MUDIK LEBARAN SEBAGAI PROSES MENUJU HARI RAYA SEJATI

Term mudik entah darimana asal usul epistimologinya, sesungguhnya dapat kita maknai suatu perjalanan pulang kembali untuk menemukan kembali apa yang kita namakan kesejatian. Kesejatian bisa kita lihat dari perspektif wacana budaya, agama, atau akal sehat belaka. Bahwa setiap manusia pasti memiliki sisi yang terus menerus ingin menemukan yang di anggapnya sebagai kesejatian. Meskipun belum tentu kesejatian yang sejati sama dan sebangun dengan kesejatian yang di persepsikan oleh manusia yang mencarinya.

Di setiap hari kita bekerja keras, peras keringat membanting tulang untuk satu tujuan yaitu mengamankan gawang ekonomi kita. Kita berjenis profesi macam apapun saja, muatan tujuan hidup kita adalah mendayagunakan ekses sumber daya yang kita miliki untuk manampung naluri keduniaan kita dalam menumpuk harta. Dan ini adalah naluri alamiah setiap jenis makhluk yang bernama manusia. Meskipun boleh kita perdebatkan cara dan metodenya untuk mencapai keamanan ekonomi itu. Tapi yang ingin kita ceritakan disini adalah, bahwa di akui atau tidak, sadar maupun tidak sadar kita setiap hari di kepung oleh dorongan untuk berlaku seperti itu.

Untuk itulah  mungkin Tuhan Maha Adil yang telah menciptakan manusia dengan memberi kita seperangkat nafsu untuk memungkinkan kita maju dan berkembang sekaligus juga diberi metode untuk mengendalikan melalui idiom agama ataupun naluri alamiah untuk mengendalikan nafsu. Budaya mudik juga boleh kita asosiasikan, merupakan hikmah Tuhan bagi manusia agar manusia mengenal kembali sangkan paran atau asal usul dirinya. Asal usul diri kita merupakan salah satu jalan untuk mengenal tentang kesejatian.

Begitupula dengan mudik lebaran. Naluri untuk dekat dengan kesejatian itulah yang kita kejar selama ini dalam setiap momentum lebaran tiba. Kita rela untuk berdesak-desakan dalam kereta, mampu bertahan di tengah terminal untuk agar supaya mendapatkan tiket bis ke kampung halaman. Kita bahkan mau untuk menghabiskan uang yang telah kita tabung setahun penuh untuk dapat menikmati air liur mudik. Bila mudik hanya kita pandang dari segi perspektif profesional belaka, tentu kita sepakat bahwa mudik merupakan suatu pekerjaan yang tidak produktif dan tidak sesuai dengan cita-cita target laba perusahaan kita.

Seperti kalau anda membeli sebuah lukisan dan anda tempatkan di sudut ruangan tertentu dalam rumah anda. Anda pertimbangkan juga nilai estestis dengan menyesuaikan komposisi yang proporsional di tengah dekorasi ruangan. Lukisan yang anda pajang itu tentu tidak akan menghasilkan uang seperti apabila kita seumpama menginvestasikan uang kita dalam bisnis. Namun kita tetap bertahan untuk memajang lukisan tersebut karena lukisan itu kita yakini mampu memancarkan rasa ketentraman, rasa senang, rasa nyaman, kedamaian bila kita memandangnya dalam-dalam. Jadi sesungguhnya yang kita beli dari sebuah lukisan bukan kita membeli catnya ataupun kanvasnya, namun yang kita beli adalah “sesuatu di balik” lukisan tersebut. Cat dan kanvas hanya sebagai medium untuk mengantarkan “kesejatian” lukisan itu.

Dan bila kita sedikit untuk meningkatkan pemahaman kita tentang filosofi mudik, boleh kita teruskan bahwa jika kita menghayati mudik sebagai metode untuk mendapatkan rasa “kesejatian”, maka tak berlebihanlah bila kita juga akan mendapatkan hari raya sejati. Hari raya yang dimana bukan untuk melampiaskan segala nafsu keduniawian kita, namun hari raya yang di puncaki dengan kembalinya pemahaman makna bahwa kesejatian bukan terletak dalam material dan harta benda belaka.

Tapi bagi anda yang sedang menjalankan mudik, ya tidak usah bingung-bingung. Kalau mau mudik ya mudik saja.

Gilang Prayoga

Bobotsari

18 Agustus 2012

 

 

 

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 18 August 2012, in Kolom Esai and tagged , . Bookmark the permalink. 3 Comments.

  1. sebuah tulisan yang bernas, penuh makna……. salam mas yoga

  2. Gilang Prayoga

    terima kasih pak Is…..salam kembali ….

  3. bung..saya punya emas batang yang berbentuk gambar ir.sukarno tersebut..kemana harus saya kembalikan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: