Monthly Archives: February 2013

Kisah Musa dan Anas Sebagai Cermin Indonesia Kita Sekarang

Tentunya anda semua pasti sudah mendengar tentang kisah Nabi Musa yang legendaris saat menentang serta merobohkan kekuasaan dari rezim Raja Firaun dan membawa Bani Israel keluar dari negeri Mesir menuju tanah yang di perjanjikan oleh Tuhan.

Tuhan mengajarkan manusia selain dari tanda-tandaNya yang tersebar di alam semesta, juga mengajarkan kepada kita tentang sejarah peradaban. Bila anda membaca al-Quran maka sering anda akan menemukan cara Tuhan untuk mendorong berpikir manusia dengan melihat kembali dari kisah-kisah yang dahulu. Kisah-kisah itu tentunya sebagai pengingat kita agar kita tidak mengulanginya kembali.

Namun manusia memang makhluk Tuhan yang paling Bandel. Bebal luar biasa. Meskipun dia makhluk masterpicenya Tuhan, sebaik-baiknya makhluk Tuhan karena seluruh unsur-unsur alam semesta ini terkandung dalam manusia, tinggal hanya anda menangkap dengan radar anda atau tidak. Namun Tuhan juga peringatkan bahwa manusia yang sangat Tuhan kasihi itu sangat memungkinkan turun derajatnya menjadi seperti hewan dan bahkan lebih rendah dari itu. Yaitu salah satunya, orang-orang yang tidak pernah belajar dari kisah masa lalu.

Jangan anda kira bahwa sejarah itu hanya untuk di ingat dan di catat saja untuk mengisi rak kosong perpustakaan kita. Namun gejalanya itu selalu akan terus berulang di semua kehidupan manusial. Entah itu untuk skala negara, skala individual, organisasi, pekerjaan ataupun sosial budaya lain.

Kisah yang mengandung hikmah ini seakan akan terulang kembali dan menyadarkan kita pabila kita melihat wajah politik kita saat ini. Tentang konspirasi luar biasa yang mengelilingi kita di antara konspirasi-konspirasi global yang lain.

Kasus Anas Urbaningrum yang di jadikan tersangka oleh KPK dengan sangat kontroversial itu, mengundang berbagai kejanggalan dan pertanyaan publik. Bahkan ada yang mengatakan ini adalah kriminalisasi untuk menjatuhkan Anas untuk menutupi borok kekuasaan yang sesungguhnya.   Read the rest of this entry

Menulis itu Adalah Menulis

menulis3Datang sebuah pertanyaan kepada saya di suatu waktu. Apakah kelak saya akan menerbitkan tulisan-tulisan saya? mengingat kuantitas tulisan yang telah saya share di blog pribadi saya telah cukup untuk sekadar di monumentalkan dalam sebuah buku.

Pertanyaan ini agak sulit saya jawab. Karena secara pribadi saat ini saya belum terpikirkan dan “belum bernafsu” untuk mengarah kesana. Meskipun juga tidak menutup adanya kemungkinan itu. Belum terpikirkan dan “belum bernafsu” itu, karena saya selama ini telah mengambil jarak yang realitis dari kemampuan menulis saya dengan perusahaan-perusahaan penerbit yang akan menerbitkan tulisan-tulisan itu. Jarak itu berupa kualitas tulisan saya yang masih amburadul, tata bahasa yang belum mendukung EYD, bukan merupakan tulisan yang hangat sesuai dengan topik-topik terpanas saat ini ataupun jarak-jarak yang lain.

Hanya kita boleh berpendapat, bahwa saya selama ini menulis adalah dengan niat menulis. Menulis apa pun saja yang anggap saya perlu tulis. Utamanya pun bukan untuk orang lain, namun minimal bagi saya sendiri. Syukur-syukur kalau orang lain dapat juga mengambil manfaatnya juga. Read the rest of this entry

Terhukum oleh keabadian.

Adam melihat sebutir obat merah ditangannya, dan imaginasinya berjalan mundur 800 tahun lalu, dimana dia menemukan obat ajaib yang bisa membuat dia tidak bisa menjadi tua dan mati, “obat keabadian”. Adam sudah menikmati hidup abadi, dia tampak berumur 35 tahun, tampan, dan abadi. Sudah 800 tahun kehidupan seperti ini dijalaninya.

Dulu, dia berupaya mati2an mencari obat keabadian, dan ketika berhasil menemukan satu pil ajaib itu, dia begitu senang dan merasa akan menjadi manusia bahagia paling sempurna. 100 tahun pertama dia menikmati dirinya, menjadi muda abadi. Lewat usia 100 tahun semua temannya sudah meniggal, begitu juga family dan orang2 yang dikenalnya. Lewat 150 tahun mulailah terjadi kebosanan. Adam menikah 35 kali dan sudah menikahi semua type wanita, tidak ada lagi kenikmatan yang bisa dirasakan. Wanita cantik yang dinikahinya menjadi tua, dan mati. Makanan enak, tempat manapun didunia, pacar model apapun, sudah tidak lagi menarik baginya. Bosan, bosan, bosan.

Lewat 300 tahun hidup, dia tidak sanggup lagi meneruskan hidupnya, tapi, dia tidak tahu bagaimana caranya bisa mati, apapun yang dilakukannya dia tetap hidup. Bunuh diri cara apapun tidak membuatnya mati. Sampai 500 tahun, Adam tidak tahan lagi, dan mulai mencari obat untuk membuat dia bisa meninggal. Pencarian panjang yang melelahkan, sementara dia melihat perubahan umat manusia, perubahan teknologi, perubahan masyarakat, dan harus hidup terus.

Sekarang, ditangannya ada pil yang bisa membuat dia tidak lagi menjadi abadi, obat yang membuat Adam menjadi manusia biasa lagi, dan mungkin hidupnya hanya akan tersisa beberapa bulan saja, atau bahkan mungkin akan langsung mati. Adam tidak perduli, kematian jadi satu hal yang menarik dan bukan sebuah ketakutan lagi. Dia tersenyum, dan ditelannya pil merah itu.

—-

Kita belajar menghargai waktu, karena kita tidak memiliki keabadian. Kita belajar menghargai kebersamaan dengan sahabat, karena besok dia pulang ke kotanya sendiri. Kita menikmati makan enak ini, karena jarang memakannya. Kita hemat karena kita tahu uang kita terbatas. Kita lebih menyayangi seseorang, karena kita tahu waktu kita bersamanya sangat terbatas.

Keterbatasan membuat kita lebih menghargai seseorang, lebih menikmati makanan enak, mau bekerja lebih keras, berjuang lebih hebat. Ilusi bahwa keabadian itu membahagiakan adalah salah, keabadian membuat kita malas, seenaknya dan sengsara. Kita lebih menghargai sesuatu karena adanya keterbatasan kita. Kita lebih mencintai seseorang, karena tahu bahwa kita tidak abadi, dan waktu kita terbatas sekali. Bersyukurlah bahwa hidup kita terbatas.

*Tanadi Santoso

sumber :