Anak Muda, Engkau dimana?

image

Dalam dunia anak muda rata-rata telah berkembang secara amat meyakinkan bahwa tren pergaulan di diantara mereka di indikatori oleh cara pandang yang menempatkan pengakuan kebanggaan menjadi tolak ukurnya. Kebanggaan itu bisa lahir dari suasana rasa pencarian ekspresi kreatif belaka, namun juga bisa melebar untuk memperlihatkan eksistensial pribadi di tengah lingkungan sosialnya.
Anak-anak muda ini sangat takut kehilangan dirinya di antara teman-temannya, sehingga ia ikuti apa saja yang menjadi mode terkini tanpa reserve, tanpa pertimbangan baik buruk, pas atau tidak pas, cocok atau tidak, sesuai dengan etika apa tidak, atau pertimbangan-pertimbangan lain. Sepanjang mode itu membawa mereka menuju apa yang mereka sangka “gaul”, pokoknya akan mereka ambil. Mode itu bisa berbentuk tren pakaian, gaya hidup, tempat nongkrong, artis idola maupun berjenis-jenis lain yang sesungguhnya secara substansial belum tentu primer dalam hidup mereka. Namun karena di persepsikan trendy, keren, cool, oleh sistem industrialisme modern dan menjadi top hit terkini, hal sekunder itu otomatis menjadi primer dalam skala berpikir kita. Barang-barang canggih dan modern itu adalah Pakaian kebanggaan yang mereka ingin kenakan di pergaulan di antara mereka sebagai simbol pendongkrak kepercayaan diri mereka. Seolah-olah bila tidak memakai baju model you can see, bisa di cap kuno. Tidak nongkrong di kafe lantas menjadi kampungan. Tidak ikutan Fans Club di anggap norak. Ga punya idola di anggap ketinggalan zaman. Tidak memakai mode terbaru di anggap dekaden. Sehingga tidak berlebihan bila kita asumsikan bahwa Kebanggaan-kebanggaan lah sesungguhnya makanan utama kita. Namun apakah hal tersebut hanya berlaku pada wilayah anak muda kita saja? Tentu tidak, bahkan banyak pula sebenernya yang sudah dewasa, mempunyai pengalaman segudang, punya gelar akademis menterengpun dapat di hinggapi hal serupa atau bahkan dapat pula berlaku bagi siapa saja. Dari yang kaya sampai yang melarat, dari yang alim sampai yang bejat. Namun memang dunia anak muda sebagai konteks bahasan kita, ternyata menyimpan semacam rasa kecemasan diam-diam bila di hadapkan tantangan abad 22 ini. Anak-anak muda yang di gadang-gadang sebagai penerus perjuangan bangsa, menjadi pemimpin-pemimpin masa depan tentunya sangat mengkhawatirkan apabila ternyata sampai salah orientasi dalam melangkah. Secara asumsi melihat tren budaya anak muda saat ini tidak berlebihan bila mereka dan kita semua sedang di giring dan di mobilisasi ke dalam arena budaya yang masturbatif alias mengutamakan kenikmatan diri sendiri dan cenderung abai dengan realitas tantangan dan permasalahan sosial yang ada di sekitar mereka.
Tapi tentunya tidak ada yang salah dari perilaku sahabat-sahabat muda kita itu. Dan kita tidak mengecam kebudayaan modern yang gegap gempita serta menjadi mercusuar dari langkah kaki kita. Karena semutakhirnya modernitas budaya dan perilaku kita adalah juga salah satu bentuk-bentuk kekhalifahan manusia yang juga di titahkan Tuhan. Pencapaian-pencapaian yang di raih manusia saat ini juga adalah hasil daya cipta kreativitas akal manusia. Yang kesemuanya itu belum tentu tidak baik atau belum tentu tidak bermanfaat juga. Layaknya sebuah pisau, ia sangat mengandung kegunaan yang besar bila di gunakan untuk memotong, mengiris, dan memilah bumbu-bumbu masakan untuk kita sajikan kepada keluarga dan saudara kita. Dalam posisi itu pisau wajib hukumnya untuk ada dan di produksi massal. Namun bila pisau di pergunakan sebagai alat untuk menusuk saudaramu, membunuh orang maka hukum pisau berbalik menjadi haram untuk ada.
Begitupun juga dengan kebudayaan. Kebudayaan tidak bisa di sebut sebagai berbudaya apabila dia hanya sebagai ajang untuk menghancurkan orang lain atau menciptakan destruksi social, maupun chaos. Maka ketika kompetisi di antara anak muda itu telah menjadi budaya yang harus ada dalam hidup mereka, tentunya harus kita antisipasi bersama-sama, agar kenikmatan dalam mengejar kebanggaan-kebanggaan itu tidak kebablasan. Dalam artian, silahkan punya motor moge terbaru, monggo bila punya kumpulan penggemar soto, ndak masalah mau pake sepatu model terkini, namun jangan sampai kita kebablasan dalam mengolah itu semua sehingga mengabaikan realitas-realitas sosial masa kini dan masa depan. Harus di bedakan mana nasi mana krupuk. Mode dan tren modernitas adalah hanya sekadar krupuk-krupuk yang pasti tidak akan mengenyangkan perut budaya kita. Dia hanya berposisi sunah. Boleh ada. Yang penting nasi budaya kita sudah kita temukan dan siap di atas meja budaya kita. Nasi itu adalah sebuah sistem sosial yang berkeadilan, distribusi kesejahteraan antar manusia, tatanan sosial yang seimbang atau apapun saja yang kita cerdasi untuk kita buat menjadi kemaslahatan bersama. Rahmatan lil Alamin. Bukan hanya rahmat untuk si Anu dan bukan untuk si itu.
Dan hari ini para anak muda berada di simpang jalan untuk kemana akan melangkah.

Gilang Prayoga
Bobotsari, 10 Agustus 2013

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 13 August 2013, in Kolom Esai. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: