Peradilan Semu

timbanganKetika vonis hukuman kepada Ahmad Fathanah di jatuhkan dengan hukuman 14 tahun penjara dan denda 1 Milyar, banyak kalangan yang menganggap bahwa hukuman terlalu “ringan” dan tidak akan menimbulkan efek jera kepada terdakwa, meskipun di pihak lain kuasa hukum Ahmad Fathanah mati-matian membela kliennya bahwa Ahmad Fathanah tidak selayaknya di hukum se”berat” itu sehingga mereka merencanakan akan maju banding. Pengacara terdakwa menganggap putusan itu tidak adil, jaksa penuntut KPK juga menganggap tidak adil, pengamat juga mengatakan tidak adil, mungkin masyarakat juga berpendapat tidak adil dengan berbagai macam variabelnya masing-masing.

Ketika seorang terdakwa di vonis hukuman di pengadilan belum barang tentu hasil putusan itu memenuhi unsur “keadilan”. Keadilan itu bisa saja sangat subjektif, tidak berimbang, penuh manipulatif dan rekayasa. Vonis itu bisa sangat adil di pihak yang satu namun bisa sangat tidak adil di pihak sebelahnya. Karena ketika berperkara setiap orang ngotot dengan argumennya masing-masing yang sama-sama mendasarkan kepada Undang-Undang. Bila tidak ada pasal yang  mengatur secara eksplisit, bisa di cari di pasal-pasal abstrak yang membuat bingung para pendengarnya. Dan memang itu tujuannya, semakin bingung semakin kabur maka semakin sukses untuk mengobok-obok substansi keadilan itu sendiri. Hakim yang memutuskan suatu perkara bisa saja di hujat seluruh rakyat Indonesia karena bisa tidak memenuhi unsur harapan keadilan dari masyarakat.

***

Dalam suatu riwayat Muhammad Rasullah mengatakan bila sampai anaknya Fatimah Bin Muhammad mencuri, maka Muhammad yang akan memotong sendiri tangannya. Mungkin kalau Beliau hidup jaman sekarang pasti sudah di tuduh melanggar HAM, di tuntut Komnas Perlindungan Anak, di tuduh kejam dan tidak manusiawi dan bisa-bisa masuk penjara karena omongan seperti itu.

Namun apakah Muhammad tidak adil? Apakah karena Fatimah putri Rasullah, lantas Muhammad tidak menjatuhkan hukuman setimpal di tambah sekian bonus hukuman? Namun Muhammad adalah seorang yang terjaga terpercaya, di jamin moralitas dan menjadi pusat kebenaran dan keadilan ummatnya, maka bila sampai Fatimah mencuri tentu  Nabi Muhammad akan menegakkan keadilan dengan hukuman seberat-beratnya sebagai contoh bagi ummatnya.

Kalau di Indonesia sekarang bisa menjadi terbalik. Anak pajabat, anak Ketua Umum partai tersohor, anak konglomerat si Anu si Itu, jangankan di hukum seberat-beratnya, di periksa saja tim penyidiknya saja sudah “keder”. Salah-salah bisa di tuntut balik, di preteli kewenangannya, di intimadisi, sampai di hancurkan nama baiknya. Meskipun sudah jelas-jelas salah, bisa di cari pembenarannya dengan argumen apa saja. Tidak perduli merusak rasa keadilan atau tidak pokoknya bagi mereka ini adalah keadilan dan tidak melanggar pasal-pasal hukum.

Senjata atas nama Undang-undang bisa di mainkan, pasal-pasal hukum kita kebirikan. Selama ini kita terjebak, terjerat tidak mampu lepas dari pasal-pasal KUHP, UU sebagai landasan hukum namun sesungguhnya dalam praktiknya bisa sangat bertolak belakang dengan asa keadilan itu sendiri. Kita tidak pernah menggunakan akal sehat, dan nurani manusia. Kita buta dengan kondisi sosial rakyat dan nurani masyarakat.

Maka kita sesungguhnya tidak boleh heran bila Nenek Minah yang mencuri sebiji buah Kakao bisa di jerat hukuman, tapi para koruptor yang memiskinkan negera ini bisa lepas dari jerat pengadilan karena lihai membolak-balikkan pasal. Maling ayam di gebukin sampai mati tapi terpidana mati malah bisa dapat gratifikasi. Pedagang kaki lima kena gusur tapi Gayus bisa jalan-jalan ke Bali. Para pencoleng negara bisa di puja-puja tapi para pejuang nasib bangsa bisa menjadi narapidana.

Penegakan keadilan yang seharusny setara dan sejajar dengan takaran perbuatan yang di lakukan terdakwa, praktiknya bisa berbanding terbalik dengan nurani keadilan. Sehingga pada akhirnya keadilan menjadi semu, menjadi abstrak, menjadi bias, menjadi tidak jelas.

Ketika rumah keadilan hanya menghasilkan papan nama Pengadilan tapi tidak memiliki aura ketrentraman untuk menciptakan atmosfir adil, maka jangan ada yang menyalahkan akan terjadi peradilan rakyat yang sejati untuk menghakimi. []

Gilang Prayoga

Bobotsari

05 November 2013

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 5 November 2013, in Kolom Esai and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: