Brambang-Bawang Nasional

uploads--1--2013--03--33195-bawang-merah-inilah-penyebab-naiknya-hargaMungkin banyak benarnya kata orang tua bijak kita yang sering mewanti-wanti kepada kita bahwa jangan pernah menyepelekan masalah yang terlihat kecil dan sederhana, karena bila tidak di tangani dengan serius akan mengakibatkan masalah menjadi besar dan rumit.

Tak usah jauh-jauh ambil contoh. Bahkan hanya sekadar komoditas Brambang (Bawang Merah) – Bawang (Bawang Putih) saja bisa menjadi isu nasional karena harganya bisa lompat galah naik 270 persen dari harga pasar yang sebelumnya.

Padahal bila kita jujur, saat kita menikmati santapan kuliner yang menggoyang lidah itu, apakah kita ingat tentang Brambang-Bawang itu. Berapa persen rasa syukur kita terhadap para petani Brambang-Bawang? Bahkan bila kita kembangkan jauh lagi, apakah kita akan juga ingat dan meresapi konstelasi harga bawang dan kaitannya dengan bisnis Impor di negara ini? Dan kita juga tidak akan pernah bisa menemukan hubungan antara nasib petani, harga bawang dengan fungsi Parpol yang kita agung-agungkan itu.

Selama ini pemahaman dan apresiasi kita terhadap segala komoditas yang di olah dalam santapan makan kita cenderung sangat kurang (kalau tidak boleh disebut tidak sama sekali). Kita tidak pernah ingat dan selalu acuh dan cuek dengan masalah yang kecil-kecil seperti Brambang-Bawang ini. Kita terlalu sibuk mengurusi hal-hal yang kita anggap besar seperti Hambalang, Wisma Atlit, Korupsi Demokrat, Bursa Caleg ataupun persiapan untuk menuju 2014.

Melompatnya harga bawang ini dan seperti juga kenaikan harga-harga komoditas agraria yang lain seperti lombok, menunjukkan dan telah menegaskan sebuah pelecehan terhadap eksistensi sebagai negara yang di gadang-gadang sebagai Negara Agraris gemah ripah loh jinawi.

Dalam buku-buku sejarah kita, bagaimana kita selalu membanggakan akan kesuburan tanah Nusantara Indonesia, yang telah terbukti melahirkan kebudayaan yang tinggi seperti Sriwijaya dan Majapahit. Yang menjadi mercusuar dunia. Yang membuat Eropa serta bangsa-bangsa di Dunia berlomba-lomba datang ke Nusantara “hanya” untuk mendapatkan rempah-rempah.

Namun beberapa abad kemudian, kita terjun bebas dan mengalami kemunduran yang sangat serius salah satunya dalam ketahanan pangan. Kita menjadi sangat kesulitan untuk mengulang kembali dalam swasembada pangan. Ungkapan lumbung padi dunia seakan hanya menjadi slogan dan omong kosong belaka. Anak cucu kita sekarang bahkan semakin tidak percaya tentang kebesaran nenek moyang Indonesia. Bukan karena tidak mengetahui, namun karena melihat jauh api dari panggang, karena melihat njomplangnya realitas yang mereka rasakan.

Negara konon katanya telah menjadi negara modern dengan teknologi yang mutakhir ini saja bisa kewalahan hanya dengan yang namanya Bawang Putih dan Bawang Merah. Dan hal tersebut boleh di bilang yang pertama dan juga tidak boleh kita bilang akan menjadi yang terakhir. Kenaikan harga Lombok beberapa waktu yang lalu, juga sempat menjadikan para Menteri Kabinet Indonesia Bersatu ini menjadi terlihat kurang profesional. Belum lagi bila di deretkan bermacam barang, komoditas dan jenis kebutuhan yang lain semacam kebutuhan daging, telur dlsb.

Para bapak-bapak tani di dusun-dusun, di desa-desa saat ini semakin merasakan ketidakpercayaan yang kronis dalam menyandang gelar sebagai petani. Dan jangan di tanyakan kepada anak-anak muda kita soal menjadi petani. Mereka bahkan tidak memilki imaji sedikitpun tentang apa bagaimana menjadi petani.

Karena petani telah di asosiasikan dengan menjadi golongan yang marginal, dekaden, kuno dan tidak dapat memberikan penghidupan yang layak seperti jenis pekerjaan lain. Mereka lebih percaya untuk menyerahkan diri dan anak-anaknya untuk menjadi onderdil mesin dalam prabrik-prabrik besar. Mereka lebih suka menjadi TKW, TKI di negeri orang daripada membantu bapak-ibunya dalam menggarap ladang dan sawah mereka.

Padahal bila melihat tingginya jumlah pengangguran terbuka akan bisa mencapai kurang lebih 7 juta orang, yang mungkin bila di arahkan untuk menggarap sektor pertanian akan membuat pasokan berbagai komoditas itu bisa di cukupi dari dalam negeri saja. Ladang, sawah masih kita miliki meski sebagian telah di jual dan beralih fungsi menjadi perumahan ataupu pabrik-pabrik. Namun setidaknya hal tersebut masih dapat kita selamatkan dengan komitmen dari Negara ini untuk berpihak kepada para petani.

Bukan seperti selama ini, para petani seolah hanya di “kerjain”, “di jahilin” saja oleh mekanisme pasar yang negara tidak berdaya untuk membendungnya. Itulah Kapitalisme. Teori yang awal mulanya di kembangkan oleh Adam Smith, menjadi falsafah yang sampai saat ini secara diam-diam kita sepakati dan kita jalankan bersama-sama. Adam Smith percaya bahwa Negara tidak perlu ikut campur terhadap penentuan suatu harga barang dan jasa karena harga barang dan jasa terebut akan mencapai titik equilibrium dengan sendirinya menyesuaikan keadaan pasar (Invisible Hand).

Bahkan praktek-praktek makelarisasi komoditas ini telah menjadi isu global. Bila kita sungguh-sungguh mencari akan sampai kepada, distribusi pupuk yang di kuasai oleh perusahaan Multinasional dunia. Akan sampai kepada metode bercocok tanam yang di ajarkan sarjana-sarjana pertanian katanya pandai itu namun belakangan bari disadari malah menghancurkan kesuburan tanahnya. Akan sampai kepada bisnis impor negara ini yang bernilai Milyaran rupiah. Akan sampai kepada mesin politik DPR untuk membuat undang-undang impor. Akan sampai kepada konspirasi-konspirasi dunia untuk menguasai sumber daya negara ini.

Ah rumitnya. Padahal itu hanya masalah Brambang dan Bawang saja. []

Gilang Prayoga

Bobotsari, 15 Maret 2013

1.57 WIB

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 15 March 2013, in MENU BARU 1 and tagged , . Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. Seandainya jadi petani ato bercocok tanam semudah main game farmville ato harvest moon
    Seandainya mengarahkan pengangguran semudah “ngeklik” mouse di game raise of the nation….
    Hehehehehe…..

  2. Tapi kadang maen game juga perlu adanya “Cheat-Cheat” khusus, biar lebih gampang…hehehe

  3. sektor hulu (petani 7 nelayan) yang masih dikasta terendah negeri ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: