Lemahnya Legitimasi Nilai Pendidikan

Teman-teman sekalian, Assalamualaikum wr wb

Bisa jadi salah satu kemungkinan jawaban kenapa situasi demoralisasi bangsa kita sedemikian parahnya itu karena faktor-faktor yang terpenting dalam kehidupan manusia itu memang tidak ada sekolahnya. Nggak ada kelasnya. Ngga ada ruang kuliahnya. Nggak ada kurikulumnya. Misalnya, berumah tangga. Nggak ada fakultas rumah tangga. Tidak ada jurusan perkawinan atau pernikahan. Yang ada pendidikan seks. Itupun tidak ada urusannya dengan masalah psikologis dan rohaniah. Apalagi dengan syariat atau akhlak. Jadi rumah tangga nggak ada sekolahannya. Padahal itu setiap orang harus berumah tangga. Kebaikan tidak ada sekolahannya. Padahal setiap orang di perlukan untuk baik. Akhlak tidak ada sekolahannya. Padahal apa jadinya dunia ini kalau orang tidak berakhlak.

Lho apakah di kurikulum-kurikulum sekolah, di pelajaran-pelajaran sekolah, guru-guru, dosen-dosen,  para professor tidak pernah menyebut-nyebut, pentingnya ketentraman rumah tangga, kedewasaan suami istri, kebaikan hidup, atau moralitas. Bukan tidak pernah. Tetapi tidak pernah di posisikan secara primer di sekolahan-sekolahan kita. Kebaikan bukan sesuatu yang primer.

Anda seorang sarjana, kemudian mengajar di sebuah universitas.  Kemudian anda ketahuan mencuri motor. Anda hanya mendapat hukuman separo. Yaitu anda di pecat dari universitas anda. Itupun belum tentu karena soal moral tapi mungkin karena soal malu. Masak universitas punya dosen curi motor. Tetapi, dosen dan sarjana yang mencuri motor ini, tidak akan pernah di copot gelar kesarjanaannya.  Anda professor, anda memperkosa orang, anda tetap profesor.  Anda doktor, anda korupsi, anda tetap Doktor.

Betapa lemahnya, legitimasi nilai dari sekolahan-sekolahan, universitas-universitas yang selama ini kita bangga-banggakan.

Emha Ainun Nadjib

*di tulis ulang dari rekaman radio Delta FM.

Iklan

About Gie.lank18

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 8 Juli 2012, in Maiyah and tagged , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: