Gaji ke-Tiga Belas Rakyat Indonesia

13Alhamdulilah. Gaji ke 13 untuk para abdi negara sudah resmi di teken oleh Presiden kita yang tercinta. Sebentar lagi para PNS sudah dapat menikmatinya untuk menyambut bulan suci Ramadhan yang akan kita sanggup bersama-sama. Tentunya kita sebagai warga negara biasa yang tidak memiliki deretan NIP di depan baju kita, cukup berprasangka baik saja bahwa  pemberian gaji ke 13 itu dapat memberikan peningkatan kualitas pelayanan kepada rakyat dan juga menjadi berkah sehingga tidak lagi mencari terobosan sana-sini atau dengan “nitili” uang APBN melalui proyek-proyek negara. Dan gaji ke-13 ini, harus kita pahami dan kita jadikan sebagai berita kegembiraan bagi seluruh rakyat Indonesia, di tengah tidak bermutunya berita-berita nasional kita.

Selain kegembiraan atas berita itu, rakyat Indonesia, sebagai juragan atas tanah Nusantara ini, pada beberapa waktu ke depan akan juga mendapatkan hadiah-hadiah yang ekstra dari bulan-bulan sebelumnya. Hadiah-hadiah itu telah di jadikan paket-paket kebijakan, Undang-undang, ataupun dalam bentuk peraturan-peraturan baik yang skalanya lokal maupun nasional. Hadiah itu nantinya di berikan karena mereka akan melewati suatu momentum ujian atas kehidupan mereka. Bila mereka lolos dan sudah pasti akan lolos, maka bangsa Indonesia akan mendapatkan rapot untuk naik kelas, ke suatu era zaman yang tidak akan pernah di capai oleh negeri-negeri manapun di dunia.

Caranya adalah memang pemerintah Republik Indonesia memberikan semacam ujian kepada rakyatnya agar rakyat Indonesia terdidik secara mental dan spiritual dengan metode yang di tempuh antara lain: kenaikan BBM yang diikuti membumbungnya segala kebutuhan pokok masyarakat, korupsi gila-gilaan, pertunjukkan parade selingkuh nasional, keabsurdan perilaku massal para pejabat.

Rakyat Indonesia, dalam desain kerangka acuan pembangunan manusia Indonesia, sudah terbukti sedang menjalani suatu ujian akan keluhuran budi, pendewasaan mental, kematangan rohani, untuk meningkatkan kualitas keimanan mereka. Di awali dengan meroketnya harga beberapa komoditas pokok semacam bawang, Lombok dan terus merembet ke daging sapi sampai yang terkini melonjaknya harga daging ayam. Bila para PNS itu menyambut Ramadhan dengan keamanan ekonomi yang cukup karena ada gaji ke 13 dan tabungan-tabungan lain tentunya kualitas ibadah mereka dapat di golongkan standar-standar saja. Ya bagaimana, kalau rezeki berlimpah tentu tidak aneh apabila mereka beribadah dengan khusyuk. Tapi, bila rezeki kita mampet, hidup serasa tercekik karena keterbatasan ekonomi namun kita tetap mampu beribadah dengan rajin dan khusyuk tentunya kita akan mendapatkan derajat yang lebih mulia. Dan itulah yang akan di hadapi oleh rakyat Indonesia pada bulan-bulan mendatang. Dan tidak terbatas pada soal-soal ekonomi saja, namun juga di wilayah politik, sosial maupun budaya.

Jadi jangan heran, jangan kaget apalagi berteriak-teriak tentang bobroknya negara ini. Jangan menuduh atau gampang suud’zon kepada pemerintah kita. Karena sesungguhnya, pemerintah Republik Indonesia sedang melakukan manuver diam-diam untuk menguji hati dan mental rakyatnya. Sehingga sesungguhnya sangat besar andil dan jasanya Pemerintah Republik Indonesia kepada rakyatnya. Dan terbukti, manusia Indonesia dalam hal manajemen kalbu sangat luar biasa sehingga telah mampu mencapai suatu tingkatan kejiwaan yang orang bule atau orang Arab atau masyarakat dari budaya apapun belum tentu sanggup mencapainya.

Sudahlah pengangguran berjuta-juta, kemiskinan merajalela, kriminalitas telah menjadi berita yang biasa, tetapi pemimpin bangsa ini masih saja bergembira ria dan tidak pernah menampakkan kesedihannya menatap semuanya. Beliau sedih dan prihatin hanya ketika di depan kamera untuk basa-basi belaka.  Namun rakyatnya tetap tertawa-tawa. Tetap goyang joget dangdut. Rakyat Indonesia tidak menjadi cengeng dan ringkih. Mereka tidak peduli apa-apa dan pokoknya hidup jalan terus.

Bandingkan saja dengan Mesir, yang baru dua tahun belajar demokrasi itu saat ini sedang berkobar-kobar. Presiden terpilihnya di geruduk warganya dan sukses di jungkalkan dari kursinya. Sehingga saat ini dikabarkan rakyatnya malah sedang berpesta pora.

Kalau di Indonesia hal seperti itu tidak berlaku, karena di Indonesia setiap hari adalah berpesta. Ambil contoh, rakyat Indonesia paling senang kalau mengadakan acara kenduren, selamatan, resepsi pernikahan, sunatan, pengajian, yasinan dan bermacam-macam lain. Bahkan bila ada keluarga atau saudaranya yang meninggal saja, masih mengadakan acara-acara yang indah seperti itu. Sehingga pertemuan-pertemuan informal tersebut telah cukup mewadahi guyub rukun mereka.

Sehingga untuk menjadi apa yang telah seperta warga Mesir itu lakukan, barang tentu sudah tidak menarik lagi. Maklum rakyat Mesir untuk masalah menata hati masih level balita. Maklum mereka tidak mempunyai ustad Manajemen Qalbu, ESQ, atau motivator super sehingga masih sukanya ngamuk-ngamuk seperti anak kecil yang sedang ngebet mainan tapi tidak di belikan bapaknya. Yang namanya anak kecil, sudah sewajarnya ya tidak pernah memahami kesulitan bapaknya. Pokoknya menangis keras-keras dan merengek-rengek sampai terpenuhi hasrat inginnya.

Berbeda dengan rakyat Indonesia. Meskipun sama-sama keinginannya, tapi keinginan itu di olah  dengan kematangan mental sehingga dapat di taklukkan dan di kendalikan. Rakyat Indonesia adalah manusia orang tua. Dan Ilmu Orang tua seseorang adalah hanya mengambil yang sejati, karena yang sejati itulah yang dapat mengantarkan mereka menuju Tuhannya . Dan rakyat Indonesia tahu, keinginan-keinginan untuk ngamuk-ngamuk itu hanya semu belaka.

Boleh rakyatnya kepengen hidup sejahtera. Boleh kita memimpikan biaya kesehatan dan pendidikan murah. Boleh setiap orang mengkhayalkan harga sandang pangan terjangkau. Boleh membayangkan dapat di terima kerja menjadi PNS sehingga juga dapat gaji ke 13 juga.  Namun semua itu cukup sampai imajinasi mereka saja. Karena mereka mampu mengolahnya dengan teknologi batinnya. Sehingga, meskipun negara hancur lebur, korupsi sudah membudaya, kehancuran-kehancuran moral dan penghinaan atas akal sehat semakin menggurita, namun sungguh rakyatnya akan terus tetap bergembira karena telah cukup hanya di kasih BLSM saja.

Gilang Prayoga

Bobotsari, 04 Juli 2013

Footnote :

Nitili (bahasa Jawa)            : mengambil sesuatu dengan sedikit demi sedikit

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 5 July 2013, in Kolom Esai. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: