Teknologi Sabar

indessxSudah dua Minggu ini bertambah sibuklah kehidupan saya. Tak lain karena sujud syukur Alhamdulillah di beri amanah oleh Allah dan di ijinkan untuk kedatangan satu makhluk manusia dari rahim istri saya. Bayi perempuan yang mungil itu hari-hari terakhir ini banyak menyita pikiran dan curahan perhatian serta “kerepotan-kerepotan”.

Saya mulai belajar dengan mengganti popok, membuatkan susu ketika ia bangun di tengah malam, harus berjaga semalam suntuk untuk menjaganya agar tertidur lelap ataupun menimang-nimang, meninabobokan ketika dia menangis. Suatu hal yang menurut cara pandang umumnya itu sangat melelahkan, bikin capek dan tidak produktif secara ekonomi.

Namun ternyata di balik kerepotan Itu terselip suatu hikmah yang luar biasa. Sekurangnya-kurangnya bagi saya hal ini merupakan suatu langkah yang revolusioner untuk memahami apa yang namanya sabar. Sabar karena dengan tertatih-tatih membesarkan, mendidiknya yang butuh waktu yang tidak mungkin akan sebentar atau bahkan mungkin bisa selamanya.

Namun entah bagaimana situasi pendorongnya, kita sebagai orang tua ternyata ikhlas dan bergembira melakukannya. Padahal secara pengetahuan logika linier kita, buat apa kita melakukan hal itu semua yang tidak membuat kita menjadi kaya raya?

Kita sering kali dengan mudah menyampaikan kepada teman, saudara, kerabat, handai tolan, adik kelas dan siapa saja yang minta nasihat karena sedang di timpa musibah untuk banyak-banyak sabar. Dan  sering kali kita tidak bisa menjabarkan apa sabar itu, dan bagaimana cara melakukannya. Kita bisa bilang sabar, tapi ternyata kita sendiri yang malah tidak sabar.

Sabar itu makna implisit filosofisnya adalah menahan, mengendalikan dari apa yang harusnya patut kita lampiaskan. Naluri dasar manusia memang di ciptakan untuk melampiaskan, karena dia memang di beri nafsu untuk itu. perjuangan untuk mengendalikan itu yang akan mengangkat derajatnya sebagai manusia.

Maka mengganti popok bayi dan menyiapkan susu untuknya saya anggap sebagai latihan kesabaran. Dan itu merupakan fakultas kesabaran yang sejati, yang pengalamannya belum tentu anda dapatkan meski berpuluh tahun saya mempelajarinya di kampus.

Bisa kita bayangkan apabila kita tidak bisa sabar menghadapi itu. Kita mungkin akan mengupayakan seperti para inventor dengan menciptakan teknologi yang meringkas kehidupan dengan atas nama kemudahan-kemudahan. Yang menjadi tren globalisasi abad 21 ini adalah cepat, tepat, akurat. Karena sedetik anda lengah, peluang bisnis anda akan di rebut kompetitor anda.

Maka tidak heran kita hari ini telah di kepung beribu macam teknologi yang “di klaim” memudahkan hidup kita. Dulu kita membuat skripsi harus susah payah menggunakan meski ketik yang luar biasa ribet. Maka dengan itu komputer sekarang di ciptakan sedemikian canggihnya, yang di desain tidak boleh lelet sedetikpun kalau tidak ingin di gusur oleh yang lain. Orang-orang tua kita dahulu ketika naik Haji, butuh waktu berbulan-bulan untuk sampai dan pulang kembali. Dan hari ini, bahkan sehari anda dapat bolak-balik Mekkah Jakarta PP.

Para anak muda yang memakai internet sudah sangat jengkel ketika koneksinya down karena gangguan. Dan bisa di pastikan serta merta provider tersebut di banjiri oleh ribuan komponen dan hujatan. Semua melampiaskan kejengkelan dengan membully operator yang bersangkutan.

Atau ketika masa nomor handphne begitu sangat mahal mencapai ratusan bahkan jutaan rupiah, orang merasa sayang untuk mengganti nomornya. Namun ketika teknologi itu di ecerkan karena para provider itu tidak sabar ingin punya basis pelanggan yang besar, maka fenomena ganti nomor menjadi hal yang lumrah. Orang sudah tidak punya cinta lagi terhadap layanan operator, karena kita para pelanggan menjadi pragmatis. Atau beribu macam kejadian lain yang bisa anda temukan di sekitar anda, yang di setiap lini telah tergerus atas nama kemajuan yang terlalu tergesa-gesa.

Dan yang kita khawatirkan adalah ketika teknologi ini sudah menguasai kita, kita juga telah menyerahkan potensi kesabaran kita untuk mereka lalap habis tanpa menyisakan satupun untuk kita. Kita dididik dan di ajari untuk berpacu kencang, melangkah cepat, berlari gesit agar tidak di cap kampungan ataupun ketinggalan jaman. Kita terengah-engah mengejar masa depan dan cenderung menggadaikan masa silam yang menyimpan energi kesabaran.

Kalau umpama saya ataupun para orang tua itu tidak sabar dengan membesarkan anaknya yang butuh pengorbanan itu, mungkin kelak akan di gantikan oleh teknologi yang bisa membuat anak tiba-tiba langsung menjadi besar, langsung bisa berlari atau langsung bisa memakai seragam sehingga kita tidak perlu repot-repot mengganti popok pesingnya. Katakanlah mungkin dengan teknologi pacu bisa terjadi. Entah seperti apa bentuk teknologinya. Bagaimana cara pengoperasiannya. Yang penting ketika kita “klik” tombolnya bayi kita langsung membesar seketika. Maka alangkah ajaibnya.

Namun tentunya saya hanya berkhayal dan berandai belaka. Dan saya yakin Tuhan tidak akan pernah memberikan kemampuan itu kepada para manusia yang sok pintar itu. Karena teknologi semacam itu, berkonsekuensi akan menghilangkan kesabaran dan jangka panjangnya akan juga mengharuskan rasa cinta dan kasih sayang sesama manusia.

Gilang Prayoga

Bobotsari, 23 Juli 2013

Teruntuk buah hatiku : “Narayya Ayunda Ramadhina Prayoga”

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 23 July 2013, in News. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. betapa besar kasih sayang orang tua, jd teringat dan masi belum bs membalas

    • Gilang Prayoga

      Seumur hidup kita mungkin tidak akan pernah bsa membalas kebaikan orang tua..mngkin utk itu kita cukuo d perintah berbuat baik dan mendoakan…karena doa dan prbuatan baik kita..pasti akan menjadi pahala yg melimpah untuk mereka…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: