Monthly Archives: May 2013

Menjinakkan Teknologi

dampak negatif internetSungguh luar biasa kemajuan teknologi informasi hari ini. Dimana-mana orang terlihat tidak hanya cukup membawa ponsel belaka, namun juga sudah di tambah dengan tablet, phablet, notebook, netbook yang di kantungi sekaligus. Itupun kadang masih ditambah dengan beberapa asesoris pendukungnya. Power bank, charger semua di usung menjadi satu bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan kita.

Bila sejak jaman baheula telah populer di kalangan anak muda dengan istilah “Aku tanpamu butiran debu..”, yang di maksudkan –mu- di situ sekarang sudah bukan lagi tentang seorang pacar, kekasih gelap atau siapapun yang menguras hati dan energi kita, namun bagi orang-orang tertentu telah di gantikan dengan kecintaan mendalam kepada gadget teknologi mutakhir. Bahkan ada istilah “lebih sakit kehilangan gadget daripada di putusin pacar…!!”

Bila di tanyakan kepada para gadget freak,”buat apa sih Smartphone sebegitu banyak,” Jawabannya beragam. “Satu untuk relasi bisnis di pekerjaan, yang lain untuk sahabat lama, sebiji buat keluarga dan sebuah lagi untuk pribadi. Tentunya tidak usah kita perpanjang, bahwa yang pribadi itu akan di gunakan untuk selingkuhan atau yang sejenisnya.

Ada teman lain yang menjawab, bahwa memliliki gadget yang bejibun itu memiliki beberapa alasan khusus. Salah satunya adalah agar tidak di pandang ketinggalan zaman, gaptek atawa buta teknologi. Fitur fungsionalitas gadget telah menjadi nomor sekian karena yang terpenting adalah bagaimana saya bisa nggaya dengan seperangkat elektronik yang paling modern itu. Read the rest of this entry

Terus Berjalan

8-manfaat-berjalan-kaki

Sungguh tidak mudah menghadapi hidup ini. Terkadang dalam situasi dan momentum tertentu ternyata  segala hal itu tidak berjalan dengan harapan itu sendiri. Boleh kita telah merancang dengan berbagai analisis ataupun dari teori dari pakar manapun, namun kita tidak boleh sombong bahwa itu semua masih hanya sebatas perkiraan, persangkaan, kira-kira yang sangat spekulatif.

Tidak usah yang rumit-rumit dulu. Hari ini anda menginginkan akan makan ayam goreng KFC, dan anda telah merancang dengan baik schedule-nya sehari sebelum hari- H nya. Agenda itu telah anda susun dan rencanakan jam berapa, tempatnya mau di mana, nomor kursinya berapa, dengan siapa yang nanti akan anda traktir. Namun ternyata dua jam sebelum agenda itu terlaksana, bisa jadi dompet anda di copet dan batallah semua yang telah anda rencanakan.

Sering dari kita mengalami kejadian seperti itu di berbagai momentum, ruang dan waktu yang berbeda namun substansinya adalah sama. Anda boleh menanam padi dengan sungguh-sungguh, namun panen padi bisa saja gagal oleh suatu hal. Suatu hal ini menjadi kesadaran batin dalam diri kita, bahwa ada otoritas yang lebih tinggi yang menguasai kita. Kesadaran semacam itu, bisa menjadi pengingat bahwa suatu kebodohan kalau kita berlagak sombong dan mandiri dalam mengatasi problem kehidupan kita. Read the rest of this entry

Wajib belajar Seumur Hidup

 

Mohon maaf sebelumnya kepada sidang pembaca, kali ini saya mengambil judul tentang wajib belajar seumur hidup yang merupakan tema dari forum maiyah “Juguran Syafaat” Banyumas Purwokerto yang malam Minggu kemarin di pentaskan serta di diskusikan dengan sangat intens. Mudah-mudahan saya dapat membagi sedikit hal yang mungkin bermanfaat bagi kita semua serta menambah khasanah cara pandang dan keilmuan kita.

Sebelum kita membahas yang kaitannya dengan pendidikan wajib belajar seumur hidup tentunya harus kita pahami dahulu sangkan paran yang harus kita mulai dari sebuah pertanyaan yang substantif. Siapakah yang mewajibkan kita belajar? Apakah pemerintah republik Indonesia? Menteri Pendidikan dan Kebudayaan? Guru-guru sertifikasi? Ataukah para orang tua kita yang di legitimasi oleh norma budaya yang berlaku di masyarakat kita.

Pertanyaan ini harus kita jawab, sebelum kita melangkah lebih jauh. Karena output dunia pendidikan saat ini yang di representasikan dengan dekadensi moral kebudayaan dan semakin sirnanya etika sesama manusia adalah wajah kita semua dari hasil dunia pendidikan kita selama ini. Korupsi, penyimpangan nilai, parade perebutan kekuasaan yang sangat menghina martabat rakyat, tumbuhnya manusia hedonisme di segala lini adalah pemandangan yang lumrah kita saksikan bersama-sama. Bagaimana bisa, dunia pendidikan yang mengedepankan nilai-nilai dan moral Pancasila di setiap kurikulumnya bisa mencetak generasi bangsa seperti ini. Bagaimana mungkin dunia pendidikan modern yang selalu mencetak lulusan UN dengan standar yang tinggi bisa kecolongan seperti ini. Padahal kita selalu di dorong dengan slogan wajib belajar sembilan tahun.

Tentunya, tema yang di angkat oleh teman-teman Maiyah Purwokerto patut di apresiasi karena telah memberikan kita sebuah pencerahan, ternyata belajar itu tidak cukup hanya dengan sembilan tahun. Wajib belajar itu adalah seumur hidup. Karena Tuhan sendiri berfirman di ayat yang pertama kali di turunkan kepada Rasul Muhammad adalah Iqra, bismi rabbika alladzii khalaqa, bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu Yang Menciptakan. Jelas bahwa Tuhan memerintahkan kita untuk membaca yang tentunya dapat kita asosiasikan dengan belajar. Bahkan banyak di ayat-ayat al-quran, Tuhan selalu menagih kita untuk menggunakan akal dan pikiran kita,agar dengan akal itu kita dapat mengagumi kebesaran Tuhan. Read the rest of this entry

Isi Pulsa dan Refleksinya

pojok1

Tentu kita semua adalah salah satu dari sekian milyar orang di dunia yang salah satu kegiatan rutinnya adalah mengisi pulsa untuk handphone kita. Kegiatan pengisian pulsa ini telah menjadi sebuah keharusan dalam hidup sebagai penghubung komunikasi antar manusia di berbagai belahan dunia. Dan tidak heran kita jadi merasa uring-uringan bila nilai saldo pulsa kita terkuras habis. Bukan karena kita memang jenis manusia yang suka ngambek, namun karena dorongan naluriah kita sebagai manusia sosial yang mengharuskan adanya orang lain untuk kita bisa saling berinteraksi. Dan salah satu metode untuk berinteraksi adalah dengan cara isi pulsa anda.

Saya jadi teringat ketika masih duduk di bangku kuliah. Ketika itu sekitar tahun 2003-an, dimana pemegang handphone masih belum sepopuler dan secanggih saat ini. Sebagai mahasiswa yang berkantong pas-pasan, salah satu usaha dalam pengisian pulsa adalah bagaimana menerapkan teori ekonomi “Dengan modal sekecil-kecilnya, mendapatkan laba sebesar-besarnya”. Caranya adalah mengisi pulsa dengan nominal terendah (saat itu sekitar Rp 5000 s/d Rp 10.000 ) untuk di usahakan dengan pemakaian selama-lamanya. Jadi saya mengimplementasikan teori ini dengan memfilter siapa saja yang harus saya balas SMSnya, siapa yang harus terpaksanya di telepon. Namun tidak sampai menggunakan pulsa untuk berinternet ria, karena memang waktu itu Mobile internet belum se-booming sekarang.

Read the rest of this entry

Jerat Atas Kata

Perubahan Makna Kata Dalam Bahasa IndonesiaPemahaman serta penyampaian kata dan bahasa itu sering kali tidak semudah dan sesederhana yang kita kira. Kata serta bahasa yang kita ungkapkan, kita sampaikan dan kita hantarkan kepada orang lain belum tentu sama dan sejalan dengan apa yang kita maksudkan. Bisa jadi pemahaman makna kata itu terbalik dari apa yang sesungguhnya ingin kita sampaikan. Tentu banyak faktor yang melatarbelakangi sebab-sebab kenapa kata tersebut menjadi terpelesat maknanya.

Yang paling umum adalah ketika kita melihat sebuah baliho berukuran raksasa yang berdiri tegak di pinggir-pinggir jalan raya yang memajangkan sebuah himbauan yang pastinya menurut si pembuat adalah positif, namun karena di sebabkan faktor pemahaman tata bahasa, kemampuan otak mencerap informasi, nuansa dan sudut pandang pembaca serta mungkin atas dasar keisengan kita, makna bahasa tersebut bisa tafsirkan secara berbada.

Contohnya ketika kita melihat dan membaca sebuah spanduk yang berbunyi, “Anda Memasuki Kawasan Bebas Narkoba”. Apa yang ada di benak anda melihat bahasa seperti itu? Tentu kita semua sepakat dan menyadari bahwa slogan itu bermakna sebuah ajakan yang positif untuk menjaga kawasan kita bebas dari segala jenis narkoba. Bebas di sini berarti, narkoba dalam bentuk apapun di larang untuk beredar.

Namun bagi anak kecil yang belum memiliki pemahaman makna atas kata yang dalam, bisa jadi artinya bisa lain. Bebas di sini, bisa juga di asumsikan bahwa narkoba itu bebas di edarkan atau bebas di perjualbelikan. Artinya bebas itu bisa kita tafsirkan dapat sesuka hati memperjualbelikan narkoba ataupun bebas untuk menggunakan narkoba. Read the rest of this entry

Si Pemerintah dan Manusia Pemimpin

oratorMenjadi seorang pemimpin itu sulit luar biasa. Seorang pemimpin itu adalah seorang manusia utama, bukan sekadar atasan dari sebuah institusi profesional belaka. Lebih mudah menjadi sebuah kosakata “plesetan” atau kamuflase bahasa yang telah di resmikan secara protokoler kenegaraan yaitu “Pemerintah” Yang tupoksi dasarnya memang bertugas hanya untuk melakukan perintah-perintah saja. Dan celakanya semakin lama idiom pemerintah itu kita gunakan dan kita terima begitu saja, sehingga lambat laun denotasi makna pemerintah itu merasuki jenis manusia-manusia yang menyandangnya. Yang sehingga pada akhirnya tidak ada kesanggupan lain selain manusia pemerintah itu hanya bisanya untuk memerintah.

Bila menganut pada epistemologi kata perintah, tentunya yang kita bayangkan adalah sebuah posisi yang mengharuskan kita untuk mau tidak mau yang harus di lakukan dari dari segala hal yang menggenggam kekuasaan baik manusia maupun institusi resmi kepada  segala hal atau apapun saja yang tidak memiliki bargaining power atau kalah kuasa dengan si pemberi perintah. Bila aliran itu di urutkan maka akan sampai kepada yang kita pandang bawahan, kepada orang rendahan, ataupun kepada anak buah yang berada di telapak kaki tangan jaringan struktural manajemen organisasinya di berbagai lini. Presiden memandang lebih kuasa daripada mentrinya, Kepala bagian merasa lebih superior di banding operator produksi, majikan merasa lebih tinggi daripada buruh pembantunya dlsb.

Menjadi pemerintah itu di satu sisi terkadang jauh lebih mudah dibandingkan menjadi seorang pemimpin. Si Pemerintah bisa lahir dari selembar SK, yang di landasi oleh kompetensi, profesionalisme, keterampilan organisasi, pengalaman kerja, nilai-nilai ijasahnya, sikap dan perilakunya. Namun bahkan terkadang di lumuri dengan nepotisme, suap, ataupun dengan cara menjilat kaki-kaki atasan kita untuk mendapatkannya. Read the rest of this entry