PILGUB DKI : PERTARUNGAN DAUD DAN GOLIATH

Pemilihan calon gubernur di Jakarta, telah di selenggarakan dengan memunculkan pasangan Jokow-Ahok memimpin hasil quick count oeh lembaga survei dengan perolehan nilai mencapai 42% dan jauh meninggalkan pesaing terdekatnya  sang incumbent Foke-Nara.

Banyak kalangan terkejut dengan hasil perhitungan cepat dari beberapa lembaga survey tersebut. Karena menjeleng di gelarnya  hari pencoblosan,  beberapa lembaga survey menunjukkan hasil polling bahwa pasangan Foke-Nore unggul di bandingkan dengan para kompetitornya. Foke bahkan dalam sebuah wawancara menyampaikan bahwa hasil pemlihan ini jauh dari ekpektasinya, sehingga data dari hasil quick count tersebut akan di jadikan bahan evaluasi untuk menyongsong putaran kedua.

Di kubu Jokowi sendiri meskipun hasilnya di sambut secara gegap gempita oleh para pendukungnya, namun Jokowi sendiri mengatakan bahwa hasil perhitungan ini tidak mengejutkan dan dia sudah memperkirakan sebelumnya.

***

Pertarungan antara Jokowi dan Foke, memperlihatkan layaknya pertarungan seperti pertarungan antara Daud dan Goliath dalam cerita-cerita di Kitab suci. Daud yang berbadan kecil berhadapan dengan goliath yang bertubuh raksasa. Banyak orang menyangsikan kemampuan Daud,  Namun legenda menceritakan bahwa dengan batu kecil saja, Daud akhirnya mengalahkan Goliath.

Cerita ini mengandung simbolisme dan pertanda bagi kisah kehidupan kita. Dalam pilgub DKI, tercermin dari bagaimana figur Foke dan Jokowi terasa sangat kontras. Antara penguasa Jakarta Raya dengan seorang walikota dari Solo.  

Perkembangan kota Solo yang demikian maju sehingga mendapatkan banyak penghargaan dan pengakuan dari masyarakat, Membuat Jokowi juga menjadi satu-satunya walikota Indonesia yang masuk nominasi walikota terbaik dunia.

Apalagi yang sensasional adalah dia tidak mengambil gajinya sebagai walikota. menjadikan Jokowi sebagai figur walikota yang telah membuktikan kapasitasnya bahwa dia memang sosok yang layak untuk menjadi calon gubernur DKI.

Dan yang paling terlihat adalah, Jokowi telah lulus menjadi seorang pemimpin dan bukan hanya sebagai pemerintah. Rakyat solo terbukti menjadi sangat cinta mati kepada Jokowi. Dan hal ini yang sangat jarang di temukan oleh pemimpin-pemimpin kita di Indonesia.

Di tengah rasa apriori masyarakat terhadap politik, rasa jenuh dan muak terhadap pemerintahan, kecewa dengan kinerja lembaga rakyat yang ada, bosan mendengar janji-janji dan perdebatan yang tidak henti sampai tidak jelas lagi mana yang benar dan mana yang salah, Jokowi hadir memberi optimisme kepada masyarkat. Bahwa masih ada pemimpin yang memberikan angin segar kepada rakyat. Ketika hati rakyat menyatu dengan hati pemimpinnya, dan telah timbul rasa cinta rakyat kepada pemimpin dan sebaliknya pemimpin mempunyai cinta yang mendalam terhadap rakyat, maka setiap langkah kehidupan dalam menjalankan roda pemerintahan akan berjalan sesuai amanat. Dan jokowi sekali lagi telah lulus.

Terlihat dari kesederhanaan yang di usungnya. Meskipun di kritisi para pengamat Jokowi tidak mempunyai skill berbicara yang mumpuni yang baik di bandingkan dengan pesaingnya. Namun keunggulan yang terlihat dari kebersahajaan yang di tonjolkan serta kedekatannya kepada rakyat, menarik simpati yang besar dalam kampanyenya. Rakyat meniai Jokowi tidak memberi janji yang muluk-muluk namun akan memberi bukti. Dan Jokowi menyatakan siap, bila di amanahi untuk memimpin Jakarta akan berada 1 jam di kantor dan selebihnya akan lebih turun ke tengah masyarakat untuk bergaul dan mendengarkan keluh kesah masyarakat.

Berbeda dengan sang pendekar kotak-kotak dari Solo, Foke sendiri praktis belum memperlihatkan prestasi yang membanggakan bagi publik Jakarta. Alih-alih malah permasalahan macet, banjir, kemiskinan, keamanan menjadi isu yang menyudutkan Foke sendiri. Publik jakarta merasa tidak puas. Dan ketika kampanye pun, strategi yang di pakai Foke tidak memperlihatkan sikap dan upaya untuk merangkul kalangan kelas menengah bawah dan cenderung memperlihatkan kejumawaannya  sebagai incumbent.

Dengan di usung partai Demokrat sebagai partai terbesar dan dukungan beberapa parta koalisi lain, memperlihatkan dia begitu bernafsu untuk mempertahakan kursi DKI 1.  Di tambah dengan hasil polling lembaga survei yang menunjukkan posisinya masih di unggulkan, membuat foke sedikt banyak terlena sehingga kaget ketika hasilnya ternyata melenceng dari ekspektasinya.

Pertarungan politik dua kubu ini di perkirakan akan masih berlangsung di putaran kedua. Jokowi ketika di tanya salah seoarang wartawan tentang strategi menghadapi pemilihan kedua nanti, Jokomi menjawab tidak menyiapkan strategi apa-apa dan hanya mengandalkan dukungan partai pengusung masyarakat dan kesederhanaan. Foke sendiri masih merahasiakan rencana strategi dalam menyongosng putaran kedua pada bulan agustus nanti.

Dan semoga Foke bisa melakukan kampanye juga dengan kesederhanaan, dan mampu memperlihatkan wajah yang sejuk bagi masyarakat dan bukan malah mencela, mencari kambing hitam, kesalahan ataupun kelemahan dari calon yang lain. Ataupun menempuh manuver-manuver kampanye yang tidak sehat yang malah akan menghancurkan .

Kesedernaan, kerendahhatian adalah merupakan batu kecil Daud yang bisa meruntuhkan kesombongan raksasa Goliath. Dan rakyat Jakarta sedang menunggu momentum itu.

Gilang Prayoga

Purbalingga, 12 Juli-12

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 12 July 2012, in Kolom Esai and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: