Kesombongan Yang Menegasikan Tuhan

Mungkin salah satu alasan kenapa Tuhan sangat membenci para manusia sombong, adalah karena manusia yang memakai pakaian kesombongan itu relatif menegasikan atau menghilangkan Tuhan dari unsur hidup mereka. Jangankan Tuhan, kita saja kalau tidak di anggap atau tidak di libatkan dalam suatu hal dalam urusan yang menyangkut tentang diri kita, di singkirkan atau di tiadakan oleh manusia lain maka sudah mangkelnya bukan main. Padahal sejatinya kita tidak memiliki saham dan juga otoritas apapun kepada selain di luar diri kita untuk agar kita di libatkan dalam segala persentuhan antar manusia kecuali karena tanggung jawab kebersamaan dan cinta kasih sosial belaka. Apalagi sampai sejauh untuk mengatur-atur dan memerintah secara sangat feodalistik kepada sesama.

Namun bila Tuhan kan pemilik alam semesta, pencipta segala makhluk, penumbuh dan penggerak ekosistem dunia. Dan bahkan seluruh metabolisme hidup kita tidak lepas dari campur tangan Tuhan. Rambut kita bisa memanjang, mata kita di ciptakan sudah langsung bisa melihat, telinga kita, gigi kita yang bisa tidak terus tumbuh membesar sedangkan kuku kita tidak berhenti tumbuh. Begitu kok mau bersikap sombong, adigang-adigung, meremehkan orang ataupun memperhinakan orang. Tahu begitu kok mau sok bersikap mandiri, tidak butuh bantuan orang lain, tidak mau menyambung silaturahmi, tidak membangun kebaikan sesama. Bagaimana tidak murkanya sampai Beliau tidak kita libatkan dan kita singkirkan dari hidup kita, karena kita merasa dan menganggap bahwa kita cukup kuat dan cukup mandiri atas diri sendiri untuk mengatasi bermacam persoalan kita. Alih-alih malah kita sendiri yang jadi menambah persoalan.

Maka kita sering merasa sedih dan heran melihat banyak dari kita ketika berbicara selalu mengagung-agungkan eksistensi dirinya dengan niatan-niatan kesombongan diri. Yang menjadikan kita memandang sesama tidak dengan cinta dan persamarataan martabat, namun terjebak dalam ruang feodalisme yang absurd. Stratifikasi sosial yang di bangun dalam kebudayaan manusia secara langsung maupun tidak langsung telah memberikan kontribusi dalam menyediakan lahan yang subur untuk penumbuhan gejala-gejala eksistensial egoistik dan narsisme yang akut.

Orang berlomba-lomba melebihi orang lain, orang berpacu untuk mengalahkan orang lain baik dalam konteks ekonomi, sosial, budaya dan di bidang-bidang lain. Ukuran yang di ciptakan pun sudah tidak memakai ukuran agama, tapi sudah di ciptakan sendiri. Kalau Tuhan jelas menyatakan bahwa yang paling mulia di sisi-Nya adalah orang yang bertakwa. Tapi rumus baku ini telah di modifikasi secara radikal oleh budaya yang kita ciptakan sendiri. Bukan yang paling bertakwa yang paling mulia, namun di gantikan oleh (umpamanya) siapa yang paling kaya, siapa yang paling tinggi jabatan kariernya, siapa yang paling terkenal, siapa yang paling ngganteng dan paling cantik di antara kita dan parameter picisan yang lain. Dan bahkan berlanjut kepada kepada kesombongan tingkat berikutnya yang tidak bermutu yaitu siapa yang paling punya mobil BMW, siapa yang punya mode baju pakaian bermerek, punya smartphone generasi terkini, atau hal remeh lain yang di pertandingkan. Secara linier dan berkesinambungan dalam jangka panjang akan pasti muncul egoisme absurd yang berbentuk semacam manusia yang menjadi gila hormat, gila pangkat, perasaan mengungguli satu sama lain ataupun jenis penyakit megalomania yang lain. Maka tidak heran bila Mahatma Gandhi pernah berujar bahwa,”Bumi ini cukup untuk tujuh generasi, namun tidak cukup untuk tujuh orang yang serakah.”

Maka Ketika jiwa kita sudah di isi dengan dirinya sendiri dalam artisan egosentrisme kesombongan sudah sempurna menjadi mahkota kehidupan kita, maka sudah tidak akan tersedia ruang cinta kepada sesama manusia kecuali sekadar buah manifestasi keinginan pribadi. Sampai Tuhanpun akan sudah di anggap mati dalam alam pikiran kita.

Jika kita telah sampai pada titik simpul itu, selanjutnya akan kita tunggu waktu untuk menyongsong kehancuran-kehancuran. Baik kehancuran moral, kehancuran budaya, kehancuran sosial, kehancuran tatanan kehidupan maupun kehancuran-kehancuran lain. Karena Tuhan telah berjanji siapa saja yang di dalam hatinya masih terdapat kesombongan sebesar biji zarah saja, maka pintu surga tertutup bagi dirinya. Namun Jangan di anggap surga itu hanya di akhirat saja. Tapi surga bisa kita analogikan secara kualitatif sebagai sebuah nuansa yang mendamaikan, menentramkan dan di penuhi segala keindahan.

Sehingga, mudah-mudahan kita tidak terjebak dalam kesombongan-kesombongan yang semu dan pasti akan menghancurkan kita. Karena semakin kita tidak sombong, Insyaallah Tuhan akan semakin sayang dan semakin melimpahkan keberkahan kepada kita.[]

Gilang Prayoga

Bobotsari, 3 Agustus 2013

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 4 August 2013, in News and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: