Antara Manusia Presiden dan Manusia Kuli !!

Kenapa ada dalam dunia sesuatu yang secara lahiriah terlihat sama, seragam, sejenis namun secara kasat mata, esensi, eksistensi, dan apapun saja bisa sangat jauh berbeda dan bahkan berbanding terbalik. Apakah ada rumus-rumus, indikator-indikator baku ataupun kategori yang membedakan dan menegaskan kesenjangan antara hal, benda, orang, manusia, kejadian atau apapun dengan yang lain. Meskipun setiap instrumen mempunyai suatu penilaian yang berbeda pula. Tergantung persepi dari masing-masing kita-kita. Baik itu persepsi dengan menggunakan mata pandang dunia ataupun mata pandang akhirat atau keilahian. Namun bila di bandingkan secara material dengan rumus kebendaan duniawi saja, hal tersebut akan terlihat beda yang sangat tegas.

Bila kita menulis, membaca buku, majalah, koran-koran selalu terbit pertannyaan:  kenapa ada tulisan, esai, cerpen, puisi, artikel dan bermacam lain bisa di sangat di hargai dengan mahal namun sebaliknya ada juga tulisan yang di buat namun tidak menimbulkan kesan apa-apa dan seakan menjadi tidak bernilai secara materiil. Ada tulisan yang hanya beberapa terdiri dari beberapa paragraf bisa terbayar sampai satu-5 juta rupiah atau bahkan lebih namun ada juga yang tidak laku serupiahpun.

Mungkin kita bisa menjawabnya dari berbagai konteks. Jawabannya bisa di karenakan tentang muatan inspirasi dari tulisan terebut, dari gaya bahasa yang di gunakan, tentang sudut pandang penulis, tentang kejernihan dan keluasan ilmu pengetahuan, atau tentang latar belakang jabatan yang penulis sandang.

Atau mungkin kita juga pernah melihat tentang produk makanan kita. Ada warung yang menyediakan makanan yang sejenis, bahan-bahannya sama namun hasil akhir penilaian para konsumen warung tersebut bisa tidak sama. Yang mengakibatkan satu warung menjadi sangat laris dan warung yang lain bisa hampir kolaps karena makanan yang di sajikan tidak memenuhi selera pembelu.

Kita juga dapat menjawab, bahwa itu tergantung dari rasa, aroma, suasana, pelayanan, tempat, dan bermacam-macam lainnya.

Namun mungkin kita sepakat bahwa garis tegas yang memisahkan antara satu dan yang lain adalah tentang kualitas. Dan kualitas tidak melulu harus berbanding lurus dengan kuantitas. Satu dokumen semacam Sprindik KPK bisa sangat berharga beratus-ratus kali lipat dari kertas usang di meja anda.

Anda bisa mendaftari beribu-ribu macam yang lain dalam kehidupan kita tentang situasi disparitas yang njomplang antar satu dengan yang lain. Dan itu tidak mesti hanya dalam hal material belaka, namun bisa mencakup segala hal yang tak kasat mata sekalipun.

Begitupun dengan kita sebagai manusia. Punya alat-alat indrawi yang sama, namun setelah di pertandingkan bisa sangat berbeda-beda. Ada yang bisa menjadi presiden, pejabat, pedagang, sarjana, dan bahkan ada yang bernasib sebaliknya dengan menjadi kuli bangunan, serabutan atau bahkan pengangguran. Padahal semua manusia juga sama-sama makan nasi 2-3 kali sehari. Entah kalau ada yang lebih. []

Gilang Prayoga

Bobotsari, 19 Maret 2013

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 22 March 2013, in Kolom Esai. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: