Sikim

Sidang Tahunan MPR sudah bergulir. Media sibuk meliput, wawancara dan mengekspos. Para Pakar habis-habisan memeras akal untuk membaca, nguping, menyelami, menganalisa dan mengungkapkan. Anda sibuk apa? Konsentrasi perhatian dan pikiran Anda berapa persen yang Anda peruntukkan bagi ST MPR ini?

Demi Allah, sesungguhnya apa yang sedang diributkan di Senayan masih belum sungguh-sungguh ada hubungannya dengan tema-tema yang secara mendasar dibutuhkan oleh kebanyakan rakyat. Rakyat yang merupakan pemilik tanah air ini belum dijadwalkan sebagai agenda utama persidangan. Urusan mayoritas penduduk negeri ini bukan sesuatu yang dicemaskan dan diperdebatkan oleh wakil-wakil mereka.

Sidang orang-orang berdasi di menara gading Republik Indonesia itu tidak relevan terhadap peningkatan kemudahan hidupmu, dengan keamanan beras dan sekolah anak-anakmu. Yang sedang dipergunjingkan dengan biaya mahal di ruang-ruang mewah itu adalah perebutan senjata politik ekonomi untuk menjadi pusaka masa kini dan masa depan bagi golongan yang memenangkannya, atau bagi beberapa golongan yang untuk beberapa saat perlu bersatu untuk tujuan kepentingan yang sama.

Anda petani di darat atau di laut, teruskan mencangkul dan menjala sebisa-bisa, sebab apapun hasil sidang tahunan ini tidak menjanjikan perubahan nasib apapun ke arah yang lebih menggembirakan. Rakyat adalah barang tunggangan. Semua orang besar memasuki habitat raja-raja dengan perkutut-perkututnya: dan kalian semua adalah perkutut-perkutut di dalam sangkar kekuasaan dan penipuan juragan-juraganmu.

Jangankan nasib rakyat di hadapan pemerintahnya sendiri. Sedangkan nasibmu dan nasib negeri ini di hadapan tangan kuat jaringan adikuasa dunia, sama sekali tidak pernah diagendakan. Megawati menjadi orang besar dan akhirnya duduk di kursi nomor satu berkat nasibnya yang dilalimi selama Orba. Ia dibela dan diberi simpati nasional karena ketertindasan, dan kini ia bekerja sama dengan mantan-mantan penindas di depan hidung jutaan pembela-pembelanya.

Amin Rais menjadi terkenal dan penting karena beberapa tahun yang lalu sepulang dari Irian Jaya ia mengecam habis Freeport. Dalam suatu forum Permadi SH menantangnya apakah ia siap menjadi presiden dan ia menyatakan siap – maka citra setiap orang kepadanya adalah calon Presiden. Bahkan BBC setiap mewawancarainya selalu menyebutnya “Mr.President”. Kemudian sesudah ia menggenggam kekuasaan di atas presiden: tak satu katapun pernah lagi ia ucapkan mengenai Freeport.

Kalau pemimpinmu mengucapkan sesuatu tentang tembok rumahmu yang kebobolan maling, jangan lantas menyimpulkan bahwa ia sedang berprihatin atas keadaanmu yang tercuri. Sebab mungkin tembok kebobolan rumahmu itu ia sebut agar seluruh penduduk desa mendengarnya kemudian mengangkatnya menjadi pahlawan, dan besok pagi ia lupa tentang tembok rumahmu yang kebobolan.

Satu pemimpinmu begitu, sepuluh pemimpinmu begitu, seratus pemimpinmu begitu – dan engkau tidak tahu sampai kapan akan terus begitu. Kebetulan kalian rakyat Indonesia juga tidak mengejar kebenaran, melainkan menjebakkan diri dalam kebodohan, khayalan, kesalahapahaman dan prasangka-prasangka. Yang baik disangka buruk, yang buruk disangka baik. Yang seharusnya dibuang malah ditelan, yang seharusnya dimakan malah dicampakkan. Itu berlangsung tak hanya dibidang politik, tapi juga terutama di bidang kebudayaan. Kalian rakyat Indonesia merelakan dirimu tidak menjadi rakyat Indonesia, melainkan menjadi rakyat PDIP, rakyat Golkar, rakyat PKB dan PPP. Kemudian menangis karena kaget yang disembah-sembah ternyata membuatnya berduka.

Rakyat Indonesia adalah janda yang sepanjang sejarah menunggu untuk digilir diperkosa. Rakyat Indonesia adalah rombongan berduyun-duyun berjalan menuju cakrawala sejarah tanpa benar-benar tahu ke mana akan pergi. Di hadapan arah perjalananmu sejumlah kelompok perampok menunggumu untuk melucuti pakaianmu, mengambil hartamu dan memperkosamu.

Terlalu gampang kau berikan keperawananmu, baik keperawanan akal pikiran, nurani maupun keperawanan aspirasi politikmu. Kau terlalu gampang dijebak, ditipu, diiming-imingi, sampai akhirnya satu-satunya yang bisa engkau nikmati adalah situasi diperkosa. Kau kawin dengan Orla dan dikhianati. Ganti suami Orba dikempongi lagi dalam waktu yang panjang. Kemudian berbunga-bunga wajahmu karena suami barumu bernama Reformasi – tapi ternyata ia lebih brutal, lebih tidak bermoral, lebih rakus dan lebih terang-terangan untuk tidak bertanggung jawab. Yang memperkosamu bahkan juga anak-anak kecil: presidenmu anak kecil, menterimu anak kecil, nanti gubernurmu juga anak kecil yang kemarin kau kasih tambahan celana pendek.

Tapi makhluk sejarah semacam itu akan ada ujungnya. Setiap yang selain Allah memiliki awal dan akhir. Cacing, matahari, pemerintahan, keculasan, semua akan ada akhirnya. Kalian rakyat Indonesia tidak punya infrastruktur dan modal yang memadai untuk melakukan revolusi, tetapi kalian jagoan dalam mengamuk, bikin kerusuhan – dan saatnya akan datang lagi karena berlakunya hukum alam. Tentu tidak satu dua bulan ini, juga tidak di bawah dua tahun ke depan ini.

Kalau pakai istilah para preman, jeger, gali atau korak: rakyat kecil menunggu situasi Sikim – di mana Anda sudah tidak punya apa-apa lagi kecuali menggenggam pisau, pedang, korek api, granat atau apa saja yang Anda punya. Tidak bisa terus menerus dibodohi seperti ini. Kita bukanlah rakyat yang pernah dididik untuk menjadi orang baik, orang arif. Pendidikan yang kita alami hanya kebohongan, kekonyolan dan kehinaan yang dicari-cari pembenarannya. {}

* Nadjib, Emha Ainun. 2007. Kiai Bejo, Kiai Untung, Kiai Hoki. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.

About Gilang Prayoga

Kadang detak kehidupan tak sempat terekam Kadang sebuah pemikiran datang dan tak sempat terealisasikan. Hanya sedikit catatan tentang kehidupan

Posted on 30 March 2012, in Kolom Esai and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: