Monthly Archives: Maret 2013

Antara Manusia Presiden dan Manusia Kuli !!

Kenapa ada dalam dunia sesuatu yang secara lahiriah terlihat sama, seragam, sejenis namun secara kasat mata, esensi, eksistensi, dan apapun saja bisa sangat jauh berbeda dan bahkan berbanding terbalik. Apakah ada rumus-rumus, indikator-indikator baku ataupun kategori yang membedakan dan menegaskan kesenjangan antara hal, benda, orang, manusia, kejadian atau apapun dengan yang lain. Meskipun setiap instrumen mempunyai suatu penilaian yang berbeda pula. Tergantung persepi dari masing-masing kita-kita. Baik itu persepsi dengan menggunakan mata pandang dunia ataupun mata pandang akhirat atau keilahian. Namun bila di bandingkan secara material dengan rumus kebendaan duniawi saja, hal tersebut akan terlihat beda yang sangat tegas.

Bila kita menulis, membaca buku, majalah, koran-koran selalu terbit pertannyaan:  kenapa ada tulisan, esai, cerpen, puisi, artikel dan bermacam lain bisa di sangat di hargai dengan mahal namun sebaliknya ada juga tulisan yang di buat namun tidak menimbulkan kesan apa-apa dan seakan menjadi tidak bernilai secara materiil. Ada tulisan yang hanya beberapa terdiri dari beberapa paragraf bisa terbayar sampai satu-5 juta rupiah atau bahkan lebih namun ada juga yang tidak laku serupiahpun. Read the rest of this entry

Iklan

Brambang-Bawang Nasional

uploads--1--2013--03--33195-bawang-merah-inilah-penyebab-naiknya-hargaMungkin banyak benarnya kata orang tua bijak kita yang sering mewanti-wanti kepada kita bahwa jangan pernah menyepelekan masalah yang terlihat kecil dan sederhana, karena bila tidak di tangani dengan serius akan mengakibatkan masalah menjadi besar dan rumit.

Tak usah jauh-jauh ambil contoh. Bahkan hanya sekadar komoditas Brambang (Bawang Merah) – Bawang (Bawang Putih) saja bisa menjadi isu nasional karena harganya bisa lompat galah naik 270 persen dari harga pasar yang sebelumnya.

Padahal bila kita jujur, saat kita menikmati santapan kuliner yang menggoyang lidah itu, apakah kita ingat tentang Brambang-Bawang itu. Berapa persen rasa syukur kita terhadap para petani Brambang-Bawang? Bahkan bila kita kembangkan jauh lagi, apakah kita akan juga ingat dan meresapi konstelasi harga bawang dan kaitannya dengan bisnis Impor di negara ini? Dan kita juga tidak akan pernah bisa menemukan hubungan antara nasib petani, harga bawang dengan fungsi Parpol yang kita agung-agungkan itu.

Selama ini pemahaman dan apresiasi kita terhadap segala komoditas yang di olah dalam santapan makan kita cenderung sangat kurang (kalau tidak boleh disebut tidak sama sekali). Kita tidak pernah ingat dan selalu acuh dan cuek dengan masalah yang kecil-kecil seperti Brambang-Bawang ini. Kita terlalu sibuk mengurusi hal-hal yang kita anggap besar seperti Hambalang, Wisma Atlit, Korupsi Demokrat, Bursa Caleg ataupun persiapan untuk menuju 2014.

Melompatnya harga bawang ini dan seperti juga kenaikan harga-harga komoditas agraria yang lain seperti lombok, menunjukkan dan telah menegaskan sebuah pelecehan terhadap eksistensi sebagai negara yang di gadang-gadang sebagai Negara Agraris gemah ripah loh jinawi. Read the rest of this entry

Sebuah Tanya?

???#*&%^#^@@!)@(!

Apa yang anda ingat ketika korupsi merajalela di hampir semua elemen instansi kenegaran kita? Apa yang anda pertama pikirkan ketika martabat kenegaraan di hancurkan bukan dari dalam namun di rongrong oleh para pejabat yang kita bayar untuk menegakkan martabat? Apa yang ada dalam otak dan kepala anda ketika menyaksikan keamanan hidup kita semakin tidak ada jaminan? Bagaimana reaksi hati anda ketika menyaksikan ketimpangan yang sudah menjadi Njomplang antara buruh pemerintah dan juragan rakyat? Bagaimana langkah nurani anda melihat ketidakadilan pengadilan, pelecehan harkat manusiaan, kerendahan moral dan etika berbangsa?

Tidak hanya sampai di situ. Kita masih akan di hadapkan dengan ratusan problematika yang menjadi air bah pertanyaan yang berputar dan menggulung-gulung sarap otak kita. Kita masih sanggup mendaftari ribuan kerusakan dan kebobrokan kehidupan kita. Kita masih punya jutaan pertanyaan tentang bagaimana seharusnya yang bernama kehidupan itu.

Kita telah sampai pada zaman, dimana kebusukan tidak dianggap kebusukan. Zaman dimana kekerdilan di anggap kebanggaan. Keangkuhan sebagai alat untuk melakukan penindasan. Kesombongan sebagai komoditas untuk mendiskriminasikan dan meniadakan yang lain. Titik kulminasi kejahilian terulang kembali.

Kita sudah tidak kagum lagi dengan kerendah hatian. Kita sudah tidak merasa malu lagi dengan kenistaan. Kita tidak terpesona dengan dignity kepribadian.  Bahkan kita diam-diam telah sanggup meremehkan keajaiban Tuhan dalam pengelolaan Alam Semesta.

Akan kemana akan engkau bawa pertanyaan-pertanyaan itu. Akan sampai dimana kegelisahan yang menggeliat di hatimu dapat engkau redamkan. Ataukah engkau juga telah diam-diam memiliki naluri kekebalan tentang kegelisahan itu. Namun aku doakan kita semua tidak lantas dianugerahi kebebalan melihat kebobrokan.

Sanggupkah kita setelah ini bersikap dan berlaku menjadi khalifah kehidupan? Seperti apa yang telah di mandatkan dari Tuhan? Ataukah jangan-jangan sudah kita lupakan? Karena memang Tuhan tidak pernah selalu kita libatkan dalam kehidupan.

Sanggupkah kita bertahan menjadi cacing kecil yang tidak punya daya di antara ribuan gurita-gurita pemangsa? Beranikah kita menjadi tidak ikut seperti mereka? Kuatkah kita menghadapi serigala-serigala pemangsa sementara kita tidak punya faslitas apa-apa? Tidak mustahilkah kalau kita malah akan tercaplok zombie keserakahan seperti mereka dan kita akan menjadi zombie yang melebihi ke-zombie-an mereka?

Kekuatan apa yang engkau genggam untuk melawan?! Ataukah hanya engkau pasrahkan kehormatan bangsa ini untuk di rongrong rombongan monyet-monyet rakus.

Akan bersandar kemanakah idealisme dan perjuangan kita pada akhirnya?!

**

Gilang Prayoga

Bobotsari, 10 Maret 2013