Melawan Arus Takhayul Modernisasi

Mungkin anda juga pernah mengalami hal yang serupa. Untuk yang kesenian ratus kalinya, saya selalu menunda untuk menyelesaikan tugas-tugas pokok yang harusnya dapat di selesaikan hanya karena tergoda untuk berselancar Internet. Ketika membuka laptop, niat awal adalah akan mengerjakan laporan bulanan. Namun niat awal itu bisa berubah seketika modem sudah menyala.

Hati menjadi sulit di bendung dan di kendalikan karena di suguhi oleh lini berita yang selalu up-date setiap detik, melihat pemandangan dan gambar-gambar indah, memelototi video populer di youtube dan terus penasaran membaca artikel yang unik, menggelitik dengan judul yang provokatif.

Niat hanya buka satu dua halaman, tapi begitu sulit di hentikan. Sampai yang sering terjadi adalah keasyikan surfing, browsing, download dlsb hingga pekerjaan utama kita terabaikan. Dan akhirnya setelah kepepet, terpaksalah mau tidak mau kita baru mengerjakan laporan kita. Dan tentu hasilnya menjadi ala kadarnya.

***

Atau mungkin suatu waktu anda pergi ke supermarket dengan hanya niat untuk beli Shampo. Namun sesampainya di sana, anda di suguhi bermacam-macam produk dari berbagai jenis merek yang menawarkan dengan atas nama kemudahan teknologi untuk mendukung kehidupan yang lebih baik, atas nama kesenangan, atas nama gengsi dan nama baik, atas nama trend masa kini atau mungkin sekadar tertarik dengan molek cantiknya SPG yang menjajakan dagangan sehingga kita mau tidak mau ingin membelinya. Yang ke semua itu belum tentu menjadi kebutuhan primer kita. Namun karena adanya dorongan serta desakan dari faktor eksternal kita yang begitu kuat mengiming-imingi kita sedemikian rupa, maka kita menjadi tertarik memborong apapun yang di ingini oleh nafsu kita dan bukan atas kesejatian kebutuhan kita.

Itu baru hanya beberapa contoh soal saja, dan bisa saja berlaku di wilayah-wilayah lain yang lebih luas yang bisa anda cari dan amati sendiri. Dan segala yang tidak sejati itulah yang di namakan takhayul. Takhayul bukan hanya klenik, akik, gembolan buntelan berisi tanah keramat, batu yang di mitoskan ada demitnya, atau apapun saja. Takhayul zaman kini telah bertransformasi dengan membungkus dirinya dengan modernitas yang menjadi rujukan utama cara berpikir manusia.  Seolah-olah yang sudah modern itulah yang paling bagus, paling bermanfaat, paling arif, paling segala-galanya, sehingga harus kita kejar dengan segala cara.

Salah satu watak modernisasi adalah penghancuran sekat-sekat budaya dengan teknologi sebagai alat produksi sejarahnya. Modernisasi di iklankan besar-besaran melalui media, kebijakan pemerintah, pers, internet dlsb yang membuat kita tidak memiliki jalan lain untuk ikut apa yang di arahkan oleh modernisasi. Dan semakin bergulirnya waktu, kita semakin kehilangan diri kita. Kita kehilangan akar budaya kita. Kehilangan jati diri kita. Kehilangan kesejatian diri kita. Kita kehilangan kedalaman nilai. Kita limbung dan oleng di tengah gelombang kehidupan.

Namun apakah modernitas, perlu kita tolak? Tentu tidak? Apakah kemajuan teknologi harus di hindarkan? Justru teknologi adalah alat sebagai untuk mengkihalifahi kehidupan.

So, teknologi dan modernitas tidak harus kita buang, namun sesungguhnya harus kita temukan ketepatan dalam mengendalikan modernisasi yang masuk ke dalam tatanan kehidupan kita. Bangsa kita telah membuktikan memiliki beragam juta kebudayaan yang adiluhung, yang mempesona dan telah membuktikan sanggup menjadi mercusuar dunia ketika zaman Sriwijaya dan Majapahit bahkan mungkin di zaman yang jauh dari itu. Penelitian-penelitian mutakhir sedikit demi sedikit telah membuka mata kita, bahwa asal usul peradaban ada di negeri kita.

Bagai pisau, modernisasi di satu sisi memberikan manfaat namun di sisi yang lain akan mengancam nyawa orang lain bila salah di pegang oleh orang yang tidak memiliki nilai-nilai kearifan.

Gilang Prayoga

Kutasari, 21 Juni 2013

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 22 June 2013, in Kolom Esai and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: