Berubah? Why Not?

Awal tahun seperti saat ini, sebagai seorang konsultan sebuah program permberdayaan masyarakat merupakan sebuah momentum awal untuk melakukan perubahan-perubahan. Bukan karena ingin berubah, namun memang seringkali keadaan yang menuntut untuk harus berubah. Tidak untuk masyarakat dan orang lain terlebih dahulu. Namun setidaknya terhadap diri sendiri. Karena orang bijak mengatakan, jangan tunggu perubahan dari orang lain tapi temukan perubahan itu dari dalam diri anda. Tentunya perubahan-perubahan yang menuju kearah yang lebih baik.

Dalam kontrak kerja kami di sebutkan bahwa memang kami sanggup untuk di tugaskan di seluruh daerah provinsi. Dengan jangka waktu kontrak yang hanya satu tahun, praktis konsekuensi untuk selalu berpindah lokasi tugas sangat tinggi.

Ternyata perubahan memang tidak selalu dapat berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Ambil contoh saja, ketika pada awal tahun ini harus pindah tugas ke lokasi yang baru, terdapat rasa enggan dan malas karena harus melakukan penyesuaian kembali. Baik menyesuaikan di tempat kos baru, lingkungan, suasana, dlsb. Rasa nyaman yang selama ini sudah ada dan mengendap, ternyata sedikit banyak juga ikut menyumbang factor untuk enggan berubah dan berpindah. Kita sudah berada dalam lingkaran “Comfort Zone”.

Zona nyaman tentunya akan melahirkan resistensi kita. Kita sulit berubah. Kita takut berubah. Mengapa kita berubah? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kita berubah? Akan lebih baikkah atau malah akan semakin terpurukkah? Kalau kita sudah nyaman, sudah enjoy, sudah nikmat berada dalam posisi dan tempat kita sekarang kenapa kita harus berubah? Dan itu adalah manusiawi. Setiap orang juga akan seperti itu.

Namun akan kita lihat bahwa zona nyaman tidak selalu baik bagi kita. Zona nyaman yang seolah-olah enak, nikmat ternyata mengandung racun berbahaya bagi kita.

Ketika kita merasa nyaman, kecenderungan kita adalah menjadi pribadi yang santai, malas, cuek, tidak peduli dan apapun karena kita merasa telah mendapatkan keamanan, kedamaian. Dan bila hal ini berlangsung lama maka akan terjadi immunitas dalam diri kita. Diri kita akan kebal dan lama lambat laun akan menjadi bebal. Dinamika kehidupan kita menjadi stagnan yang secara langsung mempengaruhi cara berpikir kita, persepsi, dan bahkan perilaku kita. Ilmu kita tidak berkembang, paradigma kita tidak berubah, dan kita akan mengalami dekadensi kemanusian dalam diri kita.

Untuk itulah tidak heran ketika banyak orang di dunia ini yang sukses itu adalah orang selalu berubah. Berubah untuk selalu adaptatif terhadap lingkungan sekitarnya mutlak di perlukan untuk dapat sukses. Mustahill anda tidur bertahun-tahun di kamar, dan tidak melakukan apa-apa dapat menjadi orang sukses.

Banyak orang tua bilang bahwa “zaman telah berubah”. Cara hidup kita juga telah berubah menyesuaikan dinamika kehidupan manusia yang semakin modern. Kita tidak bisa hidup seperti jaman batu dahulu lagi.

Sepertinya teori Darwin tentang evolusi berlaku juga untuk kita. Bahwa jerapah yang lehernya panjang akan lebih sanggup bertahan hidup daripada leher jerapah yang pendek. Ini artinya merespons diri terhadap kondisi actual saat ini harus kita miliki untuk dapat bertahan.

Maka salah satu ilmu yang kita harus miliki agar kita dapat menjadi “pendekar” dalam hidup, adalah kemampuan untuk berubah. Teori Change tengah gencar di khotbahkan di kampus-kampus, meskipun Muhammad Rasulullah telah mewanti-wanti sejak abad ke-6. Bahwa Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia adalah orang yang celaka.

Dan karena memang saya harus berubah. Maka saya harus mengepak barang-barang saya untuk membawanya serta ke dalam lingkungan yang baru. []

Gilang Prayoga

Bobotsari

24 Desember 2012

NB : Tulisan ini di buat pada awal bulan januari 2012 dan di selesaikan desember 2012 J

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 24 December 2012, in Kolom Esai, MENU BARU 1 and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: