Fasilitator Kehidupan

Oleh : N. Gilang Prayoga

Tidak ada pekerjaan di dunia ini yang melebihi mulianya jabatan Fasilitator. Tidak ada pilihan jabatan yang paling istimewa selain menyandang jabatan sebagai Fasilitator. Tidak satupun peran dan tugas yang mengungguli peran tugas Fasilitator. Tidak ada tupoksi yang setinggi derajatnya selain tupoksi Fasilitator. Fasilitator adalah bagaimana menjadi oli pelumas dari roda perubahan zaman. Fasilitator adalah cincin yang menyatukan dua hati dan kepala manusia untuk menjadi sepaham dan sejalan.  Fasilitator adalah cair dan bukan sebuah padatan.

Secara epistimologi kata, istilah Fasilitator dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ialah “orang yang menyediakan fasilitas”. Definisi fasilitas tentunya tidak hanya sekadar penyediaan kebutuhan ataupun penyediaan barang dan pelayanan jasa semata, namun juga harus lebih tinggi dari itu. Menyediakan fasilitas untuk outputnya adalah membantu meringankan kehidupan orang lain. Dan itu tentunya sangat sejalan dengan ideologi agama manapun.

Dalam semua lini kehidupan kita tidak lepas dengan peran-peran Fasilitator. Fasilitator dapat berwujud Pemerintah, LSM, Ulama, Ustadz, Tukang Becak, Pengamen, Sastrawan, Penulis, Pekerja-pekerja kantoran maupun para gelandangan dan pengangguran. Semua itu mempunyai porsi, peran dan fungsi masing-masing dalam lingkup menjadi Fasilitator. Siapapun Anda, Anda adalah seorang Fasilitator. Apapun jabatan yang anda sandang baik formal maupun non-formal, anda adalah Fasilitator. Seorang agen perubah zaman ke arah kehidupan yang lebih baik. Istilah dalam agama adalah Anda seorang Khalifatullah. Pemegang mandat Allah untuk mengelola bumi dan alam untuk menjadikan Rahmatan lillalamin. Fasilitator adalah seorang katalisator penggerak perubahan. Seorang Agent Culture of Change.

Jabatan Fasilitator itu telah di sandang semua oleh Nabi-Rasul Allah, para Waliyullah, para pemimpin besar dunia, para inventor teknologi dan bermacam-macam.  Dan alangkah bangga dan besar hati kita, pabila kita juga dapat menyandang gelar sebagai seorang fasilitator.

Dalam skala mikro, dapat kita zoom in tentang peran Fasilitator ini di masing-masing level pekerjaan kita. Kita mendaftari diri kita seberapa besar potensi kita sebagai Fasilitator. Seberapa besar komitmen ke-Fasilitatoran kita. Kita lakukan analisa mendalam tentang keakuratan dan kemampuan nilai Fasilitator kita. Dan perlu kita hitung juga, kita mampukah memfasilitasi ke arah kebaikan dan kemaslahatan masyarakat ataukah malah memfasilitasi ke arah kemudharatan dan

**

Dengan berkembangnya dinamika kehidupan, maka definisi Fasilitator di jadikan sebuah ekslusivitas jabatan pekerjaan. Yang nuansa, lingkup tugas dan segala yang mengelilinginya adalah tentang peningkatan taraf hidup masyarakat melalui fungsi pemberdayaan. Fasilitator beralih fungsi menjadi sebuah profesi. Meskipun belum di akui oleh Pemerintah Republik Indonesia. Karena tugas fasilitator selama ini hanya diemban dalam sebuah jangka periode program selama 1 tahun anggaran.

Namun dalam perkembangannya, sejak program penanggulangan kemiskinan di galakkan di negara ini, Fasiitator tumbuh secara sangat signifikan. Baik secara kaulitas maupun kuantitas. Proses percepatan penanggulangan kemiskinan yang di programkan pemerintah Indonesia, membutuhkan jiwa Fasilitator untuk menjadi penggerak utama poros perubahan Indonesia.

Dengan itu, fasilitator haruslah bukan hanya orang yang cakap dan ahli saja dalam bidang tertentu, namun juga memiliki kemampuan yang jangkep dari persoalan kemasyarakatan, hal teknis administratif, kemampuan sebagai pencari solusi masalah masyarakat, sampai hal-hal yang kecil yang di perlukan masyarakat. Kalau istilah dalam negara ada Guru Bangsa, maka para fasilitator adalah Gurunya Perubahan dan Guru Peradaban.

Tentu seorang Fasilitator yang telah di amanati untuk mengemban tugas suci yang sangat berat itu harusnya akan berlaku dan bersikap sesuai dengan identitas dasar seorang fasilitator pemberdayaan dan bukan malah muncul menggunakan wajah proyek.

Proyek selalu di asosiasikan dengan pembangunan infrastuktur. Di wilayah-wilayah perdesaan semua di sulap menjadi beton. Hingga bila keadaan ini berlangsung secara terus-menerus akan menciptakan kondisi masyarakat yang berhati beton. Berwatak keras, kaku, kolokan dan  bersifat fisik/jasmani, serta faktor jasad/luaran.

Sedang pemberdayaan berada di dalam ranah rohani. Pemberdayaan itu rumahnya adalah hati. Dia bersifat tanah. Yang meskipun lembek namun menyimpan kesuburan bila di olah untuk kehidupan.

Fasilitator kehidupan adalah yang di tangan tangan kanannya memegang beton untuk perbaikan infrastruktur pembangungan, dan di sisi tangan kiri menggenggam air sejuk pemberdayaan.

Ia tidak boleh terlalu ke kanan, ataupun lebih condong ke kiri. Dia bukan penganut ideologi utara-selatan. Mereka bukan hanya pendekar intelektual namun juga adalah pejalan spiritual. Dia bukan hanya ahli teori namun juga ahli dalam memberi contoh yang baik. Dia tidak bersikap kaku dan otoriter namun juga bukan seorang yang lembek dan lemah. Dia tidak menjadi besi namun juga tidak bersikap seperti kapas. Dia bukan bertindak keras namun punya sikap untuk dapat tegas. Kalau dalam bahasa hadis nabi adalah sebaik-baik urusan adalah yang di tengah-tengah.

Dan semua itu juga belum mencukupi. Apabila tidak bisa kita terapkan mulai dari diri kita sendiri.

Bobotsari, 04 April 2013.

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 4 April 2013, in News and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: