Aliran Serayu

by : Sulis Priyono

 

Sungai Serayu melagukan riakan air di musim hujan

Sama dengan puluhan tahun silam ketika dua insan berjanji untuk  berdo’a bersama agar dipersatuan

Meraka masih hafal lafal syair-syair yang dipahat di bebatuan senja itu

Mereka masih tersengat mentari  yang terbit di masa silam

dan mereka masih menggigil karena dinginnya pagi berkabut

Hujan menyadarkan langkah mereka

Di antara terangnya kilat…

terdengar :

“Ini bukan sebuah napaktilas cinta, karena kalian mempunyai dunia yang berbeda” kata batara Indra pada anaknya,  Dewi Tara.

Dewi tara hanya menunduk meneteskan air mata.

Dia harus menerima takdir dianugerahkan kepada Prabu Sugriwa, raja kera kerajaan Goa Kiskenda.

Terasa Kejam. Jahat. Sadis!!!

Batara Indra pengusa Hapsari di Keindraan pun harus mengikuti garis walau hatinya teriris

Air hujan menyamarkan air mata……

yang mengalir deras bersama arus Serayu

Karena hidup harus berlanjut,  Tara bangkit.

Dan berlari

Desember  ’12  di negri bidadari

 

sumber :

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 24 December 2012, in News and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: