Monthly Archives: Juni 2013

Melawan Arus Takhayul Modernisasi

Mungkin anda juga pernah mengalami hal yang serupa. Untuk yang kesenian ratus kalinya, saya selalu menunda untuk menyelesaikan tugas-tugas pokok yang harusnya dapat di selesaikan hanya karena tergoda untuk berselancar Internet. Ketika membuka laptop, niat awal adalah akan mengerjakan laporan bulanan. Namun niat awal itu bisa berubah seketika modem sudah menyala.

Hati menjadi sulit di bendung dan di kendalikan karena di suguhi oleh lini berita yang selalu up-date setiap detik, melihat pemandangan dan gambar-gambar indah, memelototi video populer di youtube dan terus penasaran membaca artikel yang unik, menggelitik dengan judul yang provokatif.

Niat hanya buka satu dua halaman, tapi begitu sulit di hentikan. Sampai yang sering terjadi adalah keasyikan surfing, browsing, download dlsb hingga pekerjaan utama kita terabaikan. Dan akhirnya setelah kepepet, terpaksalah mau tidak mau kita baru mengerjakan laporan kita. Dan tentu hasilnya menjadi ala kadarnya. Read the rest of this entry

Iklan

Pahlawan Pemberdayaan

994327_491361500937847_1942968299_nSiapakah di dunia ini yang pantas di sebut sebagai pahlawan? Indikator-indikator apa saja yang harus di penuhi untuk menjadi seorang pahlawan? Dan lembaga apakah yang punya legitimasi untuk menyebut seseorang itu pahlawan atau bukan?

Mohon maaf saya menggunakan istilah pahlawan pemberdayaan ini, karena memang tematik dari situasi dan kondisi para pelaku pemberdayaan yang telah sedemikian rupa dalam mencari kejelasan atas nasib mereka yang selama ini samar dan terkatung-katung.

Kata pemberdayaan sekarang ini sedang populer dan menjadi identik dengan PNPM. Sebuah program yang katanya pemberdayaan masyarakat. Siapapun yang menjadi pelaku PNPM secara langsung dan tidak langsung, selalu di sebut-sebut sebagai sosok seorang pahlawan. Sehingga muncul istilah pahlawan masyarakat miskin. Karena memang demikian tugas tanggung jawabnya untuk selalu memperjuangkan masyarakat. Dan tidak berlebihan bila kita sematkan tanda jasa pahlawan pemberdayaan ke atas dada mereka sebagai penghargaan pengabdiannya.

Namun beberapa bulan terakhir ini, pahlawan pemberdayaan itu tidak bisa fokus memperjuangkan peningkatan kesejahteraan masyarakat miskin karena para “Sang pemberdaya” itu sedang menemui cobaan berat tak tertanggungkan. Meskipun Tuhan berjanji tidak akan memberikan cobaan melebihi batas kemampuan hambanya, namun cobaan tidak gajian lebih dari tiga bulan lamanya itu, tentu sangat merobohkan kuda-kuda mental dan kesabaran mereka. Apalagi setelah sekian lamanya belum ada tanda-tanda yang pasti akan nasib mereka ini, selain rumor tembung “Jarene”.

Tidak gajian itu memberikan implikasi yang luar biasa. Yang paling terasa adalah mereka semakin lemah energinya untuk memperjuangkan hak rakyat miskin. Karena mereka sendiri terancam menjadi miskin pula. Read the rest of this entry

Mengubur Malas

malasMalas itu bagai penyakit permanen yang tidak pernah bisa sembuh. Dia bisa datang setiap saja dia mau, dan tidak ada jaminan kita tidak terinfeksi. Begitu kuatnya penyakit malas ini sehingga kita seakan loyo dan gagap untuk menghadangnya.

Kita menjadi malas, bisa berbagai macam alasan menggunakan argumen atas nama. Atas nama capek, atas nama butuh istirahat, atas nama ingin memanjakan diri, atas nama untuk menikmati hidup dan berbagai macam atas nama – atas nama yang kita jadikan pembenaran untuk diri kita pribadi.

Malas bisa datang dengan jangka waktu yang relatif pendek, bisa jangka menengah bahkan bisa panjang dan bahkan bisa berlarut-larut dalam kurun waktu tertentu. Tentu ukuran jangka pendek, menengah atau panjangnya waktu itu bukan linier berapa tahun, berapa abad, tapi relativitas yang menguasai kosmos perilaku hidup kita masing-masing.

Dan malas itu bisa muncul dari dalam diri kita namun juga merupakan legitimasi atas pandangan orang terhadap diri kita. Contohnya, anda lebih suka membaca buku seharian, mengerjakan tugas di depan komputer, maka anda bisa di cap oleh tetangga anda sebagai orang yang pemalas, karena mungkin definisi rajin bagi mereka adalah tentang bersih-bersih rumah atau ikut bantu-bantu kebutuhan orang itu. Ini bisa sangat subjektif. Apakah baca buku adalah malas? Belum tentu juga? Apakah mengepel di lantai itukah yang rajin? Ya belum tentu juga. Read the rest of this entry

Dampak Musik Dalam Nuansa Budaya Kita

images0Anda tentu suka dengan mendengarkan musik. Dan pastinya sebagian besar kita semua suka dan hafal dengan lagu-lagu yang bermacam-macam. Baik itu lagu keroncong, Rock, jazz, blues, Reagge, pop, rock, nDangdut, campursari, kasihadan, dan berjenis-jenis macam aliran musik yang Lain. Yang terkadang kita dendangkan dengan gendang, dan yang kita renteng-rengengkan di bibir dan hati kita.

Namun pernahkah anda sesekali membayangkan bahwa sebuah lagu dan musik dapat menjadi salah satu indikator untuk mengukur kejiwaan individual manusia maupun tingkat kecenderungan budaya dari perilaku kolektif suatu komunitas sosial.

Musik menjadi instrumen yang penting bagi perjalanan hidup kebudayaan. Sejarah telah mencatat, bagaimana essemble of Music itu telah lahir seirama dari ungkapan jiwa kemanusiaan yang bukan hanya sebagai sarana menghibur diri namun juga sebagai metode melakukan untuk perlawanan terhadap penindasan, rasisme, ataupun perjuangan kemanusiaan. Kita lihat bagaimana blues menjadi musik yang menggerakkan kaum negro di Amerika untuk mendapatkan hak-haknya yang setara dengan mayoritas kaum kulit putih. Kita tengok bagaimana musik Rock begitu merajai tangga musik tahun 70-80an sebagai ruang untuk mengungkapkan kritik-kritik sosial terhadap kemapanan. Read the rest of this entry

“Perahu Retak” Pemberdayaan

pray for pnpmBelum selesai tiga bulan para pekerja pemberdayaan di ombang-ambingkan dengan ketidakpastian akan pembayaran honorarium serta tunjangan, muncul kebijakan dari Kementrian Dalam Negeri yang menyebutkan penundaan pencairan dana 20% tahap terakhir sebagai konsekuensi beban subsidi BBM yang memberatkan APBN.

Reaksi yang muncul atas hal tersebut cukup beragam.  Namun dominasi ketidakpuasan dari pelaku pemberdayaan semakin membesar. Semuanya mempertanyakan kebijakan yang mereka pandang tidak bijak.

Apa yang anda pikirkan sebagai fasilitator, pelaku, pengamat, pemangku kebijakan, atau sebagai masyarakat yang bersinggungan dan terkait langsung maupun tidak langsung? Apa yang akan ada perbuat atas surat edaran tersebut? Akan seperti apa penyikapan anda? Akan menempuh cara yang bagaimana bila anda sudah terlanjur mensosialisasikan pembangunan 2013 ini di masyarakat? Sudah siapkah anda dengan potensi konflik, polemik dan kehancuran reputasi PNPM di masyarakat? Mampukah kita menahan dari bulan-bulanan masyarakat? Dengan apa kita semua dapat mengeliminirnya?

Pertanyaan mikro itu bisa kita perjauh untuk skala yang lebih makro, yang mungkin juga masih memiliki keterkaitan erat.

Apa yang anda ketahui terkait dengan rancangan sidang paripurna DPR dengan surat kebijakan itu? ? Ketlingsut di mana program pemberdayaan ini di buku-buku para wakil rakyat? Ada di baris prioritas di nomor berapa pemberdayaan masyarakat ini di lembaran-lembaran catatan para pejabat pemerintah di Kementrian Lembaga?

Apa yang anda ketahui tentang peta konstelasi politik Indonesia mutakhir menjelang 2014 dengan PNPM? Seberapa jauh pemahaman anda soal prediksi bahwa negara ini hampir mengalami kebangkrutan total karena kekayaan alam dan sumber dayanya telah di jadikan bancakan, rayahan, penilapan bersama-sama dan besar-besaran oleh manusia-manusia yang kita beri amanah untuk menjaganya ?

****

Proses pemberdayaan selama ini yang telah berlangsung lebih dari sepuluh tahun, terlepas dari berbagai problema yang menyertai setidaknya telah membuktikan sebagai salah satu metode yang cukup signifikan dalam membangun kemandirian di masyarakat. Perencanaan pembangunan partisipatif yang di tampilkan PNPM, telah sedikit banyak melengkapi proses perencanaan nasional yang ada terlebih dahulu, yang di sinyalir penuh muatan-muatan politis kepentingan sehingga terkadang terpelesat dari target sasaran kebutuhan riil masyarakat. Read the rest of this entry

Fasilitator Superman

Perkenankanlah kali ini saya menuliskan tentang kegelisahan dan kegetiran yang tidak bisa di ungkapkan oleh para rekan Fasilitator PNPM Mandiri Perdesaan yang dalam beberapa bulan terakhir ini belum mendapatkan hak atas jasa pengabdian mereka. Satu bulan bertahan, dua bulan menahan, tiga bulan mungkin hampir sekarat kelaparan. Semoga jangan di teruskan sampai empat, lima, enam bulan tanpa gajian, karena pasti akan berimplikasi kepada program yang ujungnya adalah masyarakat yang akan di korbankan.

Di rakor-rakor bulanan, atau di berita-berita yang sesekali muncul di koran atau rumor yang berkembang di media sosial, kita mendapatkan informasi gado-gado, alias bermacam-macam jenis sampai kita tidak tahu informasi mana yang validitasnya dapat di pertanggungjawabkan. Semua pelaku di jajaran “proletar” melakukan analisa, berspekulasi, mengira-ira, mengkaitkan isu yang satu dengan yang lain, membayangkan dan membayangkan lagi sampai kelelahan karena yang di harapkan ternyata masih di awang-awang yang mata tidak mampu memandang.

Sampai tulisan ini kita ketik, tampaknya masih belum ada tanda-tanda penderitaan karena tidak gajian ini akan berakhir. Pemangku kebijakan di Kemendagri selaku leading sector PNPM Mandiri Perdesaan, belum juga memberikan Conference pers atau minimal pernyataan resmi yang setidaknya menyingkapkan kabut ketidakjelasan yang berkembang.

****

Para fasilitator itu selalu di agung-agungkan jabatannya di manapun saja sebagai sebuah profesi yang mulia, bagai para kekasih utusan Tuhan yaitu para Nabi, Rasul atau minimal Waliallah. Fasilitator itu di bentuk dengan Citra dan image Building yang ia adalah manusia setengah dewa yang tidak boleh melakukan salah, karena fasilitator itu adalah orang pandai yang mengajari masyarakat. Masak orang pandai bisa salah. Hanya orang bodoh yang bisa salah. Dan begitulah set up untuk para fasilitator itu dan semuanya tampak bangga menyandangnya, meski kelak di kemudian hari menyesal karena yang di anggapnya segala-galanya itu ternyata juga tidak ada apa-apanya. Read the rest of this entry