Monthly Archives: April 2012

LOWONGAN KERJA REPORTER, EDITOR, COPYWRITER KOMPAS

KOMPAS memanggil Anda yang berjiwa muda, menyukai tantangan dan tertarik untuk mengembangkan diri menjadi:

1. Wartawan [REP] (Penempatan Luar Jakarta)

Bertanggungjawab terhadap pengumpulan data/bahan serta penulisan berita (hard news) dan membina hubungan dengan narasumber

· Lajang dengan usia maksimal 26 tahun, sehat dan tidak buta warna

· Pendidikan Min. S1 semua jurusan dari universitas terkemuka dengan IPK
min. 3.00

· Mandiri, tangguh, menyukai tantangan, kreatif dan berinisiatif tinggi.

· Analitis, antusias, sanggup bekerja cepat dan akurat di bawah tekanan

· Mampu berbahasa asing (Min. Bahasa Inggris)

· Lebih disukai jika memiliki pengalaman menulis atau aktivitas pers kampus

· Bersedia mengikuti Pendidikan Wartawan Kompas

· Belum pernah mengikuti proses seleksi wartawan Kompas

· Familiar dengan social & digital media

· Bersedia ditempatkan dimana saja di wilayah nusantara

2. Editor Penerbit Buku Kompas [ED-PBK]

Bertanggungjawab terhadap kesempurnaan setiap naskah buku terbitan Kompas yang akan naik cetak, sesuai dengan standar Kompas.
Read the rest of this entry

Iklan

Trendsetter Dahlan Iskan

Mungkin dalam beberapa bulan ini tidak ada tokoh yang selalu heboh dan menghiasi media cetak, media online maupun media elektronik kecuali seorang Dahlan Iskan. Setelah melakukan berbagai manuver kebijakan dan melakukan gebrakan sensasional untuk ukuran seorang menteri, Dahlan iskan lambat laun menjadi pusat perhatian publik Indonesia. Segala gerak-gerik pak Menteri BUMN ini mulai di angkat ke media dan di jadikan berita. Dari hal yang paling remeh-temeh sampai ke ranah yang birokratis politis.

Ada golongan yang mengatakan perilaku Dahlan Iskan ini hanyalah untuk sebagai pencitraan, untuk mendongkrak popularitas demi kepentingan Pemilu 2014. Pandangan ini di dasarkan dari latar belakang seorang Dahlan Iskan sebagai CEO sebuah Koran Nasional, sehingga di mungkinkan untuk menunggangi media untuk mengangkat citranya. Namun banyak juga golongan yang mendukung dan salut dengan aksinya. Karena manusia bernama Dahlan Iskan ini adalah manusia langka yang perlu di lestarikan. Di kandung maksud, segala sepak terjangnya yang out of mainstream di wajah Pemerintah Republik Indonesia merupakan aura segar dan cerah serta menghidupkan semangat cita-cita masa depan Negara ini. Setidaknya, ada setitik harapan, ada sedikit klangenan, ada sesuatu yang membanggakan di hati masyarakat Indonesia untuk menghitung kembali potensi-potensi kebangkitan setelah sekian lama terpuruk. Read the rest of this entry

Relevansi Sarjana dan Menjadi Pengusaha

Dalam beberapa kesempatan, banyak kalangan akademisi, motivator, bahkan pejabat Negara Republik Indonesia ini yang menyarankan, menghimbau, mendorong agar para lulusan sarjana dapat menjadi entrepreneurship muda yang sukses. Ya minimal tidak menambah beban Negara dan orang tua. Karena sungguh sangat menyesakkan menjadi seorang pengangguran. Sudahlah di biayai dari kecil sampai dewasa, eh malah sudah dewasa masih saja menyusahkan orang lain. Dan saya yakin tidak ada orangpun di dunia ini yang mau bernasib seperti itu. Hanya terkadang peluang kesempatan, latar belakang pendidikan, etos kerja serta keadaan lain yang belum berpihak sehingga ujungnya adalah nasib jelek yang di persalahkan.

Dengan semakin sempitnya kesempatan kerja yang tersedia, salah satu upaya pemerintah untuk mengejar ketertinggalan ekonomi dengan Negara-negara yang lain adalah memacu masyarakatnya untuk giat menjadi pengusaha. Melakukan usaha mandiri apa saja yang penting tidak tergantung kepada kuota lowongan pekerjaan yang di tawarkan perusahaan-perusahaan. Data menunjukkan bahwa jumlah pengusaha yang ada di Negara ini tidak lebih dari 10% jumlah penduduknya. Bila di lihat dari kekayaan sumber daya alam Indonesia yang dapat di olah, sungguh sangat ironis dan menimbulkan pertanyaan. Dari rumput, pohon, daun, batu, pasir, tanah, enceng gondok saja dapat di tingkatkan nilai ekonomisnya dan di jadikan usaha, kok yang mampu menjadi pengusaha sangat sedikit sekali.

Secara harfiah, pengusaha secara sederhana dapat di katakan sebagai orang yang berusaha. Tentunya yang spesifik dalam usaha ekonomi.  Saya tidak mengetahui apakah mbok-mbok bakul yang berjualan dagangannya di pasar-pasar, ibu-ibu yang membuka warung di pinggir jalan, bapak-bapak penderes aren atau apapun saja profesi yang menggerakkan sector ekonomi mikro juga di sebut sebagai pengusaha. Indikator pengusaha itu apa. Waallahualam. Itu masih menjadi misteri di kepala saya. Karena bila di katakan yang di katakan pengusaha itu yang harus punya NPWP, punya ijin usaha, memiliki badan usaha PT, CV, Persero atau apapun, sesungguhnya telah mengkhianati makna kata pengusaha itu sendiri. Read the rest of this entry

Gunung Jangan Pula Meletus

Khusus untuk bencana Aceh, saya terpaksa menemui Kiai Sudrun. Apakah kata mampu mengucapkan kedahsyatannya? Apakah sastra mampu menuturkan kedalaman dukanya? Apakah ilmu sanggup menemukan dan menghitung nilai-ilai kandungannya?

Wajah Sudrun yang buruk dengan air liur yang selalu mengalir pelan dari salah satu sudut bibirnya hampir membuatku marah. Karena tak bisa kubedakan apakah ia sedang berduka atau tidak. Sebab, barang siapa tidak berduka oleh ngerinya bencana itu dan oleh kesengsaraan para korban yang jiwanya luluh lantak terkeping- keping, akan kubunuh. “Jakarta jauh lebih pantas mendapat bencana itu dibanding Aceh!,” aku menyerbu.

“Kamu juga tak kalah pantas memperoleh kehancuran,” Sudrun menyambut dengan kata- kata yang, seperti biasa, menyakitkan hati.

“Jadi, kenapa Aceh, bukan aku dan Jakarta?”

“Karena kalian berjodoh dengan kebusukan dunia, sedang rakyat Aceh dinikahkan dengan surga.”

“Orang Aceh-lah yang selama bertahun-tahun terakhir amat dan paling menderita dibanding kita senegara, kenapa masih ditenggelamkan ke kubangan kesengsaraan sedalam itu?”

“Penderitaan adalah setoran termahal dari manusia kepada Tuhannya sehingga derajat orang Aceh ditinggikan, sementara kalian ditinggalkan untuk terus menjalani kerendahan.”

“Termasuk Kiai….”

Cuh! Ludahnya melompat menciprati mukaku. Sudah biasa begini. Sejak dahulu kala. Kuusap dengan kesabaran.

“Kalau itu hukuman, apa salah mereka? Kalau itu peringatan, kenapa tidak kepada gerombolan maling dan koruptor di Jakarta? Kalau itu ujian, apa Tuhan masih kurang kenyang melihat kebingungan dan ketakutan rakyat Aceh selama ini, di tengah perang politik dan militer tak berkesudahan?” Read the rest of this entry

KPMD, Antara Kompensasi dan Realitas Pemberdayaan Desa

Sebagai salah seorang pelaku pemberdayaan saya banyak menemui bahwa peran-peran strategis di Desa tidak berlangsung secara optimal seperti yang di amanatkan oleh program. Bukan berarti semua Desa pelakunya tidak optimal, namun dari kacamata pengalaman saya, hampir rata-rata pelaku di Desa terkadang terpusat hanya kepada orang-orang itu saja. Meskipun dalam PNPM, telah terbentuk pelaku-pelaku yang di syahkan pada saat Musyawarah Desa (MD), namun kualitas yang di harapkan belum dapat dikataka menggembirakan.

Salah satu peran pelaku yang selama ini di pandang penting namun terlupakan adalah KPMD. Kader Desa yang di bentuk PNPM yang mengemban tugas dalam hal memfasilitasi segala mediasi, konsultasi, evaluasi dan monitoring terhadap kegiatan PNPM di desa tersebut dengan supervise dari Fasilitator Kecamatan. Singkat kata KPMD adalah pengendali pelaksanaan program di Desa untuk memastikan bahwa kegiatan program berjalan sesuai dengan prinsip dan prosedur PNPM, Read the rest of this entry

Menggugat Teori Kebutuhan Maslow

Awalnya dulu saya tidak begitu perduli dengan teori-teori akademis yang berkembang untuk mempelajari perilaku manusia. Karena perilaku manusia sangat sulit untuk kita rumuskan karena begitu banyak mengandung probabilitas. Meskipun kita telah mengumpulkan data, meneliti sampai detail dari berbagai macam sudut pandang ilmiah, membandingkan teori ini dan teori itu namun kesimpulan akhirnya adalah bahwa manusia itu sulit di tebak. Tidak heran maka muncul beberapa ungkapan seperti “dalamnya laut dapat di ukur, hati orang siapa yang tahu” dan ada juga “rambut sama hitam, hati orang siapa yang tahu” dan masih banyak lagi. Tinggal anda cari sendiri, dan bahkan mungkin dapat anda ciptakan sendiri.

Dari latar belakang itulah maka saya sedikit ingin mempertanyakan teori kebutuhan yang di perkenalkan oleh Abraham Maslow. Bukan berarti saya lebih pintar dari beliaunya. Dan bukan berarti saya memiliki teori yang melebihi teorinya. Namun ini hanya sebuah tangkapan atas pandangan-pandangan pribadi saya. Dan tidak bisa di pastikan bahwa saya juga benar seratus persen. Silahkan di koreksi bila ada yang salah.

Teori maslow merupakan salah satu penjabaran untuk mempelajari tentang perilaku  manusia untuk mencapai kebutuhannya. Gagasan kebutuhan manusia itu di jabarkan dalam piramida 5 tingkat. Yang pertama atau  tingkat paling bawah adalah kebutuhan fisik (Physiological Needs) yang menjelaskan tentang kebutuhan dasar manusia yang bersifat fisik. Yaitu bahwa manusia harus terpenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya seperti kebutuhan sandang, pangan, papan. Kebutuhan ini di pandang sebagai kebutuhan pokok yang wajib terpenuhi karena  apabila tidak terpenuhi maka akan terjadi keadaan yang sangat ekstrim yang menyebabkan manusia yang bersangkutan kehilangan kendali atas perilakunya sendiri. Pabila kebutuhan dasar ini sudah terpenuhi maka akan muncul kebutuhan yang lebih tinggi yaitu kebutuhan akan rasa aman (Safety Needs). Read the rest of this entry

Metamorfosa Blog : Sebuah Pilihan Konsep

Ketika kita hidup tentu akan selalu di hadapkan oleh sebuah pilihan-pilhan. Terkadang pilihan tersebut berat untuk diputuskan, karena penuh dengan pertimbangan argumentasi yang latar belakangnya bisa bermacam dan tentu beda antara satu dengan yang lainnya. Intinya bila kita ingin terus hidup, ya harus dapat menentukan pilihan-pilihan yang mudah-mudahan menjadi pilihan yang terbaik untuk kita.

Begitupun dengan blog ini. Ketika pertama saya membuat blog, mungkin karena iseng saja ataupun juga karena latah atau ikut-ikutan trend mode saja. Dengan awalnya membuat konsep di dalam blog ini merupakan blog gado-gado yang berisi bermacam-macam informasi-informasi atau apapun saja yang layak “di jual” di Internet. Read the rest of this entry

R e s p e k

Beberapa waktu yang lalu Saya menjadi pembicara seminar bersama-sama dengan Robby Djohan dan Jalaludin Rahmat. Keduanya adalah orang-orang hebat yang sangat jarang Saya temui. Karya-karya mereka dalam masyarakat luar biasa, murid mereka bertebaran di mana-mana dan jadi semua dan omongan mereka bernas-berisi, maka Saya bukan cuma sekedar bicara, melainkan sekaligus belajar. Pak Robby adalah staf pengajar di UI, dan kalau beliau mengajar, seisi kelas dibuatnya melek sepanjang waktu. Demikian pula dengan Kang Jalal yang sehari-hari mengajar di Unpad. Wajar kalau mereka disegani, sebab mereka bukanlah dosen biasa yang hanya mengambil teori dari buku. Mereka mengambil ilmu dari buku sekaligus dari pengalaman mereka sendiri.

Yang kita bicarakan adalah soal kepemimpinan. Maklum, ada demikian banyak orang yang sudah merasa menjadi pemimpin kala sebuah tanda jabatan disematkan di dadanya, dan ia dilantik oleh pejabat di atasnya. Sementara itu sehari-hari, ia hanya memimpin dengan sebuah buku, yaitu buku peraturan. Ia hanya mau tanda tangan dan menyetujui kegiatan kalau “rule” nya ada di buku. Kata orang ia adalah orang yang jujur dan taat perintah. Praktis hampir tak pernah ada kesalahan yang ditimpakan kepadanya, karena ia adalah orang yang benar-benar taat aturan. Read the rest of this entry