Pahlawan Pemberdayaan

994327_491361500937847_1942968299_nSiapakah di dunia ini yang pantas di sebut sebagai pahlawan? Indikator-indikator apa saja yang harus di penuhi untuk menjadi seorang pahlawan? Dan lembaga apakah yang punya legitimasi untuk menyebut seseorang itu pahlawan atau bukan?

Mohon maaf saya menggunakan istilah pahlawan pemberdayaan ini, karena memang tematik dari situasi dan kondisi para pelaku pemberdayaan yang telah sedemikian rupa dalam mencari kejelasan atas nasib mereka yang selama ini samar dan terkatung-katung.

Kata pemberdayaan sekarang ini sedang populer dan menjadi identik dengan PNPM. Sebuah program yang katanya pemberdayaan masyarakat. Siapapun yang menjadi pelaku PNPM secara langsung dan tidak langsung, selalu di sebut-sebut sebagai sosok seorang pahlawan. Sehingga muncul istilah pahlawan masyarakat miskin. Karena memang demikian tugas tanggung jawabnya untuk selalu memperjuangkan masyarakat. Dan tidak berlebihan bila kita sematkan tanda jasa pahlawan pemberdayaan ke atas dada mereka sebagai penghargaan pengabdiannya.

Namun beberapa bulan terakhir ini, pahlawan pemberdayaan itu tidak bisa fokus memperjuangkan peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin karena para “Sang pemberdaya” itu sedang menemui cobaan berat tak tertanggungkan. Meskipun Tuhan berjanji tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hambanya, namun cobaan tidak gajian lebih dari tiga bulan lamanya itu, tentu sangat merobohkan kuda-kuda mental dan kesabaran mereka. Apalagi setelah sekian lamanya belum ada tanda-tanda yang pasti akan nasib mereka ini, selain rumor tembung “Jarene”.

Tidak gajian itu memberikan implikasi yang luar biasa. Yang paling terasa adalah mereka semakin lemah energinya untuk memperjuangkan hak rakyat miskin. Karena mereka sendiri terancam menjadi miskin pula.

Maka dengan itu, mereka dengan terpaksa dan mau tidak mau, harus menanggalkan sementara lencana tanda jasa “pahlawan pemberdayaan” itu karena  mereka sendiri di kepung ketakutan dan kekhawatiran tidak bisa menjadi pahlawan bagi anak istri dan keluarganya. Bagaimana mau di sebut pahlawan kalau anak, istri, keluarga serta diri mereka sendiri menjadi terlantar karena tidak bisa memenuhi pemenuhan kebutuhan pokok sehari-hari. Tentu kalau bukan “dagelan” apa lagi.

Sehingga, tidak mengherankan ketika muncul beberapa dari para pelaku pemberdaya itu berinisiatif untuk menempuh upaya thariqat dalam memperjuangkan hak para fasilitator itu demi karena pertanggungjawaban atas anak istri mereka. Sehingga dengan keikhlasan, mereka tanggalkan sementara identitas “pahlawan pemberdayaan”. Dan mereka berganti haluan dengan identitas lain yaitu menjadi “pahlawan keluarga”. Karena mereka tahu dan paham bahwa kata pemberdayaan masyarakat itu sekian langkah di depan dari “pemberdayaan keluarga” kita sendiri. Jadi omong kosong anda akan menjadi pahlawan pemberdayaan masyarakat, tapi tidak becus menjadi pahlawan dalam keluarga dan atas diri anda sendiri.

Maka di tempuhlah strategi-strategi perjuangan untuk melakukan perubahan. Dari upaya persuasif, kirim surat kepada para pemangku kepentingan nasib mereka, menyuarakan melalui media massa, tulisan-tulisan, di bahas dalam rakor-rakor dan apapun saja. Namun ternyata itu belum cukup. Maka berangkatlah mereka menemui para wakil rakyat yang berharap dapat mendengar rintihan jerit ribuan fasilitator.

Bukan karena mereka ingin di sebut sebagai pahlawan. Seorang prajurit yang maju ke medan laga pertempuran, yang berhadapan langsung dengan bedil, meriam musuh itu tidak pernah berpikir akan mendapatkan anugerah tanda jasa atau sebutan pahlawan. Yang mereka lakukan hanyalah perjuangan untuk melakukan perubahan. Melakukan upaya dekonstruksi sosial untuk mencapai cita-cita kehidupan bersama yang lebih baik.

Visi kehidupan bersama yang lebih baik itu dapat kita elaborasi lebih jauh. Namun esensinya adalah perjuangan itu harus berlandaskan atas nilai-nilai luhur, perjuangan keadilan, semangat untuk mengangkat harkat martabat kemanusiaan maupun rasa senasib sepenanggungan. Perjuangan itu haram dan tidak boleh berdiri di atas motivasi investatif individualistis. Perjuangan untuk menghancurkan manusia lain. Ataupun perlawanan untuk menggulingkan hegemoni dengan menciptakan hegemoni baru.

Seorang pejuang akan gagal di sebut pahlawan bila dia menggunakan upaya perjuangannya untuk karier pribadinya. Soekarno tidak bercita-cita menjadi Founding Father Indonesia. Dia hanya melakukan perlawanan terhadap penjajah kompeni untuk dengan niat tulus  memperjuangkan kemerdekaan Indonesia, agar rakyat Indonesia dapat mendapatkan hak-haknya sebagai warga negara dunia yang adil dan beradab. Begitupun dengan Cut Nyak Dien, Teuku Umar, Jendral Soedirman, Bung Tomo atau siapapun saja.

Atau bisa kita ambil contoh, Muhammad Saw berjuang untuk mengajarkan atas keesaan Tuhan di tengah masyarakat yang jahiliah, tidak dengan embel-embel untuk di angkat menjadi pendiri Negara Islam Arab. Tidak untuk menguasai sumber daya alamnya, bukan untuk menaklukkan wilayah lain agar Muhammad bisa menjadi raja mereka. Muhammad dan siapapun saja pahlawan sejati di dunia ini tidak pernah dan tidak memiliiki hasrat dan keinginan untuk “menjadi” apapun, untuk mendapat gelar atau hal remeh seperti hanya untuk sekedar mendapatkan “materi” dari perjuangannya.

Pahlawan tidak membutuhkan itu semua. Meskipun umpamanya mereka mendapatkan segala kemegahan dunia itu, semata-mata hanyalah ekses dari perjuangan mereka yang bukan primer bagi hidup mereka. Dan para pahlawan siap mencampakkan atribut semu itu semua, karena yang ada dalam kosmos hidup para pahlawan hanyalah kesejatian atas nilai kebaikan dan makna perjuangan. Maka mereka berani berhadapan dengan konsekuensi-konsekuensi yang mengerikan yang belum tentu dari diri kita sendiri berani menghadapinya sebagaimana mereka.

Dan pahlawan pemberdayaan yang sejati itu membawa cita-cita dan nilai perjuangan bukan untuk dirinya, dan mereka melarang diri mereka untuk menyebut dirinya pahlawan.

Sehingga, segelintir rekan pemberdayaan yang berani melakukan langkah-langkah radikal dengan upaya untuk perjuangan keadilan itu maka patutlah kita apresiasi dan harus wajib kita dukung sepenuhnya sebagai sesama rekan-rekan yang juga ingin melakukan perubahan. Kalau toh bila kita tidak dapat membantu perjuangan mereka di atas lapangan sepak bola ini, setidaknya jadilah suporter yang datang ke stadion dengan berbagai atribut, yel-yel, spanduk, atau tamborin untuk memberi semangat atas perjuangan mereka untuk membuat gol.  Dan bukan menjadi komentator ulung yang tidak berbuat apa-apa. Bukan dengan diam seribu bahasa untuk mencari aman. Bukan dengan melecehkan ataupun meremehkan perjuangan.

Karena kalau siapapun dari mereka yang ikut untuk memperjuangkan nilai-nilai kehidupan yang baik untuk kemaslahatan bersama dan bukan untuk pragmatisme diri sendiri itulah yang pantas kita sebut pahlawan. Kalau niatnya adalah hanya mengejar karier pribadi, bukan pahlawan namanya. Namun lebih tepatnya bila kalangan itu kita sebut sebagai para “penumpang” gelap saja.

Gilang Prayoga

Bobotsari, 16 Mei 2013

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 21 June 2013, in Kolom Esai, PNPM and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: