Monthly Archives: Juli 2012

Catatan Kehidupan : Masalah Rumah Tangga Adalah Masalah Kecil

Ada teman-teman mengatakan kepada saya bahwa masalah rumah tangga itu adalah masalah kecil, masalah persuami-istrian itu masalah kecil. Pokonya rumah tangga itu kecillah. Saya bilang sama, bagaimana masalah rumah tangga kok kecil? Orang pada cerai, orang pada bertengkar, orang pada bingung. Rumah tangga adalah besar, saya bilang. Dia bilang masalah kecil. Kita ini mahluk social.

Kita ini bagian dari masyarakat yang besar. Dari negara yang juga sangat besar dan sangat rusak. Dan itulah masalah besar kita. Maka masalah rumah tangga harus menjadi kecil. Artinya soal kesetiaan suami istri sudah harus beres, kalau tidak boleh menjadi masalah. Itu harus sudah jadi sesuatu yang kecil, otomatis harus terjadi. Masalah sex, masalah rumah tangga apapun saja, di antara suami, istri, anak dan kakak-kakaknya, dan semua hubungan di antara anggota keluarga.

Itu sudah harus menjadi masalah kecil, harus pasti beres. Sehingga kita sudah siap untuk menjadi pendekar yang lebih besar. Untuk mengurusi masalah besar dari negara yang problemnya juga sangat besar. Terseah menurut anda ini benar atau tidak.

Senin, 06 November 2006

Taken From
Catatan Kehidupan Emha Ainun Nadjib
http://www.deltafm.net

Iklan

Catatan Kehidupan : Kekecewaan dan Kekesalan

Teman-temanku penggemar Delta FM dimana saja Anda berada. Kita ini orang-orang tua, mengalami banyak sekali kekecewaan sebagai manusi, sebagai warga negara, sebagai penduduk, sebagai bagian dari republik yang sedang pilu ini. Kekecewaan-kekecewaan ini berlangsung terlalu panjang dan akhirnya terakumulasi, menggumpal, jadi kapalan dia.

Akhirnya ada tumpukan-tumpukan kekumuhan didalam jiwa kita, sehingga kemudian kita ingin mengkentutkannya. Kita ingin membuang angin busuk itu dari dalam diri kita dengan misalnya Sinisme, dengan bikin lawak-lawakan, kirim sms yang lucu-lucu kemana-mana. kita bikin anekdot-anekdot mengenai pejabat. Kita ejek mengenai ini-itu. Kita melakukan pokoknya formula-formula sinisme, lagu-lagu kita plesetkan. Pancasila kita bilang “Pancasila : 1. Keuangan yang maha esa, 2. Kemanusiaan yang tidak adil dan biadab. 3. Perseteruan Indonesia, dan seterusnya, misalnya begitu kita plesetin?

Cuman sering kita tidak hati-hati, bahwa itukan pengalaman kita. Anak-anak kita, dia tidak punya kewajiban untuk ikut menyanggah kekumuhan hati kita. Jadi anak-anak harus kita lindungi. Anak-anak jangan kita ajari lagu Garuda Pancasila yang kita pleset-plestkan dengan sinisme kita. Anak-anak harus kita tumbuhkan bersama-sama dengan kemurnian Indonesiia Raya, kemurnian Garuda Pancasila, kemurnian Padamu Negeri. Anak-anak jangan kita ajari, jangan kita tanami dengan hasil dari kekecewaan dan keputus-asaan hidup kita, sebagai orang tua.

Jadi dalam budaya, dalam sosialisasi nilai-nilai nasionalisme segalamacam. Kita harus sangat berhati-hati. Termasuk teman-teman aktivis yang seringkali anak-anak disuruh menjadi alat untuk melampiaskan kekesalan mereka kepada pemerintah. Akhirnya pemeritah yang salah, negara yang disalahkan, negara kan bukan pemerintah? Jadi teman-teman sekalian mudah-mudahan kita mengetahui batas-batas itu dan tetap ditengah keputus-asaan kayak apapun kita tetap menjaga pertumbuhan anak-anak kita, generasi yang terbaru sehingga mereka akan menjadi anak-anak yang murni, yang siap untuk menjalankan dari apa yang tidak mampu kita jalankan di dalam konteks nasionalisme Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Taken From
Catatan Kehidupan Emha Ainun Nadjib
http://www.deltafm.net
Senin, 12 Juni 2006

PILGUB DKI : PERTARUNGAN DAUD DAN GOLIATH

Pemilihan calon gubernur di Jakarta, telah di selenggarakan dengan memunculkan pasangan Jokow-Ahok memimpin hasil quick count oeh lembaga survei dengan perolehan nilai mencapai 42% dan jauh meninggalkan pesaing terdekatnya  sang incumbent Foke-Nara.

Banyak kalangan terkejut dengan hasil perhitungan cepat dari beberapa lembaga survey tersebut. Karena menjeleng di gelarnya  hari pencoblosan,  beberapa lembaga survey menunjukkan hasil polling bahwa pasangan Foke-Nore unggul di bandingkan dengan para kompetitornya. Foke bahkan dalam sebuah wawancara menyampaikan bahwa hasil pemlihan ini jauh dari ekpektasinya, sehingga data dari hasil quick count tersebut akan di jadikan bahan evaluasi untuk menyongsong putaran kedua.

Di kubu Jokowi sendiri meskipun hasilnya di sambut secara gegap gempita oleh para pendukungnya, namun Jokowi sendiri mengatakan bahwa hasil perhitungan ini tidak mengejutkan dan dia sudah memperkirakan sebelumnya.

***

Pertarungan antara Jokowi dan Foke, memperlihatkan layaknya pertarungan seperti pertarungan antara Daud dan Goliath dalam cerita-cerita di Kitab suci. Daud yang berbadan kecil berhadapan dengan goliath yang bertubuh raksasa. Banyak orang menyangsikan kemampuan Daud,  Namun legenda menceritakan bahwa dengan batu kecil saja, Daud akhirnya mengalahkan Goliath.

Cerita ini mengandung simbolisme dan pertanda bagi kisah kehidupan kita. Dalam pilgub DKI, tercermin dari bagaimana figur Foke dan Jokowi terasa sangat kontras. Antara penguasa Jakarta Raya dengan seorang walikota dari Solo.   Read the rest of this entry

Sertifikasi Fasilitator – Kenapa?

***

Kita tak akan mencantumkan di KTP pekerjaan sebagai fasilitator. Atau tidak akan menjawab pertanyaan “Kerja apa mas/mbak?” dengan jawaban “fasilitator”. Bukan karena fasilitator itu tidak dikenal secara umum sebagai pekerjaan, tapi karena secara “formal” memang belum masuk ke dalam kategori profesi di Indonesia.

Saya baru mengerti arti “fasilitator sebagai profesi” dari Pak Slamet, konsultan Depdagri, pada saat lokakarya penyusunan modul ToT yang dikembangkan Ditjen PMD Depdagri pada tahun 2009. Sebagai profesi, maka harus ada sertifikasi fasilitator dari organisasi profesi yang memiliki kewenangan untuk mengeluarkan itu. Sertifikat dikeluarkan dengan menyelenggarakan pelatihan berbasis kompetensi. Kalau fasilitator sudah menjadi profesi yang secara resmi dicanangkan pemerintah, akan masuk ke dalam buku daftar profesi di Indonesia yang tebalnya segede kulkas yang dikeluarkan oleh Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP). Saya juga baru melihat barang itu yang diperlihatkan oleh Pak Slamet kepada kami semua. Buku itu sangat tebal karena memuat daftar seluruh profesi di Indonesia termasuk ruang lingkup kompetensinya masing-masing.

Apa yang dimaksud dengan standar kompetensi seorang fasilitator? Sama dengan profesi lain, harus ada standar yang jelas sebagai fasilitator apa. Dokter saja ada spesialisasi. Begitu juga dengan advokat memiliki spesialisasi tertentu juga.

*** Read the rest of this entry

Lemahnya Legitimasi Nilai Pendidikan

Teman-teman sekalian, Assalamualaikum wr wb

Bisa jadi salah satu kemungkinan jawaban kenapa situasi demoralisasi bangsa kita sedemikian parahnya itu karena faktor-faktor yang terpenting dalam kehidupan manusia itu memang tidak ada sekolahnya. Nggak ada kelasnya. Ngga ada ruang kuliahnya. Nggak ada kurikulumnya. Misalnya, berumah tangga. Nggak ada fakultas rumah tangga. Tidak ada jurusan perkawinan atau pernikahan. Yang ada pendidikan seks. Itupun tidak ada urusannya dengan masalah psikologis dan rohaniah. Apalagi dengan syariat atau akhlak. Jadi rumah tangga nggak ada sekolahannya. Padahal itu setiap orang harus berumah tangga. Kebaikan tidak ada sekolahannya. Padahal setiap orang di perlukan untuk baik. Akhlak tidak ada sekolahannya. Padahal apa jadinya dunia ini kalau orang tidak berakhlak.

Lho apakah di kurikulum-kurikulum sekolah, di pelajaran-pelajaran sekolah, guru-guru, dosen-dosen,  para professor tidak pernah menyebut-nyebut, pentingnya ketentraman rumah tangga, kedewasaan suami istri, kebaikan hidup, atau moralitas. Bukan tidak pernah. Tetapi tidak pernah di posisikan secara primer di sekolahan-sekolahan kita. Kebaikan bukan sesuatu yang primer.

Anda seorang sarjana, kemudian mengajar di sebuah universitas.  Kemudian anda ketahuan mencuri motor. Anda hanya mendapat hukuman separo. Yaitu anda di pecat dari universitas anda. Itupun belum tentu karena soal moral tapi mungkin karena soal malu. Masak universitas punya dosen curi motor. Tetapi, dosen dan sarjana yang mencuri motor ini, tidak akan pernah di copot gelar kesarjanaannya.  Anda professor, anda memperkosa orang, anda tetap profesor.  Anda doktor, anda korupsi, anda tetap Doktor.

Betapa lemahnya, legitimasi nilai dari sekolahan-sekolahan, universitas-universitas yang selama ini kita bangga-banggakan.

Emha Ainun Nadjib

*di tulis ulang dari rekaman radio Delta FM.

KEBUDAYAAN BARAT ATAU KEBUDAYAAN TIMUR

Temen-temen sekalian,

Kalau moralitas ibarat tanaman di taruh di atas pot atau di sebongkah tanah, yang namanya kebudayaan. Kemudian jenis kebudayaannya kita sebut kebudayaan timur dimana disana ada kebudayaan barat. Sekarang kita ingin bertanya, yang mana dari Jakarta ini yang kebudayaan timur? Dan apakah kalau anda ke Makau, ke Honkong, anda Ke New York, anda ke San Fransisco, ke Chichago maka anda bisa sebut kebudayaan barat. Cinta  kepada ibu bapak itu kebudayaan timur apa kebudayaan barat? Cinta dan pacaran itu kebudayaan timur apa kebudayaan barat. Yang mana sebenarnya yang kebudayaan timur yang mana yang kebudayaan barat. Kadang-kadang orang barat sangat timur, kadang-kadang orang timur sangat barat. Kadang-kadang orang barat sangat sosial, kadang-kadang orang timur sangat individualistis. Padahal ada kategori-kategori baku bahwa barat itu individualistis, bahwa timur itu suka gotong royong dan kolektif. Ternyata dalam prakteknya bisa terbalik sama sekali.

Pertanyaan saya, kembali kepada dasar pemahaman, ilmu sederhana mengenai moralitas. Apa bener moral ini bisa kita tanam di atas pot bunga kebudayaan tadi. Ataukah kita harus menemukan tanah yang lebih permanen, yang bisa menjaga moral itu tanpa batas waktu, tanpa batas era, tanpa batas kurun, tanpa batas zaman. Sampai zaman apapun moral A adalah A, B adalah B. Nah kalau kebudayaan tidak bisa. Kebudayaan itu, sekarang bilang A itu baik tahun depan bilang A itu jelek. Ah, jadi sekali pertanyaannya, mungkinkah kita mengandalkan kebudayaan ataukah kita harus mencari dasar-dasar nilai lain untuk menjaga moralitas.

Emha Ainun Nadjib.

*di tulis ulang dari rekaman radio Delta FM

LEBIH BAIK ANDA JADI KAFIR

Teman-teman sekalian, assalamualaikum wr wb…

Saya pernah nekat menjawab pertanyaan orang di sebuah forum. Cak, gimana supaya adzab Tuhan ini tidak berkepanjangan ini. Gempa. Gunung mau meletus.  Banjir.  Tsunami. Jakarta akan jadi lautan api. Akan ada gempa yang membikin gedung-gedung listriknya konslet dan kebakaran. Akan ada bom meledak. Akan ada musim kering yang panjang. Sehingga satu dua pusat industri akan mengalami kobaran api. Macam-macam dia tanya. Solusinya apa ini supaya Tuhan ndak marah seperti ini.

Saya nekat menjawab. Dan ya pasti di marahi banyak orang jawaban saya . Saya kira kok sebaiknya Indonesia ini penduduknya kafir saja semua, mungkin lebih selamat. Wah, jadi marah ini semua anggota forum. Terpaksa saya jawab. Mas, saya ulang tentang perawan tempo hari itu. Putri anda maunya tidak di kawinin orang. Tidak di cintai siapa-siapa, sampai tua.  Ataukah di kasih i love  you, di kawinin tapi di main-mainkan. Anda lebih suka yang mana? Saya lebih suka yang pertama. Mending anak saya tidak kawin. Daripada kawin tapi di main-mainin. Dan begitulah sikap Tuhan. Mending anda jadi Kafir. Dosa anda cuman satu. Daripada anda jadi muslim, jadi orang beragama tapi anda maen-maen dengan Tuhan .

Assalamualikum wr wb

Emha Ainun Nadjib

*di tulis ulang dari rekaman radio Delta FM.