Category Archives: Kolom Esai

Televisi itu Agama Saya

Malam minggu ini tidak ada hal lain yang lebih asik untuk melepas lelah kecuali dengan menonton televisi. Kotak LCD segi panjang ajaib itu menawarkan beragam acara yang sayang untuk di lewatkan. Dari acara joget ndangdut, talkshow-talkshow aktual soal masa depan bangsa, gosip selebritis, sampai pengajian oleh ustadz yang tampan-tampan. Bolehlah Departemen Penerangan di bubarkan, asal jangan acara televisi kena cekal. Karena apabila sampai di cekal, maka bersiaplah akan kita siapkan demonstrasi atas nama kebebasan pers dan HAM.

Bangsa indonesia adalah bangsa penikmat televisi. Siang malam selalu dan dimana saja orang tidak ingin ketinggalan tayangan favoritnya. Mereka duduk di depan televisi itu sambil ndlosor, duduk,  bercengkerama, tertawa terbahak-bahak sambil berdecak saking takjubnya. Read the rest of this entry

Iklan

Amplop Kering Kang Ahmad

DSC_0019Kang Ahmad sedang pusing kepala. Seharian dia duduk bengong saja sambil menghabiskan berbatang-batang rokok yang di dapatnya dari tetangga yang kemarin siang meminta bantuannya memanjatkan kelapa.

Sebenarnya dia termasuk orang yang ga gampang pusing. Gak gampang khawatir, apalagi gampang masuk angin. Ndablek kata orang Jawa. Apalagi dengan soal-soal yang terkait dengan dirinya sendiri. Dia merasa tidak ada yang di perjuangkan untuk dirinya sendiri. Dia buta terhadap pemenuhan ego-ego pribadi. Hidupnya sudah di sedekahkan kepada masyarakat.

Karena dari itu kalau untuk masalah sosial, kepentingan-kepentingan umum, kebutuhan tetangga, sahabat atau kerabat, ia sangat bisa pusing kepala memikirkannya. Lebih pusing daripada umpamanya dia tidak punya uang untuk beli soto.

Ceritanya ia, jelek-jeleknya di angkat sebagai kader pemberdayaan oleh Pak Kades dengan dari rapat musyawarah dengan masyarakat. Soalnya bukan apa-apa, bukan sebab Kang Ahmad ini orang yang paling qualified, paling tinggi ijasahnya atau paling berpengalaman dalam bidang peningkatan pemberdayaan masyarakat, namun pilihannya adalah pragmatis: “karena tidak ada orang lain yang mau menjadi kader”. Read the rest of this entry

Merapi Perubahan

Merapi mulai melakukan revolusi diri untuk menandai perubahan-perubahan radikal d Indonesia.
Siklus 5 Millenium hampir tiba di titik simpulnya 
Suara-suara masa silam bangkit dari kuburnya
Ramalan Sabda Palon Naya Genggong akan semakin nyata
Perubahan itu jelas di depan mata

Operasi sunyi di mulai
Memberi warning nyata kepada manusia
Tentara langit dan bumi sedang bekerjasama
ndandani kerusakan yang di akibatkan oleh manusia-manusia pendusta

Dan silahkan saja bagi engkau siapa saja yang masih tertawa-tawa
Dan tidak mau menyadari kemungkinan pergantian
Silahkan sibuk dengan perhitungan 2014
Dan jangan salahkan bila engkau akan tergilas

Engkau hanya sebut bencana
Tanpa kita ingat bahwa kita punya banyak dosa
Kita hanya mengutuk kejamnya Tuhan
Dan alpa tentang kenikmatan yang di berikan

Merapi, laharmu akan memberi jalan bagi kehidupan baru
Asapmu akan memurnikan kembali atmosfer yang terkontaminasi nafsu manusia
Merapi, dentuman itu akan membungkam suara-suara picik penguasa
Merapi, akan menyatukan duka seluruh rakyat Indonesia
Untuk bekal kebangkitan masa depan kita

Merapi, 18 Nov 13
Gilang Prayoga
image

Peradilan Semu

timbanganKetika vonis hukuman kepada Ahmad Fathanah di jatuhkan dengan hukuman 14 tahun penjara dan denda 1 Milyar, banyak kalangan yang menganggap bahwa hukuman terlalu “ringan” dan tidak akan menimbulkan efek jera kepada terdakwa, meskipun di pihak lain kuasa hukum Ahmad Fathanah mati-matian membela kliennya bahwa Ahmad Fathanah tidak selayaknya di hukum se”berat” itu sehingga mereka merencanakan akan maju banding. Pengacara terdakwa menganggap putusan itu tidak adil, jaksa penuntut KPK juga menganggap tidak adil, pengamat juga mengatakan tidak adil, mungkin masyarakat juga berpendapat tidak adil dengan berbagai macam variabelnya masing-masing.

Ketika seorang terdakwa di vonis hukuman di pengadilan belum barang tentu hasil putusan itu memenuhi unsur “keadilan”. Keadilan itu bisa saja sangat subjektif, tidak berimbang, penuh manipulatif dan rekayasa. Vonis itu bisa sangat adil di pihak yang satu namun bisa sangat tidak adil di pihak sebelahnya. Karena ketika berperkara setiap orang ngotot dengan argumennya masing-masing yang sama-sama mendasarkan kepada Undang-Undang. Bila tidak ada pasal yang  mengatur secara eksplisit, bisa di cari di pasal-pasal abstrak yang membuat bingung para pendengarnya. Dan memang itu tujuannya, semakin bingung semakin kabur maka semakin sukses untuk mengobok-obok substansi keadilan itu sendiri. Hakim yang memutuskan suatu perkara bisa saja di hujat seluruh rakyat Indonesia karena bisa tidak memenuhi unsur harapan keadilan dari masyarakat.

***

Dalam suatu riwayat Muhammad Rasullah mengatakan bila sampai anaknya Fatimah Bin Muhammad mencuri, maka Muhammad yang akan memotong sendiri tangannya. Mungkin kalau Beliau hidup jaman sekarang pasti sudah di tuduh melanggar HAM, di tuntut Komnas Perlindungan Anak, di tuduh kejam dan tidak manusiawi dan bisa-bisa masuk penjara karena omongan seperti itu. Read the rest of this entry

Kembali Mencintai Proses

prosesHari ini tadi, saya mendapatkan sebuah e-mail dari sebuah salah seorang teman yang menanyakan keberlangsungan blog saya yang semakin tidak terurus. Saya sedikit terkejut dan sedikit ke-GR-an, sekaligus juga terharu, ternyata sejelek-jeleknya isi konten blogku “Sebuah Catatan Tentang”, masih ada yang simpati menanyakan keberlangsungannya. Dan saya harus berterima kasih kepada beliaunya telah mengingatkan sehingga saya seolah-olah di tampar kesadarannya sehingga tiba-tiba memiliki semacam energi untuk mulai menulis kembali.

Malas memang menjadi faktor yang paling utama dan satu-satunya yang pantas untuk di jadikan kambing hitam untuk menutupi setiap kekurangan dan kelemahan kita. Dan dengan kalemnya kadang kita terbiasa bilang,” Ah..tidak punya waktu”, atau mungkin,” sedang sibuk dengan pekerjaan utama,”, “sedang buntu inspirasi,” atau bermacam alibi lain. Saat kita terpuruk, kita terbiasa ngeles dengan berbagai macam alasan. Maklum namanya manusia memang sudah begitu.

Namun kadang kita juga tidak objektif dan cenderung melupakan bahwa ada akar dari faktor elementer rasa malas itu yang ternyata bersumber dari persepsi dan motivasi kita yang salah arah. Persepsi dan motivasi yang salah tentang hakikat hidup, tentang hakikat etos kerja, tentang kreativitas dan apapun ternya sedikit banyak akan menyumbang kesesatan berpikir dan pada akhirnya mental serta kuda-kuda kita tidak pernah kokoh. Ketemu kendala sedikit saja sudah kalang kabut dan buntu, depress, stress dan ujungnya sampai frustasi.

Ketika kita akan melakukan apa saja ternyata sudah memikirkan tentang hambatan proses, kendala, masalah, maka sesungguhnya itu telah mendiskon besar-besaran potensi kreativitas kita. Bahkan salah-salah malah akan menguburkan dan memandulkan daya cipta, budaya kreasi dalam diri kita.

Dan hal bodoh itulah yang ternyata saya alami beberapa bulan terakhir ini. Dan sungguh saya menyesal dan berdoa kepada Allah swt semoga di ampuni dosa saya karena telah memubazirkan rizki inspirasi yang tidak pernah sempat saya bagi. Dan Tuhan mengingatkan saya, dengan mengirimkan seseorang yang entah dari mana asal-usulnya tersebut untuk sedikit menabok ketidaksadaran saya selama ini. Read the rest of this entry

Kerja Kok Minta Bayaran !!

129497558183216665

Mungkin tematik judul di atas adalah antitesis dari dunia profesional yang banyak berlaku di lingkungan kita di tengah derasnya arus modernitas dan semakin berlomba-lombanya manusia untuk menggapai tingkatan profesi setinggi-tingginya. Mungkin pula ini semacam fenomena arus balik dari sebuah mainstream populer kebudayaan materialistik kita. Dan boleh jadi, hal ini pula merupakan inisiatif kebangkitan kembali sebuah gerakan moral untuk menumbuhkan kembali tradisi-tradisi luhur nenek moyang tentang kebersamaan, gotong-royong dan suatu sikap “nriman” dan tidak melampiaskan dorongan nafsu duniawinya, ideologi sumeleh, atau semacam lilahilataala. Suatu gerakan akan cita-cita mulia yang tentunya wajib di dukung bersama dari kita yang masih mendambakan kerukunan, kebersamaan dan indahnya keguyuban yang semakin hari semakin luntur dari kehidupan kita.

Dunia globalisasi kita sekarang ini tengah di kepung oleh teori-teori yang sedikit banyak berlawanan dengan semangat kebersamaan. Dunia modern telah mengajari kita menjadi sangat rakus terhadap dunia, kalau tidak boleh di bilang serakah. Di setiap jengkal nafas kita telah di kepung dengan derasnya kesadaran untuk mengalahkan orang satu dengan yang lain. Menghancurkan manusia lain untuk melegitimasi kemenangan. Menumbangkan saudara lain untuk memperoleh kejayaan. Meremukkan nasib ribuan orang lain untuk memperoleh kekayaan bagi segelintir orang. Dan sistem mekanisme semacam itu di sahkan dalam kerangka formal dan baku yang di sebut profesional. Kapitalisme menjadi darah yang mengalir dalam nadi setiap manusia modern.

Visi kendaraan kapitalisme adalah menghimpun modal dan sumber daya untuk melipatgandakan berkali lipat. Sedangkan baju profesionalisme adalah anda harus sanggup berbuat tega hati bahkan kepada kerabatmu sendiri. Jangan banyak omong moral, etika dalam dunia kapitalisme dan profesional, karena hal itu hanya menjadi gincu pemanis yang luntur oleh cipratan hujan materialisme. Read the rest of this entry

Anak Muda, Engkau dimana?

image

Dalam dunia anak muda rata-rata telah berkembang secara amat meyakinkan bahwa tren pergaulan di diantara mereka di indikatori oleh cara pandang yang menempatkan pengakuan kebanggaan menjadi tolak ukurnya. Kebanggaan itu bisa lahir dari suasana rasa pencarian ekspresi kreatif belaka, namun juga bisa melebar untuk memperlihatkan eksistensial pribadi di tengah lingkungan sosialnya.
Read the rest of this entry

ME-RAMADHAN-KAN KEHIDUPAN

Ketika Momentum Ramadhan tiba sering kita dengar dari para orang tua, ustad, alim ulama, dan dari siapa pun saja bahwa bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah. Bulan yang penuh rahmat dan barokah ini tentunya tidak hanya dapat kita gali dari perspektif spiritual keagamaan saja namun juga dapat kita pandang dari sudut sosial kemasyarakatan, nuansa budaya serta dampak ekonominya.

Kita ambil dahulu dari sudut budaya. Ketika memasuki bulan Ramadhan, budaya islami membanjiri segala lini hidup kita dari iklan di televisi, sinetron, lawak, musik sampai diskusi-diskusi keagamaan, pengajian yang kurang laku di luar bulan Ramadhan menjadi sangat laris. Dan tiba-tiba seluruhnya menjadi terlihat sangat alim dan islami dengan mengenakan asesoris, ornamen yang islami berupa kopiah, sarung, sajadah, kurma dll. Atau sekurang-kurangnya produk budaya yang indikatif islam. Tentunya ini merupakan sesuatu hal yang positif dan menggembirakan.

Dari sudut ekonomi, bulan Ramadhan telah memberikan dampak yang signifikan terhadap peningkatan akses ekonomi masyarakat. Para pedagang baik dari yang skala nasional sampai pedagang kaki lima, dagangannya menjadi laris semua. Para karyawan bersemangat kerja karena akan mendapatkan THR. Dan berjenis-jenis profesi apapun mendapatkan hasil yang lebih. Sehingga menciptakan kegembiraan massal. Di mana-mana orang terlihat ramah, murah senyum dan santun.

Read the rest of this entry

Gaji ke-Tiga Belas Rakyat Indonesia

13Alhamdulilah. Gaji ke 13 untuk para abdi negara sudah resmi di teken oleh Presiden kita yang tercinta. Sebentar lagi para PNS sudah dapat menikmatinya untuk menyambut bulan suci Ramadhan yang akan kita sanggup bersama-sama. Tentunya kita sebagai warga negara biasa yang tidak memiliki deretan NIP di depan baju kita, cukup berprasangka baik saja bahwa  pemberian gaji ke 13 itu dapat memberikan peningkatan kualitas pelayanan kepada rakyat dan juga menjadi berkah sehingga tidak lagi mencari terobosan sana-sini atau dengan “nitili” uang APBN melalui proyek-proyek negara. Dan gaji ke-13 ini, harus kita pahami dan kita jadikan sebagai berita kegembiraan bagi seluruh rakyat Indonesia, di tengah tidak bermutunya berita-berita nasional kita.

Selain kegembiraan atas berita itu, rakyat Indonesia, sebagai juragan atas tanah Nusantara ini, pada beberapa waktu ke depan akan juga mendapatkan hadiah-hadiah yang ekstra dari bulan-bulan sebelumnya. Hadiah-hadiah itu telah di jadikan paket-paket kebijakan, Undang-undang, ataupun dalam bentuk peraturan-peraturan baik yang skalanya lokal maupun nasional. Hadiah itu nantinya di berikan karena mereka akan melewati suatu momentum ujian atas kehidupan mereka. Bila mereka lolos dan sudah pasti akan lolos, maka bangsa Indonesia akan mendapatkan rapot untuk naik kelas, ke suatu era zaman yang tidak akan pernah di capai oleh negeri-negeri manapun di dunia. Read the rest of this entry

Melawan Arus Takhayul Modernisasi

Mungkin anda juga pernah mengalami hal yang serupa. Untuk yang kesenian ratus kalinya, saya selalu menunda untuk menyelesaikan tugas-tugas pokok yang harusnya dapat di selesaikan hanya karena tergoda untuk berselancar Internet. Ketika membuka laptop, niat awal adalah akan mengerjakan laporan bulanan. Namun niat awal itu bisa berubah seketika modem sudah menyala.

Hati menjadi sulit di bendung dan di kendalikan karena di suguhi oleh lini berita yang selalu up-date setiap detik, melihat pemandangan dan gambar-gambar indah, memelototi video populer di youtube dan terus penasaran membaca artikel yang unik, menggelitik dengan judul yang provokatif.

Niat hanya buka satu dua halaman, tapi begitu sulit di hentikan. Sampai yang sering terjadi adalah keasyikan surfing, browsing, download dlsb hingga pekerjaan utama kita terabaikan. Dan akhirnya setelah kepepet, terpaksalah mau tidak mau kita baru mengerjakan laporan kita. Dan tentu hasilnya menjadi ala kadarnya. Read the rest of this entry