Mengubur Malas

malasMalas itu bagai penyakit permanen yang tidak pernah bisa sembuh. Dia bisa datang setiap saja dia mau, dan tidak ada jaminan kita tidak terinfeksi. Begitu kuatnya penyakit malas ini sehingga kita seakan loyo dan gagap untuk menghadangnya.

Kita menjadi malas, bisa berbagai macam alasan menggunakan argumen atas nama. Atas nama capek, atas nama butuh istirahat, atas nama ingin memanjakan diri, atas nama untuk menikmati hidup dan berbagai macam atas nama – atas nama yang kita jadikan pembenaran untuk diri kita pribadi.

Malas bisa datang dengan jangka waktu yang relatif pendek, bisa jangka menengah bahkan bisa panjang dan bahkan bisa berlarut-larut dalam kurun waktu tertentu. Tentu ukuran jangka pendek, menengah atau panjangnya waktu itu bukan linier berapa tahun, berapa abad, tapi relativitas yang menguasai kosmos perilaku hidup kita masing-masing.

Dan malas itu bisa muncul dari dalam diri kita namun juga merupakan legitimasi atas pandangan orang terhadap diri kita. Contohnya, anda lebih suka membaca buku seharian, mengerjakan tugas di depan komputer, maka anda bisa di cap oleh tetangga anda sebagai orang yang pemalas, karena mungkin definisi rajin bagi mereka adalah tentang bersih-bersih rumah atau ikut bantu-bantu kebutuhan orang itu. Ini bisa sangat subjektif. Apakah baca buku adalah malas? Belum tentu juga? Apakah mengepel di lantai itukah yang rajin? Ya belum tentu juga.
Dan apakah malas itu dilarang oleh UUD? Tentu tidak. Apakah malas itu tidak diperkenankan untuk boleh bersemayam dalam darah kita dan harus di buang ? Oh tentu saja tidak seperti itu. Lalu apakah malas itu sama dengan salah? Tentu bukan seperti itu. Dan malas adalah salah satu sifat dasar manusia. Namun tidak boleh kita jadikan sebagai pembenaran subjektif.

Malas Yang salah adalah ketika kita tidak bisa menyeimbangkan antara tugas pribadi dan tugas sosial kita. Peran diri kita dalam lingkup sosial, keluarga dan diri kita sendiri tentu harus di manajemeni dengan seimbang dengan mempertimbangkan skala prioritas yang kita susun sendiri. Karena kita bisa saja menjadi orang yang sangat inklusif dan egoistik karena hanya mengerjakan apa saja yang menjadi keinginan kita sehingga mengorbankan diri sosial kita, diri lingkungan kita, diri masyarakat kita.

Malas menjadi problem ketika kita buta terhadap kondisi kanan kiri kita, sehingga kita alpa untuk turut memberikan sumbangsih bantuan. Malas menjadi tidak benar bila tugas-tugas pokok dalam hidup kita tidak kita lakukan. Dan inilah yang mungkin kita menjadi terancam dosa, karena malas bisa menjadi penyumbat atas potensi rizki yang di anugerahkan Tuhan kepada kita.

Sehingga tugas kita saya kira adalah bagaimana menemukan tugas pokok dan elementer dalam hidup kita yang rutin harus kita kerjakan secara kontinu. Tidak usah rajin ngrasani pemerintah tapi kita sendiri tidak mau bergotong royong di masyarakat. Tidak perlu selalu melihat dan menganalisis tentang baiknya partai A berkoalisi dengan partai B,C,D dst namun kita lupa menafkahi keluarga kita.

Setiap individu memiliki maqam, tempatnya masing-masing dalam peta kesejarahan kehidupan ini. Dan setiap orang memiliki peran masing-masing yang tanpa perlu kita pertandingkan siapa yang paling hebat. Yang harus kita perbandingkan sebenarnya adalah seberapa bermanfaatkah diri anda di pusaran , keluarga, lingkungan dan negara. Kita tidak di tuntut untuk merubah negara dan dunia ini. Kita hanya di minta untuk merubah diri kita menjadi bermanfaat dalam skala pribadi maupun sosial.

Ketika kita memiliki etos dan prinsip manfaat yang mampu dan konsisten kita terapkan, dan tidak sedetikpun kita mengijinkan diri kita tidak bermanfaat, maka malas itu akan sirna dengan sendirinya dan Tuhan akan menggantikan barokah kepada diri anda dan lingkungan anda.

Gilang Prayoga
Kutasari, 13 Juni 2013

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 13 June 2013, in Kolom Esai. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: