IDUL FITRI UNTUK HARI RAYA KESEJAHTERAAN YANG PERMANEN

Hari raya Idul Fitri selalu memberikan nikmat yang luar biasa kepada setiap orang Indonesia khususnya umat islam. Bahkan tidak hanya untuk umat Islam saja yang merasakan nikmatnya, namun kepada semuanya pula yang bersentuhan secara langsung dengan momentum lebaran. Nikmat itu bisa kita lihat dari yang permukaan sampai yang mendalam. Dari yang tingkatannya hanya material sampai dengan kosmologis spiritual. Bahkan nikmat individu hingga nikmat kolektif sosial. Maka, terkadang saya membayangkan pada saat  berlebaran, benak ini menggumankan dengan yakin bahwa islam adalah rahmatan’lilalamin. Bahwa Islam bukan di tampilkan dengan wajah yang sangar, yang berangasan, suka merusak, yang suka ngebom, yang ekslusif, tapi islam yang hadir dan mampu memperlihatkan wajah yang santun dan bisa menjadi berkah rahmat untuk semua mahkluk Tuhan.

Ambil salah satu contoh umpamanya adalah nikmat Idul Fitri secara ekonomi dan kemaslahatan ummat. Nuansa hari raya selalu menampilkan kesan dimana saat inilah momentum dimana kita mendapatkan kemerdekaan ekonomi. Karena Rasul Muhammad jelas mewanti-wanti agar jangan sampai tetangga kita pada hari raya Idul Fitri ada yang merasa fakir dan tidak bisa menikmati hari raya sebagaimana orang yang lain. Kita tidak boleh serakah untuk menikmati hari raya sendirian dan tidak membagikan kebahagian itu kepada orang lain. Karena tidak mungkin anda mampu berhari raya secara individual. Kolektivitas mutlak menjadi substansi idul fitri dimana di hari istimewa ini, kita lebih mampu untuk memberikan sesuatu yang berharga kepada orang lain.  

Maka sekarang ini kita telah melihat  bahwa hari raya idul fitri telah menjadi magnet yang kuat untuk mendorong gerak ekonomi di masyarakat. Bagaimana tidak, saat Idul Fitri masyarakat tiba-tiba berubah menjadi sejahtera semua. Dari karyawan rendahan, pedagang kaki lima, penjual ketupat, sopir angkutan umum, sampai berjenis profesi macam apapun terkena cipratan nikmat Idul Fitri. Mereka mengangkut sanak keluarganya ke toko-toko swalayan, mereka menyisihkan pendapatan melalui bentuk zakat, infaq maupun sodaqoh. Sumbangan di masjid-masjid melampui rekor yang signifikan bila dibandingkan dengan hari-hari biasa. Anak-anak kecil bersuka cita dengan mengenakan baju dan sepatu baru serta di dalam saku bajunya menggumpal uang yang di beri dari para handai taulan. Pemerintah Republik Indonesia harusnya belajar banyak kepada momentum Idul Fitri apabila ingin mensejahterakan rakyatnya.

Idul Fitri juga merupakan sebuah ajaran lain sebagaimana puasa dan juga laku ritual keagamaan lain yang harus kita ambil pelajarannya. Idul fitri harus bukan hanya menjadi eskapisme dari “kekalahan” umat islam dalam menjawab tantangan-tantangan kehidupan. Bukan hanya menjadi latah budaya belaka. Bukan hanya menjadi tempat untuk hura-hura saja. Namun juga sudah harus kita fikirkan bersama, untuk mengaplikasikan momentum idul fitri menjadi idul fitri kesejahteraan sepanjang hari.

Dan alangkah indahnya bila setiap hari, setiap saat dalam perjalanan hidup kita mendapatkan hari raya ekonomi yang permanen. Di mana-mana terlihat orang berbondong-bondong berwajah sumringah, bersilaturahmi bermaaf-maafan. Yang kaya rukun dengan yang miskin. Yang pejabat dekat dan duduk bersama yang rakyat biasa. Yang punya uang membagi kepada yang kurang beruntung. Yang tidak pernah kenal tetangga menjadi kenal. Sehingga kemaslahatan umat seperti apa yang sering di khotbahkan para ulama dapat lebih menyentuh realitasnya dalam kehidupan.

Dan saya berdoa mudah-mudahan saya tidak terlalu bermuluk bila membayangkan suatu ketika idul fitri beserta terapan-terapan sistem manajerial pembagian zakat kesejahteraan, nuansa sosial budaya, hubungan kosmologis berbangsa bernegara dapat menjadi bagian keseharian rakyat Indonesia. Dan bukan menjadi ritual tahunan yang temporer belaka.

Gilang Prayoga

Bobotsari

19 Agustus 2012 / 1 Syawal 1433 H

 

 

 

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 19 August 2012, in Kolom Esai and tagged , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: