Category Archives: Cerpen

ROBOHNYA SURAU KAMI

Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.

Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengansegala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek.

Sebagai penjaga surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia lebih di kenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah minta imbalan apa-apa. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting, memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang minta tolong, memberinya imbalan rokok, kadang-kadang uang. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum.

Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari.

Jika Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuan mencopoti pekayuannya. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak di jaga lagi. Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Beginilah kisahnya.

Sekali hari aku datang pula mengupah Kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku, karena aku suka memberinya uang. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. Pandangannya sayu ke depan, seolah-olah ada sesuatu yang yang mengamuk pikirannya. Sebuah belek susu yang berisi minyak kelapa, sebuah asahan halus, kulit sol panjang, dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat itu. Kemudian aku duduk disampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanya Kakek,

“Pisau siapa, Kek?”
“Ajo Sidi.”
“Ajo Sidi?”
Kakek tak menyahut. Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelakupelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pameo akhirnya. Ada-ada saja orang-orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelakupelaku ceritanya. Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seekor katak, dan kebetulan ada pula seorang yang ketagihan menjadi pemimpin berkelakuan seperti katak itu, maka untuk selanjutnya pimpinan tersebut kami sebut pimpinan katak.

Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatang Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya Kakek lagi. “Apa ceritanya, Kek?”
“Siapa?”
“Ajo Sidi.”
“Kurang ajar dia,” Kakek menjawab.
“Kenapa?”
“Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggoroh tenggorokannya.”
“Kakek marah?”
“Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal.”

Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagi Kakek, “Bagaimana katanya, Kek?”

Tapi Kakek diam saja. Berat hatinya bercerita barangkali. Karena aku telah berulang-ulang bertanya, lalu ia yang bertanya padaku, “Kau kenal padaku, bukan? Sedari kau kecil aku sudah disini. Sedari mudaku, bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua, bukan? Terkutukkah perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?”

Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. Sebab aku tahu, kalau Kakek sudah membuka mulutnya, dia takkan diam lagi. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaannya sendiri.

Read the rest of this entry

Iklan

Anak Kebanggaan

Semua orang, tua-muda, besar-kecil, memanggilnya Ompi. Hatinya akan kecil bila di panggil lain. Dan semua orang tak hendak mengecilkan hati orang tua itu.

Di waktu mudanya Ompi menjadi klerk di kantor Residen. Maka sempatlah ia mengumpulkan harta yang lumayang banyaknya. Semenjak istrinya meninggal dua belas tahun berselang, perhatiannya tertumpah kepada anak tunggalnya, laki-laki. Mula-mula si anak di namainya Edward. Tapi karena raja Inggris itu turun takhta karena perempuan, ditukarnya nama Edward jadi Ismail. Sesuai dengan nama kerajaan Mesir yang pertama. Ketika tersiar pula kabar, bahwa ada seorang Ismail terhukum karena maling dan membunuh, Ompi naik pitam. Nama anaknya seolah ikut tercemar. Dan ia merasa terhina. Dan pada suatu hari yang terpilih menurut kepercayaan orang tua-tua, yakin ketika bulan sedang mengambang naik, Ompi mengadakan kenduri. Maka jadilah Ismail menjadi Indra Budiman. Namun si anak ketagihan dengan nama yang dicarinya sendiri, Eddy.

Ompi jadi jengkel. Tapi karena sayang sama anak, ia terima juga nama itu, asal di tambah di belakangnya dengan Indra Budiman itu. Tak beralih lagi. Namun dalam hati Ompi masih mengangankan suatu tambahan nama lagi di muka nama anaknya yang sekarang. Calon dari nama tambahan itu banyak sekali. Dan salah satunya harus dicapai tanpa peduli kekayaan akan punah. Tapi itu tak dapat dicapai dengan kenduri saja. Masa dan keadaanlah yang menentukan. Ompi yakin, masa itu pasti akan datang. Dan ia menunggu dnegan hati yang disabar-sabarkan. Pada suatu hari yang gilang gemilang, angan-angannya pasti menjadi kenyataan. Dia yakin itu, bahwa Indra Budimannya akan mendapat nama tambahan dokter di muka namanya sekarang. Atau salah satu titel yang mentereng lainnya. Ketika Ompi mulai mengangankan nama tambahan itu, diambilnya kertas dan potlot. Di tulisnya nama anaknya, dr. Indra Budiman. Dan Ompi merasa bahagia sekali. Ia yakinkan kepada para tetangganya akan cita-citanya yang pasti tercapai itu.

“Ah, aku lebih merasa berduka cita lagi, karena belum sanggup menghindarkan kemalangan ini. Coba kalau anakku, Indra Budiman, sudah jadi dokter, si mati ini akan pasti dapat tertolong,” katanya bila ada orang meninggal setelah lama menderita sakit.

Dan kalau Ompi melihat ada orang membuat rumah, lalu ia berkata, “Ah sayang. Rumah-rumah orang kita masih kuno arsitekturnya. Coba kalau anakku, Indra Budiman, sudah menjadi insinyur, pastilah ia akan membantu mereka membuat rumah yang lebih indah.”

Semenjak Indra Budiman berangkat ke Jakarta, Ompi bertambah yakin, bahwa setahun demi setahun segala cita-citanya tercapai pasti. Dan benarlah. Ternyata setiap semester Indra Budiman mengirim rapor sekolahnya dengan angka-angka yang baik sekali. Dan setiap tahun ia naik kelas. Hanya dalam tempo dua tahun, Indra Budiman menamatkan pelajarannya di SMA seraya mengantungi ijazah yang berangka baik.

Ketika Ompi membaca surat anaknya yang memberitakan kemajuannya itu, air mata Ompi berlinang kegembiraan. “Ah, Anakku,” katanya pada diri sendiri, “Aku bangga, Anakku. Baik engkau jadi dokter. Karena orang lebih banyak memerlukanmu. Dengan begitu kau disegani orang. Oooo, perkara uang? Mengapa tiga ribu, lima ribu akan kukirim, Anakku. Mengapa tidak?”

Dan semenjak itu Ompi kurang punya kesabaran oleh kelambatan jalan hari. Seperti calon pengantin yang sedang menunggu hari perkawinan. Tapi semua orang tahu, bahkan tidak menjadi rahasia lagi bahwa cita-cita Ompi hanyalah akan menjadi mimpi semata. Namun orang harus bagaimana mengatakannya, kalau orang tua itu tak hendak percaya. Malah ia memaki dan menuduh semua manusia iri hati akan kemajuan yang di capai anaknya. Dan segera ia mengirim uang lebih banyak, tanpa memikirkan segala akibatnya. Dan itu hanya semata untuk menantang omongan yang membusukkan nama baik anaknya.

Read the rest of this entry

Dering SMS

Handphone itu kembali berdering untuk kesekian kalinya. Sayup-sayup terdengar di telinga dengan suara khasnya yang menandakan bahwa ada pesan masuk di HPku. Aku masih sedikit tersadar dari lelap tidurku. Kukumpulkan tenaga, untuk mengusir kantuk. Dengan sedikit malas ku raih Handphone itu di atas meja, di sebelah komputer bututku. Kulihat ada empat panggilan tak terjawab dan satu SMS. Ku buka pesan tersebut.
Kok ga’ diangkat??!!Lagi apa????!!”
Ku jawab dengan singkat.
Maaf…..tadi lagi tidur…Semalaman belum tidur….Ada apa?”
Ku rebahkan tubuh ini lagi di ranjang kasur kamar kosku. Capek dan lelah tubuh ini, setelah tadi malam lembur bikin tugas analisa makroekonomika yang di deadline untuk harus selesai dan di kumpulkan pada jam 9 pagi tadi, sebagai tugas pra-syarat untuk mengikuti ujian akhir semester pada hari senin depan. Demi ujian itulah aku harus begadang tiap malam, agar tidak mendapat nilai E yang sudah di janjikan dosen kami jika sampai mahasiswanya tidak membuat tugas akhir. Itu artinya sangat jelas, apabila gagal, mengulang kembali lagi di semester tahun depan. Dan itu merupakan konsekuensi yang mengerikan mengingat kami sudah mencapai akhir semester. Sebuah intimidasi terselubung aku pikir. Namun kami tak kuasa menolak apalagi membantah. Begitulah psikologi orang yang lemah daya tawarnya. Tidak bisa berbuat apa-apa, namun hanya menggeremang dan mengutuki saja namun tidak bisa merubah apapun. Tidur. Istirahat kembali untuk nanti malam menyiapkan energi.
Belum sempat aku terlelap, aku di kagetkan kembali dengan suara telepon yang meraung-raung tepat di sebelah kupingku. Brengsek. Siapa lagi yang mengganggu tidur ini. Kulihat nama yang muncul di layar handphone. Aku mendesah. Namun tetap kuangkat telepon itu.

———————————–0000———————————
Read the rest of this entry

Ketika Hujan

Ketika Hujan
Gemericik rindu menyeruak di sela-sela tetesan
Perlahan, namun semakin dalam

Tak ingatkah engkau ketika duduk di sebuah pinggiran taman
Berteduh menunggu hujan sambil kau dekap dan rapatkan badan
Wajahmu tersenyum menyiratkan kenangan mendalam
Menyimpannya dalam berjuta air yang menjadi tergenang

Kita pernah melewatinya
Bermain-main bersama selayaknya sahabat yang lama tak bersua
Bercengkerama dan berharap hujan mendengarkan serta menyimpannya untuk menjadi kisah
Doa dan harapan yang dapat kau tagih kelak di kemudian

Engkau Bercerita
Mendongeng tentang mimpi kehidupan di masa depan
Juga mendendangkan lagu dari masa silam

Kini hanya hujan
Yang kembali menjadi teman di dalam kesepian
Membawa desiran angin kerinduan yang membangkitkan indahnya kenangan
Luruh dan jatuh bersama rinai air
Menjelma menjadi sebuah bayangan yang membawa kantung kedamaian

Kau bangkitkan lagi
Kau menghadirkan dirimu kembali
Menelusup ke dalam jantung imajinasi
Menggoda dengan janji yang pernah kau titipkan dahulu kepada hujan

Kini…..
Ketika Hujan
Gemericik rindu menyeruak di sela-sela tetesan
Perlahan, namun semakin dalam

Gilang Prayoga
Bukateja, 10 November 2011

Mimpi Setiap Orang

Dalam waktu tak lebih dari dua malam, manusia di bulatan bumi ini seluruhnya menjadi gempar. Mereka kaget, takjub dan dibikin tidak mengerti oleh satu hal yang sama. Maka ributlah bumi, di bagian mana saja, yang di pusat atau yang di pelosok, oleh pergunjingan satu topic yang sama.

Ini jelas untuk pertama kalinya terjadi. Sejarah dengan penuh gairah mengenyam dan mencatat kejutan ini di atas tinta mutiara. Segala mulut dan segala mass media sibuk mencari kata-kata dan kalimat yang tepat, yang artistik dan spektakuler untuk mengabadikannya. Sebenarnya pada mulanya hanya terjadi di sebuah kampung. Bahkan di sebuah pojok yang menjadi bagian kecil dari kampung. Seseorang, laki-laki tua, pagi-pagi buta berkata kepada istrinya:

“Hebat! Semalam aku bermimpi sensasionil. Entah bagaimana bentuk kisahnya yang Jelas. Tapi yang kuingat, Tuhan mulai hari ini menutup rapat-rapat pintu-Nya.”

“He?” istrinya terbelalak, “Aku juga bermimpi demikian. Aku melihat mendadak di langit muncul makhluk aneh yang amat besar, membawa terompet yang juga amat besar ukurannya mengumandangkan suara ke segala penjuru bahwa Tuhan telah menutup pintu-Nya!”

Belum selesai keheranan sang suami. muncul menantunya dan menceritakan pengalaman yang sama. Belum sempat lagi menguraikan apa yang sesungguhnya terjadi, datang tetangga, bertanya apa bisa masuk nalar mimpinya semalam bahwa Tuhan menutup pintu. Maka kemudian menjalarlah keheranan demi keheranan. Ketakjuban demi ketakjuban. Meskipun dengan cerita mimpi yang berbeda-beda, tetapi kesimpulannya semua sama, Beberapa saat kemudian di seluruh kampung orang dipersatukan oleh rasa takjub yang sama. Dan seterusnya. tanpa terasa seluruh daerah, seluruh kota, seluruh negara, seluruh benua dan seluruh dunia, diikat oleh pergunjingan tetangga tentang masalah yang sama. Hanya dalam waktu tak lebih dari dua malam. Bahkan bisa dikatakan sehari semalam, yakni sepanjang matahari beredar mengelilingi bumi, ketika semua manusia di seluruh bulatan bumi punya satu kali kesempatan untuk bangun pagi. Hanya saja hal tersebut menjadi kesadaran internasional, ditempuh dalam waktu dua hari dua malam. Maklumlah peradaban ummat manusia sudah demikian maju. Jaringan komunikasi sudah mencapai tingkat sedemikian rupa sehingga mampu mengedari bumi dan mengikat kesadaran bersama hanya dalam waktu yang teramat singkat.

Pada detik-detik berikutnya kesibukan rasa takjub itu mulai meningkat ke proses yang lebih jauh dan dalam. Segala topik yang semula menggunjing dunia, umpamanya soal perang yang tak kunjung selesai atau peristiwa olah raga internasional, terhapus secara mendadak oleh kejutan ini. Bagaimana mungkin, bagaimana mungkin, kata setiap orang. Sejak dari rakyat paling kecil, bodoh dan buta huruf, sampai pada pemimpin-pemimpin negara atau pemuka agama, tidak ada satu pun yang absen memperbincangkannya, menguraikannnya, menilainya, mengira-ngira, menyimpulkan atau setidaknya menawarkan kemungkinan. Ada yang menggunakan cara berpikir yang ilmiah, ada yang lugu, ada yang menangkapnya secara mistis, serta ada juga yang menggabungkan antara kepercayaan yang diperolehnya dari agama dengan tuduhan-tuduhan vang dahsyat terhadap dosa-dosa manusia selama sekian abad di dunia. Tetapi yang jelas tidak ada seorang pun berani acuh atau meremehkannya. Ia menjadi masalah semua etnis dan tingkat manusia. Sejak kuli di pelabuhan, babu Cina, pencari puntung, pedagang kaki lima, guru sekolah, pemain teater, pengkhothah, sampal pegawai negeri dan gerilyawan-gerilyawan di hutan-hutan. Masalah ini segera menumbuhkan berbagai macam reaksi, di samping reaksi pikiran, yang terlebih lagi ialah reaksi perasaan. Umumnya manusia dihinggapi rasa panik, cemas, minimal khawatir.

“Ini peringatan bagi keserakahan manusia selama ini” kata seorang pemeluk agama yang patuh.

“Tanda mau kiamat” ujar lainnya.

“Tuhan tak sudi lagi mengundurkan hukuman sampai hari akhir kelak di neraka, tapi menunjukkan menunjukkan kekuasaannya sekarang”.

Semua bernada sama. Rupanya tidak perduli seseorang punya ideologis, posisi sosial atau jabatan apa, semuanya langsung tertusuk kemanusiaannya oleh kejadian dramatis ini. Ada yang sekaligus menyalahkan para pengkhianat, orang-orang murtad, penjahat-penjahat, para pelacur yang menjual tubuhnya maupun keyakinannya, kaum munafik, penindas rakyat, penjilat, pengingkar sembahyang, orang-orang yang tidak setia pada tanggung jawabnya serta mereka yang mengeksploatir kedudukan untuk memenuhi nafsu keduniaannya. Ada juga yang langsung mengarahkan tudingannya ke para pemimpin dunia, yang dianggap penentu dari segala keadaan dan akibat-akibatnya dalam kehidupan seluruh dunia. Ada yang menyalahkan negara-negara penjajah, ambisius dan imperialism Ada yang menyalahkan para pemegang sumber arah kebudayaan, menyalahkan kebijaksanaannya yang ternyata menyesatkan hidup dan menumbuhkan ketidak-seimbangan-ketidak-seimbangan. Tetapi dari kesemuanya, bisa ditarik garis besar yang sama. ialah nada pertobatan, rasa dosa dan kesadaran untuk menyesali masa silam yang penuh noda. Read the rest of this entry

P o d i u m

Sekarang tugasku yang penting ialah menjadi muadzin keliling. Beredar tiap hari Jum’at dari masjid kampung ini, ke kampung itu, dan masjid kampung sana telah menunggu untuk giliran berikutnya. Nooriman Dutawaskita, yang memberiku tugas, selalu juga bertindak sebagai khotib di masjid-masjid itu.

Pada minggu-minggu terakhir ini bahkan ada tugas lain: Gus Nooriman (demikian orang-orang kampung memanggilnya) memberi pengajian dan aku mengawalinya dengan pembacaan ayat-ayat suci Al Our’an. Ini sungguh-sungguh semangat baru yang memancar di kampung-kampung terutama di daerah Jombang timur. Semangat keagamaan yang dianugerahkan langsung dari langit, bagaikan hujan yang tumpah. Para jemaah di masjid atau muslimin dan muslimat di acara pengajian umum, berjejal-jejal dan terpesona mendengarkan uraian Gus Noor. Mereka bagaikan bermimpi menatap anak ajaib itu di podium. Aku sendiri yang selalu “diseret” Gus Noor ke mana-mana, merasakan getaran keajaiban itu.

Waktu beradzan dan mengaji serasa aku sedang turut membangun keajaiban. Bertumbuh kebanggaan yang besar. Aku sering menangis. Tetapi kebanggaan itu segera lebur ketika ingatanku melayang kepada kebesaran Allah. Segalanya niscaya kembali kepadaNya. Juga setiap kebanggaan yang bisa menggelincirkan.

Usiaku 12 tahun, dan Gus Noor kukira belum lebih 14 tahun. Aku berada di bulan-bulan terakhir SD, sekaligus Madrasah Ibtidaiyah. Sedangkan Gus Noor seingatku sudah 4 tahun terakhir ini berhenti sekolah, dari kelas IV Madrasah. Perihal kemampuanku mengaji Al-Qur’an, bukan hal yang mengherankan untuk situasi pendidikan mengaji di kampung. Sejak sebelum bersekolah, setiap mau tidur Ibu mengelus-elusku sambil mengajari lagu AlQur�an atau kasidahan. Di langgar, pelajaran mengaji dilatih terus menerus. Kepintaran mengaii bahkan menjadi ukuran gengsi seorang anak. Adikku yang berusia 9 tahun berani kupertandingkan mengaji dengan tamatan Mualimat Yogya yang terkenal di sana. Jadi tugasku itu bukan hal yang luar biasa. Gus Noor memilihku kukira hanya karena suaraku kabarnya bagus dan bisa mengalun lebih merdu dibanding teman-teman mengaji di langgar. Kuterima tugas itu dengan perasaan yang khusyu, seakan aku sedang ikut bepergian dengan seorang Malaikat. Read the rest of this entry

Di Zawiyyah Sebuah Masjid

Sebuah Cerpen Karya Emha Ainun Nadjib

Sesudah shalat malam bersama, beberapa santri yang besok pagi diperkenankan pulang kembali ke tengah masyarakatnya, dikumpulkan oleh Pak Kiai di zawiyyah sebuah masjid. Seperti biasanya, Pak Kiai bukannya hendak memberi bekal terakhir, melainkan menyodorkan pertanyaan-pertanyaan khusus, yang sebisa mungkin belum usah terdengar dulu oleh para santri lain yang masih belajar di pesantren.
“Agar manusia di muka bumi ini memiliki alat dan cara untuk selamat kembali ke Tuhannya,” berkata Pak Kiai kepada santri pertama, “apa yang Allah berikan kepada manusia selain alam dan diri manusia sendiri?”
“Agama,” jawab santri pertama.
“Berapa jumlahnya?”
“Satu.”
“Tidak dua atau tiga?”
“Allah tak pernah menyebut agama atau nama agama selain yang satu itu, sebab memang mustahil dan mubazir bagi Allah yang tunggal untuk memberikan lebih dari satu macam tuntunan.”
Kepada santri kedua Pak Kiai bertanya, “Apa nama agama yang dimaksudkan oleh temanmu itu?”
“Islam.”
“Sejak kapan Allah mengajarkan Islam kepada manusia?”
“Sejak Ia mengajari Adam nama benda-benda.”
“Kenapa kau katakan demikian?”
“Sebab Islam berlaku sejak awal mula sejarah manusia dituntun. Allah sangat adil. Setiap manusia yang lahir di dunia, sejak Adam hingga akhir zaman, disediakan baginya sinar Islam.”
“Kalau demikian, seorang Muslimkah Adam?”
“Benar, Kiai. Adam adalah Muslim pertama dalam sejarah umat manusia.”
Pak Kiai beralih kepada santri ketiga. “Allah mengajari Adam nama benda-benda,” katanya, “bahasa apa yang digunakan?”
Dijawab oleh santri ketiga, “Bahasa sumber yang kemudian dikenal sebagai bahasa Al-Qur’an.”
“Bagaimana membuktikan hal itu?”
“Para sejarahwan bahasa dan para ilmuwan lain harus bekerja sama untuk membuktikannya. Tapi besar kemungkinan mereka takkan punya metode ilmiah, juga tak akan memperoleh bahan-bahan yang diperlukan. Manusia telah diseret oleh perjalanan waktu yang sampai amat jauh sehingga dalam kebanyakan hal mereka buta sama sekali terhadap masa silam.”
“Lantas bagaimana mengatasi kebuntuan itu?”
“Pertama dengan keyakinan iman. Kedua dengan kepercayaan terhadap tanda-tanda yang terdapat dalam kehendak Allah.”
“Maksudmu, Nak?”
“Allah memerintahkan manusia bersembahyang dalam bahasa Al-Qur’an Oleh karena sifat Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, berlaku universal secara ruang maupun waktu, maka tentulah itu petunjuk bahwa bahasa yang kita gunakan untuk shalat adalah bahasa yang memang relevan terhadap seluruh bangsa manusia. Misalnya, karena memang bahasa Al-Qur’anlah yang merupakan akar, sekaligus puncak dari semua bahasa yang ada di muka bumi.” Read the rest of this entry

Menelanjangi Kemanusiaan Manusia Lewat ‘BH’-nya Emha

Apa judulnya cukup menggoda? Maaf. Sengaja. Pasti Anda bertanya-tanya apa gerangan hubungan antara Emha dengan BH. Atau Anda langsung dibikin panas dengan judul itu. Entah tersinggung, tidak terima atau tergoda. Baiklah saya tidak akan berlama-lama menggoda Anda dengan rasa penasaran atau seribu pertanyaan. Akan segera saya jelaskan perihal ‘BH’nya Emha. Saya hanya sedang akan membahas perihal buku yang baru saja saya baca. Sebuah buku kumpulan cerpen-cerpen karya Emha Ainun Nadjib yang kebetulan memang diberi judul ‘BH’. Judul yang provokatif memang dan sekaligus menjual.

Tidak heran jika mungkin tidak sedikit yang tidak akan setuju sama sekali ketika saya menyebut buku kumpulan cerpen BH ini sebagai sebuah buku pemikiran yang saya rekomendasikan.Tapi maaf saya tidak peduli. Bagi saya buku ini termasuk buku pemikiran yang dikemas secara lebih jujur lewat peristiwa-peristiwa kemanusiaan keseharian dalam bungkus estetis. Setidaknya bagi saya buku ini sudah membikin saya berpikir.

Barangkali diantara kita agak heran “O, Emha punya cerpen juga tho??” Selama ini kita lebih akrab dengan esai-esai sosial budayanya Emha, puisi-puisinya, naskah drama, novel. Di dunia seni panggung Emha dikenal dengan Kiai Kanjengnya serta suaranya diakrabi lewat forum pengajian-pengajian dan sarasehan yang membahas berbagai dimensi kehidupan. Perihal cerpen?? Nah ini yang sering luput dari perhatian kita. Harus diakui bahwa untuk soal ini Emha kurang bagitu produktif. Dan buku ini adalah sebentuk usaha gigih Penerbit Kompas untuk menghimpun ceceran-ceceran cerpen karya Emha yang ditulisnya 1979-1982 yang tersebar di berbagai media massa. Usaha Penerbit Kompas tersebut patut dipuji sehingga memungkinkan kita untuk turut dapat menikmati karya cerpen-cerpen Emha dalam satu buku kumpulan cerpen yang diberi judul ‘BH’ ini. Read the rest of this entry

Lelaki Ke-1000 di Ranjangku

Lelaki pertama yang meniduriku adalah suamiku sendiiri dan lelaki yang mencampakkan ke lelaki kedua adalah suamiku sendiri dan untuk perempuan yang begini busuk dan hampir tak mampu lagi melihat hal-hal yang baik dalam hidup ini maka lelaki kedua hanyalah saluran menuju lelaki ketiga, keempat, kesepuluh, keempat puluh, keseratus, ketujuh ratus….

Kututup pintu kamarku keras-keras, kukunci dan, “Pergi kau lelaki! Cuci mulut dan tubuhmu baik-baik sebab istrimu di rumah cukup dungu untuk kau kelabui.”

Bayangkan lelaki itu masih bisa berkata, “Kau jangan murung dan menderita, Yesus dulu disalib untuk sesuatu yang lebih bernilai bagi ummat manusia….”

“Aku tak punya Yesus! Aku pintar ngaji!” aku memotong.

Ia tersenyum , dan memandangku mirip dengan mripat burung hantu. “Kau putus asa Nia….”

“Aku memang putus asa. Bukan kau. Jadi pergilah!”

“Kau bukan perempuan yang tepat untuk berputus asa. Percayalah bahwa kehidupan ini sangat kaya. Dan aku ini laki-laki. Laki-laki sejati hanya mengucapkan kata-kata yang memang pantas dan ia yakini untuk diucapkan. Keinginanku untuk mengambilmu dari neraka ini dan mengawinimu….”

“Cukup Ron! Jangan ucapkan apa-apa dan pergi!”

“Nia!…..”

Kudorong ia keluar. Pintu kututup. angan ganggu. Kini aku mau tidur. Sama sekali tidur. Jangan ada mimpi dan jangan ada apapun juga. Semua buruk dan durhaka.

Kuhempaskan tubuhku yang gembur, tenagaku yang terbengkelai dan jiwaku yang arang keranjang.

Tengah malam sudah lewat. Kulemparkan handuk kecil basah ke kamar mandi mini di pojok. Di luar, musik sudah surut. Tinggal geremang suara lelaki, sesekali teriakan mabuk. Tapi Simon lulusan Nusakambangan itu pasti bisa membereskan segala kemungkinan.

Kupasrahkan segala kesendirianku di kasur. Tubuhku tergolek dan semuanya lemas. Kuhembuskan nafas panjang. Tak cukup panjang. Dadaku selalu sesak. Sahabatku dinding, atap, almari, kalender porno, handuk-handuk—sebenarnya ini semua kehidupan macam apa? Seorang perempuan, dari hari ke hari, harus mengangkang…..

Kumatikan lampu, “Sudahlah! Aku mau tidur. Sebenar-benarnya tidur. “Tuhan, kenapa jarang ada tidur yang tanpa bangun kembali? Alangkah gampangnya ini bagiku. Namun baiklah. Asal sekarang ini jangan ada yang menggangguku. Kalau ada yang mengetuk pintu, akan kuteriaki. Kalau ia mengetuk lagi, teriakanku akan lebih keras. Kalau ia ulang lagi, akan kubuka pintu sedikit dan kuludahi mukanya. Dan kalau ia masih mencoba merayu juga, akan kubunuh.

Datanglah besok, pada jam kerja, semaumu. Nikmati tubuh dan senyumanku, kapan saja kau bernafsu. Tapi jangan ganggu saat sendiriku. Sebab tak bisa lagi aku tersenyum. Aku tak boleh tersenyum untuk diriku sendiri. Aku bisa kehabisan, sebab ratusan bahkan ribuan lelaki sudah menunggu untuk membeli dan karena itu mereka merasa berhak sepenuhnya untuk memiliki keramahanku. Read the rest of this entry

KANG DASRIP

Kang Dasrip kecewa dan agak bingung. Anaknya, Daroji, yang belum sembuh karena dikhitan kemarin, kini sudah mulai menagih. Sebelum hajat khitanan ini memang ia sudah berjanji kepada anaknya akan membelikan radio merek Philip seperti kepunyaan Wak Haji Kholik. Tapi mana bisa. Perhitungannya ternyata meleset. Ia bukannya mendapat laba dengan hajat ini, malah rugi. Undangan-undangan itu ternyata banyak yang kurang ajar.
Cobalah pikir. Perhitungan Kang Dasrip sebenarnya sudah bisa dibilang matang. Ia keluarkan biaya sesedikit mungkin untuk hajat khitanan anaknya ini. Ia tidak bikin tarub di depan rumahnya karena akan menghabiskan banyak batang bambu dan sesek, melainkan cukup dengan membuka gedeg bagian depan rumahnya. Dengan demikian, beranda dan ruang depan rumahnya menjadi tersambung dan bisa dijadikan tempat upacara khitanan. Ia tidak pakai acara macem-macem. Cukup panggil calak, tukang khitan, dengan bayaran dua ribu rupiah. Kemudian tak usah nanggap wayang atau ketoprak, ludruk, lagu-lagu dangdut atau kasidahan, atau apa saja asal ada kasetnya. Semua biayanya cukup tiga ribu rupiah, untuk waktu sehari semalam penuh.
Biaya yang tidak bisa dielakkan banyaknya ialah untuk suguhan, makan minum dan jajan-jajan serta rokok. Yang diundang tak usah banyak-banyak. Cukup kerabat-kerabat terdekat, tetapi terutama orang-orang yang dulu pernah mengundangnya berhajat. Kang Dasrip punya catatan berapa banyak ia memberi beras atau uang ketika ia pergi buwuh ke undangan-undangan dulu itu. Jadi berdasarkan jumlah buwuhnya itu, pada acara khitanan anaknya ini, ia yakin pasti memperoleh jumlah yang sama. Bahkan bisa lebih banyak.
Tetapi ternyata mereka banyak yang kurang ajar. Read the rest of this entry