Monthly Archives: December 2012

Berubah? Why Not?

Awal tahun seperti saat ini, sebagai seorang konsultan sebuah program permberdayaan masyarakat merupakan sebuah momentum awal untuk melakukan perubahan-perubahan. Bukan karena ingin berubah, namun memang seringkali keadaan yang menuntut untuk harus berubah. Tidak untuk masyarakat dan orang lain terlebih dahulu. Namun setidaknya terhadap diri sendiri. Karena orang bijak mengatakan, jangan tunggu perubahan dari orang lain tapi temukan perubahan itu dari dalam diri anda. Tentunya perubahan-perubahan yang menuju kearah yang lebih baik.

Dalam kontrak kerja kami di sebutkan bahwa memang kami sanggup untuk di tugaskan di seluruh daerah provinsi. Dengan jangka waktu kontrak yang hanya satu tahun, praktis konsekuensi untuk selalu berpindah lokasi tugas sangat tinggi.

Ternyata perubahan memang tidak selalu dapat berjalan dengan lancar tanpa hambatan. Ambil contoh saja, ketika pada awal tahun ini harus pindah tugas ke lokasi yang baru, terdapat rasa enggan dan malas karena harus melakukan penyesuaian kembali. Baik menyesuaikan di tempat kos baru, lingkungan, suasana, dlsb. Rasa nyaman yang selama ini sudah ada dan mengendap, ternyata sedikit banyak juga ikut menyumbang factor untuk enggan berubah dan berpindah. Kita sudah berada dalam lingkaran “Comfort Zone”.

Zona nyaman tentunya akan melahirkan resistensi kita. Kita sulit berubah. Kita takut berubah. Mengapa kita berubah? Kita tidak tahu apa yang akan terjadi kalau kita berubah? Akan lebih baikkah atau malah akan semakin terpurukkah? Kalau kita sudah nyaman, sudah enjoy, sudah nikmat berada dalam posisi dan tempat kita sekarang kenapa kita harus berubah? Dan itu adalah manusiawi. Setiap orang juga akan seperti itu.

Namun akan kita lihat bahwa zona nyaman tidak selalu baik bagi kita. Zona nyaman yang seolah-olah enak, nikmat ternyata mengandung racun berbahaya bagi kita. Read the rest of this entry

PNPM MANDIRI PERDESAAN PROGRAM SETENGAH HATI

Pada tanggal empat desember hingga 14 desember 2012, di hotel Parama Cisarua Puncak, diadakan pelatihan Fasilitator Teknik, Fasilitator Pemberdayaan dan asistent Fasilitator Pemberdayaan. Acara pembukaan yang dilakukan oleh Korprov Ir Sugiharto dimaksudkan untuk merefresh kembali para fasilitator yang selama ini bertugas pada setiap kecamatan yang berada di Provinsi Banten. Sehinga diharapkan kelak, bila para fasilitator ini kembali ke kecamatannya masing-masing, mereka lebih fresh baik secara mental maupun ke-ilmu-annya.

PNPM-MPd atau Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandirian Perdesaan, dimaksudkan sebagai program yang berpihak pada masyarakat miskin di perdesaan, dengan misi mengentaskan kemiskinan di Desa. Dengan SOP dan Tupoksi yang dibuat sedemikain rapi, lalu melakukan pelatihan-pelatihan intensif pada pelaku-pelakunya yang dibuat berjenjang mulai dari Provinsi, Kabupaten, Kecamatan dan Desa, diharapkan seluruh aktivitas yang dilakukan di lapangan akan sesuai dengan SOP dan Tupoksi. Untuk maksud demikianlah maka pelatihan untuk FT, FK dan Asisten FK untuk Provinsi Banten TA 2012 dilakukan di Cisarua, Bogor, Puncak. Read the rest of this entry

Aliran Serayu

by : Sulis Priyono

 

Sungai Serayu melagukan riakan air di musim hujan

Sama dengan puluhan tahun silam ketika dua insan berjanji untuk  berdo’a bersama agar dipersatuan

Meraka masih hafal lafal syair-syair yang dipahat di bebatuan senja itu

Mereka masih tersengat mentari  yang terbit di masa silam

dan mereka masih menggigil karena dinginnya pagi berkabut

Hujan menyadarkan langkah mereka

Di antara terangnya kilat…

terdengar :

“Ini bukan sebuah napaktilas cinta, karena kalian mempunyai dunia yang berbeda” kata batara Indra pada anaknya,  Dewi Tara.

Dewi tara hanya menunduk meneteskan air mata.

Dia harus menerima takdir dianugerahkan kepada Prabu Sugriwa, raja kera kerajaan Goa Kiskenda.

Terasa Kejam. Jahat. Sadis!!!

Batara Indra pengusa Hapsari di Keindraan pun harus mengikuti garis walau hatinya teriris

Air hujan menyamarkan air mata……

yang mengalir deras bersama arus Serayu

Karena hidup harus berlanjut,  Tara bangkit.

Dan berlari

Desember  ’12  di negri bidadari

 

sumber :

FENONEMA FACEBOOK

HATI HATI TULIS STATUS MULUTMU HARIMAUMU
STATUSMU DAN INBOXMU DICATAT OLEH MALAIKAT

“INGATLAH JIKA PERBUATAN DAN HATI AKAN DIHISAB DI AQHIRAT NANTI” [ 21:1]

 

Tanpa kita sadari, setan menggangu kita melalui situs ini. Jika kita tidak berhati-hati dan koreksi diri kita dapat terjerumus dalam berbagai dosa & maksiat. Demi Masa, sesungguhnya manusia dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.

Ketika perpecahan keluarga menjadi tontonan yang ditunggu dalam sebuah episode infotainment setiap hari.

Ketika aib seseorang ditunggu-tunggu ribuan mata bahkan jutaan dalam berita-berita media massa.

Ketika seorang celebritis dengan bangga menjadikan kehamilannya di luar pernikahan yang sah sebagai ajang sensasi setan yang ditunggu-tunggu …’siapa calon bapak si jabang bayi?’

Ada kabar yang lebih menghebohkan, lagi-lagi seorang celebritis yang belum resmi berpisah dengan suaminya, tanpa rasa malu berlibur, berjalan bersama pria lain, dan dengan mudahnya mengolok-olok suaminya.

Wuiih……mungkin kita bisa berkata ya wajarlah artis, kehidupannya ya seperti itu, penuh sensasi. Kalau perlu dari mulai bangun tidur sampai tidur lagi, aktivitasnya diberitakan dan dinikmati oleh publik.

Wuiiih……ternyata sekarang bukan hanya artis yang bisa seperti itu, sadar atau tidak, ribuan orang sekarang sedang menikmati aktivitasnya, apapun, diketahui orang , dikomentarin orang bahkan mohon maaf ….’dilecehkan’ orang, dan herannya perasaan yang didapat adalah kesenangan.

Fenomena itu bernama facebook , setiap saat para facebooker meng update statusnya agar bisa dinikmati dan dikomentarin lainnya. Lupa atau sengaja hal-hal yang semestinya menjadi konsumsi internal keluarga, menjadi kebanggaan di statusnya. Lihat saja beberapa status facebook :

Seorang wanita menuliskan “Hujan-hujan malam-malam sendirian, enaknya ngapain ya…..?” —— kemudian puluhan komen bermunculan dari lelaki dan perempuan, bahkan seorang lelaki temannya menuliskan “Mau ditemanin? Dijamin puas deh…” Read the rest of this entry

Asal MulaTerciptanya Uang

uang_asia_pasifikSyahdan di suatu samudera terdapat dua pulau yang bertetangga. Sebut saja Pulau Aya dan Pulau Baya . Di pulau Aya, suku Sukus hidup sejahtera. Mereka dikarunia daratan yang subur. Mereka hidup bercocok tanam. Pertanian mereka menghasilkan aneka sayuran dan buah-buahan tropis. Ikan dan sumber daya laut sangat melimpah. Tidak hanya itu, Pulau Aya terkenal dengan panoramanya yang indah. Gemericik air terjun bisa ditemui di banyak tempat. Sungai-sungainya yang jernih juga menjadi daya tarik tersendiri. Tak heran bila pulau ini menjadi tempat tujuan para pelancong dan wisatawan lokal maupun luar pulau.
Masyarakat Sukus dikenal memiliki peradaban yang cukup maju. Mereka beruntung, pulau yang mereka tempati menghasilkan emas. Dan mereka bekerja keras untuk mendapatkan logam mulia ini. Hampir semua anggota suku memiliki emas dan menyimpannya sebagai simbul harta kekayaan.
Selain sebagai simbol peradaban, emas juga berfungsi sebagai alat transaksi. Sejak Saka, sang ketua suku, mencetak koin emas, maka semua transaksi jual beli yang semula dilakukan dengan barter beralih dan diukur dengan emas. Berdagang pun menjadi lebih mudah dan simpel.
Meskipun begitu, mereka tidak mendewa-dewakan emas sebagai satu-satunya pencapaian. Kehidupan sosial mereka tampak lebih penting. Ini bisa dilihat dari cara mereka yang saling tolong-menolong. (Kami di dunia setan sangat membenci perilaku ini). Ketika anggota suku perlu membangun rumah baru karena rumah lama tersapu ombak, yang berarti menguras emas simpanannya, anggota-anggota suku lainnya dengan suka rela meminjamkan emas miliknya. Hebatnya, tanpa charge atau tambahan apapun. “Dasar manusia bodoh, sudah meminjamkan uang kok tidak mau minta kompensasi,” begitu gerutuan kami.
Kami semakin pusing karena tidak terbatas itu saja, mereka juga bergotong royong satu sama lain dengan ikhlas. Padahal kami ingin, paling tidak, mereka lakukan ini dengan riya. Pantaslah bila kehidupan mereka meskipun sederhana tapi diliputi semangat kesetiakawanan yang tinggi. Anggota suku terbiasa bahu-membahu mengatasi persoalan bersama. Boleh dikata, mereka hidup rukun dan damai.
Sementara pulau tetangganya, Pulau Baya, didiami suku Tukus. Kebanyakan penduduknya bekerja sebagai petani. Mengolah lahan di sawah atau ladang dan memelihara ternak. Sebagian lagi yang memiliki ketrampilan khusus, memproduksi kerajinan tangan.
Dibandingkan suku Sukus, mereka lebih sederhana. Mereka masih menggunakan sistem barter dalam transaksi keseharian. Yang menghasilkan padi menukar berasnya dengan kerajinan tangan atau sebaliknya. Boleh dibilang secara ekonomi, kesejahteraan mereka di bawah suku Sukus. Mereka memang kebanyakan hanya pekerja kasar. Mereka tidak memiliki pusat kota yang indah dan maju seperti halnya Sukus. Sesekali mereka menjual hasil bumi dan handicraft mereka ke suku Sukus. Mereka, apalagi para wanitanya, sangat senang menerima koin emas sebagai jasa dari padi atau kerajinan tangan yang mereka hasilkan. Meskipun berbeda dalam hal kesejahteraan, ada satu persamaan menonjol di antara Sukus dan Tukus. Mereka sama-sama hidup damai, rukun, dan saling tolong-menolong. Mereka sering .bersilaturahmi dan menjalankan ritual agamanya dengan tenang.
Sampai akhimya datang tamu istimewa ke suku Sukus. Berpenampilan perlente, dua orang asing turun dari kapal yang berlabuh di pulau Aya. Gago dan Sago, begitu mereka mengenalkan diri saat dijamu oleh Saka, pimpinan suku Sukus. Kedua tamu ini disambut dengan suka cita. Saka dan para pembantunya sangat terkesan dengan kisah Gago dan Sago yang mengaku sudah melanglang buana. Sebagai bukti, kedua orang asing itu lalu memamerkan koin emas asing yang mereka kumpulkan dari berbagai tempat perlawatan.
Satu hal lagi dan ini yang paling menarik bagi Saka dan punggawanya adalah kertas yang dinyatakan sebagai uang. Gago dan Sago lalu memperkenalkan bagaimana uang kertas jauh lebih efisien ketimbang emas yang sehari-hari mereka pakai. Itulah kenapa uang kertas ini sudah dipakai di negara-negara yang jauh lebih maju dibanding tempat mereka tinggal. Gago dan Sago yang mulai mendapat respon positif semakin bergairah menjelaskan uang kertas ini kepada sang tuan rumah. Lalu, mereka memperkenalkan mesin pencetak uang. Read the rest of this entry