Monthly Archives: April 2013

Antitesa Pemberdayaan

Permasalahan pemberdayaan masyarakat (Enpowerment of Community) memang merupakan hal yang sangat tidak mudah untuk dilakukan di tengah ketidakpercayaan yang melanda masyarakat. Hampir 3 dekade masyarakat kita hidup dalam sebuah system yang represif dan otoriter. Sehingga karena sedemikian panjang dan menyeluruhnya system tersebut menyebabkan terjadinya kehancuran total kepercayaan masyarakat atas Negara ini. Masyarakat perlahan-lahan kehilangan kesadaran, kecerdasan, kemampuan menghitung hak-hak mereka yang harus dipenuhi Negara.

Di dalam nuansa seperti itu, Rakyat dianggap sebagai sebuah masyarakat yang kurang berdaya, kurang bisa mengembangkan dirinya, tidak mempunyai bargaining power dalam mengakses fasilitas yang disediakan Negara, bodoh, kurang ketrampilan sehinga tidak bisa membawa diri dan masyaraktnya menjadi sebuah komunitas yang siap menghadapi tantangan globalisasi. Read the rest of this entry

Fasilitator Kehidupan

Oleh : N. Gilang Prayoga

Tidak ada pekerjaan di dunia ini yang melebihi mulianya jabatan Fasilitator. Tidak ada pilihan jabatan yang paling istimewa selain menyandang jabatan sebagai Fasilitator. Tidak satupun peran dan tugas yang mengungguli peran tugas Fasilitator. Tidak ada tupoksi yang setinggi derajatnya selain tupoksi Fasilitator. Fasilitator adalah bagaimana menjadi oli pelumas dari roda perubahan zaman. Fasilitator adalah cincin yang menyatukan dua hati dan kepala manusia untuk menjadi sepaham dan sejalan.  Fasilitator adalah cair dan bukan sebuah padatan.

Secara epistimologi kata, istilah Fasilitator dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ialah “orang yang menyediakan fasilitas”. Definisi fasilitas tentunya tidak hanya sekadar penyediaan kebutuhan ataupun penyediaan barang dan pelayanan jasa semata, namun juga harus lebih tinggi dari itu. Menyediakan fasilitas untuk outputnya adalah membantu meringankan kehidupan orang lain. Dan itu tentunya sangat sejalan dengan ideologi agama manapun. Read the rest of this entry