Jerat Atas Kata

Perubahan Makna Kata Dalam Bahasa IndonesiaPemahaman serta penyampaian kata dan bahasa itu sering kali tidak semudah dan sesederhana yang kita kira. Kata serta bahasa yang kita ungkapkan, kita sampaikan dan kita hantarkan kepada orang lain belum tentu sama dan sejalan dengan apa yang kita maksudkan. Bisa jadi pemahaman makna kata itu terbalik dari apa yang sesungguhnya ingin kita sampaikan. Tentu banyak faktor yang melatarbelakangi sebab-sebab kenapa kata tersebut menjadi terpelesat maknanya.

Yang paling umum adalah ketika kita melihat sebuah baliho berukuran raksasa yang berdiri tegak di pinggir-pinggir jalan raya yang memajangkan sebuah himbauan yang pastinya menurut si pembuat adalah positif, namun karena di sebabkan faktor pemahaman tata bahasa, kemampuan otak mencerap informasi, nuansa dan sudut pandang pembaca serta mungkin atas dasar keisengan kita, makna bahasa tersebut bisa tafsirkan secara berbada.

Contohnya ketika kita melihat dan membaca sebuah spanduk yang berbunyi, “Anda Memasuki Kawasan Bebas Narkoba”. Apa yang ada di benak anda melihat bahasa seperti itu? Tentu kita semua sepakat dan menyadari bahwa slogan itu bermakna sebuah ajakan yang positif untuk menjaga kawasan kita bebas dari segala jenis narkoba. Bebas di sini berarti, narkoba dalam bentuk apapun di larang untuk beredar.

Namun bagi anak kecil yang belum memiliki pemahaman makna atas kata yang dalam, bisa jadi artinya bisa lain. Bebas di sini, bisa juga di asumsikan bahwa narkoba itu bebas di edarkan atau bebas di perjualbelikan. Artinya bebas itu bisa kita tafsirkan dapat sesuka hati memperjualbelikan narkoba ataupun bebas untuk menggunakan narkoba.

Hal itu bisa menjadi lebih rumit lagi ketika di tangkap dan di pahami oleh manusia-manusia hukum. Pengacara, Hakim, Jaksa, advokat dan apapun saja profesinya yang menjunjung kaidah tata bahasa Indonesia yang baku dan benar, sebuah kata dan bahasa bisa menjadi polemik dan perdebatan yang tidak habis-habis.

Seperti yang kita lihat bersama, amar putusan pengadilan tentang seorang pejabat negara yang tersandung masalah korupsi, kita bisa sangat sibuk memperdebatkan, mendiskusikan hanya karena bunyi 1 pasal saja. Dan kebingungan-kebingungan atas sebuah bahasa juga berlangsung hampir di berlangsung di segala segmen kehidupan kita.

Atau sebuah cerita tentang pemilihan kepala daerah yang memuat klausul aturan bahwa “Calon Kepala Daerah tidak di perkenankan untuk memberikan dalam bentuk apapun baik sebelum dan sesudah hari pemilihan”. Bagi orang-orang iseng bisa di tafsirkan bahwa sebelum dan sesudah hari pemilihan memang tidak boleh memberikan sogokan, namun pada saat hari H pencoblosan, rame-rame serangan fajar itu di lakukan. Sehingga saya jadi sedikit mafhum, bahwa kasus Money politik itu tidak pernah sama sekali di permasalahkan.

Dengan permainan kata yang canggih, kita bisa dapat menekuk dan memperlakukan kata dan bahasa sesuai dengan kehendak hati kita bagai sebuah penyair atau sastrawan dalam mengungkapkan keindahan abstrak puisinya. Para kreator puisi, pujangga, atau seniman-seniman tidak peduli apakah anda paham dengan apa yang di tulisnya.

Bila sang pujangga itu mencipta sebuah kata untuk keindahan tentu tidak kita permasalahkan. Namun apabila penciptaan makna kata itu di susupi oleh maksud-maksud intrinsik tersembunyi demi kepentingan ego pribadi, demi klien kita, demi atas nama supremasi hukum, dan pengatasnamaan subjektif atau pembenaran lain yang kita ambil ayat-ayatnya dari kitab Undang-Undang hukum atau pasal-pasal aturan yang menguntungkan “salah satu pihak” saja, maka persilakan hati dan akal sehat anda untuk menangisinya.

Dengan demikian, jangan heran apabila hukum dan aturan itu bisa sangat kejam di bawah namun tumpul dan karatan bagi yang di atas. Jangan heran atas munculnya kasus yang terjadi seperti kasus yang menghancurkan logika sehat dan menciderai rasa keadilan masyarakat. Karena memang, kata-kata hukum yang baku menjadi bisa sangat kaku.

Kasus Nenek Minah yang mencuri kakao, kasus pencuri semangka yang di vonis bersalah di pengadilan, Kasus Prita, kasus pencuri ayam yang di bui, kasus pencuri sandal jepit yang di ancam 5 tahun penjara,adalah deretan kasus yang membuat kita waspada bahwa, dengan sedikit kesalahan saja, meskipun itu sangat terpaksa kita lakukan, bisa berkonsekuensi hukum yang membuat kita bisa di penjara karenanya.

Anda sering guyon dan bercanda bersama kolega anda karena merasa sudah akrab, namun anda tidak sengaja mengolok-olok teman anda di meskipun dalam rangka untuk guyonan belaka dan sebenarnya dalam rangka hubungan kemesraan bersaudara saja. Namun apabila teman anda itu tidak terima dengan guyonan anda, maka siap-siap anda akan di kenai tuntutan pasal pencemaran nama baik, atau pasal perbuatan tidak menyenangkan.

Yang selalu kita gembar-gemborkan adalah tegaknya hukum, dan tidak peduli dengan tegaknya keadilan. Negara ini pun dengan bangganya menyebut sebagai negara hukum, dan acuh terhadap perjuangan keadilan.  Bila suatu tatanan kehidupan bernegara sudah mencapai level sedemikian rupa, maka memang telah kita semua terperangkap dalam jerat kata.

Kata yang di lahirkan dari sebuah makna telah tereduksi sedemikian rupa sehingga menjadi tidak bermakna karena hanya di ambil sebatas tekstual belaka.

Gilang Prayoga

Bobotsari, 07 Mei 2013

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 7 May 2013, in Kolom Esai. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: