Akan Sampai Kemana Idealisme Kita

Perjalanan hidup ini ternyata tidak sesederhana yang kita bayangkan ketika masih kecil dahulu. Semenjak kecil kita mempunyai pandangan bahwa perjalanan kehidupan akan seperti apa yang kita baca di buku-buku pelajaran sekolah, buku keagamaan, cerita-cerita inspiratif, dongeng yang di sampaikan ayah saat menjelang tidur. Bahwa bila kira rajin maka kita akan bisa pandai, jika kita hemat maka juga kita akan menjadi kaya. Dan kita menjadi percaya bahwa berbuat baik, berlaku jujur akan membuat kita juga akan mendapatkan kesuksesan dalam hidup. Prinsip serta pandangan hidup itu, kita simpan hingga kita beranjak dewasa dalam kalbu yang kita yakini kebenarannya. Bahwa memang hidup ya demikian adanya.

***

Syahdan ada seorang sahabat datang dan berkeluh kesah.

“Jancuk,..manusia-manusia modern sekarang ini,” kata dia sambil melemparkan tas kerjanya. “Serakahnya melebihi hewan. Kalau hewan sekali makan dan kenyang dia sudah akan berhenti makan sampai jangka waktu tertentu. Lha ini manusia modern, masih saja kelaparan dalam kondisi kekenyangan….!!”

“lho ada apa lagi?” aku bertanya sambil mempersilahkan dia duduk.

Begitulah perilakunya ketika kesal atau saat mendapat masalah di kantornya. Ku diamkan saja, karena aku tahu bahwa dia akan bercerita dengan sendirinya.

“Aku di suruh membuat LPJ fiktif untuk kegiatan  proyek. Bahwa harus ada 10 persen dari pagu anggaran yang harus di berikan kepada oknum-oknum tertentu bila ingin mendapat proyek.”

Dan kemudian dia ncerocos tanpa bisa di hentikan, membuka praktek-praktek hitam dalam permainan anggaran, manipulasi proyek, konspirasi-kompromi dan lain-lain. Sambil sesekali lontaran kata-kata pisuhan keluar dari mulutnya.

“Masih untung hanya 10%, bahkan ada yang lebih gila, karena harus ngasih fee yang besarnya bisa sampai 40%, yang di distribusikan dari level atas, medium sampai bawah.”

 “lho praktek seperti itu kan memang sudah dari dahulu kala sejak jaman majapahit. Kenapa sekarang ente yang seperti kebakaran rumah??” kataku untuk memancing diskusi ini.

“Nah itu, aku jadi kesal. Seoalah-olah hidupku jadi tidak berkah. Makan uang dari hasil manipulasi dan rekayasa. Aku mau  resign saja….”

“Lho, kalau kamu resign, trus anak istrimu mau kamu kasih makan apa?” balasku. “ Nggak inget tha kalau nyari kerja lagi susahnya setengah mampus, …..”

Dia kemudian menyandarkan bahunya ke kursi. Mengeluarkan sebatang rokok dalam sakunya. Kemudia di hisap pelan-pelan. Sehingga seolah-olah masalahnya menari-nari di melalui gelembung-gelembung asap rokonya.

**

Susah hidup ini. Orang-orang idealis terkadang mengalami disorientasi untuk memegang teguh prinsip yang di yakininya. Yang ujungnya akan mengurangi daya juang dan motivasi. Sahabat kita itu tergolong anak yang pemalu, introvert,  jarang bergaul dan mungkin akan sedikit “pemalas”. Sekurang-kurangnya pemalas dalam artian, bahwa syaraf motoriknya tidak pernah di fungsikan secara optimal. Jarang melakukan aktivitas fisik yang berlebihan. Sehingga tubuhnya agak sakit-sakitan dan terlihat menyedihkan. Dia lebih nyaman, untuk bergaul dengan imajinasinya melalui buku-buku ataupun diktat-diktat sekolahan. Berteman dengan buku lebih dia sukai daripada bergaul dengan rekan sebayanya. Karena dengan buku dia dapat bebas memperlakukan dan menggunakannya, di bandingkan apabila dengan teman yang terkadang tidak sesuai dengan harapannya.

Secara individual, sahabat kita itu tumbuh menjadi seperti harapan para bapak-bapak pejabat Pemerintah Republik Indonesia, yang mengajurkan tentang manfaat banyak membaca buku. Membuat dia lebih banyak asyik tenggelam dalam kesendirian. Merenungi cerita-cerita yang telah di baca, memahami falsafah dan nilai hidup dari-pandangan buku-buku tersebut. Dan buku-buku itu menuangkan inspirasi ke dalam dirinya yang dia pegang-pegang erat dalam hidupnya. Tanpa dia tahu bahwa, kehidupan nyata tak selalu sama apa yang tertulis dalam buku.

Dia menyerap nilai-nilai itu tanpa terapan aplikasi sosial. Dia semakin sinis terhadap para pejabat korup, manusia-manusia serakah, dlsb. Tanpa dia sadari bahwa hidup adalah riak polarisasi variabel yang kompleks.

Beranjak SMA, dia mempunyai cita-cita lain menjadi seoarang pelaku musik. Karena dia menganggap musik lebih jujur dan mampu mengekspresikan jiwa anak muda seperti kita. Sahabat Kita berpendapat bahwa menjadi pemusik, akan memberikan kebebasan dan mampu menyalurkan idealisme serta kejujuran. Karena tidak mungkin anda akan menjadi pelaku seni tanpa membawa ideologi kejujuran. Karena kejujuran yang akan menciptakan proporsi dan harmoni dalam karya seni kita.

Namun mempunyai minat dengan musik, ternyata tidak serta merta dapat menerapkan idealisme dan kejujuran. Karena akhirnya sahabat kita tahu, bahwa musik tidak melulu seni an sich. Namun musik itu juga adalah jualan dengna omzet kapital yang menggiurkan. Kalau anda idealis dan egois dengan diri anda sendiri, siapa yang akan membeli musik anda?

Kecewa kembali, dia berpaling kembali kepada pendidikan akademis. Meski sempat terkatung-katung karena tidak pernah di urus—sibuk dengan bermain musik–, dia merevisi kekecawaan soal pendidikan. Bahwa untuk hidup sukses dan mendapatkan pekerjaan itu butuh pendidikan.

Setelah mendapat selembar ijasah, dia juga tetap berpandangan bahwa dia akan mencari kerja dengan tetap menjagaa idealisme. Dia hanya tahu bahwa dengan nilai-nilai IPK, dia dapat mendapat kerja yang dia inginkan

Maka dia menyebar amplop-amplop lamaran ke beberapa perusahaan. Ada beberapa yang di panggil untuk mengikuti wawancara, namun banyak juga yang hilang entah kemana. Dan hasilnya sama saja. Nol besar. Sahabat kita tidak bisa di terima di perusahaan manapun. Dia begitu bodoh dan lugu, tidak menyadari bahwa untuk segala kaitan teknis melamar pekerjaan, tidak hanya bermodal ijasah saja. Tapi butuh ketebelece, deal-deal khusus, uang pelicin, uang sogokan, uang jaminan dan apapun namanya. Minimal mempunyai koneksi, kenalan. Kalau tidak, mampuslah. Jadi tukang pacul saja di sawah.

Sehingga kemudian, sempatlah sahabat kita menjadi pengangguran beberapa bulan, setelah akhirnya dengan kasih sayang Tuhan, dia di perkenankan untuk dapat di terima di sebuah instansi. Dalam perjalanannya, dia di beri tanggungjawab untuk mengelola administrative keuangan.

Dan karena memang dia tetap memegang idealismenya, maka dia tidak mempunyai wacana apa-apa untuk menyalahgunakan wewenang kita ataupun memanipulasi, merekaya laporan keuangan yang kita buat.

Dan sampai saat ini, di tugasi untuk mengawal sebuah program. Banyak hal ternyata idealisme itu terkadang sulit untuk di tegakkan. Artinya dia terlanjur terlahir sebagai orang “lugu” yang memegang erat idealis berkat didikan buku-buku konvensional. Kita menjadi terkaget-kaget, melihat perbedaan yang begitu kentara antara cerita-cerita heroik dengan kenyataan sekarang yang ada. Di tambah dia hanya sebagai karyawan biasa saja, yang tidak bisa mengambil kebijakan dan keputusan.

***

Akhirnya setelah lama diam, dan menikmati kepulan asap rokoknya. Dia menghela nafas.

“Sudahlah, yang penting saya kerja. Silahkan manusia-manusia itu yang menikmatinya saja.”

“Apakah itu sebuah kekalahan ?”

“Tidak. Saya tidak kalah. Saya menang. Karena saya tidak ikut menikmati uang itu.”

“Tapi kan kamu yang membuat dan memanipulasinya untuk kamu serahkan kepada atasanmu,” Aku kejar terus dan aku coba sudutkan sambil mengulum senyum. Karena aku tahu apa yang ada dalam benaknya.

“Tuhan tidak akan memberikan ujian dan cobaan melebihi batas kemampuan umatnya. Saat ini aku tidak bisa mengubah apapun saja dari praktek kongkalikong ini. Tidak mampu dan tidak punya kekuatan, kekuasaan untuk memaksa manusia itu menyadari kekeliruannya. Yang bisa aku lakukan adalah sebisa mungkin tidak melibatkan diri dan ikut dalam perilaku. Bila di ijikan Tuhan, aku hanya bisa menyampaikan dan menasehati. Kalau nasihat itu tidak di perlukan, tugasku sudah selesai.”

“Lantas, kalau sekarang engkau dalam lingkup intansi tersebut dan melawan arus, siapkah dirimu untuk menerima konsekuensi untuk di kucilkan, di hardik, di fitnah, tidak di sukai oleh lingkungan kerjamu? Dan yakinkah engkau bahwa idealis yang kamu sunggi akan mampu menghidupi dirimu?”

“ Kata Muhammad Rasullah. “In lam takun ‘alayya ghodhobun fala ubali”. Asalkan Tuhan tidak marah kepadaku, apapun yang terjadi padaku aku tidak perduli….”

Aku bangkit. Berdiri dan memeluknya. Tidak bisa berkata lagi. Namun ada rasa bangga dan gembira yang luar biasa.[]

Gilang Prayoga

Bobotsari

21 November 2012

21.55 WIB

*NB: Terima kasih kepada CN serta komunitas Maiyah Indonesia.

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 21 November 2012, in Kolom Esai, Maiyah, MENU BARU 1 and tagged . Bookmark the permalink. 4 Comments.

  1. standing applaus bwd tulisannya, sedikit mengena ,

  2. Gilang Prayoga

    Terima kasih ….🙂

  3. keluarga maiyah..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: