Monthly Archives: Agustus 2012

IDUL FITRI UNTUK HARI RAYA KESEJAHTERAAN YANG PERMANEN

Hari raya Idul Fitri selalu memberikan nikmat yang luar biasa kepada setiap orang Indonesia khususnya umat islam. Bahkan tidak hanya untuk umat Islam saja yang merasakan nikmatnya, namun kepada semuanya pula yang bersentuhan secara langsung dengan momentum lebaran. Nikmat itu bisa kita lihat dari yang permukaan sampai yang mendalam. Dari yang tingkatannya hanya material sampai dengan kosmologis spiritual. Bahkan nikmat individu hingga nikmat kolektif sosial. Maka, terkadang saya membayangkan pada saat  berlebaran, benak ini menggumankan dengan yakin bahwa islam adalah rahmatan’lilalamin. Bahwa Islam bukan di tampilkan dengan wajah yang sangar, yang berangasan, suka merusak, yang suka ngebom, yang ekslusif, tapi islam yang hadir dan mampu memperlihatkan wajah yang santun dan bisa menjadi berkah rahmat untuk semua mahkluk Tuhan.

Ambil salah satu contoh umpamanya adalah nikmat Idul Fitri secara ekonomi dan kemaslahatan ummat. Nuansa hari raya selalu menampilkan kesan dimana saat inilah momentum dimana kita mendapatkan kemerdekaan ekonomi. Karena Rasul Muhammad jelas mewanti-wanti agar jangan sampai tetangga kita pada hari raya Idul Fitri ada yang merasa fakir dan tidak bisa menikmati hari raya sebagaimana orang yang lain. Kita tidak boleh serakah untuk menikmati hari raya sendirian dan tidak membagikan kebahagian itu kepada orang lain. Karena tidak mungkin anda mampu berhari raya secara individual. Kolektivitas mutlak menjadi substansi idul fitri dimana di hari istimewa ini, kita lebih mampu untuk memberikan sesuatu yang berharga kepada orang lain.   Read the rest of this entry

Iklan

MUDIK LEBARAN SEBAGAI PROSES MENUJU HARI RAYA SEJATI

Term mudik entah darimana asal usul epistimologinya, sesungguhnya dapat kita maknai suatu perjalanan pulang kembali untuk menemukan kembali apa yang kita namakan kesejatian. Kesejatian bisa kita lihat dari perspektif wacana budaya, agama, atau akal sehat belaka. Bahwa setiap manusia pasti memiliki sisi yang terus menerus ingin menemukan yang di anggapnya sebagai kesejatian. Meskipun belum tentu kesejatian yang sejati sama dan sebangun dengan kesejatian yang di persepsikan oleh manusia yang mencarinya.

Di setiap hari kita bekerja keras, peras keringat membanting tulang untuk satu tujuan yaitu mengamankan gawang ekonomi kita. Kita berjenis profesi macam apapun saja, muatan tujuan hidup kita adalah mendayagunakan ekses sumber daya yang kita miliki untuk manampung naluri keduniaan kita dalam menumpuk harta. Dan ini adalah naluri alamiah setiap jenis makhluk yang bernama manusia. Meskipun boleh kita perdebatkan cara dan metodenya untuk mencapai keamanan ekonomi itu. Tapi yang ingin kita ceritakan disini adalah, bahwa di akui atau tidak, sadar maupun tidak sadar kita setiap hari di kepung oleh dorongan untuk berlaku seperti itu.

Untuk itulah  mungkin Tuhan Maha Adil yang telah menciptakan manusia dengan memberi kita seperangkat nafsu untuk memungkinkan kita maju dan berkembang sekaligus juga diberi metode untuk mengendalikan melalui idiom agama ataupun naluri alamiah untuk mengendalikan nafsu. Budaya mudik juga boleh kita asosiasikan, merupakan hikmah Tuhan bagi manusia agar manusia mengenal kembali sangkan paran atau asal usul dirinya. Asal usul diri kita merupakan salah satu jalan untuk mengenal tentang kesejatian. Read the rest of this entry