Fasilitator Superman

Perkenankanlah kali ini saya menuliskan tentang kegelisahan dan kegetiran yang tidak bisa di ungkapkan oleh para rekan Fasilitator PNPM Mandiri Perdesaan yang dalam beberapa bulan terakhir ini belum mendapatkan hak atas jasa pengabdian mereka. Satu bulan bertahan, dua bulan menahan, tiga bulan mungkin hampir sekarat kelaparan. Semoga jangan di teruskan sampai empat, lima, enam bulan tanpa gajian, karena pasti akan berimplikasi kepada program yang ujungnya adalah masyarakat yang akan di korbankan.

Di rakor-rakor bulanan, atau di berita-berita yang sesekali muncul di koran atau rumor yang berkembang di media sosial, kita mendapatkan informasi gado-gado, alias bermacam-macam jenis sampai kita tidak tahu informasi mana yang validitasnya dapat di pertanggungjawabkan. Semua pelaku di jajaran “proletar” melakukan analisa, berspekulasi, mengira-ira, mengkaitkan isu yang satu dengan yang lain, membayangkan dan membayangkan lagi sampai kelelahan karena yang di harapkan ternyata masih di awang-awang yang mata tidak mampu memandang.

Sampai tulisan ini kita ketik, tampaknya masih belum ada tanda-tanda penderitaan karena tidak gajian ini akan berakhir. Pemangku kebijakan di Kemendagri selaku leading sector PNPM Mandiri Perdesaan, belum juga memberikan Conference pers atau minimal pernyataan resmi yang setidaknya menyingkapkan kabut ketidakjelasan yang berkembang.

****

Para fasilitator itu selalu di agung-agungkan jabatannya di manapun saja sebagai sebuah profesi yang mulia, bagai para kekasih utusan Tuhan yaitu para Nabi, Rasul atau minimal Waliallah. Fasilitator itu di bentuk dengan Citra dan image Building yang ia adalah manusia setengah dewa yang tidak boleh melakukan salah, karena fasilitator itu adalah orang pandai yang mengajari masyarakat. Masak orang pandai bisa salah. Hanya orang bodoh yang bisa salah. Dan begitulah set up untuk para fasilitator itu dan semuanya tampak bangga menyandangnya, meski kelak di kemudian hari menyesal karena yang di anggapnya segala-galanya itu ternyata juga tidak ada apa-apanya.

Fasilitator itu manusia profesional, manusia agent culture of Change yang di genggamannya nasib jutaan penduduk miskin yang tersebar di pelosok desa se-Indonesia ini yang “wajib” di entaskan. Karena begitulah tujuan program. Semuanya harus berjalan efektif, efisien, akurat, tepat sasaran, sempurna. Karena kesempurnaan itulah yang semakin mengukuhkan keakuan diri fasilitator sebagai sebuah profesi yang di gadang-gadang “lebih” dari profesi lain yang sudah ada.

Fasilitator adalah subjek yang memberikan fasilitasi, kemudahan, sebagai penuntun, penyuluh, pemberi penerangan dan apapun yang berkaitan dengan konteks pelayanan kepada masyarakat. Dia harus menjadi bapak bagi ribuan anak-anak abadi yang bernama masyarakat. Sampai di situ tidak ada yang salah. Hanya ketika bapak itu telah di paksakan di luar kemampuan dirinya untuk membuat anak-anaknya itu sesuai dengan keinginan subjek yang lebih kuat dari dirinya. Anak-anak itu tidak boleh nakal, tidak boleh salah, harus rajin, pintar, pandai, mempunyai pemahaman dan kosmologi yang hebat dan apapun segalanya dengan atas nama sempurna.  Anak itu tidak boleh melakukan kesalahan. Karena ada bapaknya fasilitator yang adalah manusia super. Fasilitator Superman.

Dan selama ini tidak pernah ada yang mempermasalahkan atau minimal mempertanyakan tentang gambaran atas diri fasilitator itu. Semua di jalani saja dengan mengalir. Ada yang cuek, ada yang kritis, ada yang masa bodoh, ada yang menganalisa, ada yang mengkompromikan, ada yang “bernapas panjang” namun lebih banyak yang “bernapas pendek”. Secara akumulasi itu semua mengerucut ke titik pragmatis yang di genggam dalam hati masing-masing, bahwa tidak ada masalah dan tidak perlu di permasalahkan dengan hal itu semua yang penting masih gajian.

Maka ketika tidak gajian tiga bulan, kelimpunganlah fasilitator itu semua, sementara tuntutan kesempurnaan program juga harus tetap di jalankan. RKTL tahapan tidak boleh di tinggalkan dan harus tetap melakukan pendampingan meskipun haknya belum di penuhi. Stres, ogah-ogahan bekerja, frustrasi, budrek, dan tak tahu di lampiaskan ke mana.

Satu persatu robohlah kuda-kuda kesempurnaan semu kita. Porak-porandalah wajah kita yang di tutupi dengan Make up dan gincu tebal kamuflase. Muncullah koreng yang menganga di sekujur tubuh ini yang selama ini kita tambal dengan tansoplas. Hingga kemudian, bahwa kita kembali tersadarkan bahwa kita semua ini para fasilitator adalah ternyata manusia juga. Manusia yang bisa sakit, menangis, tertawa, sedih, penuh kelemahan, namun tetap masih bisa bergembira dan bersyukur. Wajah fasilitator yang di permak sebagai malaikat yang tidak ada cacat cela, sempurna seperti yang selalu di dorong-dorongkan oleh program maupun atasan secara perlahan memudar dan menampakkan wajah aslinya. Kita menjadi sadar dan harus mulai kembali belajar, bahwa kesempurnaan itu adalah bukan milik manusia. Ketika kita menjadi sempurna, insya allah kita sudah bukan manusia.

Namun ternyata setelah tiga bulan tanpa gajian ini, program ini juga masih tetap jalan. Masih melakukan kerja pendampingan masyarakat. Masih aktif dan terus memberikan asistensi kepada masyarakat. Fasilitator telah membuktikan bahwa pekerjaan mereka adalah juga sebuah pengabdian. Dan memaklumi adalah dalam hati bahwa ketidak sempurnaan program dalam membayarkan gaji fasilitator itu juga karena memang di dalam program itu adalah ternyata manusia juga.

Gilang Prayoga

Bobotsari, 31 Mei 2013

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 2 June 2013, in Kolom Esai, MENU BARU 1, PNPM. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: