Televisi itu Agama Saya

Malam minggu ini tidak ada hal lain yang lebih asik untuk melepas lelah kecuali dengan menonton televisi. Kotak LCD segi panjang ajaib itu menawarkan beragam acara yang sayang untuk di lewatkan. Dari acara joget ndangdut, talkshow-talkshow aktual soal masa depan bangsa, gosip selebritis, sampai pengajian oleh ustadz yang tampan-tampan. Bolehlah Departemen Penerangan di bubarkan, asal jangan acara televisi kena cekal. Karena apabila sampai di cekal, maka bersiaplah akan kita siapkan demonstrasi atas nama kebebasan pers dan HAM.

Bangsa indonesia adalah bangsa penikmat televisi. Siang malam selalu dan dimana saja orang tidak ingin ketinggalan tayangan favoritnya. Mereka duduk di depan televisi itu sambil ndlosor, duduk,  bercengkerama, tertawa terbahak-bahak sambil berdecak saking takjubnya.

Kita bersorak ketika gawang Malaysia kebobolan. Kita memekik-mekik ketika melihat artis idola kita masuk penjara karena pornografi. Kita khusyuk melihat debat tentang masalah kebangsaan dan mendidih darahnya ketika melihat para pejabatnya pada masuk penjara. Namun diam-diam sebentar saja kita sudah gembira ria melihat goyang dangdut artis semok nasional kita.

Dan karena saya juga bagian Indonesia pula, maka tentu saya tidak ingin ketinggalan dalam atmosfer kehangatan di depan televisi.

Maka malam itu saya nongkrong di depan TV untuk menyimaknya. Dan kebetulan ada tayangan acara di sebuah setasiun TV Swasta yang menampilkan ajang pencairan jodoh. Lebih tepatnya adalah perlombaan mencari pasangan kencan. Dua orang pria di minta untuk memilih wanita berderet-deret dengan pertanyaan-pertanyaan yang di ajukan sang lelaki. Dan tak ketinggalan pula ada label harga untuk para wanita itu. Dari yang nominalnya “murah” sampai berharga puluhan juta.

Namun jangan sampai ada yang bilang ini layaknya wanita murahan penjaja di cafe-cafe remang. Ini adalah seni dan kreativitas bung!!

Dan aku manggut-manggut serta takjub. Kubayangkan dimana mereka dulu belajar untuk punya keberanian sedahsyat itu. Artikulasi serta mode pakaiannya jelas berkiblat kepada budaya modernitas yang di jadikan barometer dunia. Ungkapan ungkapan yang keluar dari bibir seksinya itu menunjukan tingginya kultur serta hakikat kehidupannya.

Para pendiri negara ini jelas saat ini tentu sangat bangga dengan generasi mutakhir ini. Karena mereka telah menjawab penuh tantangan zaman. Bukan untuk bersaing namun malah mereka sudah menjadi bagian dari gemerlapnya era mutakhir ini.

Meski ada yang mengecam dari para sok moralis, mereka tetap melaju kencang. Ini adalah kemajuan wahai orang tua. Jangan didik kami dengan agama, atau ideologi pancasila. Pancasila itu masa silam. Agama itu kuno. Dan kami tidak mau ketinggalan zaman. Karena akan membuat sangat malu wajah kami di depan teman teman kami dari negara lain yang lebih maju.

Sedang asyiknya melamunkan bidadari-bidadari cantik yang melenggak lenggok itu, akhirnya terpotong tayangan iklan calon presiden yang kutahu dia adalah sang pemilik tv tersebut. Sambil menyampaikan bahwa ia akan membawa perbaikan, kesejahteraan dan kemajuan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Owh aku jadi paham, bahwa kemajuan negara itu adalah seperti yang di tayangkan dalam acara-acara televisinya.

Gilang Prayoga
Bobotsari, 14 Des 2013

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 15 December 2013, in Kolom Esai and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: