Kisah Musa dan Anas Sebagai Cermin Indonesia Kita Sekarang

Tentunya anda semua pasti sudah mendengar tentang kisah Nabi Musa yang legendaris saat menentang serta merobohkan kekuasaan dari rezim Raja Firaun dan membawa Bani Israel keluar dari negeri Mesir menuju tanah yang di perjanjikan oleh Tuhan.

Tuhan mengajarkan manusia selain dari tanda-tandaNya yang tersebar di alam semesta, juga mengajarkan kepada kita tentang sejarah peradaban. Bila anda membaca al-Quran maka sering anda akan menemukan cara Tuhan untuk mendorong berpikir manusia dengan melihat kembali dari kisah-kisah yang dahulu. Kisah-kisah itu tentunya sebagai pengingat kita agar kita tidak mengulanginya kembali.

Namun manusia memang makhluk Tuhan yang paling Bandel. Bebal luar biasa. Meskipun dia makhluk masterpicenya Tuhan, sebaik-baiknya makhluk Tuhan karena seluruh unsur-unsur alam semesta ini terkandung dalam manusia, tinggal hanya anda menangkap dengan radar anda atau tidak. Namun Tuhan juga peringatkan bahwa manusia yang sangat Tuhan kasihi itu sangat memungkinkan turun derajatnya menjadi seperti hewan dan bahkan lebih rendah dari itu. Yaitu salah satunya, orang-orang yang tidak pernah belajar dari kisah masa lalu.

Jangan anda kira bahwa sejarah itu hanya untuk di ingat dan di catat saja untuk mengisi rak kosong perpustakaan kita. Namun gejalanya itu selalu akan terus berulang di semua kehidupan manusial. Entah itu untuk skala negara, skala individual, organisasi, pekerjaan ataupun sosial budaya lain.

Kisah yang mengandung hikmah ini seakan akan terulang kembali dan menyadarkan kita pabila kita melihat wajah politik kita saat ini. Tentang konspirasi luar biasa yang mengelilingi kita di antara konspirasi-konspirasi global yang lain.

Kasus Anas Urbaningrum yang di jadikan tersangka oleh KPK dengan sangat kontroversial itu, mengundang berbagai kejanggalan dan pertanyaan publik. Bahkan ada yang mengatakan ini adalah kriminalisasi untuk menjatuhkan Anas untuk menutupi borok kekuasaan yang sesungguhnya.  

Anas sering mengatakan bahwa dirinya adalah “Bayi yang tidak di harapkan lahir”. Persis seperti Musa yang juga tidak pernah di harapkan kelahirannya oleh Firaun.

Firaun merupakan raja diraja itu, syahdan pernah bermimpi bahwa tampuk kekuasaannya akan di gulingkan oleh anak laki-laki yang dilahirkan di wilayah kerajaannya. Maka Firaun yang tidak mau terancam dengan hal tersebut, mengeluarkan perintah untuk membunuh semua bayi laki-laki yang lahir.

Namun Firaun bukan Tuhan, dan dia tidak bisa sama sekali menghalangi takdir Tuhan. Anak manusia yang bernama Musa itupun lahir dari sebuah keluarga yang sederhana, yang bapak ibunya tidak tega untuk membunuhnya dan memilih untuk menghanyutkan bayinya ke Sungai Nil. Dan bukan kebetulan, atau dapat di bilang sebuah “kebenaran” garis Tuhan, bayi itupun akhirnya diketemukan oleh permaisuri Raja Firaun.

Melihat kemolekan dan ketampanan sang bayi itu, sang permaisuri itu membawa Musa kecil ke Istana untuk di rawat. Meski sang Firaun pertama kali tidak menyetujuinya, namun dengan desakan dan dorongan dari istrinya itu, maka Firaun tak kuasa menolak. Toh, dia berpikir anak laki-laki itu masih akan tumbuh dalam lingkungan Istananya, sehingga dia masih bisa untuk mengawasinya.

Dan, mimpi Firaun yang dulu perlahan menjadi kenyataan. Musa yang di didiknya ternyata telah “membunuh” seorang Mesir, sehingga Firaun murka dan mengusir Musa keluar dari Mesir.

Kisah ini kita tahan dahulu sampai disini. Anda tentu sudah menebak kisah selanjutnya. Namun kita kembali dahulu melihat kasus Anas yang sekarang ini.

Kalau anda mempelajari data, fakta dan menganalisis apa yang menjadi konstelasi politik nasional kita, Anda tentu dengan cerdas dapat menangkap gejala-gejala kisah Musa ini dalam kasus anas.

Tentang bayi lahir yang tidak di harapkan, tentang Musa yang diketemukan oleh Istri Firaun dan di didik di lingkungan istana. Tentang Musa yang “membunuh” orang dari golongan Mesir. Dan sampai yang terakhir adalah, Musa di usir keluar dari tanah Mesir.

Siapakah Musa yang tidak diharapkan lahirnya itu, siapakah Firaun yang memerintahkan untuk membunu semua bayi laki-laki di Mesir untuk melanggengkan hegemoni kekuasannya, Siapakan permaisuri Firaun itu yang menemukan bayi Musa itu, dan apakah tanah Mesir itu? Sangat gamblang bahkan tanpa perlu saya menyebutkannya.

***

Wajah politik kita saat ini telah memperlihatkan tanda-tanda zaman musa yang akan di pentaskan kembali oleh Tuhan, sebagai pembelajaran bersama Bangsa Indonesia.

Partai Demokrat yang begitu jumawa dan angkuh di singgasana pemilu 2009, sekarang tampak bocor dan hampir tenggelam. Ketua Dewan Pembina merasa kelabakan dan mengambil alih kendali partai dari tangan Anas Urbaningrum dengan dalih penyelamatan partai. Bayi yang tidak di harapkan lahir dari Kongres di Bandung itu ternyata di tuduhkan menjadi kerikil tajam dalam tubuh Demokrat yang harus di singkirkan. Anas Urbaningrum menjadi kambinghitam sebagai penyebab buruknya citra Demokrat dengan tuduhan Korupsi Proyek Hambalang dan menerima suap mobil Harrier yang seharga 670 Juta.

Tuduhan-tuduhan itu telah bergulir semenjak 2 tahun yang lalu, ketika kasus hambalang terungkap ke publik. Terdakwa korupsi hambalang, M. Nazarudin terus bernyanyi bahwa Anas adalah dalang di balik Hambalang. Namun selama itu, KPK belum juga bergerak untuk menjerat anas. Sehingga pada detik-detik terahkir dan seakan di paksanakan anas di jadikan tersangka. Kenapa di paksakan, karena menurut beberapa sumber bahwa belum cukup bukti bahwa Anas terlibat dalam Hambalang.  KPK di sorot menjadi tangan panjang kekuasaan, untuk di pinjam tangannya.

Bahkan beredar kabar bahwa penetapan Anas sebagai tersangka yang dimulai dari bocornya Sprindik sampai penetapannya itu belum mempunyai cukup bukti yang kuat. Sehingga pantaslah tidak semua pimpinan KPK tidak menyetujuinya. Busro Muqoddas salah satu pimpinan KPK yang tidak bersedia menanda tangani Sprindik untuk Anas.

Ini suatu keajaiban luar biasa dari sebuah wajah peradilan kita. Di Indonesia ini anda akan di tangkap dan di jebloskan ke penjara bukan karena anda bersalah, namun ada tangan-tangan yang tidak tampak atau invisible hands kekuasaan yang tidak suka dengan kelakuan anda yang menjadi penghalangnya.

Sekarang akan kita tunggu, bagaimana Anas akan membuka halaman berikutnya dari kisah ini. Akan sampaikah ia kepada hambalang, kepada dinasti kekuasaan, kepada politik para sengkuni dan bahkan sampai kepada kasus mega Skandal Bank Century.

Mampukah anas menjadi seperti Musa yang membawa “tongkat saktinya” untuk membelah lautan politik Indonesia ini, dan membawa umatnya “keluar menuju tanah yang di perjanjikan” dan menenggelamkan Firaun dan bala tentaranya di samudra perpolitikan Indoneisa. Akhir drama ini kita akan tunggu bersama.

Gilang Prayoga

Bobotsari, 28 Februari 2012

04.26 WIB

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 28 February 2013, in MENU BARU 1 and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: