Dampak Musik Dalam Nuansa Budaya Kita

images0Anda tentu suka dengan mendengarkan musik. Dan pastinya sebagian besar kita semua suka dan hafal dengan lagu-lagu yang bermacam-macam. Baik itu lagu keroncong, Rock, jazz, blues, Reagge, pop, rock, nDangdut, campursari, kasihadan, dan berjenis-jenis macam aliran musik yang Lain. Yang terkadang kita dendangkan dengan gendang, dan yang kita renteng-rengengkan di bibir dan hati kita.

Namun pernahkah anda sesekali membayangkan bahwa sebuah lagu dan musik dapat menjadi salah satu indikator untuk mengukur kejiwaan individual manusia maupun tingkat kecenderungan budaya dari perilaku kolektif suatu komunitas sosial.

Musik menjadi instrumen yang penting bagi perjalanan hidup kebudayaan. Sejarah telah mencatat, bagaimana essemble of Music itu telah lahir seirama dari ungkapan jiwa kemanusiaan yang bukan hanya sebagai sarana menghibur diri namun juga sebagai metode melakukan untuk perlawanan terhadap penindasan, rasisme, ataupun perjuangan kemanusiaan. Kita lihat bagaimana blues menjadi musik yang menggerakkan kaum negro di Amerika untuk mendapatkan hak-haknya yang setara dengan mayoritas kaum kulit putih. Kita tengok bagaimana musik Rock begitu merajai tangga musik tahun 70-80an sebagai ruang untuk mengungkapkan kritik-kritik sosial terhadap kemapanan.

Dan di Indonesia juga tidak ketinggalan riuh rendahnya. Dari berkiblat musik British semacam The Beatles, The Beeges dan band-band legenda yang lain, Rock n Roll, underground sampai goyang gengsot dangdut yang fenomenal.

Secara individual boleh kita bilang itu selera kita masing-masing. Namun secara kultural tidak berlebihan bila kita asumsikan ia menjadi wajah dari kebudayaan kita. Perilaku musik yang menjadi trend cenderung menyesuaikan dengan nuansa pergolakan dialektis antar manusia.

Segmentasi musik bisa terkotak-kotak yang terdiri dari berbagai macam kategori. Kategori itu bisa mensifati segala hal yang bersentuhan dengan umpamanya nasionalisme, komunitas, agama, pendidikan, usia, aliran, etc. Ambil contoh kategori usia bisa. Bisa kita runut segmentasi dari anak, remaja, setengah tua, sampai lansia.

Kalau setengah tua sampai lansia lebih suka mendengarkan lagu-lagu nostalgia. Tembang kenangan untuk membangkitkan memori masa silam, dan berasyik-masyuk menikmati betapa ragam kehidupan telah mengalami banyak perubahan. Bagi anak-anak, musik yang di suguhkan adalah tentang keceriaan, pesan moral, kegembiraan, bunga-bunga warna-warni kehidupan yang dihantarkan dengan musik kesederhanaan.

Namun bagi komunitas remaja yang menjadi mayoritas, musik bisa menjadi rumit dan eksklusif. Bagaimana kualitas permainan alat musik di tonjolkan. Teknik vokal, gitar, drum, kentongan, ketampanan vokalis,  ke-gaul-an, mode rambut, gaya di panggung dlsb menjadi faktor piiihan anak muda dalam menentukan warna dan jenis musik yang ia suka. Mereka cenderung ingin menampilkan sosok yang bisa di banggakan untuk di jadikan idola. Di jadikan panutan sehari-hari. Maka tak heran, bila fans penyanyi satu yang lain bisa saling bertengkar karena hanya budaya kompetisi dan perbandingan semu itu.

Dan bagi teman-teman itu, sebagai bentuk kecintaan mereka kepada idola mereka maka merchandise yang di gunakan oleh idola mereka, sedapat mungkin juga harus mereka miliki. Tidak peduli harus rela tidak jajan untuk menyisihkan uang saku mereka. Mereka juga akan datang berduyun-duyun di arena konser mereka dengan membawa poster, spanduk, foto dan bermacam lain seperti para mahasiswa yang sedang demonstrasi di depan gedung DPR. Tak cukup dengan itu, mereka juga bisa menjerit-jerit, histeris, berteriak-teriak dan tumpah air mata demi hanya melihat idola mereka.

Fenomenologi semacam itu, mengilustrasikan betapa dengan musik saja ternyata mampu menyihir kita dan membuat kita berperilaku yang dalam pandangan orang “tidak rasional”, “tidak logis, “tidak ilmiah”. Seperti ungkapan kuno tentang cinta. Kalau sudah cinta, maka tak peduli segala hadangan. Jalan terus pokoknya.

Artinya begitu sangat berpengaruhnya musik dalam hidup kita. Sehingga musik dapat menghantarkan si pendengarnya ke nuansa-nuansa yang terkandungnya. Jika musik itu berirama rancak dan menggembirakan, ia bisa menjadi penyemangat dalam menjalani kehidupan. Namun sebaliknya, musik yang terlalu banyak mengandung kesedihan, akan membawa kita ke dunia nestapa pula. Menjadi melankolis, gampang cengeng, sentimentil dlsb. Yang ujungnya akan menyebabkan kerapuhan mental kita, keretakan cara berpikir kita,  dan tenggelam ke dalam pusaran imaji liar.

Anak-anak SD sudah fasih berbicara tentang pacaran, tentang perselingkuhan, pandai mendendangkan lagu-lagu populer terbaru. Semua bercita-cita ingin menjadi idola cilik, sehingga perlahan mengesampingkan tugas belajar yang utama.

Semua pandangan mata, keinginan, tujuan dan harapan di arahkan untuk mengikuti gelombang musik tanpa memiliki reserve apakah musik itu baik dan mengajak ke nilai-nilai positif ataukah malah mengajarkan kita tentang cinta monyet, perselingkuhan, sakit hati yang mendalam dlsb.

Perceraian, perselingkuhan, tawuran, serta penyimpangan-penyimpangan sosial lain yang semakin lazim dan semakin tidak mengkhawatirkan kita lagi. Karena telah menjadi lazim yang di lakukan oleh para pelaku industri hiburan. Para artis yang memiliki jutaan penggemar itu merasa tidak punya salah dan beban bahwa hal tersebut akan menjadi contoh bagi pengagumnya.

Siapakah yang mampu mengontrolnya? Sedang para penggiat dan pelaku industri entertainment itu sendiri tidak peduli dengan dampak negatif yang mungkin muncul dari sana. Karena yang penting bagi mereka adalah laba, soal moral itu adalah urusan rumah tangga pribadi masing-masing.

Dari pengalaman empiris itu kita menjadi sedikit curiga jangan-jangan musik itu telah membawa dan menghantarkan kita di zaman yang katanya modern dan paling maju ini namun ternyata diam-diam menyimpan potensi borok kanker ganas luar biasa dalam kebudayaan kita bila kita salah memilih musik yang baik bagi kehidupan.

Kita bisa menjadi sedih dan muak dengan segala hal yang tidak baik itu, namun bisa segera lupa karena telah di temani oleh sebuah lagu yang menghantarkan untuk menggantikan kesedihan.

Gilang Prayoga,

Bobotsari, 09 Juni 2013

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 9 June 2013, in MENU BARU 1. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: