Trendsetter Dahlan Iskan

Mungkin dalam beberapa bulan ini tidak ada tokoh yang selalu heboh dan menghiasi media cetak, media online maupun media elektronik kecuali seorang Dahlan Iskan. Setelah melakukan berbagai manuver kebijakan dan melakukan gebrakan sensasional untuk ukuran seorang menteri, Dahlan iskan lambat laun menjadi pusat perhatian publik Indonesia. Segala gerak-gerik pak Menteri BUMN ini mulai di angkat ke media dan di jadikan berita. Dari hal yang paling remeh-temeh sampai ke ranah yang birokratis politis.

Ada golongan yang mengatakan perilaku Dahlan Iskan ini hanyalah untuk sebagai pencitraan, untuk mendongkrak popularitas demi kepentingan Pemilu 2014. Pandangan ini di dasarkan dari latar belakang seorang Dahlan Iskan sebagai CEO sebuah Koran Nasional, sehingga di mungkinkan untuk menunggangi media untuk mengangkat citranya. Namun banyak juga golongan yang mendukung dan salut dengan aksinya. Karena manusia bernama Dahlan Iskan ini adalah manusia langka yang perlu di lestarikan. Di kandung maksud, segala sepak terjangnya yang out of mainstream di wajah Pemerintah Republik Indonesia merupakan aura segar dan cerah serta menghidupkan semangat cita-cita masa depan Negara ini. Setidaknya, ada setitik harapan, ada sedikit klangenan, ada sesuatu yang membanggakan di hati masyarakat Indonesia untuk menghitung kembali potensi-potensi kebangkitan setelah sekian lama terpuruk.

Terlalu lama, masyarakat Indonesia telah di pamerkan parade kebobrokan, kemunafikan, penyelewengan terang-terangan baik di wilayah yudikatif, legislatif, maupun eksekutif. Bahkan parade itu kemudian berlanjut hingga ke pelosok penjuru negeri, sampai di desa-desa, di dusun-dusun kampung dengan menumpang kendaraan otonomi daerah.  Setiap hari, rakyat Indonesia di gempur oleh informasi-informasi yang mereka tidak mengetahui asal-usulnya, tidak mengetahui sangkan paran persoalannya, tidak paham dengan peta masalahnya. Namun informasi tersebut berimbas dengan kemarahan yang di tahan, kegeraman, dan kejengkelan melihat perilaku wakil-wakil mereka yang ada di pemerintahan. Akumulasi kegeraman itu telah memecah komunitas masyarakat menjadi tiga bagian. Yang pertama adalah komunitas yang berjuang secara murni dan berpihak kepada rakyat. Mereka adalah komunitas minoritas, yang menempuh jalur-jalur perlawanan secara intelektual maupun spiritual. Yang bergerak demi idealisme dan kecintaan murni kepada rakyat dan bumi pertiwi Indonesia.

Komunitas kedua adalah komunitas yang ikut dalam lingkaran heroik untuk memperjuangkan atas nama keadilan rakyat. Meraka mempertanyakan segala ketidak beresan yang ada. Meskipun kelompok ini juga di sinyalir mengandung indikasi yang tidak murni perjuangan. Karena sejarah telah membuktikan, orang-orang yang vokal dan bersuara nyaring adalah ketika mereka belum mendapatkan jatah amplopnya, dan seketika mendapatkan tempat basah secara ekonomi, mereduplah suara-suara itu dan mereka bekerja sama kepada orang-orang yang dahulu telah mereka hujat. Komunitas amphibi ini merupakan komunitas yang sulit di identifikasi. Karena wajahnya tidak jelas. Dan Komunitas yang ketiga adalah komunitas terbesar, komunitas cuek dan tidak perduli dengan persoalan negeri ini karena sudah sibuk dengan persoalan sendiri untuk mencari nafkah. Mereka menganggap sudah tidak ada yang di bisa di benahi lagi di Indonesia, sehingga mereka hanya punya satu-satunya kemampuan yaitu kemampuan survival, bertahan hidup di tengah ketidakperdulian negara ini terhadap nasib mereka. Sehingga, kelompok ini terkadang kurang ajar karena sering mengumpat, mendoakan hal yang buruk bagi para pencoleng uang rakyat. Paling jauh mereka menjadi floating mass atau massa mengambang, yang pekerjaannya hanya ngrasani pemerintah namun belum menemukan langkah perjuangan yang kongkret.

Namun secara garis besar, rakyat umumnya sudah eneg, jenuh melihat kelakuan para pejabat Negara. Maka tidak aneh ketika Dahlan Iskan menampilkan performa yang merakyat, tangkas, energik, bersih, sederhana dan bersahaja, maka publik sontak terpesona. Sekian lama kita seolah tidak pernah melihat orang baik, sekian periode kita hanya di tunjukkan dengan pamer hedonisme kelas kakap, tidak pernah kita saksikan bapak-bapak negara ini dapat hidup merebah bersama rakyat, berbagi duka lara, mendengarkan suara hati masyarakat yang di wakilinya. Yang sering di pertontonkan adalah perang rebutan suara rakyat, perang untuk mengukuhkan serta melanggengkan kursi dan jabatan mereka.

Dahlan Iskan tidak menempuh itu semua. Dia hanya bermodalkan kesungguhan hati, memaksimalkan potensi kreativitas, inovasi, dan etos kerja sehingga dapat membangun kerajaan media yang di segani. Sampai dia di percaya untuk menjadi dirut PLN dan terakhir menjadi Menteri BUMN. Dahlan Iskan, satu dari sedikit menteri yang di pilih dari kalangan professional dan bukan dari proses politis.

Mungkin itu pandangan subjektif, meskipun tidak boleh kita katakan tidak objektif. Track record yang di tunjukkan akan di uji oleh waktu dalam meladeni pisau politis dan biroktasi. Adegan selanjutnya merupakan amsal, gejala awal bahwa ranah profesional akan bertandingan dengan berbagai kepentingan politis yang absurd.

Yang berkembang di atmosfir politis kita adalah mencurigai semua niat baik dengan mengatasnamakan Undang-undang dan peraturan. Tidak perduli apakah aturan itu adil atau tidak, aturan itu efektif atau tidak, aturan itu relevan atau tidak, yang terpenting pokoknya adalah tidak sesuai aturan. Dan ini adalah Negara hukum dimana supremasi hukum wajib di taati oleh semua warga Negara. Jangan sekali-kali anda berani melanggar hukum karena pasal-pasal mengancam akan menjerat anda.

Sedangkan hukum tidak pernah punya mata hati terhadap keadilan. Tidak punya concern serius terhadap niat baik dan kemurnian jiwa manusia. Dia datang kepada anda dengan satu mata yaitu mata pandang kecurigaan. Anda di tugaskan untuk mengantar uang pajak di perusahaan anda. Di tengah jalan anda melihat seorang kakek tua renta tertabrak mobil dan harus segera mendapat pertolongan. Padahal tidak ada uang lain selain uang pajak yang harus anda setorkan. Bila anda terketuk hatinya untuk menolong dan memberikan sebagian uang yang ada di tangan anda itu untuk agar kakek tua itu dapat di tangani oleh rumah sakit, maka bersiaplah anda akan di seret di muka pengadilan karena dituduh melakukan korupsi dan penggelapan.

Seorang Dahlan Iskan tidak mempunyai bahasa hukum yang kaku, yang njlimet atau yang terkadang menjungkirbalikkan rasa keadilan. Beliau juga awan bahasa politik. Dia tidak memahami bahasa “peraturan”. Yang dia kerjakan adalah bekerja secara efektif, efisien, dan bermanfaat bagi BUMN dan rakyat berdasar naluri moralnya sebagai manusia dan bukan sebagai penggede negara. Dia hanya punya kepekaan hati dan nurani serta logika sederhana untuk memacu kinerja BUMN. Dia tidak mempunyai kemampuan untuk membolak-balikkan tafsir undang-undang ataupun peraturan selayaknya para pengacara dan jaksa untuk di cari pembenarannya untuk kepentingan pribadi.

Kasus teraktual sekarang adalah tentang Interpelasi DPR terkait dengan kebijakannya memberikan kuasa pada direksi dan deputi BUMN untuk memangkas proses birokrasi yang bertele-tele. Para anggota dewan, menengarai kebijakan tersebut melanggar Undang-Undang yang lebih tinggi tentang BUMN. Mereka juga mengeluarkan statement yang mengatakan, bahwa Dahlan Iskan telah memberikan kelonggaran dalam penunjukan dirut BUMN serta di curigai memberikan kebijakan yang dapat di salahgunakan yaitu kaitannya dengan penjualan saham BUMN. Selama ini penjualan saham BUMN secara prosedural harus melalui RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham) yang di ketahui oleh DPR sebagai bentuk transparansi. Sehingga DPR merasa berang karena di langkahi dan serta merta menyiapkan amunisi interpelasi. Meskipun belakangan fraksi-fraksi pengusung interpelasi itu mencabut dukungannya  karena entah mungkin merasa memandang itu demi kebaikan BUMN atau karena di pandang akan menjadi counter productive bagi citra politisi.

Tidak tahu siapa nanti yang akan menang dari pertarungan ini. Namun itu tidak penting. Yang penting adalah kita juga harus percaya bahwa masih banyak Dahlan Iskan-Dahlan Iskan di negeri ini. Masih banyak orang tulus, orang baik, orang nasionalis, yang mau berjuang memang untuk rakyat dan tidak di campuri dengan tendensi pribadi. Atmosfir dan gairah Dahlan Iskan ini harus kita pupuk kembangkan untuk menjadi mainstream baru, menjadi acuan baru, menjadi trendsetter baru dalam bagaimana kita mengelola Negara kita ini.

Sehingga saat ini yang harus kita lakukan dan kita upayakan adalah bagaimana membuat system atau merevisi sistem bernegara yang sudah ada yang mampu menumbuhkan potensi-potensi Dahlan Iskan tersebut dan tidak malah menenggalamkannya karena mungkin orang-orang potensial tersebut belum mempunyai uang atau jabatan. Harus kita evaluasi ulang, apakah system yang kita berlakukan sekarang dapat menumbuhkan person sekualitas yang mumpuni, bersih dan mempunyai nurani. Kita berharap tumbuh pemimpin-pemimpin masa depan, yang memimpin Indonesia dengan hati dan bukan hanya birokrasi atau sekadar administrasi.

Gilang Prayoga

Bobotsari, 18 April 2012

23.54 WIb

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 18 April 2012, in Kolom Esai, MENU BARU 1 and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: