Menulis itu Adalah Menulis

menulis3Datang sebuah pertanyaan kepada saya di suatu waktu. Apakah kelak saya akan menerbitkan tulisan-tulisan saya? mengingat kuantitas tulisan yang telah saya share di blog pribadi saya telah cukup untuk sekadar di monumentalkan dalam sebuah buku.

Pertanyaan ini agak sulit saya jawab. Karena secara pribadi saat ini saya belum terpikirkan dan “belum bernafsu” untuk mengarah kesana. Meskipun juga tidak menutup adanya kemungkinan itu. Belum terpikirkan dan “belum bernafsu” itu, karena saya selama ini telah mengambil jarak yang realitis dari kemampuan menulis saya dengan perusahaan-perusahaan penerbit yang akan menerbitkan tulisan-tulisan itu. Jarak itu berupa kualitas tulisan saya yang masih amburadul, tata bahasa yang belum mendukung EYD, bukan merupakan tulisan yang hangat sesuai dengan topik-topik terpanas saat ini ataupun jarak-jarak yang lain.

Hanya kita boleh berpendapat, bahwa saya selama ini menulis adalah dengan niat menulis. Menulis apa pun saja yang anggap saya perlu tulis. Utamanya pun bukan untuk orang lain, namun minimal bagi saya sendiri. Syukur-syukur kalau orang lain dapat juga mengambil manfaatnya juga.

Hal tersebut tentunya akan banyak di caci oleh para pakar kepenulisan. Karena bila ingin menjadi penulis profesional, tentunya harus  mempunyai arah dalam menulis. Bagaimana membangun tema, bagaimana menciptakan karakter tokoh dalam tulisan kita, bagaimana alur tulisan kita, apa jenis tulisan kita, kepada segmen apa tulisan kita menyasar, dlsb. Juga di tambah dengan tips yang lain. Dengan menambahi bumbu melodramatik dalam tulisan, sensasional dan tentunya “hangat”.

Karena dari itulah saya menyadari kelemahan dan kekurangan saya. Saya masih sangat jauh untuk di katakan sebagai penulis. Apalagi meniti karir di bidang kepenulisan. Prestasi maksimal saya hanyalah menulis di blog, di sosial media, atau paling pol kadang mejeng di kompasiana atau portal yang lain. Meskipun  juga tidak pernah saya arahkan untuk harus mengikuti arus trend yang ada. Penghargaan yang saya terima adalah frekuensi pembaca terhadap tulisan-tulisan saya, yang tetntunya juga “tidak seberapa”.

Namun hal itu, tidak menyurutkan saya untuk menulis. Saya berprinsip menulis adalah sebuah kejujuran. Sehingga saya memang tidak mau “latah” untuk tidak selalu ikut menuliskan hal-hal yang sensasional, isu-isu mutakhir, tulisan yang mengarah kepada domain kontroversial maupun konspirasi ataupun yang lain. Meskipun tidak saya sebutkan bahwa saya tidak menulis tema-tema seperti itu. Hanya memang waktu, nuansa, momentum, genre tulisan saya biarkan mengalir mengikuti kehendak hati dan bukan sekadar mencari sensasi. Saya hanya mengambil posisi melawan arus, karena saya berusaha menulis dengan perspektif yang berbeda dari apa yang telah di tulis oleh penulis yang lain.

Bahkan apabila kita baca tulisan-tulisan feature, artikel-artikel di portal berita online, sangat terlihat kematangan jurnalis mewartakan berita melalui tulisannya. Dengan menggunakan judul yang bombastis dan sensasional sehingga menarik pembaca untuk mampir membacarnya. Tidak perduli juga, apakah tulisan itu bernas tidak. Bahkan kadang juga tulisannya berupa hasil copy paste dari berita sebelumnya yang telah di edit namun intinya juga sama saja. Sehingga ideologinya adalah bukan memberikan informasi yang bermanfaat bagi pembacanya namun sudah menjadi ideologi pasar. Ideologi laku atau tidak laku. Karena memang tidak di pungkiri, bahwa bidang ini juga merupakan konsorsium bisnis yang perputaran uangnya sangat luar biasa besar.

Namun memang itulah wajah pers kita. Dan itu di tambah dengan kemajuan teknologi informasi saat ini bahwa masyarakat kita tidak cukup kuat untuk membaca sebuah tulisan yang panjang. Energi kita sudah habi. Sehingga kita cenderung malah lebih suka tulisan-tulisan yang pendek dan tidak bertela-tele. Meskipun kedalaman tulisan dan kenikmatan dalam mencerap pengetahuan tidak kita dapatkan.

Kita sudah tidak bisa menikmati sebuah karya tulisan yang menggigit, yang heroik, yang menggetarkan hari kita. Kita lebih senang menikmati “berita luaran saja”. Kita lebih peduli pada kulitnya, namun tidak mau tahu apa isi dagingnya.

Kembali  ke pertanyaan awal kita. Jadi apakah saya akan ikut dalam kompetisi tersebut? Tentu saya akan menulis. Untuk akan di terbitkan menjadi sebuah buku atu tidak, semuanya akan mengalir saja. Saya juga belum pernah menyodorkan tulisan-tulisan saya ke media atau surat kabar. Paling pol hanya di media lokal yang mau memuat. Dan mana pula ada media atau penerbit yang “gila” yang mau ikut memuat tulisan yang tidak berkualitas seperti tulisan seperti ini yang tidak mempunyai nilai jual sama sekali.

Meskipun saat ini telah banyak layanan penerbitan buku secara independen dengan tawaran paket yang beragam dan sangat menarik. Atau layanan yang sangat amat mendukung dan memudahkan kita untuk membukukan tulisan-tulisan kita, Tapi kok rasanya saya masih saja inferior. Mungkin saat ini belum menjadi momentum yang tepat saja. Karena saya belum melihat dari internal dan eksternal suatu urgensi yang mendesak bahwa tulisan-tulisan itu harus segera di bukukan. Entah suatu masa yang akan datang.

Namun saat ini, bagi saya menulis itu adalah menulis. Tujuan utamanya adalah untuk menulis dan bukan untuk menjadi penulis. Menulis bukan untuk di arahkan untuk kepentingan ekonomi ataupun karir semata, namun bagi saya harus beridelogi lebih dari sekadar kepentingan tertentu saja. Sebagai wahana interaksi sosial, sebagai penyumbang ide dan gagasan, sebagai sarana komunikasi dan apapun saja sepanjang memiliki nilai yang bermanfaat. Kalau ada nilai ekonomi, sosial, politik, budaya dari sana itu hanya efek saja dan bukan yang utama.

By the way, tidak tahu akan bermuara kemana tulisan-tulisan itu. Saya serahkan nasibnya seperti saya serahkan diri saya padaNya.

Gilang Prayoga

Bobotsari, 9 Februari 2013

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 9 February 2013, in MENU BARU 1. Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. kemana pun muara nya,
    tetapla menuls d blog ini (harapan saya)

  2. Gilang Prayoga

    Terima kasih….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: