Amplop Kering Kang Ahmad

DSC_0019Kang Ahmad sedang pusing kepala. Seharian dia duduk bengong saja sambil menghabiskan berbatang-batang rokok yang di dapatnya dari tetangga yang kemarin siang meminta bantuannya memanjatkan kelapa.

Sebenarnya dia termasuk orang yang ga gampang pusing. Gak gampang khawatir, apalagi gampang masuk angin. Ndablek kata orang Jawa. Apalagi dengan soal-soal yang terkait dengan dirinya sendiri. Dia merasa tidak ada yang di perjuangkan untuk dirinya sendiri. Dia buta terhadap pemenuhan ego-ego pribadi. Hidupnya sudah di sedekahkan kepada masyarakat.

Karena dari itu kalau untuk masalah sosial, kepentingan-kepentingan umum, kebutuhan tetangga, sahabat atau kerabat, ia sangat bisa pusing kepala memikirkannya. Lebih pusing daripada umpamanya dia tidak punya uang untuk beli soto.

Ceritanya ia, jelek-jeleknya di angkat sebagai kader pemberdayaan oleh Pak Kades dengan dari rapat musyawarah dengan masyarakat. Soalnya bukan apa-apa, bukan sebab Kang Ahmad ini orang yang paling qualified, paling tinggi ijasahnya atau paling berpengalaman dalam bidang peningkatan pemberdayaan masyarakat, namun pilihannya adalah pragmatis: “karena tidak ada orang lain yang mau menjadi kader”.

Beribu-ribu alasannya atau penangkalnya. Dari sibuk dengan pekerjaan, tidak punya kemampuan, tidak PD, tidak mau ribet, dan berbagai alasan. Dan dalih yang paling banyak di gunakan dan diam-diam di sepakati sepakai pembenaran adalah karena memang menjadi kader pemberdayaan itu tidak marketable, tidak menghasilkan apapun kecuali capek. Boro-boro menghasilkan uang, salah-salah malah dapat complain dari masyarakat, dan tambah pusing kepala karena tidak bisa mendapatkan lahan proyek basah.

Namun karena Kang Ahmad berpikir bahwa ini adalah untuk kepentingan masyarakat kampungnya, untuk kebaikan social dan untuk ia juga ingin belajar banyak pengetahuan dari bapak-bapak pinter yang pake seragam di pemerintahan kecamamatan, Maka Kang Ahmad pun menyanggupi. Selain itu juga karena dia hanya satu-satunya calon tunggal. Jadi tidak ada pilihan lain. Ia pun kasihan melihat Pak Kades yang pontang-panting cari “orang” yang mau. Mencari orang yang mau saja susah apalagi mencari yang mau dan mampu.

Itulah yang menyebabkan dia jadi miris. Ternyata posisi pengabdian social, merupakan jabatan-jabatan yang kering, yang tidak ada amplop basahnya, tidak ada gajinya, tidak ada keuntungan finansialnya selalu saja tidak laku. Menjadi Ketua RT, menjadi Ketua Paguyuban Remaja Masjid, Ketua Pengajian Rutin selalu tidak pernah ada peminat. Jabatan-jabatan seperti itu tidak memiliki prestise apapun selain jadi bahan olok-olokan dan lempar-lemparan tanggung jawab.

Padahal menurut dia, kepemimpinan yang sejati itu  adalah ketika memang dibuktikan tidak memiliki pamrih pribadi, khususnya motif untuk memperkaya diri dan keluarga. Tapi siapa orang yang percaya bahwa di zaman sekarang masih ada orang yang tidak nafsu dengan uang.

Teman-temannya yang melihat kelakuan Kang Ahmad yang tidak biasa, menjadi bertanya-tanya. Sehingga berduyun-duyunlah mereka mendatangi untuk meminta klarifikasinya.

“Yah itulah masyarakat kita Kang, sudah menghambakan uang. Segala orientasi hidupnya adalah untuk mencari uang, bukan untuk memperbanyak kebaikan. Ente saja yang jadul pemikirannya!” Kata Sartono Sarjana Ekonomi.

 “Betul, Mad, kowe iku yang ketinggalan kereta zaman. Semua berlomba-lomba maju ke depan. Kamu malah nyungsep di belakang. Mikir sing ora-ora wae!!” Timpal  Dartono

“Saya itu sedih, kok perubahan budaya masyarakat itu sedemikian merosot drastis. Dahulu orang kampung paling rajin bila di ajak untuk melakukan gotong royong, gugur desa, atau “sambatan” membuat rumah tetangga. Namun sekarang, untuk mau di jadikan seorang kader saja tidak ada yang mau karena ogah capeknya dan ndak dapat duitnya.” Kata Kang Ahmad.

“Kalau begitu, zaman ini yang katanya penuh kemajuan peradaban teknologi, tetapi di lain sisi malah menghancurkan nilai-nilai budaya luhur masyarakat, apa bisa di sebut dengan kemajuan zaman? Kemajuan teknologi itu apakah lebih penting daripada kemajuan moral dan etika?” Tambahnya lagi

“Loh, memangnya kamu itu sopo? Presiden? Wakil Rakyat? Pejabat? LSM? Kok pedulinya pake mikir soal masalah masyarakat. Mikir moral Negara, pusing ngeliat perubahan budaya!! Mikir kamu sendiri aja ndak pernah beres, kok mau ngurus orang lain,  apalagi ngurus masyarakat. Dasar gendeng!!”

Gilang Prayoga

Bobotsari, 06 Desember 2013

[Seri Rumah Pemberdayaan #1]

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 6 December 2013, in Kolom Esai, Rumah Pemberdayan and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. TIADA KATA YG TERUCAP DARI MULUT SAYA UNTUK MBAH WIJAN,TERKECUALI UCAPAN TERIMA KASIH YG SEBESAR BESARNYA,KARNA BERKAT ANGKA TOGEL YG DIA BERIKAN SAYA DAPAT MENAG ANGKA TOGEL Rp,850 juta,KINI SAYA DAN KELUARGA SAYA BISA HIDUP DG LAYAKNYA SEPERTI ORANG ORANG YG ADA DI SEKELILING SAYA,UNTUK ITU SAYA SARANKAN BAGI ANDA YG INGIN SEPERTI SAYA HUB ; MBAH WIJAN DI ; 082311843445 ATAU KLIK http://singapore4dpastijebol.blogspot.com .
    SIAPA TAHU ANDA AKAN SEPERTI SAYA

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: