Si Pemerintah dan Manusia Pemimpin

oratorMenjadi seorang pemimpin itu sulit luar biasa. Seorang pemimpin itu adalah seorang manusia utama, bukan sekadar atasan dari sebuah institusi profesional belaka. Lebih mudah menjadi sebuah kosakata “plesetan” atau kamuflase bahasa yang telah di resmikan secara protokoler kenegaraan yaitu “Pemerintah” Yang tupoksi dasarnya memang bertugas hanya untuk melakukan perintah-perintah saja. Dan celakanya semakin lama idiom pemerintah itu kita gunakan dan kita terima begitu saja, sehingga lambat laun denotasi makna pemerintah itu merasuki jenis manusia-manusia yang menyandangnya. Yang sehingga pada akhirnya tidak ada kesanggupan lain selain manusia pemerintah itu hanya bisanya untuk memerintah.

Bila menganut pada epistemologi kata perintah, tentunya yang kita bayangkan adalah sebuah posisi yang mengharuskan kita untuk mau tidak mau yang harus di lakukan dari dari segala hal yang menggenggam kekuasaan baik manusia maupun institusi resmi kepada  segala hal atau apapun saja yang tidak memiliki bargaining power atau kalah kuasa dengan si pemberi perintah. Bila aliran itu di urutkan maka akan sampai kepada yang kita pandang bawahan, kepada orang rendahan, ataupun kepada anak buah yang berada di telapak kaki tangan jaringan struktural manajemen organisasinya di berbagai lini. Presiden memandang lebih kuasa daripada mentrinya, Kepala bagian merasa lebih superior di banding operator produksi, majikan merasa lebih tinggi daripada buruh pembantunya dlsb.

Menjadi pemerintah itu di satu sisi terkadang jauh lebih mudah dibandingkan menjadi seorang pemimpin. Si Pemerintah bisa lahir dari selembar SK, yang di landasi oleh kompetensi, profesionalisme, keterampilan organisasi, pengalaman kerja, nilai-nilai ijasahnya, sikap dan perilakunya. Namun bahkan terkadang di lumuri dengan nepotisme, suap, ataupun dengan cara menjilat kaki-kaki atasan kita untuk mendapatkannya.

Sedang menjadi manusia pemimpin itu tidak ada SKnya, tidak mempunyai kantor-kantor resmi dan institusi pendukung dirinya dan tidak ada yang menggaji. Manusia pemimpin tidak di sulap secara instan dengan SK pengangkatan namun dia di lahirkan oleh nuansa, pengalaman sosial yang telah di uji dengan tantangan, perjuangan dan mahalnya penderitaan.

Pemerintah menggerakkan manusia dengan tekanan, dengan paksaan yang di bungkus sedemikian rupa dengan bahasa resmi institusi. Namun pemimpin cukup menggerakkan manusia dengan cinta, keyakinan dan persambungan hati.

Dunia akademis baru sampai pada taraf pengenalan teoritik tentang kepemimpinan. Namun gagal dalam mengimplementasikan kepada para mahasiswanya. Karena yang menjadi nilai ijasahnya adalah hanya mencocokkan jawaban saja dengan teori yang ada. Tidak peduli apakah dia sanggup melakukan atau tidak. Yang penting tahu saja, sudah cukup. Meskipun tidak bisa menjalankan.

Sehingga tidak aneh bila nanti Tuhan akan menuntut mereka di persidangan akhirNya. Firman Tuhan jelas mengatakan yaa ayyuha alladzina aamanu taquuluuna maa laa taf’aluuna, kabura maqtan ‘inda allahi an taquuluu maa laa taf’aluuna. Hei manusia, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian Tuhanmu bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.

Dan sejarah telah banyak mencatat bahwa “pemerintah” lebih banyak di cetak dari institusi pendidikan kita selama ini. Sehingga tidak aneh meskipun telah melewati ratusan kali pilkada, pileg, pilpres atau apapun di Indonesia ini, prestasi maksimal kita hanya cukup bisa memilih sampai pada tataran level presiden, bupati atau jenis-jenis profesi birokrasi lain yang pasti berjenis manusia pemerintah sesuai Undang-undangnya. Untuk menemukan seorang manusia pemimpin bangsa kita tidak pernah sukses. Karena alam politik, kebudayaan dan kompleksitas serta keabsurdan sistem yang ada di Indonesia memang tidak akan pernah bisa memunculkan seorang pemimpin bangsa.

Apabila skala kenegaraan saja, kita tidak cukup bisa mengubah dan memilih pemimpin bangsa, bisa anda bayangkan bahwa jaringan-jaringan kekuasaan politik dan pemerintahan yang berada di bawah di strata hirarkisnya. Bagaimana jenis perlakuan dan sikapnya serta muatan fikiran dan pandangannya bila sistem represif itu di terapkan di berbagai lini. Dan bisa anda bayangkan, betapa celaka nasibnya ketika anda hanya berstatus sebagai anak buah saja.

Karena salah satu sifat pemerintah itu adalah selalu menitik beratkan kesalahan kepada anak buahnya, dengan berbagai argumen aturan, instruksi, prosedur, mekanisme hukum, tupoksi, SOP, dan macam-macam lainnya yang di bungkus mengatasnamakan profesionalisme. Dan memang tidak perlu kita kutuk-kutuk dan kita cerca, karena memang hanya itulah satu-satunya cara dan metode jalan keluar dari sebuah kesempitan dan kepengecutan “pemerintah” kita untuk menghindari represi tekanan yang mungkin akan dia terima dari jenjang yang lebih di atasnya.

Sedangkan kita tahu bahwa profesionalisme itu sebuah profesi yang mengharuskan dan mempersyaratkan logika formal yang baku dan kaku serta harus membuang dan  mengesampingkan hati nurani kita. Karena kalau anda sudah tidak punya hati nurani dan kejernihan berpikir maka insya allah anda telah sukses menjadi seorang profesional.

Kalau tidak percaya silahkan di buktikan.

Gilang Prayoga

Bobotsari, 05 Mei 2013

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 5 May 2013, in Kolom Esai and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: