitannya dengan pendidikan wajib belajar seumur hidup tentunya harus kita pahami dahulu sangkan paran yang harus kita mulai dari sebuah pertanyaan yang substantif. Siapakah yang mewajibkan kita belajar? Apakah pemerintah republik Indonesia? Menteri Pendidikan dan Kebudayaan? Guru-guru sertifikasi? Ataukah para orang tua kita yang di legitimasi oleh norma budaya yang berlaku di masyarakat kita.

Pertanyaan ini harus kita jawab, sebelum kita melangkah lebih jauh. Karena output dunia pendidikan saat ini yang di representasikan dengan dekadensi moral kebudayaan dan semakin sirnanya etika sesama manusia adalah wajah kita semua dari hasil dunia pendidikan kita selama ini. Korupsi, penyimpangan nilai, parade perebutan kekuasaan yang sangat menghina martabat rakyat, tumbuhnya manusia hedonisme di segala lini adalah pemandangan yang lumrah kita saksikan bersama-sama. Bagaimana bisa, dunia pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai dan moral Pancasila di setiap kurikulumnya bisa mencetak generasi bangsa seperti ini. Bagaimana mungkin dunia pendidikan modern yang selalu mencetak lulusan UN dengan standar yang tinggi bisa kecolongan seperti ini. Padahal kita selalu di dorong dengan slogan wajib belajar sembilan tahun.

Tentunya, tema yang di angkat oleh teman-teman Maiyah Purwokerto patut di apresiasi karena telah memberikan kita sebuah pencerahan, ternyata belajar itu tidak cukup hanya dengan sembilan tahun. Wajib belajar itu adalah seumur hidup. Karena Tuhan sendiri berfirman di ayat yang pertama kali di turunkan kepada Rasul Muhammad adalah Iqra, bismi rabbika alladzii khalaqa, bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Jelas bahwa Tuhan memerintahkan kita untuk membaca yang tentunya dapat kita asosiasikan dengan belajar. Bahkan banyak di ayat-ayat al-quran, Tuhan selalu menagih kita untuk menggunakan akal dan pikiran kita,agar dengan akal itu kita dapat mengagumi kebesaran Tuhan. Read the rest of this entry

Akan Sampai Kemana Idealisme Kita

Perjalanan hidup ini ternyata tidak sesederhana yang kita bayangkan ketika masih kecil dahulu. Semenjak kecil kita mempunyai pandangan bahwa perjalanan kehidupan akan seperti apa yang kita baca di buku-buku pelajaran sekolah, buku keagamaan, cerita-cerita inspiratif, dongeng yang di sampaikan ayah saat menjelang tidur. Bahwa bila kira rajin maka kita akan bisa pandai, jika kita hemat maka juga kita akan menjadi kaya. Dan kita menjadi percaya bahwa berbuat baik, berlaku jujur akan membuat kita juga akan mendapatkan kesuksesan dalam hidup. Prinsip serta pandangan hidup itu, kita simpan hingga kita beranjak dewasa dalam kalbu yang kita yakini kebenarannya. Bahwa memang hidup ya demikian adanya.

***

Syahdan ada seorang sahabat datang dan berkeluh kesah.

“Jancuk,..manusia-manusia modern sekarang ini,” kata dia sambil melemparkan tas kerjanya. “Serakahnya melebihi hewan. Kalau hewan sekali makan dan kenyang dia sudah akan berhenti makan sampai jangka waktu tertentu. Lha ini manusia modern, masih saja kelaparan dalam kondisi kekenyangan….!!”

“lho ada apa lagi?” aku bertanya sambil mempersilahkan dia duduk.

Begitulah perilakunya ketika kesal atau saat mendapat masalah di kantornya. Ku diamkan saja, karena aku tahu bahwa dia akan bercerita dengan sendirinya.

“Aku di suruh membuat LPJ fiktif untuk kegiatan  proyek. Bahwa harus ada 10 persen dari pagu anggaran yang harus di berikan kepada oknum-oknum tertentu bila ingin mendapat proyek.”

Dan kemudian dia ncerocos tanpa bisa di hentikan, membuka praktek-praktek hitam dalam permainan anggaran, manipulasi proyek, konspirasi-kompromi dan lain-lain. Sambil sesekali lontaran kata-kata pisuhan keluar dari mulutnya. Read the rest of this entry

Catatan Kehidupan : Masalah Rumah Tangga Adalah Masalah Kecil

Ada teman-teman mengatakan kepada saya bahwa masalah rumah tangga itu adalah masalah kecil, masalah persuami-istrian itu masalah kecil. Pokonya rumah tangga itu kecillah. Saya bilang sama, bagaimana masalah rumah tangga kok kecil? Orang pada cerai, orang pada bertengkar, orang pada bingung. Rumah tangga adalah besar, saya bilang. Dia bilang masalah kecil. Kita ini mahluk social.

Kita ini bagian dari masyarakat yang besar. Dari negara yang juga sangat besar dan sangat rusak. Dan itulah masalah besar kita. Maka masalah rumah tangga harus menjadi kecil. Artinya soal kesetiaan suami istri sudah harus beres, kalau tidak boleh menjadi masalah. Itu harus sudah jadi sesuatu yang kecil, otomatis harus terjadi. Masalah sex, masalah rumah tangga apapun saja, di antara suami, istri, anak dan kakak-kakaknya, dan semua hubungan di antara anggota keluarga.

Itu sudah harus menjadi masalah kecil, harus pasti beres. Sehingga kita sudah siap untuk menjadi pendekar yang lebih besar. Untuk mengurusi masalah besar dari negara yang problemnya juga sangat besar. Terseah menurut anda ini benar atau tidak.

Senin, 06 November 2006

Taken From
Catatan Kehidupan Emha Ainun Nadjib
http://www.deltafm.net

Catatan Kehidupan : Kekecewaan dan Kekesalan

Teman-temanku penggemar Delta FM dimana saja Anda berada. Kita ini orang-orang tua, mengalami banyak sekali kekecewaan sebagai manusi, sebagai warga negara, sebagai penduduk, sebagai bagian dari republik yang sedang pilu ini. Kekecewaan-kekecewaan ini berlangsung terlalu panjang dan akhirnya terakumulasi, menggumpal, jadi kapalan dia.

Akhirnya ada tumpukan-tumpukan kekumuhan didalam jiwa kita, sehingga kemudian kita ingin mengkentutkannya. Kita ingin membuang angin busuk itu dari dalam diri kita dengan misalnya Sinisme, dengan bikin lawak-lawakan, kirim sms yang lucu-lucu kemana-mana. kita bikin anekdot-anekdot mengenai pejabat. Kita ejek mengenai ini-itu. Kita melakukan pokoknya formula-formula sinisme, lagu-lagu kita plesetkan. Pancasila kita bilang “Pancasila : 1. Keuangan yang maha esa, 2. Kemanusiaan yang tidak adil dan biadab. 3. Perseteruan Indonesia, dan seterusnya, misalnya begitu kita plesetin?

Cuman sering kita tidak hati-hati, bahwa itukan pengalaman kita. Anak-anak kita, dia tidak punya kewajiban untuk ikut menyanggah kekumuhan hati kita. Jadi anak-anak harus kita lindungi. Anak-anak jangan kita ajari lagu Garuda Pancasila yang kita pleset-plestkan dengan sinisme kita. Anak-anak harus kita tumbuhkan bersama-sama dengan kemurnian Indonesiia Raya, kemurnian Garuda Pancasila, kemurnian Padamu Negeri. Anak-anak jangan kita ajari, jangan kita tanami dengan hasil dari kekecewaan dan keputus-asaan hidup kita, sebagai orang tua.

Jadi dalam budaya, dalam sosialisasi nilai-nilai nasionalisme segalamacam. Kita harus sangat berhati-hati. Termasuk teman-teman aktivis yang seringkali anak-anak disuruh menjadi alat untuk melampiaskan kekesalan mereka kepada pemerintah. Akhirnya pemeritah yang salah, negara yang disalahkan, negara kan bukan pemerintah? Jadi teman-teman sekalian mudah-mudahan kita mengetahui batas-batas itu dan tetap ditengah keputus-asaan kayak apapun kita tetap menjaga pertumbuhan anak-anak kita, generasi yang terbaru sehingga mereka akan menjadi anak-anak yang murni, yang siap untuk menjalankan dari apa yang tidak mampu kita jalankan di dalam konteks nasionalisme Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Taken From
Catatan Kehidupan Emha Ainun Nadjib
http://www.deltafm.net
Senin, 12 Juni 2006

Lemahnya Legitimasi Nilai Pendidikan

Teman-teman sekalian, Assalamualaikum wr wb

Bisa jadi salah satu kemungkinan jawaban kenapa situasi demoralisasi bangsa kita sedemikian parahnya itu karena faktor-faktor yang terpenting dalam kehidupan manusia itu memang tidak ada sekolahnya. Nggak ada kelasnya. Ngga ada ruang kuliahnya. Nggak ada kurikulumnya. Misalnya, berumah tangga. Nggak ada fakultas rumah tangga. Tidak ada jurusan perkawinan atau pernikahan. Yang ada pendidikan seks. Itupun tidak ada urusannya dengan masalah psikologis dan rohaniah. Apalagi dengan syariat atau akhlak. Jadi rumah tangga nggak ada sekolahannya. Padahal itu setiap orang harus berumah tangga. Kebaikan tidak ada sekolahannya. Padahal setiap orang di perlukan untuk baik. Akhlak tidak ada sekolahannya. Padahal apa jadinya dunia ini kalau orang tidak berakhlak.

Lho apakah di kurikulum-kurikulum sekolah, di pelajaran-pelajaran sekolah, guru-guru, dosen-dosen,  para professor tidak pernah menyebut-nyebut, pentingnya ketentraman rumah tangga, kedewasaan suami istri, kebaikan hidup, atau moralitas. Bukan tidak pernah. Tetapi tidak pernah di posisikan secara primer di sekolahan-sekolahan kita. Kebaikan bukan sesuatu yang primer.

Anda seorang sarjana, kemudian mengajar di sebuah universitas.  Kemudian anda ketahuan mencuri motor. Anda hanya mendapat hukuman separo. Yaitu anda di pecat dari universitas anda. Itupun belum tentu karena soal moral tapi mungkin karena soal malu. Masak universitas punya dosen curi motor. Tetapi, dosen dan sarjana yang mencuri motor ini, tidak akan pernah di copot gelar kesarjanaannya.  Anda professor, anda memperkosa orang, anda tetap profesor.  Anda doktor, anda korupsi, anda tetap Doktor.

Betapa lemahnya, legitimasi nilai dari sekolahan-sekolahan, universitas-universitas yang selama ini kita bangga-banggakan.

Emha Ainun Nadjib

*di tulis ulang dari rekaman radio Delta FM.

KEBUDAYAAN BARAT ATAU KEBUDAYAAN TIMUR

Temen-temen sekalian,

Kalau moralitas ibarat tanaman di taruh di atas pot atau di sebongkah tanah, yang namanya kebudayaan. Kemudian jenis kebudayaannya kita sebut kebudayaan timur dimana disana ada kebudayaan barat. Sekarang kita ingin bertanya, yang mana dari Jakarta ini yang kebudayaan timur? Dan apakah kalau anda ke Makau, ke Honkong, anda Ke New York, anda ke San Fransisco, ke Chichago maka anda bisa sebut kebudayaan barat. Cinta  kepada ibu bapak itu kebudayaan timur apa kebudayaan barat? Cinta dan pacaran itu kebudayaan timur apa kebudayaan barat. Yang mana sebenarnya yang kebudayaan timur yang mana yang kebudayaan barat. Kadang-kadang orang barat sangat timur, kadang-kadang orang timur sangat barat. Kadang-kadang orang barat sangat sosial, kadang-kadang orang timur sangat individualistis. Padahal ada kategori-kategori baku bahwa barat itu individualistis, bahwa timur itu suka gotong royong dan kolektif. Ternyata dalam prakteknya bisa terbalik sama sekali.

Pertanyaan saya, kembali kepada dasar pemahaman, ilmu sederhana mengenai moralitas. Apa bener moral ini bisa kita tanam di atas pot bunga kebudayaan tadi. Ataukah kita harus menemukan tanah yang lebih permanen, yang bisa menjaga moral itu tanpa batas waktu, tanpa batas era, tanpa batas kurun, tanpa batas zaman. Sampai zaman apapun moral A adalah A, B adalah B. Nah kalau kebudayaan tidak bisa. Kebudayaan itu, sekarang bilang A itu baik tahun depan bilang A itu jelek. Ah, jadi sekali pertanyaannya, mungkinkah kita mengandalkan kebudayaan ataukah kita harus mencari dasar-dasar nilai lain untuk menjaga moralitas.

Emha Ainun Nadjib.

*di tulis ulang dari rekaman radio Delta FM

LEBIH BAIK ANDA JADI KAFIR

Teman-teman sekalian, assalamualaikum wr wb…

Saya pernah nekat menjawab pertanyaan orang di sebuah forum. Cak, gimana supaya adzab Tuhan ini tidak berkepanjangan ini. Gempa. Gunung mau meletus.  Banjir.  Tsunami. Jakarta akan jadi lautan api. Akan ada gempa yang membikin gedung-gedung listriknya konslet dan kebakaran. Akan ada bom meledak. Akan ada musim kering yang panjang. Sehingga satu dua pusat industri akan mengalami kobaran api. Macam-macam dia tanya. Solusinya apa ini supaya Tuhan ndak marah seperti ini.

Saya nekat menjawab. Dan ya pasti di marahi banyak orang jawaban saya . Saya kira kok sebaiknya Indonesia ini penduduknya kafir saja semua, mungkin lebih selamat. Wah, jadi marah ini semua anggota forum. Terpaksa saya jawab. Mas, saya ulang tentang perawan tempo hari itu. Putri anda maunya tidak di kawinin orang. Tidak di cintai siapa-siapa, sampai tua.  Ataukah di kasih i love  you, di kawinin tapi di main-mainkan. Anda lebih suka yang mana? Saya lebih suka yang pertama. Mending anak saya tidak kawin. Daripada kawin tapi di main-mainin. Dan begitulah sikap Tuhan. Mending anda jadi Kafir. Dosa anda cuman satu. Daripada anda jadi muslim, jadi orang beragama tapi anda maen-maen dengan Tuhan .

Assalamualikum wr wb

Emha Ainun Nadjib

*di tulis ulang dari rekaman radio Delta FM.

Manusia Maiyah = Manusia Masa Depan

Kemarin siang saat saya menyantap makan di sebuah warung di pojokan yang menyediakan televisi lebar tak sengaja saya melihat sebuah iklan produk makanan realgood. Tidak ada yang istimewa sebenarnya dari sebuah iklan tersebut yang memang di konsep untuk menarik konsumen untuk menjajal produk mereka. Hanya yang menarik dari iklan tesebut adalah jingle yang dipilih serta tagline nya “Nyot….”

Saya menjadi teringat beberapa masa silam ketika masih rutin beracara di Gambang Syafaat Semarang yang di ampu oleh Emha Ainun Nadjib. Dalam forum pencerahan keilmuan tersebut merupakan acara yang sangat liberal, ultra demokratis yang dihadiri dari semua unsur masyarakat dari tukang becak, tukang ojek, mahasiswa, santri, aktivis, dosen, pejabat daerah, bahkan dari golongan agama lain serta bermacam jenis manusia lain. Dalam acara tersebut menjadi sebuah sinergi yang indah, karena merupakan forum egaliter, menghormati sesama manusia, dan tetap fokus kepada Rasullah dan Muhammad. Dalam sela-sela diskusi, beberapa acara acapkali di isi oleh para seniman-seniman yang menghibur para jama’ah untuk menyegarkan suasana setelah khusyuk berdiskusi. Read the rest of this entry

JANGAN MEMBERI ANAKMU NASI YANG TIDAK PASTI HALAL

Teman-teman Delta sekalian

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Para ulama para habib para ustads selalu memperingatkan eh, jangan kasih anakmu sesuap nasi yang tidak pasti halal. Selalu memperingatkan selalu hitunglah itu nasi di piring  tempat makanmu itu air yang diminum oleh anakmu. Selalu perhitungkan jangan sampai ada satu anasir haram yang masuk melalui mulut dia kedalam perut dia, diolah oleh usus, kemudian diurai menjadi zat-zat, menjadi protein, menjadi lemak menjadi segala macam dan kemudian masuk ke dalam darah. Dan dia mengalir, kemudian darah itu akan menentukan denyut jantungmu, akan menentukan seluruh kerjanya urat syaraf sampai ke otakmu, akan menentukan dialektikanya dengan segala macam getaran elektromagnetik di kepalamu, akan menentukan suplainya ke otak kiri ke otak kanan dan lain sebagainya lain sebagainya.

Sehingga kalau ada satu unsur haram dari makanan yang dimakan oleh anakmu maka dia akan menciptakan mudharat-mudaharat secara akumulutif dan tidak bisa di hitung oleh ilmu manusia. Ini kalau, kalau di turutin ya Allah, susah banget, apa namanya, untuk bisa bener-bener makan sesuatu yang halal. Maka mungkin itu sebabnya Tuhan maha pemaaf, karena manusia tidak akan punya ilmu sampai sedetail itu. Kita bisanya itu ya hanya satu tahap, satu petak. Jadi misalnya kalau beli apa-apa di warung, warungnya jelas menjamin halal ya sudah itu yang kita beli. Kita tidak bisa di kejar di belakang warung ini bagaimana asal-usulnya, kan begitu.

Jadi bekal kita saya kira, kalau hanya pakai ilmu dan penelitian untuk mengetahui sesuatu itu halal apa haram, kan tidak mampu kita. Maka bekal kita yang terbaik dalam hidup ini adalah istighfar. Slalu memohon ampun kepada Allah, sehingga mudah-mudahan kalau tak sengaja ada makanan haram masuk ke dalam mulut kita meskipun kita tidak mencurinya, tapi ternyata yang kita beli itu barang curian misalnya, sehingga kita sebenarnya menjadi tukang tadah. Itu masih ada netralisatornya, masih ada eliminatornya yaitu ampunan Allah. Dan untuk mendapatkan ampunan Allah itu, jalannya cuman satu yaitu membiasakan memohon ampun. Ya kalau orang islam selalu ber-istighfar, Astagfirullah aladhim, Astagfirullah rabbal baroya, Astagfirullah minal khotoya. Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh….

Emha Ainun Nadjib

Untuk Delta FM